NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.

Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.

Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.

Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.

Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.

Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Jantung Pertahanan

"Bagaimana Otoritas Moneter Singapura bisa tiba-tiba membekukan rekening utama kita?"

Suara Sebastian Mahendra membelah keheningan ruang kerja lantai atas Mahendra Tower.

Bambang Wirawan berdiri kaku sepuluh langkah dari meja kerja bosnya. Keringat dingin meluncur bebas dari pelipis pria paruh baya itu.

Sebastian melempar sebuah tablet ke atas meja kaca. Benda pipih itu bergeser cepat dan berhenti tepat di ujung meja. Layarnya menyala merah menampilkan notifikasi pemblokiran dana dari pihak bank asing.

"Jelaskan padaku, Bambang." Sebastian menatap tajam direktur keuangannya. "Sekarang juga."

Bambang menelan ludah dengan susah payah. Matanya tidak berani menatap langsung wajah sang CEO.

"Pihak otoritas menemukan anomali transaksi, Pak." Suara Bambang bergetar pelan. "Ada laporan masuk terkait aliran dana dari anak perusahaan kita menuju rekening di Cayman Island."

Sebastian menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mahalnya. Tangannya bertumpu di atas sandaran lengan. Jari telunjuknya mengetuk pelan permukaan kulit kursi.

Satu ketukan. Dua ketukan.

Ruangan itu mendadak kehilangan pasokan oksigen bagi Bambang.

"Siapa yang membocorkan rute transaksi itu?" tanya Sebastian datar.

"Kami sedang melacaknya. Pola pemindahan dana ini sangat rahasia. Hanya dewan direksi inti yang memiliki akses data tersebut."

Sebastian menghentikan ketukan jarinya. Rahangnya mengeras rapat. Seseorang di dalam lingkarannya berani berkhianat. Seseorang sengaja menusuk titik buta perusahaannya tepat saat ia sedang sibuk mengurus hal lain.

"Berapa lama mereka menahan dana itu?"

Bambang menunduk semakin dalam. "Minimal tiga puluh hari kerja. Mereka butuh waktu untuk membuktikan dana itu bebas dari indikasi pencucian uang."

Brak.

Telapak tangan Sebastian menghantam meja kaca. Getarannya merambat sampai ke lantai.

Tiga puluh hari adalah vonis mati bagi perputaran kas Mahendra Group. Kerajaan bisnisnya membutuhkan aliran dana segar setiap harinya. Bunga bank, biaya operasional alat berat, hingga uang tutup mulut untuk para pejabat. Semua itu menuntut pembayaran mutlak dan tepat waktu.

"Aku menggajimu ratusan juta setiap bulan bukan untuk membawa alasan." Sebastian berdiri perlahan. "Aku membayarmu untuk memastikan mesin uangku tidak pernah berhenti berputar."

Bambang memucat pasi. "Maafkan saya, Pak Sebastian."

"Simpan maafmu." Sebastian memutar tubuhnya menghadap jendela kaca raksasa. "Proyek kawasan industri Cikarang. Bagaimana status pembebasan lahannya hari ini?"

Proyek Cikarang adalah jalan keluar paling logis sekarang. Lahan ratusan hektare itu bisa ia jadikan agunan baru. Bank lokal pasti akan mencairkan dana segar triliunan rupiah dengan jaminan sertifikat lahan tersebut.

"Masih ada kendala di lapangan, Pak."

Sebastian menoleh perlahan. Sorot matanya siap memangsa.

"Warga lokal menolak nilai ganti rugi," lanjut Bambang buru-buru. "Mereka menuntut mediasi ulang bulan depan bersama kepala daerah."

"Gilas mereka."

Bambang terkesiap. "Pak?"

"Gunakan preman lokal. Bayar aparat desa. Potong akses air dan listrik ke pemukiman mereka." Sebastian berjalan mendekati Bambang dengan langkah terukur. "Aku tidak peduli caranya. Aku mau tanah itu bersih dalam tiga hari."

"Tapi media lokal mulai mencium penolakan warga."

"Bungkam medianya!" potong Sebastian tajam. "Beli redakturnya. Kalau mereka menolak, hancurkan reputasi wartawannya. Kamu mengerti?"

Bambang mengangguk patah-patah. "Baik, Pak. Saya mengerti."

"Keluar dari ruanganku. Jangan kembali sebelum kamu membawa solusi."

Bambang membungkuk hormat dan berjalan cepat keluar ruangan. Pintu kayu jati itu tertutup rapat.

Sebastian kini sendirian.

Ia melonggarkan ikatan dasinya dengan tarikan kasar. Udara dari pendingin ruangan tidak mampu meredam panas yang mendidih di dadanya. Pria itu berjalan menuju meja bar di sudut ruangan.

Tangannya mengambil gelas kristal bersih. Ia menuangkan wiski tanpa tambahan es. Cairan keemasan itu langsung ia teguk habis dalam satu kali tarikan napas.

Rasa panas membakar kerongkongannya. Sensasi itu mengembalikan sedikit kendali atas pikirannya yang berantakan.

Sebastian menatap pantulan dirinya di kaca jendela tebal. Jakarta terhampar luas di bawah kakinya. Gedung pencakar langit, jalanan padat, ribuan manusia. Ia menguasai kota ini. Ia selalu menang. Tidak ada satu orang pun yang berani menatap matanya dengan dagu terangkat.

Kecuali Shaquena.

Tangan Sebastian meremas gelas kristal itu kuat-kuat. Buku-buku jarinya memutih.

Bayangan hari lamaran itu kembali berputar di kepalanya. Di depan ratusan tamu, wanita itu menolak lamarannya. Shaquena menepis tangannya, lalu memilih menggenggam tangan Stefanus.

Stefanus. Adik tiri yang tidak berguna. Parasit yang selama ini menumpang hidup di bawah bayang-bayang kebesaran namanya.

Napas Sebastian memburu. Kebencian murni bergolak di dalam perutnya. Shaquena berani memilih pria miskin dan lemah itu dibandingkan dirinya. Wanita itu benar-benar mencari mati.

"Kamu pikir kamu bisa lari dariku, Quena," bisik Sebastian pada pantulannya sendiri.

Mantan calon istrinya itu mulai bermain api. Laporan dari orang suruhannya menyebutkan Shaquena mulai bergerak membangun aliansi. Wanita itu mengira dirinya aman hanya karena berlindung di balik punggung Stefanus.

Sebastian meletakkan gelasnya ke meja. Bunyi benturan kaca dan kayu terdengar nyaring.

Ia tidak akan membiarkan mereka hidup tenang. Ia akan meremukkan Stefanus sampai pria itu merangkak memohon ampun. Lalu ia akan memaksa Shaquena kembali ke bawah telapak kakinya. Ia akan membuat wanita itu menyadari betapa bodoh keputusannya.

Pintu ruangan berderit terbuka tanpa ketukan.

Riyadi melangkah masuk. Kepala divisi hukum Mahendra Group itu berjalan santai dengan senyum tersungging di bibirnya. Aroma parfum menyengat menguar dari tubuhnya.

"Bapak memanggil saya?" sapa Riyadi.

Pria paruh baya itu baru saja memenangkan sidang melawan sebuah pabrik tahu kecil siang ini. Kemenangan mudah itu selalu sukses membuat egonya melambung tinggi menembus atap.

Sebastian berbalik badan. Ia menatap muak pada senyum arogan bawahannya itu.

"Duduk," perintah Sebastian dingin.

Riyadi menarik kursi kulit di depan meja kerja dan menyilangkan kakinya. "Gugatan receh dari pabrik tahu itu sudah saya bereskan, Pak. Pengacara amatiran mereka pulang menangis di bawah hujan lebat siang tadi."

Sebastian menumpukan kedua tangannya di atas meja. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Aku tidak membayarmu mahal untuk menyombongkan kemenangan melawan tikus got."

Senyum di wajah Riyadi langsung membeku. Kakinya yang tersilang otomatis turun ke lantai. Pria itu langsung memperbaiki postur duduknya menjadi tegap.

Ruangan kembali dikuasai atmosfer mencekam. Riyadi baru menyadari bosnya sedang berada dalam kondisi mental yang sangat berbahaya.

"Kita butuh aset jaminan baru hari ini juga," kata Sebastian memecah kesunyian. "Laporan keuanganku harus terlihat bersih di mata bank lokal."

Riyadi menelan ludah. "Aset jaminan baru? Bukannya lahan di Sumatera sudah kita masukkan ke bank minggu lalu?"

"Lahan itu sudah cair dan uangnya sudah habis untuk proyek lain." Sebastian menatap lurus mata Riyadi. "Cari aset bersertifikat hak milik yang tidak terikat dengan nama Mahendra Group."

Otak licik Riyadi berputar cepat. Ia memilah ratusan daftar aset yang pernah ia pegang dokumennya.

"Ini mendesak, Riyadi. Aku butuh lahan bernilai tinggi."

Riyadi tiba-tiba mengangkat wajahnya. Matanya berbinar menemukan satu celah emas.

"Bagaimana dengan pabrik tekstil milik keluarga Mahardika?" usul Riyadi hati-hati.

Sebastian terdiam. Matanya memicing perlahan.

"Pabrik di Jawa Barat itu berdiri di atas lahan seluas dua hektare lebih." Riyadi melanjutkan kalimatnya dengan nada meyakinkan. "Lokasinya berada di zona industri premium. Bank mana pun pasti akan berebut menerima sertifikat tanah itu sebagai agunan."

Pabrik tekstil Mahardika. Itu adalah jantung pertahanan keluarga Shaquena. Ayah Shaquena mempertaruhkan nyawanya untuk menjaga pabrik itu tetap beroperasi demi ribuan karyawannya.

"Lahan itu milik mereka sepenuhnya," ucap Sebastian datar. "Bagaimana caramu mengambil alih sertifikatnya dalam hitungan hari?"

Riyadi tersenyum licik. Kepercayaan dirinya kembali utuh.

"Pabrik mereka sedang sekarat bulan ini, Pak." Riyadi memajukan posisi duduknya. "Mereka menunggak pembayaran bahan baku impor kepada dua penyuplai lokal."

"Lalu?"

"Dua penyuplai lokal itu adalah perusahaan cangkang milik kita."

Sudut bibir Sebastian perlahan terangkat. Ini adalah berita terbaik yang ia dengar sepanjang hari. Sebuah kebetulan yang dirancang semesta untuk mendukung kemenangannya.

"Utang jatuh tempo mereka mencapai angka miliaran rupiah." Riyadi mengetukkan jarinya ke sandaran kursi. "Kita bisa menggunakan utang itu sebagai senjata pembunuh."

Jika ia merampas pabrik itu, ayah Shaquena akan terkena serangan jantung. Keluarganya akan jatuh miskin dalam semalam. Shaquena tidak akan punya tempat bersandar selain kembali kepadanya. Wanita itu akan berlutut menangis, memohon belas kasihan dan bantuan dana darinya.

Ia akan membuang Shaquena layaknya kain lap kotor setelah memanfaatkan seluruh asetnya.

"Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk merampungkan dokumennya?" tanya Sebastian.

Suaranya kini terdengar sangat tenang. Ketenangan seorang algojo yang siap memenggal kepala korbannya.

"Beri saya waktu dua hari." Riyadi merapikan kerah jasnya. "Saya akan menyiapkan draf peringatan utang resmi ke meja mereka."

"Dua hari terlalu lama."

Riyadi terkejut. "Pak?"

"Kerjakan malam ini juga." Sebastian menatap Riyadi dengan sorot mata tanpa ampun. "Gunakan seluruh koneksimu di pengadilan niaga. Beli hakimnya jika perlu."

Riyadi mengangguk mantap. "Baik, Pak. Saya akan mengurusnya detik ini juga."

"Lakukan dengan cepat dan tanpa celah."

1
watno antonio
lanjut thor
Carisoy
Baca nti ajh tunggu kalau sudah selesai revisi deh👍
DdCantik
Emang bisaan bikin cerita seru, jadi si shqena paling udah gila, mantaplah ayok lanjut
DdCantik
Semangat 💪💪💪💪
Fahreziy
👣👣👣
falea sezi
jd saquena uda gila kali q 😓
falea sezi
baru aja baca😕 uda nyesek😓 air mata keluar sendiir😓
DdCantik
ribet banget jadi orang kaya🤭
Pratiwiajah
kaya gini palingan beneran ada di Konoha sini ya????🤭
Pratiwiajah
ok Fik aku benci si basbas ini
Pratiwiajah
tragis bgt/Sob/
NolaRona
up🙏
Betharia Anggita Dominique
thor, bikin cerita mesti sadis👍
Betharia Anggita Dominique
bagussss👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
wih, kaga bisa bayangin begimana jadi shaqena duh
Betharia Anggita Dominique
keluarga lucknut
Jitison
ditunggu 🙏
Jitison
kasihan skali
Carisoy
lanjutkan yu
DdCantik
makin seru👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!