NovelToon NovelToon
Bunga Plum Diatas Luka

Bunga Plum Diatas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Action / Romantis / Obsesi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: NurfadilaRiska

Dibawah langit kerajaan yang berlumur cahaya mentari dan darah pengkhianatan, kisah mereka terukir antara cinta yang tak seharusnya tumbuh dan dendam masa lalu yang tak pernah padam.

Ju Jingnan, putri sulung keluarga Ju, memegang pedang dengan tangan dingin dan hati yang berdarah, bersumpah melindungi takhta, meski harus menukar hatinya dengan pengorbanan. Saudari kembarnya, Ju Jingyan, lahir dalam cahaya bulan, membawa kelembutan yang menenangkan, namun senyumannya menyimpan rahasia yang mampu menghancurkan segalanya.

Pertemuan takdir dengan dua saudari itu perlahan membuka pintu masa lalu yang seharusnya tetap terkunci. Ling An, tabib dari selatan, dengan bara dendam yang tersembunyi, ikut menenun nasib mereka dalam benang takdir yang tak bisa dihindari.

Dan ketika bunga plum mekar, satu per satu hati luluh di bawah takdir. Dan ketika darah kembali membasuh singgasana, hanya satu pertanyaan yang tersisa: siapa yang berani memberi cinta di atas pengorbanan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurfadilaRiska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Masalalu

Keesokan harinya, langit kota Yunxi tampak cerah. Angin pasar membawa aroma teh hangat dan kain-kain baru, menandai pagi yang tampak tenang—meski di baliknya, perasaan manusia tak pernah benar-benar sederhana.

Jingyan berjalan menyusuri pasar bersama Qing Lang, langkahnya ringan seolah beban di hatinya sedikit terangkat. Tak lama kemudian, keduanya tiba di sebuah kediaman sederhana yang terletak di sudut pasar.

“Shifu,” sapa Jingyan sambil tersenyum begitu melihat sosok pria tua yang tengah menuang teh.

“Jingyan,” Sen Liang menoleh dan tersenyum hangat. “Kau telah kembali rupanya.”

“Iya, Shifu. Aku baru tiba kemarin,” jawab Jingyan sopan.

Sen Liang mengangguk pelan. “Shifu sudah tahu. Katanya, kau juga pergi bersama tabib Ling An.”

“Tabib Ling An?” Qing Lang spontan menoleh ke arah Jingyan.

“Iya, Shifu. Aku yang mengajaknya ikut,” Jingyan menjawab ringan, lalu berjalan ke pintu dan bersandar di sana, kedua lengannya terlipat santai.

“Kau… kau mengajak tabib Ling An tapi tak mengajakku?” Qing Lang bergeser ke samping Jingyan, nadanya setengah protes.

“Maafkan aku, Qing Lang,” Jingyan hanya tersenyum tipis.

Sen Liang memperhatikan mereka dengan mata penuh arti. Ia mengangkat cangkir tehnya dan berkata perlahan,

“Jingyan, Jingyan… kau sama sekali tidak menyadari perasaan Qing Lang yang sebenarnya.”

Kata-kata itu membuat Qing Lang terkejut.

“Menyadari perasaan Qing Lang yang sebenarnya?” Jingyan menoleh cepat, bergantian menatap Sen Liang dan Qing Lang dengan bingung.

“Ah—tidak, tidak!” Qing Lang buru-buru tersenyum kecil.

“Yang Shifu maksud adalah… Jingyan tidak menyadari perasaannya sendiri.”

Jingyan mengernyit. “Benarkah?”

Ia menatap Sen Liang, namun sang shifu justru sengaja mengalihkan pandangan, seolah tak ingin menjawab.

Tiba-tiba, dari keramaian pasar terdengar suara memanggil,

“Jingyan!”

Senyum cerah langsung terukir di wajah Jingyan—senyum yang begitu indah di mata Qing Lang. Namun pandangan Jingyan bukan tertuju padanya, melainkan pada sosok Ling An yang berjalan mendekat.

“Ling An,” sapa Jingyan riang. “Saat kita tiba di istana, kenapa kau langsung pergi?”

“Maaf, Jingyan,” jawab Ling An lembut. “Aku memiliki janji yang hampir kulupakan, jadi aku harus segera pergi.”

“Ooo begitu,” Jingyan tersenyum. “Kupikir kau takut Nannan Jiejie memarahimu lagi.”

“Ehem!”

Sen Liang berdehem dari dalam rumah, membuat ketiganya menoleh bersamaan

“Oh iya, tunggu sebentar,” kata Ling An. Ia masuk ke dalam dan menyerahkan sebuah bungkusan.

“Paman, ini titipan dari Bibi Wang.”

“Oh, terima kasih, Ling An,” Sen Liang tersenyum menerimanya.

“Kalian sudah saling kenal?” tanya Jingyan penasaran.

“Mereka memang sudah kenal,” jawab Qing Lang cepat.

“Tabib Ling An tinggal di rumah Paman Wang dan Bibi Wang, teman Shifu.”

“Kenapa kau bisa tahu?” Jingyan menatap Qing Lang.

“Karena… Shifu yang memberitahuku,” jawab Qing Lang sambil menunjuk Sen Liang.

Sen Liang hanya tersenyum tipis.

“Shifu,” Jingyan mendekat, sedikit cemberut. “Bukankah aku murid kesayangan Shifu? Kenapa aku tidak diberi tahu?”

“Tentu saja kau murid kesayangan Shifu,” jawab Sen Liang lembut.

“Namun saat itu kau sedang sibuk menemui Jingnan.”

“Emm… benar juga,” Jingyan tersenyum kembali.

Ling An yang melihat Jingyan tersenyum pun tanpa sadar ikut tersenyum tipis. Namun Qing Lang, yang berdiri tak jauh dari sana, menatap Ling An dengan mata yang dipenuhi kecurigaan.

'Apa tabib Ling An juga menyukai Jingyan?'

Batin Qing Lang bergemuruh pelan, menimbulkan rasa tak nyaman yang perlahan menekan dadanya.

“Oh ya, Ling An… kau hari ini ada waktu tidak?” tanya Jingyan sambil melirik ke arahnya, suaranya terdengar lebih pelan, dengan perasaan malu yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

Belum sempat Ling An menjawab, Sen Liang sudah lebih dulu tersenyum

“Jingyan kecil ternyata sudah benar-benar tumbuh dewasa” ucapnya sambil terkekeh

“Dulu, kau masih setinggi ini saat pertama kali datang dan menjadi murid shifu.” Sen Liang tersenyum. Tangannya terangkat, seolah mengukur tinggi Jingyan di masa lalu—saat gadis itu baru pertama kali menjadi muridnya, ketika kepalanya bahkan belum mencapai dada sang Shifu.

Ia menurunkan tangannya perlahan, menatap Jingyan dengan mata penuh kebanggaan.

“Sekarang kau sudah tumbuh menjadi gadis cantik. Bahkan sudah berani menanyakan ‘ada waktu tidak’ pada seorang pria di depan Shifu.”

“Shifu…” Jingyan menunduk sedikit, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pipinya merona.

“Aku kan hanya—”

Ucapannya terhenti, digantikan senyum kecil yang malu-malu.

Ling An menatap pemandangan itu dengan tenang, lalu berkata lembut,

“Hari ini aku hanya ingin mengunjungi satu tempat. Jika kau ingin ikut, kau bisa ikut.”

“Benarkah?” Jingyan langsung mendongakkan kepalanya, matanya berbinar terang.

Ling An mengangguk pelan.

“Aku mau!” Jingyan menjawab tanpa ragu, senyumnya semakin lebar.

Melihat itu, Qing Lang refleks memegangi dadanya sendiri. Entah mengapa, melihat Jingyan tersenyum seperti itu—bukan padanya—membuat dadanya terasa sesak.

“Qing Lang,” Jingyan tiba-tiba menoleh,

“ayo, kau ikut juga ya.”

“A—aku?” Qing Lang terkejut.

“Iya,” Jingyan mengangguk ringan,

“ikutlah dengan kami. Kau mau, kan?”

Qing Lang terdiam sejenak, lalu melirik Ling An sekilas sebelum kembali menatap Jingyan.

“Tapi… apakah Tabib Ling An tidak keberatan jika aku ikut?”

Seolah baru teringat, Jingyan segera menoleh ke Ling An.

“Ling An, Qing Lang bisa ikut juga, kan?”

“Tentu saja,” jawab Ling An tanpa ragu, senyum tipis tetap terukir di bibirnya.

Sementara itu, Sen Liang yang sejak tadi memperhatikan ketiganya hanya bisa melirik mereka dengan tatapan sulit diartikan—antara bingung, geli, dan seolah telah melihat sesuatu yang lebih rumit daripada yang tampak di permukaan.

Di bawah langit cerah pasar Yunxi, tiga hati berjalan beriringan—

masing-masing membawa perasaan yang tak terucap,

tanpa sadar bahwa langkah kecil hari itu perlahan menarik benang takdir mereka semakin erat.

......................

Di sisi lain, di taman dalam istana yang dipenuhi pepohonan tua dan batu giok berlumut, Jingnan tengah berlatih pedang bersama Wei Yu. Kilatan baja beradu dengan suara nyaring—clang!—setiap tebasan dan tangkisan menggema di udara pagi. Gerakan mereka tegas dan terukur, seolah bukan sekadar latihan, melainkan simulasi medan perang yang sesungguhnya.

Tak jauh dari sana, di bawah paviliun beratap lengkung, Ibu Suri Jing Yue dan Mei Qin berdiri berdampingan. Tatapan keduanya tak pernah lepas dari sosok Jingnan yang bergerak lincah di tengah taman.

“Mei Qin,” ucap Jing Yue pelan, suaranya sarat kenangan, “dulu dia hanya berlari kecil mengelilingi istana, membawa pedang mainannya.”

Senyum lembut terbit di wajah Jing Yue saat ia menatap putrinya.

“Sekarang,” sambung Mei Qin dengan senyum yang sama hangatnya, “dia mengelilingi istana dengan pedang sungguhan.”

Namun senyum di wajah Jing Yue perlahan memudar. Tatapannya menjadi lebih dalam, dan lebih berat.

“Sebenarnya… sampai sekarang aku tak pernah benar-benar menginginkan putriku, Nannan, menjadi seorang jenderal wanita,” ucapnya lirih.

“Aku tak mau ia mati di medan perang.”

Mei Qin melirik Jing Yue, lalu menggenggam tangan kakaknya dengan erat, seolah ingin menyalurkan ketenangan.

“Kak,” katanya lembut namun yakin, “aku percaya Nannan kita tidak akan mati di medan perang. Dia wanita yang tangguh—seperti dirimu.”

Mei Qin tersenyum kecil.

“Dia pintar. Dan dia hebat.”

Tatapan Mei Qin kembali tertuju pada Jingnan yang kini menangkis serangan Wei Yu dengan gerakan bersih dan tegas.

“Jika bukan karena dia dulu,” lanjut Mei Qin dengan suara yang lebih rendah, “mungkin kita tidak bisa duduk tenang seperti ini. Atau mungkin… kita sudah menjadi budak. Bahkan bisa saja tewas pada waktu itu.”

“Mei Qin.”

Jing Yue menoleh tajam, suaranya dingin namun penuh peringatan.

Menyadari kesalahannya, Mei Qin segera menoleh ke sekeliling. Untungnya, taman itu sepi—tak ada pelayan, tak ada penjaga, hanya mereka berdua dan suara pedang yang beradu.

“Untung saja,” bisik Mei Qin sambil menghela napas lega.

“Jangan ungkit lagi,” ucap Jing Yue tegas, namun sorot matanya menyimpan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

Di kejauhan, Jingnan kembali mengayunkan pedangnya—tak menyadari bahwa setiap gerakannya menyimpan harapan, ketakutan, dan rahasia masa lalu yang masih terpendam di hati mereka yang mengamatinya.

Dan di bawah langit yang cerah, setiap orang berjalan di jalannya masing-masing—

tanpa sadar bahwa takdir telah mulai mengikat mereka, perlahan namun pasti.

1
Annida Annida
lanjut tor
Arix Zhufa
mampir thor
᥍hυׄnxıׂׅ' ᥍ ᵍᶠ › 🎀: Hi kak, makasii udah mampir💙💙💙
total 1 replies
Adis Suciawati
bagus kak
Adis Suciawati
beberapa lagi kakak kontrak nih kak
᥍hυׄnxıׂׅ' ᥍ ᵍᶠ › 🎀: iya kak💙
total 1 replies
Adis Suciawati
lala lama cinta akan datang sendiri nya
Adis Suciawati: ceritanya siga warga China ya kak
total 2 replies
Adis Suciawati
ini kasih nya seperti nama nama orang China ya ka
᥍hυׄnxıׂׅ' ᥍ ᵍᶠ › 🎀: betul kak, ceritanya juga memang china kak💙💙
total 1 replies
Adis Suciawati
bagus kak,kisah nya unik kak
Adis Suciawati: iya kak semoga kisah kita banyak peminat nya ya kak
total 2 replies
Finne•wine (Gak up, awokawok)
Bagus kak mulai ada perkembangan 👍
semangat teruslah aku dukung🔥❤️
᥍hυׄnxıׂׅ' ᥍ ᵍᶠ › 🎀: Makasiii" 💙💙💙
total 1 replies
Finne•wine (Gak up, awokawok)
mantap lah lanjutkan 💪, semangat terus author.
᥍hυׄnxıׂׅ' ᥍ ᵍᶠ › 🎀: Makasii yap💙💙
total 1 replies
Finne•wine (Gak up, awokawok)
aku ngebayangin si Mei Yin🤣
᥍hυׄnxıׂׅ' ᥍ ᵍᶠ › 🎀: Mei Yin cantik" kelakuannya buat geleng-geleng😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!