Queensa tak menyukai pernikahannya dengan Anjasmara. Meskipun pria itu dipilih sendiri oleh sang ayah.
Dijodohkan dengan pria yang dibencinya dengan sifat dingin, pendiam dan tegas bukanlah keinginannya. Sayang ia tak diberi pilihan.
Menikah dengan Anjasmara adalah permintaan terakhir sang ayah sebelum tutup usia.
Anjasmara yang protektif, perhatian, diam, dan selalu berusaha melindunginya tak membuat hati Queensa terbuka untuk suaminya.
Queensa terus mencari cara agar Anjasmara mau menceraikannya. Hingga suatu hari ia mengetahui satu rahasia tentang masa lalu mereka yang Anjasmara simpan rapat selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Selamat ya, Ridwan. Nggak nyangka akhirnya dapat tambatan hati juga. Doa terbaik untuk kalian." ucapan selamat dan doa-doa terus diucapkan para undangan.
Pesta pernikahan itu berakhir di jam 23.00, tamu masih ada, tapi kedua mempelai sudah turun dari singgasananya.
"Sehat, Njas?" Ridwan muncul, menghampiri Anjasmara yang terus memandang Queensa dengan posesifnya. Perempuan itu sedang membantu ibu-ibu mengambil masakan dari meja prasmanan yang jenisnya tentu lumayan banyak. Queensa tampak menghindar dari keluarga besar yang tengah berkumpul.
"Ya, Paman. Alhamdulillah." Anjasmara nyengir menyambut jabatan tangan Ridwan. "Masih ada yang ditunggu, Paman?" Anjasmara memiringkan kepala, lalu menengok ke arah pintu tamu, mencari-cari sosok yang mungkin saja Ridwan tunggu kedatangannya.
"Nggak, memang ingin ngobrol sama kamu."
"Oh, Kebetulan saya juga ada yang perlu di omongin sama Paman." Anjasmara tersenyum sungkan.
"Katakan, Njas." Ridwan menepuk pelan lengan Anjasmara, lalu bertanya, "Apa ini ada hubungannya dengan Queen?"
Anjasmara mati kutu saat Ridwan seolah bisa menebak niatnya, sambil mengatur ekspresi dia mengedarkan pandangan ke arah kerumunan manusia di ruang keluarga Ridwan yang luas. Namun, tak terlihat sosok Queensa.
Memang sejak Agung meninggal, Queensa hanya memiliki Ridwan sebagai tempat sandaran, sejak awal gadis itu tidak dekat dengan siapapun selain Ridwan, karena mereka tinggal di kota yang berbeda, Queensa juga dibesarkan tanpa sosok Ibu, kesibukan Agung membuat gadis itu tak dikenal dilingkungan keluarga besarnya.
Entah itu sepupu dari kakek neneknya, Queensa tak saling kenal, mereka juga terlihat enggan untuk mengenal Queensa yang terkenal manja dan juga sombong.
"Katakan aja." Ridwan kembali menepuk pelan lengan Anjas memberi ruang Anjasmara untuk bicara.
"Queensa... ingin kami kembali bersama" ujarnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Ketakutan melandanya. Detik berikutnya dia menghela napas dalam-dalam. Anjasmara harap Ridwan tidak menganggap dia sebagai laki-laki egois.
Ridwan yang awalnya khawatir dengan keluhan Anjasmara, seketika menghela napas lega setelah Anjasmara selesai bicara.
"Gassss...!! Njas, ku lihat kamu juga masih cinta sama ponakanku."
Anjasmara mendelik. Dia tak lagi berkata-kata dan hanya bisa meringis melihat respon Ridwan.
"Aku tahu Queensa banyak salah sama kamu, tapi ku lihat, dia mulai banyak berubah, anak itu memang keras kepala, tapi setelah kamu meninggalkannya... dia seperti bukan Queensa yang kami kenal."
Anjasmara baru akan merespon ucapan Ridwan, tapi sebuah suara lebih dulu terdengar.
"Mas Ridwan..., " suara bernada lembut itu berasal dari kamar pengantin. Mau tak mau Anjasmara harus mengalah, mereka masih bisa ngobrol nanti-nanti, tapi malam pertama pengantin baru tidak bisa di lewatkan bukan?
"Paman, saya langsung balik, mungkin setelah ngobrol sebentar sama Queensa."
"Ya, Njas, apapun keputusan kalian, aku bakal dukung, apalagi jika kamu benar-benar memberi Queen kesempatan kedua, aku sangat berterimakasih." Ujar Ridwan sebelum melangkah meninggalkan Anjasmara.
******
Anjasmara tak menemukan Queensa di dapur, dia tak mencari Queensa di ruang keluarga, karena tahu perempuan itu tidak mungkin ada disana, akhirnya setelah beberapa kali bertanya dengan pelayan, Anjasmara tahu kemana perempuan yang dicarinya itu.
Queensa berdiri di atas balkon kamar, gaun merahnya bergerak karena tiupan angin malam. tidak ada yang tahu apa yang perempuan itu pikirkan, tapi sepertinya bukan hal bahagia, karena air matanya meleleh.
Queensa berusaha menelan tangisnya agar tak tumpah. Dia sudah bertekad, tak akan pernah lagi menjadi cengeng dan lemah. Tak seorangpun diizinkan melihat dirinya terpuruk. Juga, tak seorangpun boleh melihat lukanya yang menganga.
"Apa boleh saya melarangmu menangis?"
Queensa segera menoleh ke arah pintu, Anjasmara menghambur masuk ke dalam kamar dengan ekspresi cemas.
"Kamu... belum pulang?" tanya Queensa dengan suara serak.
"Baru mau pamit." seperti biasa jawaban Anjasmara selalu irit.
"Aku juga mau pulang kok!" ucapan Queensa membuat Anjasmara mengernyitkan dahi.
Perempuan itu menghapus air mata dan berjalan kembali ke dalam kamar, tak lupa menutup pintu.
"Boleh bareng, nggak?" tanyanya lagi, menatap Anjasmara yang juga tengah menatapnya.
Queensa harusnya tidak lupa jika arah tujuan mereka berbeda.
"Kenapa nggak menginap saja?"
"Besok aku kerja, lagian.... disini aku seperti orang asing!"
Queensa tipe orang yang tak suka mencari muka, jika dia tidak disukai dia tidak bertanya sebab dan alasan mereka, biarlah, selama ini Queensa tidak ingin menjauh, tapi juga tidak berusaha mendekat.
"Kamu siap-siap, saya tunggu di luar."
Itu berarti Anjasmara mau, Queensa langsung tersenyum lebar.
"A-aku sudah siap, kok." Belum lima langkah Anjasmara berjalan, sebuah tangan sudah merangkul lengannya. Desirannya pelan tapi menyebar dengan cepat, Queensa sudah bergelayut di lengannya, tindakan tak terduga yang butuh penyesuaian untuk Anjasmara yang tak biasa.
######
Hai.....
Ada yang nungguin...
Maaf ya teman-teman, kemarin ada acara keluarga, jadi sibuk bangeeeet, baru sempat update lagi nih.
Jangan lupa tinggalkan jejak cinta kalian ya...
Biar akunya semangat update 🥰🥰
akhirnya penantian Anjasmara berbuah manis💓