Setelah empat tahun menjalin cinta terlarang beda agama yang ditentang orang tua, Manajer hotel Nayla akhirnya menyerah dan memutuskan Zefan, koki di hotelnya.
Namun, Zefan tak terima. Sifat posesifnya berubah menjadi obsesi yang mengancam Nayla. Di tengah keputusasaannya, Nayla bertemu kembali dengan Reno, mantan kekasih SMA-nya.
Terkejut dengan kondisi Nayla, Reno langsung mengambil langkah berani: ia membawa Nayla dari Bali ke Bandung dan menikahinya demi menyelamatkan Nayla dari Zefan.
Nayla awalnya trauma dan menolak, mengingat masa lalu yang menyakitkan dengan Reno. Namun, Reno membuktikan ketulusan cintanya yang tak pernah pudar. Nayla akhirnya menerima.
Dapatkah pernikahan mendadak ini, yang didasari trauma dan janji keselamatan, berjalan harmonis? Atau, apakah bayangan Zefan akan terus menghantui dan menghancurkan kebahagiaan yang baru mereka raih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim elly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Udara pagi itu masih dingin, matahari baru saja menampakkan sinarnya di ufuk timur. Reno terlihat sibuk menurunkan koper dan beberapa tas dari mobil. Di dalamnya, pakaian dan perlengkapan Nayla yang hendak ia titipkan di rumah sang ibu.
“Aku bawa mobilku ya,” ucap Nayla di depan rumah ibunya, sambil menatap Reno yang sedang menata koper.
“Jangan. Ini aja, nanti kamu antar aku sekalian ke bandara,” ucap Reno lembut.
“Oh iya ya…” Nayla tersenyum kecil, memandangi wajah suaminya yang tampak letih tapi tetap menawan di balik kemeja putih yang digulung rapi di lengan.
“Kenapa?” tanya Reno sambil menatap balik.
“Gak apa-apa,” jawab Nayla cepat, senyumnya merekah.
“Yuk, nanti telat,” ucap Reno sambil pamit pada orang tua Nayla. Ia menitipkan Nayla selama mereka akan berjauhan dua minggu ke depan.
Di Bandara
Suasana bandara pagi itu ramai. Suara pengumuman terdengar bersahutan, dan aroma kopi dari kafe di dekat pintu masuk membuat suasana sedikit lebih hangat.
Nayla berdiri di depan pintu keberangkatan, matanya mulai berkaca-kaca. “Sedih…” ucapnya lirih.
“Jangan nangis, ok?” ucap Reno sambil mengelus lembut rambut Nayla.
Nayla mengangguk, berusaha tegar, tapi air matanya tetap menetes tanpa bisa ia tahan.
“Yah, kalau nangis gini, aku nggak jadi pulang,” canda Reno sambil tersenyum lembut.
Nayla cemberut, lalu memeluk Reno erat, seolah tak ingin melepaskan. “Aku ke sini minggu depan, ya,” ucap Reno pelan di telinganya.
Nayla hanya mengangguk dalam pelukan itu, tak sanggup berkata-kata.
“Hati-hati, ya,” ucapnya akhirnya, mencoba tersenyum.
“Iya, sayang. Kamu juga hati-hati,” balas Reno, lalu menatapnya sekali lagi sebelum melangkah pergi.
Nayla berdiri di sana cukup lama, menatap punggung suaminya yang semakin menjauh. Di matanya, ada rindu yang belum sempat tumbuh tapi sudah harus ditahan.
*******
Nayla kembali ke hotel dan langsung tenggelam dalam pekerjaannya. Ia fokus mengajarkan Davin semua sistem dan prosedur operasional hotel agar bisa berjalan dengan lancar selama Reno di Bali.
“Lo harus tegas, Vin. Jangan kasihan sama bawahan. Mereka tuh kadang manja,” ucap Nayla tegas sambil menatap layar laptopnya.
“Iya, Bu,” sahut Davin pura-pura hormat sambil tersenyum jahil.
“Coba cek, kenaikan berapa persen?” tanya Nayla sambil menyilangkan tangan.
Davin menatap tab di depannya. “Baru 40%.”
Nayla menghela napas panjang. “Gue harus naikin lagi sebelum dua minggu.”
“Oke, lo mulai kerja lagi. Gue mau keliling,” ucap Nayla sambil berdiri dan merapikan jasnya.
“Siap, Bu Nayla,” ucap Davin sambil memberi hormat pura-pura.
Hari-hari Nayla berikutnya begitu sibuk. Ia jarang makan, sering begadang, dan hanya fokus meningkatkan rating serta pendapatan hotel. Reno yang berada di Bali tetap rutin menelponnya empat sampai lima kali sehari, seolah takut kehilangan momen sekecil apa pun dengannya.
Sementara di Bali...
Reno juga disibukkan dengan proyek besar hotel barunya. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Beberapa kali, Tania datang ke hotel dengan berbagai alasan—entah untuk menginap atau sekadar ingin menemui Reno.
Namun staf hotel yang sudah diberi instruksi tegas selalu menolak melayaninya.
Hingga suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat dan Reno hendak pulang, sosok Tania muncul di taman luar hotel. Ia duduk di bangku taman, menunggu selama berjam-jam. Begitu melihat Reno keluar, ia langsung berdiri dan menghampiri.
“Hey, Ren! Susah banget sih mau ketemu lo!” seru Tania sambil tersenyum genit. Rambut pirangnya tergerai, baju tengtop warna peach dan hotpants sobek-sobek terlihat sexy ciri khas turis bali.
Reno langsung berhenti, wajahnya dingin. “Gue udah nikah. Jadi lo jangan coba-coba deketin gue,” ucapnya ketus tanpa basa-basi.
Arka, adik Reno yang ikut menemani, berdiri beberapa langkah di belakang, memperhatikan suasana dengan mata waspada.
“Ren…” suara Tania merendah, memelas. “Kita nggak bisa kayak dulu lagi? Gue kangen lo. Gue nggak punya temen, Ren. Gue juga butuh kerjaan…”
Reno menghela napas panjang, jelas menahan kesal. “Lo banyak temen, Tan. Jangan ajak gue ngomong. Nayla bisa ngamuk, dan gue nggak mau itu terjadi. Oke?” ucapnya cepat sambil membuka pintu mobil.
“Ren! Ren, tunggu!” Tania menggedor pintu mobil, tapi Reno menatap lurus ke depan, menyalakan mesin, lalu melaju pergi tanpa menoleh.
Arka menatap dari kursi penumpang dengan heran. “Siapa dia?”
“Jangan laporin ini ke Nayla. Dia bisa marah,” ucap Reno tegas.
“Tapi gue disuruh laporan, gimana dong?” tanya Arka polos.
“Jangan! Gue nggak ngapa-ngapain, lo liat sendiri kan? Tapi itu bisa jadi masalah besar buat Nayla. Tolong, pliss, jangan ya,” pinta Reno memohon.
Arka menatap kakaknya lama, lalu berkata pelan, “Oke, tapi satu syarat.”
“Apa?” tanya Reno curiga.
“Beliin gue HP baru,” ucap Arka santai.
Reno mendengus. “Akh, sial. Ngapain sih lo ikut?”
“Pelit amat sama adiknya sendiri,” sindir Arka sambil nyengir.
“Bukan gitu, lo minta yang nggak kira-kira!” sahut Reno kesal.
“Ya udah, kalau gitu gue bilangin Kak Nayla aja,” ucap Arka pura-pura mengeluarkan ponselnya.
“Ok-ok! Gue beliin lo ponsel,” ucap Reno akhirnya menyerah.
“Keluaran terbaru ya, PO!” sahut Arka senang.
“Astaghfirullah…” desah Reno sambil memukul setir pelan.
Malam itu, setelah sampai di rumah, Reno langsung memesan ponsel baru untuk Arka.
“Tunggu satu minggu,” katanya datar.
“Yess!” Arka bersorak girang.
Tanpa sepengetahuan mereka, dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan. Tania masih di dalam mobilnya, mengikuti Reno sejak tadi.
“Buset… rumahnya gede amat,” gumam Tania dengan nada iri. “Si Nayla beruntung banget.”
Ia menatap rumah itu lama, bibirnya tersenyum miring—sebuah senyum yang membawa niat tak baik di baliknya.
Bersambung...