Aciel Lutherford datang ke panti asuhan itu dengan segala janji palsu yang ia berikan kepada si lugu Eden yang kala itu tidak tahu apa-apa. Pria itu mengadopsi Eden tanpa alasan yang jelas dan membiarkan Eden hidup tanpa status yang jelas di rumahnya hingga enam tahun lamanya. Setelah enam tahun berlalu, Eden perlahan-lahan mulai berubah menjadi sosok wanita dewasa yang mengagumkan. Usianya yang mulai menginjak dua puluh tahun membuat Aciel yang sebelumnya tidak pernah memperhatikan wanita itu, mulai berbalik untuk mengintai wanita itu dari kejauhan. Hingga suatu hari sebuah peristiwa buruk mengubah segalanya. Wanita polos itu tidak lagi menjadi sesosok angsa putih yang lembut, melainkan telah berubah menjadi sesosok angsa hitam yang selalu memancarkan luka dan lara di kedua mata bulatnya. Dan kini ia pun mulai memiliki ambisi untuk menghancurkan pria bermata coklat itu, pria yang telah membawanya pada penderitaan yang tak bertepi, Aciel Lutherford!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chalista saqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I Got You Back (Thirty Four)
“Kita harus bersulang untuk merayakan kemenanganku hari ini.”
Aciel berseru keras sambil mengangkat tinggi-tinggi gelas beningnya di hadapan Sian dan Jessica yang saat ini sedang menemaninya makan malam di rumahnya. Tiba-tiba saja hari ini Aciel secara mendadak mengundang mereka semua ke rumahnya, dan menyiapkan berbagai hidangan makan malam yang menurut mereka sedikit berlebihan hanya untuk dimakan oleh tiga orang.
“Sebenarnya kemenangan apa yang kau maksud Ace? Aku benar-benar tidak mengerti dengan perubahan sikapmu hari ini. Bukankah kemarin kau masih terlihat murung dan kusut karena Eden. Dan sekarang kau secara tiba-tiba mengundang kami untuk makan malam bersama dengan hidangan yang sangat berlebihan seperti ini. Apa kau baru saja memenangkan tender?”
“Kurasa bukan. Aciel tidak akan sebahagia ini hanya karena sebuah tender.” komentar Jessica yang sedang mengiris daging steaknya. Hidup bersama Aciel bertahun-tahun membuat mereka sangat hafal bagaimana sifat Aciel selama ini. Tender bukan merupakan sumber kebahagiaan seorang Aciel.
“Makan saja apa yang ada di depan kalian, jangan terlalu banyak bertanya.” ucap Aciel datar, namun sama sekali tidak menghilangan kesan bahagia yang tercetak jelas di wajahnya. Hari ini ia sangat puas karena berhasil mengusik ketenangan Eden dengan berbagai ancaman yang telah ia siapkan sejak pertama kali ia melihat
wanita itu di ballroom hotel Ritz Carlton. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk menjadi sang pengganggu di dalam kehidupan rumah tangga Zyan. Karena ia telah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia akan membawa Eden kembali ke dalam hidupnya.
“Apa tadi kau melihat pemilik Morel’s Apparel, desainer yang kau tanyakan saat pertunjukan berlangsung?”
“Ya, aku melihatnya.”
“Tidak ada yang spesial darinya. Baju-baju rancangannya juga sangat pasaran.” cemooh Jessica. Seperti biasa, wanita itu tidak suka jika ada orang lain yang akan mengusik karirnya.
“Untuk hal itu, biarkan para konsumen yang menilainya. Tapi.... aku merasa ia sangat spesial.” ucap Aciel misterius. Sian yang sedang menyendok sup krimnya langsung mendongak penuh ingin tahu kearah Aciel. Baru kali ini sahabatnya itu terlihat bersemangat saat membicarakan seorang wanita setelah kepergian Eden. Apakah sahabatnya itu mulai membuka hatinya untuk wanita lain?
“Kau tertarik pada seorang wanita? Oh... itu bagus. Katakan padaku, seperti apa wanita itu.”
“Biasa saja. Sama sekali bukan selera Aciel.” cerocos Jessica menyebalkan. Sian rasanya ingin menyumpal mulut pedas wanita itu dengan gumpalan daging steak miliknya yang masih utuh di depannya.
“Diamlah Sica, aku tidak meminta pendapat darimu. Lagipula seleramu dan Aciel tentu saja berbeda.” geram Sian gusar.
“Well, kalian membuat selera makanku hilang. Bersikaplah dewasa dan ingatlah jika kalian bukan anak kecil lagi.” komentar Aciel datar.
“Katakan padaku seperti apa desainer Morel’s Apparel itu. Melihatmu yang kembali tertarik pada seorang wanita membuatku turut bahagia Ace. Akhirnya kau bisa melupakan Eden, dan kembali melanjutkan hidupmu yang suram.”
Aciel sedikit terkekeh menanggapi celotehan Sian sambil mengelap bibirnya pelan menggunakan serbet makan putih pemberian tuan Kim.
“Terimakasih karena telah mengkhawatirkanku selama ini. Tapi tidak sepenuhnya kata-katamu benar, aku belum sepenuhnya melupakan Eden.”
“Lalu kenapa kau tiba-tiba tertarik pada desainer Morel’s Apparel?”
“Entahlah, hanya tertarik.” jawab Aciel asal. Ia sepertinya belum ingin membagikan rahasia besar itu pada kedua sahabatnya. Biarlah mereka terus berspekulasi dengan pemikiran mereka sendiri hingga pada saatnya nanti ia akan memperkenalkan Eden kembali pada mereka.
“Ngomong-ngomong aku bertemu Anthony kemarin.” ucap Sian tiba-tiba. Namun dua orang di depannya
sepertinya sama sekali tidak berminat dengan topik pembicaraanya, karena tidak ada yang berkomentar sedikitpun saat ia berhenti berbicara.
“Hey, kenapa kalian hanya diam? Bersemangatlah sedikit saat aku berbicara.” runtuk Sian kesal. Sebagai pelampiasan dari rasa kesalnya, pria berambut coklat gelap itu tampak menusuk-nusuk kasar daging steaknya sebelum ia menelan potongan daging steak itu dengan gaya yang sama kasarnya.
“Memangnya ada apa dengan Anthony, pria itu sama sekali tidak ada hubunganya dengan kehidupan kita.” seloroh Jessica malas. Sebagian hati kecilnya masih merasa sakit dengan perilaku Anthony di masa lalu. Tapi untung saja sekarang ia telah memiliki Kris yang perlahan-lahan mengobati rasa sakitnya karena pernah dipermanikan oleh Anthony.
“Kalian tahu, pria itu sangat aneh. Saat aku sedang menghadiri gala dinner yang diadakan oleh perusahaan Hyundai, ia secara tiba-tiba menghampiriku, menanyakan padaku tentang bagaimana kondisi Eden saat ini, dan juga menanyakan bagaimana keadaan bayinya. Apa pria itu tidak tahu jika Eden telah pergi dan hidup bersama Zyan?”
“Tidak, aku tidak memberitahunya. Berkali-kali ia mencoba mencari informasi tentang Eden dariku, tapi aku selalu mengacuhkannya dengan memasang wajah dingin. Salahkan sikapnya yang benar-benar keterlaluan di masa lalu. Brengsek sepertinya memang tidak berhak bahagia.” geram Jessica kesal. Aciel tampak diam menyimak pembicaraan antara Jessica dan Sian. Apa yang dikatakan oleh Sian terdengar sedikit mencurigakan, namun ia masih perlu menyelidikinya lagi sebelum ia merasa yakin dengan dugaanya.
“Apa saja yang pria itu tanyakan padamu?”
“Tidak banyak. Hanya bagaimana kondisi Eden, kenapa nomor ponselnya tidak aktif, dan apa jenis kelamin bayinya. Ia seperti pria frustrasi saat menanyakan kondisi Eden. Baru kali ini aku melihat seorang pria yang terlihat begitu payah hanya karena seorang wanita.”
Tanpa sadar Sian mengomentari kehidupan Anthony tanpa menyadari perubahan raut wajah Aciel yang tampak kesal, sedangkan Jessica hanya terkikik kecil dibalik keseriusannya yang sedang mengunyah makanannya. Sepertinya Sian lupa jika sahabatnya juga telah berubah menjadi payah setelah kepergian Eden.
“Lalu apa yang kau katakan padanya?”
“Tentu saja aku tidak tahu. Eden bahkan telah pergi sebelum aku sempat melihat bayinya. Dan selama ini ia juga tidak pernah mengaku saat aku menanyakan jenis kelamin bayinya. Ia selalu mengatakan bahwa itu rahasia, dan akan menjadi kejutan saat ia melahirkan nanti. Menurutmu bagaimana Ace? Laki-laki atau perempuan?” tanya Sian sambil mengerling jenaka. Ia tahu jika pria sialan itu hanya ingin mengujinya. Menguji ketahanan emosinya yang kadang berubah-ubah tak menentu.
“Aku tidak tahu.” jawab Aciel malas. Sian langsung mendengus kecewa sambil menegak habis sisa winenya yang baru saja dituangkan oleh salah satu pelayan Aciel.
“Apa kau benar-benar tidak tahu? Bukankah kau calon ayahnya?” sindir Sian menyebalkan. Ia mengelap mulutnya menggunakan serbet putih di sampingnya, lalu segera menjauhkan piring steaknya setelah ia merasa kenyang dengan seluruh hidangan yang telah disediakan Aciel.
“Kau sengaja ingin melukai egoku sebagai pria? Selama ini aku telah dipermainkan oleh Eden. Ia bersandiwara seolah-olah itu milikku, dan saat aku ingin memperbaikinya ia justru pergi bersama pria lain.”
“Oh... anggap saja itu adalah sedikit karma dari sikap brengsekmu selama ini padanya. Dan sebenarnya aku juga merasa sedih karena aku gagal menjadi seorang paman.”
“Cih, cepatlah mencari pasangan dan memiliki anak. Kau terlihat seperti pria tua yang tak laku.” cibir Jessica kejam sambil melipat kedua tangannya dengan gaya anggun.
“Kurasa ia sudah memiliki lusinan anak di luar sana, hanya saja ia terlalu brengsek untuk mengakuinya.” balas Aciel tanpa perasaan sambil melemparkan senyuman separuh kearah Sian. Dan Jessica lalu menggunakan komentar Aciel sebagai bahan pembicaraan untuk menyudutkan Sian yang sedang berusaha untuk mengelak. Mereka semua akhirnya tenggelam dalam suasana ribut yang berhasil diciptakan oleh Jessica dan Sian terkait kebiasaan Sian bersama wanita-wanitanya. Sedangkan Aciel, ia tetap menjadi pihak yang terus memancarkan keheningan dengan berbagai macam prasangka yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
-00-
“Mommy... Ciara ikut.”
Eden tampak berat untuk meninggalkan Ciara saat gadis kecil itu terus merengek-rengek di kakinya, tidak mau ditinggalkan.
“Sayang, mommy harus pergi menemui seseorang. Tinggalah sebentar bersama Summer aunty. Mommy janji tidak akan lama. Hanya satu jam, dan setelah itu kita jalan-jalan membeli es krim.” bujuk Eden halus. Ia sebenarnya tidak tega meninggalkan Ciara lagi setelah kemarin ia meninggalkan Ciara seharian untuk mengurus semua persiapan peragaan busananya. Namun kali ini ia benar-benar tidak bisa mengajak Ciara
karena ia akan bertemu dengan Aciel.
“Kau yakin akan menemuinya? Bukankah kau tidak mau lagi berurusan dengannya?”
“Huh... kau seperti tidak tahu bagaimana sifatnya. Aciel adalah pria brengsek dengan segala kelicikan yang sangat mengerikan. Kau pasti tidak percaya jika dalam waktu lima belas menit, ia berhasil mengancamku dengan dua ancaman yang mengerikan. Ck, kali ini aku tidak bisa menghindarinya seperti dulu karena ia memegang sebagian besar rahasia hitamku.”
“Hmm.. kuharap kau tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Kasihan Ciara jika ia harus masuk ke dalam lubang penderitaan ibunya. Kau tidak ingin itu terjadi kan?”
“Sama sekali tidak!” balas Eden tegas. Ibu mana yang akan tega menyeret anaknya ke dalam lubang penderitaan. Lagipula hari ini ia hanya ingin menyelesaikan semua urusannya dengan Aciel sebelum ia kembali ke Perancis lusa.
"Baiklah, aku sepertinya harus pergi sekarang. Tolong jaga Ciara sebentar.”
“Sampai jumpa, semoga berhasil.”
Summer mengangkat tubuh Ciara ke dalam gendongannya dan melambai pelan pada Eden yang mulai melangkah keluar meninggalkan apartemennya. Wanita itu lalu mendesah pada Ciara sambil menutup pintu apartemennya pelan.
“Kasihan ibumu, lagi-lagi ia harus berususan dengan pria jahat itu.”
“Siapan aunty?” tanya Ciara polos.
“Ayahmu.” jawab Summer cepat dengan mimik sinis. Entah kenapa ia sekarang sangat membenci Aciel dan benar-benar tidak ingin Eden kembali pada pria itu. Tapi, mereka memiliki ikatan yang cukup kuat melalui Ciara. Jika mereka tidak bersatu, Ciara seterusnya akan hidup dengan Eden sebagai single parent. Dan parahnya, mungkin gadis kecil itu tidak akan pernah mengenal ayahnya untuk selamanya.
“Daddy? Bukankah daddy Ciara telah pergi bersama Tuhan?”
“Tidak sayang, ayahmu masih hidup. Suatu saat pasti kau akan bertemu dengannya.”
“Kapan?” tanya Ciara terisak. Summer yang melihat itu langsung gelagapan sambil menenangkan Ciara panik.
“Ciara, kenapa menangis? Ssshh... jangan membuat Summer aunty merasa bersalah.”
“Ciara ingin daddy. Ciara ingin bertemu daddy.” rengek Ciara keras. Summer akhirnya memilih untuk mengajak Ciara keluar dari apartemennya agar gadis kecil itu melupakan sejenak topik mengenai ayahnya yang tiba-tiba menjadi sangat sentimentil untuk Ciara. Dan setelah ini mungkin ia akan membicarakan hal ini pada Eden agar wanita itu dapat membawa Ciara pada ayah kandungnya.
-00-
Sian menganga tak percaya di tempat sambil menatap seorang wanita yang sangat mirip dengan Eden. Tangannya yang hendak menekan tombol lift mendadak kaku, dan ia hanya mampu terus berdiri hingga wanita itu akhirnya mendekat kearahnya dan tersenyum kaku kearah Sian.
“Sian... Kau masih ingat padaku?”
“Eden?”
Sian rasanya masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Setelah bertahun-tahun lamanya wanita itu menghilang, secara tiba-tiba kini wanita itu kembali dengan berbagai macam perubahan yang membuat Eden tampak lebih dewasa.
“Eden... Ya Tuhan, kemarilah!”
Sian langsung menarik tangan Eden dan mendekap tubuh wanita itu erat seperti seorang kakak yang telah lama kehilangan adiknya.
“Kemana saja kau selama ini? Kau menghilang begitu saja dan meninggalkan Aciel dengan perasaan bersalah.”
“Aku menikah dengan Zyan.” jawab Eden apa adanya. Ia merasa getir melihat Sian yang benar-benar mengkhawatirkan keadaanya seperti ini. Pria itu sejak dulu memang selalu mempedulikannya, dan sangat berbeda dengan Aciel yang berengsek.
“Apa kau ingin bertemu dengan Aciel?”
“Hmm, begitulah. Aku benar-benar sial karena bertemu dengannya saat acara peragaan busana kemarin siang. Seharusnya aku memang tidak datang ke Las Vegas dan memaksakan diri untuk mengikuti acara itu.”
“Tunggu, apa kau desainer yang dimaksudkan oleh Jessica?”
“Darimana kau tahu?” tanya Eden terkejut. Seingatnya ia tidak pernah mengatakan pada siapapun mengenai pekerjaanya saat ini. Lalu darimana pria itu mengetahuinya? Apa selama ini Aciel benar-benar menempatkan banyak mata-mata di sekitarnya?
“Aciel yang mengatakannya. Ia tampak bahagia saat menceritakan pengalamannya bertemu denganmu. Kupikir ia telah menemukan wanita lain yang dapat menggantikan posisimu di hatinya, tapi ternyata wanita itu adalah kau.”
“Kau berlebihan Sian. Aciel hanya menginginkan tubuhku.” ucap Eden sinis. Aciel bukanlah jenis pria berkomitmen yang ingin hidupnya disusahkan oleh dirinya. Apalagi sekarang ia memiliki Ciara, ia sangat yakin jika Aciel tidak akan pernah bisa memposisikan dirinya sebagai seorang ayah yang baik.
“Mungkin menurutmu seperti itu. Tapi selama empat tahun ini ia benar-benar kacau tanpamu. Teman-teman kencannya tidak pernah bisa memuaskannya, dan belakangan ini ia menjadi pria gila kerja yang lebih menyukai tinggal di kantor sepanjang waktu. Kau pasti tidak akan percaya jika sekarang Aciel bisa menolak seorang wanita.”
“Benarkah? Aku tidak percaya.” ucap Eden sangsi. Saat lift berdenting kencang, mereka secara bersama-sama keluar dari kotak elektronik itu sambil membicarakan banyak hal mengenai kehidupan mereka selama empat tahun ini. Namun Eden sedikit banyak memberikan bumbu-bumbu kebohongan di dalam ceritanya karena ia tidak ingin Sian mengasihani hidupnya yang tidak terlalu mulus karena kematian Zyan.
“Jadi sekarang berapa usia anakmu?” tanya Sian ingin tahu.
“Tiga tahun, dan tiga bulan lagi ia akan berusia empat tahun. Putriku bernama Ciara, dia adalah anak yang sangat cantik dan manis.”
“Bayimu perempuan? Selamat Ed, kau adalah ibu yang sangat sempurna untuk Ciara. Bisa aku melihat fotonya, aku ingin sekali bertemu dengan putrimu dan memperkenalkan padanya sebagai paman Sian yang tampan.”
Eden tergelak keras melihat tingkah konyol Sian sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas slempangnya. Sian berhak melihat wajah putrinya, dan juga bertemu dengannya suatu saat nanti.
“Ini Ciara saat sedang menunggu pesanan es krimnya datang.”
Sian menatap potret wajah gadis kecil itu semangat dengan mata berbinar-binar menahan gemas.
“Dia sangat mirip denganmu dan....”
“Dan apa?” tanya Eden menaikan alisnya.
“Dan Aciel kurasa. Ahh... tapi mungkin karena dulu aku sangat berharap jika anak itu adalah anak Aciel. Lupakan saja Eden.”
Sian terlihat tidak enak hati mengatakan hal itu pada Eden. Tidak seharusnya ia menyangkut pautkan Eden pada masa lalu yang entah bagaimana kebenarannya, Sian tidak pernah tahu. Sedangkan Eden hanya tersenyum masam menanggapi Sian sambil memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. Andai pria itu tahu jika Ciara sebenarnya adalah putri kandung Aciel.
Tok tok tok
Eden mengetuk malas pintu kayu berwarna coklat itu sambil menatap interior kantor Aciel yang sama sekali belum berubah sejak empat tahun yang lalu.
“Aku sudah datang. Cepat katakan apa yang kau inginkan, karena aku akan segera kembali ke Perancis.”
“Santai Eden, duduklah dulu. Apa kau tidak ingin memelukku seperti dulu?”
“Cih, menjijikan.” decih Eden geram. Ia rasa semakin lama Aciel semakin brengsek. Sikapnya setelah empat tahun sama sekali tidak berubah, pria itu masih saja gemar melecehkannya, meskipun statusnya saat ini adalah sebagai isteri Zyan.
“Tidak, aku hanya bercanda. Duduklah.”
Secepat kilat Aciel langsung merubah mimik wajahnya menjadi serius sambil meminta Eden untuk duduk di kursi kosong di depannya.
“Apa kau ingin membahas masalah empat tahun yang lalu?”
“Ya, aku ingin kau mengakuinya sekarang Eden, di depanku.” ucap Aciel penuh penekanan dengan sorot mata tajam.
“Apa yang harus kuakui, bukankah kau sudah mengetahui semuanya, semua kebusukanku
selama ini.”
“Tapi akan lebih menyenangkan jika aku mendengarnya langsung dari bibir merahmu yang seksi itu.”
Tanpa
sadar Eden menggigit bibir merahnya sendiri untuk mengurangi kegugupannya. Dan hal itu berhasil membuat gairah Aciel terpancing hingga pria itu harus memalingkan wajahnya kearah lain agar ia tidak kehilangan akal sehatnya untuk menerjang Eden.
“Apa alasanmu meracuni Jessica saat itu? Apa kau cemburu pada Jessica?”
“Huh, cemburu?”
Eden tertawa sinis mencemooh hal itu sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Rasa cemburunya untuk pria itu telah mati bertahun-tahun yang lalu, sejak pria itu mematahkan hatinya dan membuatnya hancur berkeping-keping.
“Untuk apa aku cemburu pada Jessica, bukankah kalian hanya bersahabat? Kau sendiri yang mengatakan padaku jika kalian tidak mungkin akan bersama dan menjadi sepasang kekasih. Yahh... meskipun kalian pernah menjadi teman tidur.”
“Kalau begitu apa alasanmu? Tindakanmu meracuni Jessica dengan racun dosis rendah itu memang tidak akan membuat Jessica mati, tapi tetap saja kau akan dihukum jika polisi tahu semua kebusukanmu itu. Jadi sekarang mengakulah padaku, apa alasanmu meracuni Jessica?”
“Aku tidak tahu. Aku hanya ingin melakukannya agar ia tidak mencampuri urusanku.”
“Anggap saja aku percaya dengan alasanmu yang tidak masuk akal itu. Aku yakin kau masih menyembunyikan banyak hal dariku Eden. Tapi, perlahan-lahan aku pasti akan mengetahuinya.” desis Aciel penuh janji. Eden memalingkan wajahnya ke samping, dan mencoba mengalihkan pikirannya dari kata-kata provokasi Aciel yang kembali membuatnya was-was. Ia tidak mungkin mengatakan pada Aciel jika Jessica dulu hampir merusak rencananya untuk mengelabuhi pria itu.
“Lalu tentang ayahku, kenapa kau menfitnahnya dengan keji. Kau membuatku menjadi anak durhaka yang kejam.”
“Huh, bagaimana rasanya menjadi anak durhaka tuan Lutherford? Sudah lama aku memang ingin melakukannya. Semua sikapmu selama ini membuatku muak padamu, dan aku ingin kau juga merasakan hal yang sama seperti apa yang kurasakan selama ini. Kesedihan karena kehilangan seorang ayah, bukankah itu sangat buruk?” seringai Eden sinis. Namun sebaliknya, Aciel tampak tidak terpancing dengan kata-kata sinis Eden. Kesedihannya karena kehilangan sang ayah dengan cara yang tidak menyenangkan sudah lama ia lupakan. Kata-kata provokasi yang dilayangkan Eden jelas tidak mempan untuknya jika wanita itu ingin mengetes ketahanan hatinya.
“Kalau begitu selamat, kau berhasil melakukannya, saat itu. Karena sekarang, aku sudah melupakannya. Hanya saja aku tidak menyangka jika kau bisa berubah menjadi wanita selicik itu. Kau banyak belajar dariku rupanya.” kekeh Aciel geli. Mengingat bagaimana sikapnya selama ini yang berhasil ditiru oleh Eden dengan
sempurna, itu sedikit membawa kepuasan untuknya. Prediksi Brexton memang benar, hanya dirinyalah yang bisa mengajarkan Eden berbgai pelajaran licik di dunia ini. Tidak salah Brexton memberikan Eden padanya untuk dididik.
“Kau salah jika menganggapku sebagai wanita lemah yang hanya bisa mendesah pasrah di bawah kuasamu, aku adalah wanita yang kuat. Bahkan aku tidak akan segan-segan untuk bermain licik lagi untuk menyingkirkanmu. Jadi jangan main-main denganku Aciel!”
Eden berseru keras penuh amarah hingga wajahnya berubah menjadi merah padam. Namun Aciel tetap tentang dan hanya memandang wanita itu dengan sorot sendunya yang datar.
“Kemarahan yang luar biasa. Tenanglah Eden, aku tidak sedang ingin berperang denganmu. Aku hanya ingin memberitahumu, jadi dengarkan baik-baik.”
Eden mengepalkan tangannya kesal di atas pangkuannya sambil menatap tajam manik coklat yang sudah lama tak dilihatnya. Meskipun empat tahun lamanya mereka tidak bertemu, manik itu tetap saja menguarkan sorot yang sama, sorot licik penuh tipu muslihat yang kapan saja dapat menghanyutkannya, hingga ia hilang arah.
“Mulai hari ini passport dan visamu dibekukan, kau tidak akan bisa kembali hingga urusan kita selesai.”
“Brengsek! Apa yang sebenarnya kau rencanakan Aciel. Jangan bermain-main denganku.”
“Ssshh... aku tidak sedang bermain-main denganmu Eden, aku serius. Lagipula kau harus ingat jika saat ini aku menahan sekutu terbesarmu, Jackson. Jadi bersiaplah untuk hancur jika kau berani melawanku. Oh, dan satu lagi... bukankah kau memiliki anak sekarang? Jangan sampai masa depannya hancur karena ulah licik ibunya di masa lalu.”
“Jangan seret putriku ke dalam masalah ini, dia tidak bersalah.”
“Jadi kau akhirnya melahirkan bayi perempuan? Selamat kalau begitu, sayang aku gagal menjadi ayahnya. Padahal aku sangat berharap untuk memiliki keluarga denganmu.”
“Benarkah? Kurasa Zyan yang jauh lebih pantas menjadi ayahnya. Dia jelas-jelas berasal dari keluarga yang baik, dan ia juga tidak pernah bermain-main dengan ****** sepertimu. Huh, aku sangat bersyukur karena anakku bukanlah anakmu. Kau sama sekali tidak pantas menjadi ayah.”
Braakk
Eden berjengit kaget sambil memandang syok kearah Aciel yang baru saja menggebrak meja di depannya. Entah kenapa ketenangan pria itu langsung hilang setelah ia mengolok-olok pria itu dan melukai egonya sebagai seorang pria. Salahkan Eden yang tidak pernah tahu bagaimana usaha Aciel selama ini untuk menjadi seorang
ayah yang layak. Dan sayangnya pria itu justru harus dihempaskan dengan sangat menyakitkan, karena ternyata Eden justru mengandung anak dari pria lain.
“Sialan! Kau sengaja mengatakannya untuk mengejekku. Asal kau tahu Eden, bahkan aku sudah mempersiapkan segala hal untuk menyambut kelahirannya. Aku sudah lebih dari siap untuk menjadi seorang ayah. Tapi kau menghempaskanku begitu saja dengan seluruh kebohongan yang kau ciptakan! Ingat Eden, mulai detik ini jangan harap kau akan kembali hidup tenang bersama keluargamu. Karena aku akan menjadi mimpi burukmu lagi.” bentak Aciel kasar sebelum ia pergi meninggalkan Eden sendiri dengan degup jantung yang bergemuruh di dadanya. Ia tidak menyangkan Aciel akan bereaksi seperti itu. Mempersiapkan kelahiran anaknya? Eden tidak pernah tahu jika Aciel selama ini sangat menginginkan anaknya. Dan melihat bagaimana marahnya Aciel saat ini, Eden tahu jika Aciel bersungguh-sungguh dengan kata-katanya.
-00-
Eden merasakan perlahan-lahan air matanya menetes saat sedang menemani Ciara bermain. Entah kenapa kata-kata Aciel benar-benar berhasil memporak-porandakan hatinya lagi hingga ia merasa sesak seperti ini. Ia takut Aciel akan mengusik Ciara, dan mencelakai putri kecilnya. Tidak! Ia tidak mau itu terjadi. Terlalu dini bagi Ciara untuk mengetahui kejamnya dunianya yang hitam.
“Mommy... mommy kenapa menangis?”
“Hah, tidak. Mommy baik-baik saja.” jawab Eden gelagapan sambil menghapus air matanya. Dengan kikuk, Eden tersenyum getir di depan Ciara sambil memeluk putrinya erat.
“Ciara.... mommy mencintaimu.”
Ting tong
Eden cepat-cepat melepaskan pelukannya dari tubuh kecil Ciara sambil menoleh kearah pintu. Tumben ia mendapatkan tamu di jam delapan seperti ini. Tidak mungkin itu Tiffany atau Summer, karena mereka baru saja pulang satu jam yang lalu. Apa itu Tranz?
“Sayang, bisakah kau bukakan pintunya? Mommy akan mencuci wajah mommy sebentar.”
Ciara segera berlari dengan semangat kearah pintu. Kaki kecilnya yang pendek membuat Ciara harus sedikit berjinjit untuk meraih gagang pintu. Namun dengan sedikit usaha, akhirnya ia berhasil membuka pintu putih itu untuk bertemu sang penekan bel yang telah menunggunya sejak tadi.
“Halo...”
Ciara melambaikan tangannya lucu di depan pintu sambil mendongakan kepalanya kearah pria tinggi yang sedang mematung di tempat dengan wajah terkejut.
“Mommy....”
Ciara tiba-tiba merasa gugup sambil mengarahkan pandangan matanya kearah lain saat melihat tatapan tajam Aciel yang menghunus tepat di manik bulatnya.
“Ciara, siapa yang datang?”
Dari arah ruang tamu, Aciel mendengar suara teriakan Eden yang tampak terburu-buru. Dan tak berapa lama munculah Eden dengan wajah syok sambil menyembunyikan Ciara di belakang tubuhnya.
“Apa Ciara putriku?”
“Dia putriku!”
ah iya, dapat salam dari Mitsuki nih, jangan lupa mampir yaa
JUST THREE DAYS : MITSUKI
sabar ya Ed...
penting babang Ace tetep sayang...