Karena pekerjaannya, Alin terpaksa menghilang, meninggalkan sebentar pria yang dicintai.
Anjar, cukup stres memikirkan kemana perginya sang pujaan hati, ditambah seorang wanita terus mengejarnya akibat rencana perjodohan keluarga.
Apakah keduanya bisa bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Anis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Tak Terduga
Malam itu dengan segera Rezan mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Dikursi penumpang ada bosnya serta sang istri terlihat cemas.
Makan malam mereka berakhir kurang baik karena kondisi Anjar semakin parah, pria itu mual hebat. Mulanya dia merasa sedikit tidak enak badan, tetapi saat makan malam bersama Bram juga Hagia, mual yang dia rasakan semakin parah. Alin yang melihat suaminya pucat dan berkeringat dingin agak panik. Wanita itu berinisiatif mengakhiri makan malam mereka dan meminta Rezan mengantar ke rumah sakit.
"Rezan, apakah masih jauh?" tanya Alin dengan nada cemas.
"Sebentar lagi sampai bu bos." jawab pria itu fokus dengan kemudi.
Anjar hanya pasrah, dia yang biasanya keras kepala dan enggan pergi ke dokter kini tidak bisa menolak. Tubuhnya terasa lemas, dan mual yang tak tertahankan membuatnya tidak sanggup menopang tubuh. Pria itu terus menempel pada istrinya.
Sesampainya dirumah sakit, Rezan segera menghubungi perawat, sementara Alin membantu Anjar baring di bankar. Alin menguatkan suaminya, dengan penuh kecemasan dia memegang tangan Anjar dengan erat seolah memberikan dukungan.
"Ada apa denganmu? Tidak mungkin salah makan karena kita dan Rezan memakan makanan yang sama. Tadi sore juga masih baik-baik saja." bisik Alin sambil mengusap punggung suaminya dengan lembut.
Semua makanan dan minuman yang mereka konsumsi selalu Alin periksa, dia akan tahu jika ada yang salah dengan apa yang mereka konsumsi.
Anjar hanya bisa menggeleng pelan, masih berusaha menahan rasa mualnya dengan menghirup wangi istrinya. Tak lama dokter tiba, segera memeriksa kondisi Anjar. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, dokter tersebut tampak berpikir, lalu menatap Alin dengan tatapan penuh pengertian.
"Tuan Anjar, apakah merasakan mual cukup sering belakangan ini?" tanya dokter dengan lembut.
Anjar mengangguk lemah. "Iya dok sudah beberapa hari namun tidak separah ini."
Dokter tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangan pada Alin. "Nyonya, apakah anda pernah mengalami mual juga? Terutama di pagi hari? Atau mungkin merasa lebih cepat lelah?"
Alin terkejut dengan pertanyaan itu. "Ehm, saya memang akhir-akhir ini merasa mudah lelah tapi tidak mual. Saya kira hanya kelelahan atau masuk angin saja karena beberapa pekerjaan harus segera diselesaikan. Memangnya kenapa ya dok?"
Dokter tersenyum sambil mengangguk. "Mungkin ini agak mengejutkan untuk tuan dan nyonya. Gejala yang dialami suami anda bisa jadi akibat dari kondisi yang sering kita sebut sebagai couvade syndrome atau lebih dikenal dengan sindrom simpatik pada kehamilan. Suami sering merasakan gejala yang mirip dengan istri yang sedang hamil.
Alin tersentak kaget. "Maksud dokter, saya hamil?"
"Saya sarankan lebih baik kita periksa dulu kandungan ibu untuk memastikannya." ujar dokter dengan lembut. Kalau benar maka mungkin kehamilan inilah yang menyebabkan suami anda ikut merasakan gejala-gejala tersebut.
Alin terdiam sejenak merasa campuran antara kaget dan penuh harapan memenuhi dadanya. Dia dan Anjar memang tidak menunda untuk menantikan kehadiran buah hati mereka dan sekarang mendengar kemungkinan bahwa ia hamil membuat hatinya berdebar kencang.
Dengan perasaan campur aduk Alin mengikuti saran dokter untuk memeriksa kandungannya. Selama menunggu hasil pemeriksaan, Alin kembali ke sisi Anjar yang sudah sedikit membaik setelah diberi obat untuk meredakan mualnya.
"Aku tidak menyangka sayang, kamu yang mual-mual tapi ternyata karena aku sedang hamil." ucap Alin setengah bercanda meski rasa haru mulai menyerap di hatinya.
Anjar kini lebih segar, dia tersenyum kecil. "Jika memang benar berarti aku akan menjadi ayah. Tidak apa merasa mual asal kamu dan bagi kita sehat. Kamu bisa makan dengan enak supaya gizi bayi kita terpenuhi dengan baik."
Tidak lama kemudian dokter kembali dengan hasil tes di tangannya. Senyumnya mengembang saat ia mendekati pasangan itu.
"Selamat Tuan Anjar dan Nyonya Alin. Hasil pemeriksaan positif hamil, ini mungkin berita yang tidak terduga tapi semoga menjadi kabar baik bagi kalian berdua." ucap dokter ikut merasa senang karena keduanya merupakan kerabat dari pemilik Rumah Sakit ini.
Alin tak bisa menahan air matanya yang langsung mengalir deras. Baru kali ini dia menangis di hadapan Anjar. Dia menatap suaminya yang masih terbaring lemas kini terlihat begitu bahagia. Mereka saling menggenggam tangan erat seolah tak ingin melepaskan kebahagiaan ini.
"Aku benar hamil." bisik Alin dengan mata berbinar.
Anjar mengangguk perlahan, menahan rasa haru yang mmenyesakkan dada. "Akhirnya ya kita akan menjadi orang tua."
Malam itu meski dimulai dengan kecemasan dan kekhawatiran berakhir dengan bahagia yang tak terduga. Apa yang awalnya dianggap sebagai sakit biasa ternyata adalah tanda dari anugerah terbesar yang akan segera hadir dalam hidup mereka.
Rezan ikut merasakan kebahagiaan pasangan tersebut. Sebentar lagi dia akan memiliki keponakan dari pasangan suami istri itu. Hidupnya sudah sendiri sejak kecil, berteman dengan Anjar sejak lulus kuliah membuatnya memiliki saudara. Keluarga Anjar baik padanya, apalagi Mama Hesti yang menganggap Rezan seperti anak sendiri.
Tidak lupa Rezan menghubungi Mama Hesti untuk memberikan kabar karena malam ini Anjar masih harus dirawat di rumah sakit. Tidak sampai 1 jam Mama Hesti beserta Kak Dinda, kakaknya Anjar datang. Mereka tampak senang mendengar kabar kehamilan Alin namun juga sedikit prihatin karena Anjar harus mengalami mual-mual.
"Kalian berdua harus banyak istirahat. Urusan kantor biar nanti Rezan dan Kak Dinda yang ikut membantu." kata Mama Hesti menatap anak mantunya yang terlihat lelah.
"Iya, kebetulan suami kakak juga sedang melakukan perjalanan bisnis. Kaka bosan jika terus berada di rumah. Malik juga sudah besar, sibuk dengan sekolahnya." ujar Kak Dinda menyetujui apa yang dikatakan mamanya.
Malam ini, Mama Hesti ikut menginap di rumah sakit sedangkan Kak Dinda harus kembali ke rumah karena besok mulai membantu Rezan di kantor. Rezan sendiri memutuskan pergi ke kantin rumah sakit sebelum pulang ke rumah. Makan malam tadi membuatnya belum merasa kenyang karena harus menyaksikan daram Hagia yang terus mendekati Anjar dengan posis bosnya sedang merasa mual.
Saat melewati kamar paling pojok yang pintunya sedikit terbuka, Rezan seperti mengenali suara di daam. Dia melihat sekeliling tampak sepi lalu memutuskan untuk mengintipnya.
"Pokoknya kamu yang harus biayai pengobatan kakek. Uang yang tante punya untuk kebutuhan kuliah dan baya hidup." ujar seorang wanita pada gadis di depannya.
"Tidak bisa begitu, tante. Kakek juga orangtua Tante Lesa, sudah kewajiban tante ikut membantu biaya pengobatan kakek. Jika hanya mengandalkan aku, mana cukup. Uang hasil kerjaku sudah untuk membayar utang tante pada Juragan Darmo dan makan sehari-hari." jawab gadis itu dengan tegas.
"Ah pokoknya tante tidak bisa bantu. Lebih baik mati saja pria tua ini, bisanya menyusahkan anak dan cucu." ujar Lesa dengan tanpa perasaan.
"Jaga bicara tante, kalau Tante Lesa tidak mau bantu ya sudah pergi dari rumah. Kakek biar Biru yang urus."
"Enak saja. Begini Biru, menurut tante lebih baik kamu terima saja tawaran Juragan Darmo yang mau menjadikan kamu istri ke-5. Kan lumayan, utang kita lunas, biaya pengobatan kakek juga ditanggung dia."
Biru menatap tajam tantenya. "Kenapa tidak tante saja yang jadi istri ke-5 jurangan tua itu? Kan lebih cocok dengan tante daripada denganku. Tante itu sudah 26 tahun, cocok menikah dibandingkan aku masih belum genap 18 tahun. Terus kata tante tadi apa? Utang kita? Heh itu utang tante demi memenuhi gaya hidup sebagai mahasiswa yang tidak selesai-selesai kuliahnya.
Rezan menatap dengan jelas wajah mereka di dalam. Iya tidak menyangka bisa menemukan gadis asing itu disini.
thanks atas karyanya Thor, tetap semangat..
bukan Gania