KAILA SAFIRA seorang gadis cerdas berusia 22 tahun, yang tewas usai tertabrak mobil saat akan membeli martabak selepas menghadiri rapat perusahaan milik mendiang orang tuanya.
Bukannya menuju alam barzah, Kaila justru masuk ke dalam tubuh KANAYA ADELINE. Seorang figuran yang hanya satu kali di sebutkan dalam novel yang berjudul 'MY DESTINY' tokoh dengan kehidupan yang tak diketahui bahkan oleh penulis itu sendiri.
Penasaran dengan kelanjutan kisahnya?
Mari kita ikuti ceritanya di bawah ini......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skyalexy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Setelah lama waktu berjalan, akhirnya rombongan Kanaya dan para korban telah sampai di tenda, Cici yang melihat Kanaya dari kejauhan segera berlari dan memeluk nya di sertai tangisan keras.
Tidak hanya Cici, teman-teman yang lain pun segera menghampiri mereka. Wajah-wajah yang tadinya tegang dan khawatir kini berubah menjadi lega dan haru. Mereka memeluk Kanaya seraya mengucapkan syukur karena mereka telah kembali dengan selamat.
"Huaaa, akhirnya lo balik Nay. Hiks...lo tau, gue takut kalian kenapa- kenapa, hiks.. hiks..."
"Iya Ci,. makasih udah khawatir sama gue, kita semua juga gak papa kok"
"Tunggu, ini tangan lo kenapa bisa di perban?" tanyanya panik di sertai tangisan kekhawatirnya
" Ohh ini.. tenang aja, ini cuman luka kecil. Lagian udah di obatin juga." Jawab Kanaya menenangkan Cici.
Setelahnya melihat kondisi Kanaya, diam-diam Cici juga melirik wajah Devan sang tunangan untuk memastikan keadaannya. Devan yang merasa diperhatikan segera melihat kearah Cici seraya tersenyum dan mengangguk, menandakan seolah keadaannya baik-baik saja.
Meskipun begitu, Cici masih merasa khawatir dan tidak tenang sebelum ia benar-benar melihat Devan dalam keadaan sehat dan tanpa luka.
Ia tahu bahwa Devan adalah sosok yang bertanggung jawab dan tidak ingin membuat orang lain khawatir, sehingga ia mungkin menyembunyikan rasa sakit atau luka yang ia derita.
Cici kemudian menghampiri Devan dan dengan lembut menanyakan keadaannya. Ia memeriksa setiap bagian tubuh Devan untuk memastikan tidak ada luka atau cedera yang tersembunyi.
Devan yang melihat perhatian dan kekhawatiran Cici merasa terharu dan semakin mencintainya. Ia berjanji dalam hati untuk selalu menjaga Cici dan tidak akan pernah membuatnya khawatir lagi.
Interaksi antara Cici dan Devan tak luput dari perhatian dan pandangan dari orang-orang sekitar. Beberapa orang mulai curiga dan bertanya-tanya mengenai hubungan keduanya.
Apalagi ada beberapa orang yang terlihat iri dan cemburu mengenai kedekatan keduanya. Namun tak jarang, ada juga yang menyukai kedekatan keduanya yang dirasa mereka memang cocok dan serasi.
Setelah suasana haru mereda, Kanaya meminta agar para korban segera mendapatkan pertolongan pertama dari tim medis yang telah disiapkan disana. Mereka diperiksa kondisi fisiknya dan diberikan perawatan yang diperlukan.
"Saga, siapa mereka? Dan bagaimana dengan situasi yang terjadi disana?." tanya pak Tomi, dengan wajah penasaran melihat ada banyak wajah-wajah asing yang tak di kenalinya tengah mendapatkan perawatan medis.
Saga yang di tanyai pun langsung menatap Indra, seolah mengatakan agar dia saja yang menjelaskan nya. Indra yang mengerti pun langsung angkat bicara.
Dengan suara yang masih sedikit terengah-engah, Indra mulai menceritakan mengenai kejadian yang baru saja mereka alami. Menggunakn bahasa campurannya.
"Pak, tadi kita ketemu penjahat di tengah hutan," kata Indra memulai ceritanya.
"Awalnya kami cuma dengar suara orang minta tolong, tapi Karena penasaran, kita coba cari sumber suara itu."
"Dan ternyata benar, kita liat sekumpulan orang pake pakaian item-item lagi narik-narik kakek itu" lanjut Indra seraya menunjuk kakek tua yang sudah terlihat kelelahan.
Indra kemudian menceritakan juga tentang perkelahian yang terjadi antara Kanaya, David dan Saga melawan para penjahat.
Ia juga menceritakan tentang para korban yang Devan temukan di dalam sel penjara, termasuk anak-anak dan wanita.
"Dan ini yang kita temukan pak" timpa Abi seraya memberikan banyak dokumen-dokumen yang sudah diambilnya sebagian barang bukti.
Setelah mendengar cerita Indra dan melihat bukti yang diberikan Abi, tak hanya Pak Tomi, namun seluruh orang pun terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Pak Tomi, kemudian beralih bertanya kepada Kanaya. "Apakah semua ini benar, nak?"
Kanaya yang masih terlihat santai langsung mengangguk membenarkan cerita Indra.
"Benar, Pak. Kami juga tidak menyangka akan menemukan kejadian seperti ini di tengah hutan," ucap Kanaya.
Pak Tomi kemudian tеrdiam sejenak, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja ia terima.
Ia berkata pada semuanya jika pihak panitia akan melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang untuk segera menangani kasus ini.
Setelah itu, Pak Tomi tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Saga, David, dan anggota kelompok lainnya atas keberanian dan tindakan mereka yang telah menyelamatkan banyak orang.
Meskipun Pak Tomi sudah berkata akan melaporkan para penjahat pada pihak berwenang, sebagian siswa-siswi justru mulai berbisik-bisik karena takut mereka sudah tidak aman lagi jika mengadakan acara camping di hutan ini.
Pak Tomi selaku kepala panitia camping yang melihat keadaan sudah tidak kondusif menghela nafas kasar.
Dia merasa perkataan beberapa siswa-siswi ada yang masuk akal, dia tidak ingin acara mereka ini menjadi tidak nyaman dan tak aman, jadi dia memutuskan berbicara dengan seluruh anggota panitia untuk menghentikan sementara kegiatan camping sampai pihak kepolisian tiba.
***
Setelah menunggu hingga pagi tiba, akhirnya suara sirine mobil polisi terdengar dari kejauhan. Tak lama kemudian, beberapa mobil patroli dan mobil tim khusus kepolisian tiba di lokasi perkemahan.
Pak Tomi, yang sedari semalam terlihat gelisah, segera menyambut kedatangan mereka.
Kepala polisi yang memimpin tim tersebut turun dari mobil dan menghampiri Pak Tomi.
"Selamat pagi, Pak. Kami menerima laporan mengenai kejadian semalam. Bisakah Bapak menceritakan apa yang terjadi?" tanya kepala polisi tersebut dengan nada serius.
Pak Tomi kemudian menjelaskan secara rinci mengenai laporan yang ia terima dari Indra, mengenai suara orang di hutan, para pria berbaju hiam dan juga penemuan rumah tua di tengah hutan.
Pak Tomi juga menceritakan tentang kelompok Kanaya yang menemukan para korban yang disekap di dalam rumah tersebut. Lalu ia menyerahkan bukti dokumen yang semalam Abi berikan padanya.
Setelah mendengar penjelasan dan melihat bukti langsung dari Pak Tomi, kepala polisi mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Terima kasih atas informasi dan bukti-buktinya, Pak. Kami akan segera bertindak. Tim khusus kami akan segera menuju ke lokasi kejadian untuk melakukan penyelidikan dan menangkap para pelaku kejahatan," kata kepala polisi tersebut.
Kepala polisi kemudian memberikan instruksi kepada anggotanya untuk mempersiapkan peralatan dan segera berangkat menuju rumah tua di tengah hutan.
Beberapa anggota polisi juga terlihat mencatat informasi dan kesaksian dari para korban yang masih disana.
Sebelum berangkat, kepala polisi menghampiri para korban.
"Pak, buk. kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membawa mereka ke pengadilan agar mendapatkan hukuman yang setimpal. Kami juga akan memastikan keamanan para korban dan memberikan kalian perlindungan yang dibutuhkan," janji kepala polisi tersebut.
Setelah itu, tim kepolisian segera berangkat menuju rumah tua di tengah hutan, ditemani Indra dan Abi sebagai pemandu jalan.
Meskipun awalnya acara camping sedikit terganggu, tapi mereka sepakat untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya karna pihak kepolisian akan menjamin keamanan mereka disana.
***
Sedangkan ditempat yang berbeda, lagi-lagi Kenan merasa cemburu dan khawatir setelah melihat Video yang dikirim Abi, sahabat dari keponakannya itu.
Video singkat yang berisi mengenai David yang tengah mengobati lengan Kanaya.
Ia khawatir bahwa hubungan yang lebih dalam mungkin akan berkembang di antara mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Kenan dengan nada cemas.
Kenan bahkan tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Bayangan Kanaya dan David selalu muncul di benaknya. Ia mencoba mencari kesibukan lain, namun tetap saja pikirannya kembali pada mereka berdua.
Cukup, Kenan tidak bisa tenang. Ia memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut tentang apa yang terjadi antara Kanaya dan David.
Apalagi melihat Kanaya yang terluka, ia jadi ingin memastikan sendiri jika Kanaya baik-baik saja.
"Kita menyusul kesana" ucap Kenan seraya berjalan keluar.
"Maksudnya ke kota B, Bos?"
"Ya Aksa, sekarang!" tegasnya membuat Aksa mengangguk
"Baik bos" ucapnya hormat.
Dengan wajah yang masih cemas, Kenan berjalan menuju mobilnya. Ia tidak sabar untuk segera sampai di kota B dan bertemu dengan Kanaya.
***
nyesel bacanya