NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.

Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.

Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.

Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.

Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.

Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Menebus Dosa

"Tanda tangani surat pengakuan pelecehan ini. Tuan Sebastian sudah berjanji akan menjamin hidupmu tetap nyaman di dalam penjara."

Perwira polisi bermata tajam itu mendorong selembar surat bermaterai ke hadapan Shaquena di atas meja besi yang sudah berkarat.

Ruang interogasi Polsek Jakarta Pusat terasa pengap. Bau keringat bercampur asap rokok memenuhi ruangan. Kipas angin tua di langit-langit berputar pelan, tetapi sama sekali tidak mampu mengusir hawa panas di ruangan tanpa jendela itu.

Stefanus bersandar tenang di kursinya. Kedua pergelangan tangannya diborgol erat pada lengan kursi hingga meninggalkan bekas merah, tetapi raut wajahnya tetap datar. Ia bahkan tidak melirik surat itu sedikit pun.

"Kakakmu memang murah hati." Perwira itu mengetuk meja dengan ujung penanya. "Dia sudah menyuap setengah isi kantor ini. Hari ini kamu sudah tidak punya jalan keluar. Jadi, terima saja."

"Saya tidak butuh jalan keluar dari tempat ini," jawab Stefanus tenang.

Suaranya tetap datar, tanpa sedikit pun terdengar takut. Pikirannya justru melayang pada Shaquena. Plester cokelat kecil yang menempel di jari telunjuk istrinya. Secangkir teh kamomil yang mereka minum bersama pagi tadi, sebelum polisi mendobrak masuk ke kantor aliansi mereka.

Kenangan sederhana itu membuat hati Stefanus tetap teguh. Ia tidak akan membiarkan rasa takut menguasainya. Ia sudah berjanji akan membangun segalanya dari nol bersama Shaquena. Menyerah pada fitnah murahan seperti ini berarti mengingkari janji itu.

Pintu besi ruangan tiba-tiba terbuka dengan bunyi berderit.

Sebastian Mahendra melangkah masuk. Jas hitamnya rapi tanpa sedikit pun kusut, sementara sepatu kulit mahalnya beradu pelan dengan ubin kusam. Tatapannya dingin, seolah sengaja datang untuk menekan Stefanus.

Perwira polisi itu langsung menundukkan kepala, lalu mundur ke sudut ruangan tanpa berani menatap lagi.

"Kamu kelihatan menyedihkan, Stefanus." Sebastian berhenti di depan meja. Tatapannya menyapu borgol yang melingkari tangan adiknya, lalu senyum tipis penuh kemenangan terukir di wajahnya. "Duduk terikat seperti penjahat."

"Justru kamu yang kelihatan putus asa, Kak." Stefanus menatapnya tanpa gentar. "Orang yang sudah kehabisan akal memang biasanya memilih cara-cara kotor seperti ini. Kamu sudah tidak sanggup mengalahkan Shaquena di dunia bisnis."

Rahang Sebastian mengeras. Ia mencondongkan tubuh, lalu menumpukan kedua tangan di atas meja besi. Kini wajah mereka hanya terpisah beberapa sentimeter.

"Ini baru permulaan." Suaranya turun menjadi bisikan dingin. "Kamu pikir bisa melindunginya? Besok pagi, semua stasiun televisi akan memberitakan kasusmu. Nama kalian akan hancur. Saham perusahaan yang mendukung kalian akan anjlok. Para investor akan menarik dananya. Pada akhirnya, Shaquena akan datang kepadaku sambil menangis dan memohon agar aku membereskan semua kekacauan ini."

Stefanus tetap tidak terpancing. Ia membiarkan Sebastian meluapkan semua ancamannya. Baginya, sikap kakaknya itu justru menunjukkan satu hal: Sebastian mulai panik karena aliansi mereka benar-benar mengusik posisi Mahendra Group.

"Shaquena tidak akan pernah kembali padamu," kata Stefanus tegas. Tatapannya tetap lurus menembus mata kakaknya. "Dia memilih pria yang mau berdiri di sisinya saat terpuruk, bukan pria yang terus-menerus mendorongnya ke jurang. Istriku sudah tahu siapa dirimu yang sebenarnya."

Brak!

Sebastian menggebrak meja besi sekuat tenaga. Napasnya memburu, sementara raut tenangnya seketika menghilang. Ucapan Stefanus barusan benar-benar menusuk harga dirinya.

"Kita lihat saja berapa lama istrimu itu sanggup menghadapi tekanan dewan komisaris di luar sana!" bentaknya.

Setelah itu, Sebastian berbalik dan melangkah keluar. Pintu besi dibanting keras di belakangnya hingga suaranya menggema ke seluruh ruangan.

Stefanus memejamkan mata sejenak. Ia percaya pada Shaquena. Istrinya bukan perempuan yang mudah menyerah. Apa pun yang terjadi, mereka akan menghadapi semuanya bersama.

Sementara itu, di lobi kantor polisi, gerimis mulai membasahi pelataran parkir.

Daniel berdiri di balik pilar beton, berusaha menyembunyikan diri. Tangannya mencengkeram erat tali ransel hitam di bahunya. Keringat dingin membasahi pelipisnya, sementara napasnya terasa berat. Kekacauan yang terjadi hari ini berawal dari satu kesalahan yang ia buat sendiri.

Beberapa meter dari Daniel, Shaquena berdiri tegak menghadapi tiga pria berjas rapi. Mereka adalah anggota dewan komisaris Mahendra Group yang dikirim Sebastian untuk menekan mentalnya.

"Nyonya Shaquena, Anda harus sadar dengan keadaan ini." Seorang komisaris berkepala plontos menunjuk ke arah ruang tahanan. "Suami baru Anda sekarang menjadi tersangka kasus pelecehan. Skandal ini akan menyeret nama keluarga Mahardika. Reputasi perusahaan bisa hancur, dan publik tidak akan memaafkan kasus seperti ini."

"Ceraikan dia sekarang juga, dan kami akan mempertimbangkan restrukturisasi utang pabrik ayah Anda," sambung komisaris yang lain. "Itu penawaran terakhir dari Tuan Sebastian. Setelah ini, pabrik ayah Anda akan kami sita."

Daniel menahan napas. Ia menunggu Shaquena goyah. Menunggu wanita itu menangis, menyerah, atau setidaknya kehilangan ketenangannya di tengah tekanan yang datang bertubi-tubi.

Namun, Shaquena sama sekali tidak bergeming.

Ia menatap ketiga petinggi perusahaan itu dengan wajah tenang. Tidak ada sedikit pun rasa takut di matanya. Cara ia berdiri saja sudah cukup membuat mereka tahu bahwa ancaman itu tidak berarti apa-apa baginya.

"Simpan ancaman kalian." Suara Shaquena tetap tenang, tetapi tegas. "Stefanus tidak bersalah. Suami saya tidak akan pernah menyentuh perempuan yang dikirim Sebastian."

"Buktinya sudah tersebar di semua stasiun televisi!" bantah komisaris itu. Wajahnya memerah karena kesal melihat Shaquena tetap tenang.

"Itu bukan bukti." Shaquena melangkah maju satu langkah. Ketiga pria itu tanpa sadar ikut mundur. "Itu hanya sandiwara. Dan saat sandiwara itu terbongkar besok pagi, pastikan kalian tidak ikut jatuh bersama Sebastian."

Shaquena berbalik tanpa berkata apa-apa lagi. Ia berjalan ke kursi tunggu, lalu duduk dengan tenang. Punggungnya tetap tegak. Ia hanya menunggu Stefanus keluar. Tidak sedikit pun terlihat cemas atau ragu.

Daniel memalingkan wajah. Dadanya terasa sesak melihat pemandangan itu. Kepalanya berdenyut semakin hebat.

Bayangan Ratih di kamar rumah sakit kembali memenuhi pikirannya. Lalu koper hitam berisi uang dari Theo. Setelah itu, pelunasan biaya rumah sakit yang diam-diam dibayar oleh Shaquena.

Wanita yang baru saja ia khianati itu ternyata adalah orang yang menyelamatkan keluarganya. Shaquena tidak pernah meminta balasan atau mencari pujian. Ia langsung bertindak menyelamatkan nyawa Ratih. Sementara orang yang selama ini ia patuhi justru sedang berusaha menghancurkan hidup wanita itu.

Daniel menarik napas panjang, lalu berjalan menjauh dari keramaian di lobi. Langkahnya membawanya ke kantin belakang kantor polisi yang hampir kosong.

Di salah satu sudut, Maya sedang duduk sendirian.

Mahasiswi hukum itu sibuk menatap layar laptopnya. Kacamata bertengger di pangkal hidung, sementara secangkir kopi hitam di sampingnya sudah dingin. Sejak tadi ia terus menelusuri pasal demi pasal, mencari celah hukum agar Stefanus bisa segera dibebaskan.

Suara langkah kaki membuat Maya mendongak.

"Ngapain kamu ke sini?" tanyanya dingin. Tatapannya langsung menangkap wajah Daniel yang gelisah. Ia lalu menyilangkan tangan di dada. "Mau cari bahan laporan lagi buat bos barumu? Ruang interogasi di depan."

Daniel tidak menanggapi sindiran itu. Ia menarik kursi plastik merah, lalu duduk di hadapan Maya.

"Aku butuh bantuanmu," ucapnya lirih.

Maya menutup laptopnya dengan keras.

"Aku tidak mau bekerja sama dengan pengkhianat."

Ia langsung berdiri dan meraih tas selempangnya. Sedetik pun ia tidak ingin berada satu meja dengan orang yang telah menjual rekan-rekannya sendiri.

"Aku tahu dari mana Sebastian mendapatkan uang untuk membayar Clarissa."

Langkah Maya langsung terhenti. Ia menoleh, lalu menatap Daniel lekat-lekat. Setelah beberapa detik, ia kembali duduk, tetap menjaga jarak. Nalurinya sebagai mahasiswa hukum mengatakan informasi itu tidak bisa diabaikan.

"Jelaskan," katanya singkat. "Jangan buang waktuku."

Daniel membuka ritsleting ranselnya. Jemarinya sedikit gemetar saat mengeluarkan sebuah map plastik bening. Di dalamnya tersimpan beberapa lembar dokumen berisi deretan angka dan catatan transaksi dari rekening bank luar negeri.

"Sebastian memang berhasil memanipulasi rekaman CCTV hotel." Daniel mendorong map itu ke arah Maya. "Tapi dia ceroboh saat memindahkan uang untuk membayar Clarissa. Orang yang terlalu percaya diri sering lupa menutupi jejaknya."

Maya tidak langsung mengambil map itu. Tatapannya tetap tertuju pada Daniel.

"Kenapa baru sekarang kamu memberikannya padaku?" tanyanya. "Kenapa tidak sekalian menikmati uang yang kamu terima?"

Daniel menunduk. Ia menelan ludah sebelum akhirnya menjawab.

"Karena aku berutang nyawa pada Bu Shaquena." Suaranya serak, dipenuhi penyesalan. "Beliau yang melunasi biaya rumah sakit adikku tanpa meminta apa pun. Beliau menyelamatkan Ratih. Tapi aku malah membalasnya dengan menjual jadwal Pak Stefanus demi uang."

Maya mendengus pelan.

"Jadi sekarang kamu mau menebus semua dosamu?"

"Aku tidak peduli kalau setelah ini kalian menyerahkanku ke polisi." Daniel menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia menahan diri agar tidak menangis. "Aku memang pantas dihukum. Tapi sebelum itu, aku ingin menghentikan Sebastian. Aku tidak bisa membiarkan dia terus menghancurkan Bu Shaquena."

Maya akhirnya mengambil map bening itu. Ia membuka halaman pertama, lalu membacanya dengan saksama.

Deretan kode SWIFT bank terpampang jelas. Nomor rekening tujuan atas nama Clarissa. Waktu transfer tercatat pukul satu dini hari, hanya lima jam sebelum video pengakuan palsu itu ditayangkan di televisi.

"Lihat ini..." gumam Maya sambil menelusuri deretan transaksi dengan ujung jarinya.

"Itu transfer dari rekening luar negeri di Cayman Island." Daniel mengangkat kepala. Nada bicaranya kembali tenang, seperti saat ia bekerja. "Sebastian biasa memakai rekening itu untuk membayar orang tanpa meninggalkan jejak. Tadi pagi aku berhasil melacaknya. Dia terlalu percaya diri sampai lengah."

Tatapan Maya berhenti pada nama pemilik rekening pengirim.

SEBASTIAN MAHENDRA

Nominal transfernya mencapai dua miliar rupiah. Kolom keterangan sengaja dibiarkan kosong.

"Ini bukti aliran dananya langsung." Napas Maya sedikit memburu. Pikirannya segera menyusun langkah berikutnya. "Kalau dokumen ini asli, kita bisa membuktikan laporan Clarissa memang direkayasa."

"Bukan itu saja." Daniel menunjuk bagian bawah dokumen. "Lihat waktu transfernya. Uang itu masuk sesaat setelah Clarissa check-in di hotel. Aku juga mencocokkannya dengan data resepsionis yang berhasil kuakses. Selama sore itu, Clarissa tidak pernah naik ke lantai lima tempat Pak Stefanus mengadakan rapat. Dia terus berada di lantai dua."

Maya menatap Daniel, lalu kembali melihat dokumen di tangannya.

Kalau semua data ini benar, mereka tidak hanya punya celah untuk membela Stefanus. Mereka memegang bukti yang bisa meruntuhkan seluruh kebohongan Sebastian.

"Kamu tahu risikonya kalau menyerahkan data ini padaku?" Maya menatap Daniel lekat-lekat. Kini ia sadar, pemuda di hadapannya baru saja mempertaruhkan hidupnya sendiri. "Sebastian pasti akan memburumu."

1
Rini Hasmira
kok bs keren bgini sich thor
yula
💪💪💪💪💪thor
Anita Rahayu
jgn biarkan thor😡😡😡😡😡😤😤😤😤😤😤😤
gaby
Shaquena sok pahlawan sih. Sok jd donatur anonim, akhirnya uangnya terbuang sia2 oleh pengkhianatan Daniel. Mengulang wkt tp ko tetep bodo, tetep kalah. Kampret lah
gaby
Kayanya Sebastian jg mengulang wkt y?? Ko dia slalu tau pergerakan Quena
gaby
Trus wkt Quena ke kampus Daniel buat apa?? Ko bukannya menjalin kerjasma malah jd penonton kehancuran Daniel doang
gaby
Ko mendiang istri sih?? kan helena istri Stevanus & msh hidup
gaby
Oalah ini flasback sblm mengulang wkt. Coba di sisipin kalimat Flasback, biar ga gagal paham
gaby
Ko suaminya sih?? Bukannya shaquenq mengulang wkt, harusnya blm nikah dong. Ko Saquena di panggil nyonya mahendra?? Jujur aq bingung sm alurnya
Juriah Rahmat
lanjuut thor
Juriah Rahmat
kerreenn
Juriah Rahmat
lanjuuut thor gk pake lama yg b
nyaaaakk jg yaaa/Grin/
Santi Seminar
kalo cuma reinkarnasi sebelum menikah dgn Bastian sih gak adil ya rasanya
INeeTha: ka aku gagal paham, gimana maksudnya "ngga adil" coba tolong Kaka kasih aku penjelasan, kali aja aku dapet insight lain. 🙏🙏🙏
total 1 replies
R_Bell
💪💪💪
watno antonio
lanjut thor
Carisoy
Baca nti ajh tunggu kalau sudah selesai revisi deh👍
DdCantik
Emang bisaan bikin cerita seru, jadi si shqena paling udah gila, mantaplah ayok lanjut
DdCantik
Semangat 💪💪💪💪
Fahreziy
👣👣👣
falea sezi
jd saquena uda gila kali q 😓
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!