Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diledekin Ayah
Hari berganti cepat.
Kini Alana, Rafa, dan Cia tinggal bersama di rumah baru mereka. Rumah minimalis dua lantai yang sangat elegan. Ada halaman depan buat Cia main.
Pagi itu dapur wanginya beda.
Alana sibuk di meja makan. Ada yogurt, potongan buah, telur rebus, roti panggang, dan segelas ice americano kesukaan Rafa.
Rafa keluar dari kamar pakai kaos dan celana rumah. Begitu lihat meja, dia langsung peluk Alana dari belakang.
“Wahhh sarapannya sehat semua ini, sayang”
Alana ketawa kecil. “Iya. Cia kebetulan suka telur rebus sama yogurt. Kamu makan juga ya, biar semangat kerjanya"
“Biar kuat pas honeymoon bulan depan maksudnya?"
Bisiknya tepat dikuping Alana.
“Pagi papa, pagi mama...”
Suara kecil dari ujung tangga.
Cia turun dengan rambut dikuncir dua. Mukanya cerah, senyumnya merekah.
Cia disambut pelukan Rafa,
“Pagi sayang,” ucap Alana dan Rafa bareng.
Mereka sarapan bertiga.
Kali ini Alana nggak nungguin terakhir, dia bahkan disuapi Rafa. Hal yang tak pernah Johan lakukan padanya.
Cia melihat pemandangan orangtuanya yang harmonis senyumnya mengembang.
Dia nyomot telur rebus, terus nyuapin ke Rafa. “Papa juga makan.”
Meja makan dengan makanan sederhana itu kini terlihat bahagia dan penuh tawa.
Ada suara sendok, ada suara cerita Cia tentang PR, ada suara Rafa ketawa.
Dalam hati Cia berbisik:
"Ini yang Cia mau.. Ada mamah, papah seperti cerita teman Cia".
Batin Cia, melihat dan merasakan kasih sayang orangtua yang lengkap
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya dalam hidup Cia...
Dia sarapan sambil merasa utuh.
Sementara itu, di rumah mewah Safa dan Johan
Meja makan panjang kursi banyak tapi isinya cuma satu orang.
Vino, putra kecil mereka yang sering terlupakan kehadirannya.
Di depannya semangkuk sereal yang udah lembek. Susu di pinggirnya udah nggak dingin.
Di sebelahnya, babysitter-nya duduk menemani Vino sarapan.
"Aden, dimakan itu serealnya. Mau mbak bikinkan yang lain?"
Vino menggeleng "ini aja" ucapnya pelan
"Aden tunggu disini ya, mbak bawa tas sekolah aden ya" Babysitter-nya menuju kamar Vino.
Vino nahan air matanya sendirian, ia tak berani memanggil ayah ibunya. Ia semakin menutup diri semenjak ia dengar perkataan Safa.
“Yang ngotot pengen punya anak itu kamu bukan aku”
Kata-kata itu selalu terngiang dikepala Vino hingga kepalanya terasa sakit dan Vino jatuh pingsan. Ia menunduk ke arah meja tepat disampaing mangkok serealnya
Mbak Sri yang melihat itu, berteriak histeris.
"Aden... Den Vino, bangun den".
Ia berteriak memanggil Safa dan Johan.
"Bu.. Bu Safa, Pak Johan... Aden pingsan"
Safa dan Johan turun mengecek keadaan Vino.
"Mbak, dia kenapa?" Suara Safa pecah melihat anaknya pingsan.
Johan tanpa basa-basi menggendong anaknya membawa ke rumah sakit.
"Bu, aden butuh ibu. Tolong kali ini aja bu, ibu temani aden Vino". Mbak Sri memohon sampai mengemis kepada Safa.
*DEPAN SEKOLAH CIA - PAGI
Mobil Rafa berhenti pas di depan gerbang.
Rafa turun duluan, terus buka pintu buat Cia.
“Semangat belajarnya ya, princes,” ucap Rafa sambil nyolek hidung Cia.
Cia ketawa. “Oke papa! Bye mama, bye papa!”
Dia lari, terus nengok lagi. “Jemput yaa!”
Alana melambai dari jendela. “Bye sayang. Pinter ya.”
Begitu Cia masuk, Alana dan Rafa lanjut jalan.
Antar Alana ke gedung meeting dulu, baru Rafa ke kantor.
*DI KANTOR RAFA - SIANG*
Rafa baru buka laptop. Kopi belum diseruput.
Tok tok.
Masuklah Dirga Wijaya Ayahnya. Pakai kemeja mahal tapi gayanya santai.
“Pengantin baru lho,” cibir Dirga. “Masa udah kerja aja.
Staff kamu kalau nikah kamu suruh cuti, lama. Kamu?
Baru nikah kemarin udah masuk kantor aja. Gak honeymoon?”
Rafa mendongak. “Apa sih, Ayah nih.”
Dirga duduk di sofa. Nyender.
“Kalo kerja mulu, gimana mau nambah cucu Ayah?
Masa Cia doang. Papa juga mau cucu yang lain.”
Rafa cuma senyum. Ngetik pelan.
“Tunggu Alana siap dulu ya, Pah. Kan dia yang hamil, melahirkan, menyusui.”
Dirga manggut-manggut. “Oh... iya sih.”
Terus berdiri. Sebelum keluar dia nengok lagi.
“Yaudah. Yang penting kamu sama Alana akur. Kamu sayang sama Cia.
Nanti Ayah main ke rumah kamu. Ayah mau main sama cucu Ayah.”
Pintu ketutup.
Dari luar kedengeran suara Dirga... Nyanyi sambil joget-joget kecil khas bapak-bapak ngegodain anaknya.
Rafa ketawa sendiri. Niat mau kerja, malah diserang pertanyaan cucu.