Tiara Putri harus membesarkan keponakannya yang bernama Bintang, karena kakaknya -Rani- yang merupakan ibu kandung Bintang, telah meninggal. Tiara sangat menyayangi Bintang hingga rela bekerja siang dan malam demi bisa mencukupi kebutuhan anak sambungnya itu. Namun tiba-tiba muncul seorang lelaki bernama Troy Richard Kardinal yang mengaku sebagai mantan pacar Rani dan ayah biologis Bintang. Dia menginginkan Bintang dan akan merebutnya dari Tiara.
Akhirnya demi bisa terus bersama Bintang, Tiara terpaksa menikahi Troy.
Bagaimanakah lika liku kehidupan pernikahan pasangan tanpa cinta itu? akankah cinta tumbuh di antara keduanya suatu saat nanti? yuk, ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petuah Tia.
"Ayo sarapan Troy," ajak Okta saat melihat Troy keluar dari kamar mandi. Setelah Tia selesai membersihkan diri dan keramas, Troy pun bergegas mandi karena dia ada urusan hari ini.
"Kau mau ke mana?" tanya Tia sambil memakan sarapannya di ranjang.
Sedang Okta, Prita dan Bintang, asyik sarapan di ruangan sofa.
"Aku ada urusan sebentar, kamu sama Prita sama Bintang dulu, ya?" jawab Troy sambil menggulung lengan bajunya sampai siku.
Tia mengangguk sambil menatap Troy, "tampan sekali dia hari ini? apakah mau kencan? bukannya kemarin dia minta aku menikahinya? kenapa sekarang mau pergi kencan sama wanita lain? ih dasar buaya darat!" batin Tia.
Troy yang sadar terus di perhatikan oleh Tia, langsung berucap, "aku ada urusan pekerjaan sama Okta, nggak lama kok."
"Cieeeeeehhh..." seloroh Prita sambil tersenyum lebar.
"Apaan sih!" geram Tia sambil melotot ke arah Prita, "cabe tuh! nyelip di gigi!" kesalnya.
Prita langsung manyun dan buru-buru mengambil cermin kecil, lalu melirik Tia dengan kesal, karena tak ada apa-apa di giginya yang putih bersih.
"Gue pinjem Troy sebentar, nggak lama..." lanjut Okta sambil tersenyum dan menatap Prita, kemudian mereka bertos ria.
"Ngomong-ngomong, kapan kalian jadian?"
"Nggak ada yang jadian! cuma ngobrol aja salah?!" kesal Tia.
"Sstt... iyain aja pak, yang penting hepi," ucap Prita sambil menyenggol Okta.
Okta pun nyengir sambil tergelak.
"Kalian cocok sekali," tiba-tiba Troy bicara sambil menatap Prita dan Okta.
"Sejak kapan kalian jadi akrab begini?"
Prita dan Okta tak menjawab, mereka pura-pura cuek sambil terus makan sarapannya.
"Jangan berharap banyak sama Okta, dia itu menyimpang!" ucap Troy serius sambil mencomot sosis goreng yang ada di meja.
"Ha?" Prita terkejut sampai tersedak, buru-buru dia mengambil air dan meminumnya.
"Me.. menyimpang?"
"Selama tiga puluh tahun, aku belum pernah melihat Okta dekat dengan perempuan! sama sekali! Teman-teman nya semua laki-laki, Hati-hati kamu Prita! jangan sampai patah ha-"
Peletak!
Okta melempar Troy dengan sepotong mentimun dan pas sekali mengenai jidat Troy dan melekat di sana.
"Kalu masih ngomong sembarangan, gue lempar sepatu gue!" ancam Okta.
"Sudah sepatutnya gue khawatir, saat melihat teman gue nggak tertarik pada lawan jenis, Lu harus di rusiah, biar Lu jadi cowok normal! tau nggak?!"
"Ruqiyah!" kesal Okta mengkoreksi ucapan Troy.
"Ya itulah maksudnya."
Mungkin bagi orang lain, ucapan Troy itu seperti bercanda. Tapi bagi Prita, itu seperti tamparan keras di pipinya. Mungkinkah ucapan Troy benar? jika benar, pupus lah harapannya untuk dapat dekat dengan Pak Okta, si cowok kece, tinggi semampai bak model itu.
padahal Prita sudah sangat percaya diri karena akhir-akhir ini, dia sudah mulai dekat dengan Okta, mereka pun memiliki satu misi yang sama yaitu menyatukan Troy dan Tia. Namun harapan Prita sepertinya bakal pupus begitu saja. Karena ketertarikan Okta bukan padanya, dan bukan pada wanita.
"Ayo, kita berangkat!" ucap Troy mencoba menghentikan obrolan tak berguna yang sudah tak jelas arahnya.
"Papa pergi sebentar, ya," Troy mengusap pucuk kepala Bintang.
"Bintang makan yang banyak, ya. Jagain Mama dulu ya, gantin Papa."
"Siap, Papa!" ucap Bintang bersemangat.
"Bintang bisa jaga Mama!"
Troy tersenyum, lalu dia menoleh ke arah Tia sambil tersenyum seolah berpamitan.
Tia pun mengangguk sambil melihat kepergiannya.
.
"Sialan Lu!" kesal Okta sambil berjalan cepat mengikuti langkah kaki Troy.
"Makanya, jangan ngeledek gue sama Tia terus. Gue punya rencana dan nggak mau rencana itu sampai gagal cuma karena celotehan Lu!" balas Troy sambil mengambil ponselnya.
"Lagian, nggak masalah kan? kecuali Lu naksir sama Prita, sampai harus jaga image!"
Okta menggeram kesal sambil melotot ke arah Troy, "kalau bukan bos, gue #$"" &"_""_!!!"
Troy tersenyum tipis, lalu menekan tombol di ponselnya dan mulai menelpon.
"Halo! Saya mau semua pengacara yang ada di firma hukum ini, berkumpul besok pagi! kita meeting untuk membicarakan tuntutan ke Puji dan pacar siala*nya itu! Saya ingin hukuman paling berat! seumur hidup tanpa remisi selamanya!" kesal Troy.
"Kalau kalian tidak bisa mengabulkan keinginan Saya, Saya pecat kalian semua!" Lalu Troy menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celana.
"Lu sudah dapat Rumah yang gue minta?" tanya Troy, sepertinya Troy sudah berubah mode menjadi bos sekarang, sudah tidak bercanda seperti tadi.
"Sudah, kita tinggal tanda tangan di notaris kalau Lu sudah cocok."
"Kita ke sana sekarang! gue mau saat Tia keluar dari Rumah sakit, rumah itu sudah bisa di tempati. Moga-moga aja tu rumah cocok sama keinginan gue."
"Siap!" ucap Okta sambil berjalan makin cepat setengah berlari karena Troy melangkah kan kakinya dengan terburu-buru.
.
"Kenapa, Lu!" Tia memperhatikan sahabatnya yang tampak ber-muram durja, tak semangat seperti tadi pagi.
Prita mendesah sambil fokus pada apel fuji yang sedang di kupasnya.
"Dih! di tanya kok diem aja, kesambet lu?"
Prita melirik sinis ke arah Tia lalu kembali fokus pada apelnya sambil mendesah keras.
"Lu enak, udah mulai deket sama Pak Troy.. lah gue? ngincer Pak Okta malah ternyata dia..." Prita menggelengkan kepala sambil berwajah masam.
Tia tersenyum, "Nggak lah, Troy itu cuma bercanda!"
"Tapi gue juga sebenarnya sedikit sangsi kalau Pak Okta itu normal. Saat kita lagi jalan bareng beberapa waktu lalu, ada cewek cantik, seksi deketin dia. Dia cuek, Tia! nggak peduli sama sekali. Padahal laki-laki lain yang ada di sekitaran situ, sudah melotot sambil ngiler ngeliatin body gitar Spanyol itu. Tapi Pak Okta, b aja tuh. Curiga, nggak lu?!"
"Memang sedikit mencurigakan..." ucap Tia sambil mengangguk anggukkan kepalanya.
"Tia! Lu, ya! bikin gue nggak semangat aja!" kesal Prita dengan wajah sedih dan hampir menangis.
"Mending Lu jangan deket-deket dulu lah sama cowok! apalagi yang belum jelas! lu nggak inget sama si brengsek Doni!"
Prita terdiam lalu menundukkan kepalanya.
"Lu tuh kalau udah jatuh cinta, jadi bego! di manfaatin laki-laki nurut aja! cewek mana yang mau di porotin sama cowok brengsek, bahkan masih maafin padahal sudah jelas-jelas tu cowok selingkuh!" cerocos Lia.
"Udah di selingkuhin! di porotin! masih di maafin! di ajak balikan galau! ih! gue sentil juga nih ginjal lu! kesel gua!"
Prita cemberut sambil terus tertunduk.
"Si Doni masih hubungi, Lu?"
Prita menggeleng.
"Awas lu, kalau sampai mau deket-deket sama laki nggak guna itu! kita putus persahabatan!" ancam Tia.
"Iya..." jawab Prita lirih.
.
#ayo like dan komentar nya di kencengin yah, biar othornya tambah semangat.
...lup lup sekebon duren 😘
dan untuk keluarga Tiroy semoga bahagia selalu dan punya anak yg banyak biar rumah kalian rame 🥰🥰🥰
Happy Ending ya author.. ♥️♥️♥️♥️♥️
Makasiii.. 😘😘😘😘😘
♥️♥️♥️♥️♥️