Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Vonis Pengadilan Negeri
Keesokkan paginya, turun hujan begitu deras dari semalam membuat halaman pengadilan becek. Puluhan wartawan sudah pasang payumg, dan spanduk ‘HUKUM SEBERAT-BERATNYA’ di bentangkan oleh para mahasiswa. Galen keluar dari mobilnya, dengan memakain jas hitan yang basah di pundaknya.
5 tahun, 1825 hari, Nabila menunggu momen ini. Nabila mendatangi Galen, karena Galen pulang terlebih dahulu ke rumah keluarganya.
"Udah sarapan?" Tanya Nabila, Galen geleng.
"Nggak bisa, mual banget" Jawab Galen
Mereka jalan masuk di tangga, Galen berhenti sebentar lalu meneengok ke atas.
"Gita ada di dalam kan?" Tanya Galen
"Ada. sama bu pengacara" Jawab Nabila
Di dalam ruang sidang AC nya dingin banget, Kursi pesakitan udah diisi oleh Arvin dengan tangan diborgol. Pas liat Galen, bibirnya nyengir tipis.
"Lama nggak ketemu, kakak" Ucap Arvin membuat Galen ngepal.
Nabila langsung genggam tangan Galen
"Jangan, buat Anggita" Ujar Nabila
Sidang mulai, jaksa bacain dakwaan 30 halaman.
"Perdagangan orang... eksploitasi anak... kekerasan seksual..."
Tiap kata nusuk, Galen memejamkan matanya membayangkan Anggita 5 tahun lalu. Giliran saksi ahli, yang di hadiri oleh Dokter, Psikolog, dan Semua bilang hal yang sama: "Korban mengalami trauma berat.
Tiba giliran Nabila, dia maju dan suaranya pecah di kalimat pertama.
"Saya sahabatnya, saya gagal jaga sahabat saya" Ucap Nabila lalu dia menunjuk Arvin
"Orang ini yang ngerusak, dia bilang mau kasih kerja, gajinya 3 juta" Lanjut Nabila
Ruang sidang gaduh, hakim ketok palu 3x.Puncaknya lalu Anggita dipanggil. Pintu samping kebuka, Anggita jalan pelan memakai dress putih, cardigan biru. Terlihat kurus, tapi dagunya udah nggak nunduk lagi.
Galen langsung berdiri
"Git..." Panggil Galen sambil memberikan semangat
Pengacara narik kursi
"Duduk sayang" Ucap Pengacara
"Ceritakan apa yang terjadi" Titah Jaksa
Anggita pegang Alkitab kecil pemberian Nabila, tangannya gemetar.
"Saya... saya dibawa ke gudang yang gelap dan bau, ada banyak anak lain" Ucap Anggita lalu berhenti dan menangis
"Saya teriak manggil Bila, tapi nggak ada yang denger" Lanjut Anggita
Hening 5 detik, terus ada suara isak dari bangku belakang.
"Terus?" Tanya Jaksa pelan.
Anggita angkat kepala menaatap hakim.
"Saya mau bilang... saya masih hidup, dan saya mau sembuh." Jawab Anggita dan itu mmebuat suasana menjadi ricuh
Hakim langsung ketok palu
"Sidang tertib!" Ucap Hakim
*****
30 menit kemudian hakim berdiri, membuat semua berdiri.
"Menimbang... memutuskan, terdakwa Arvin Wijaya. Saya jatuhi hukuman 20 tahun penjara, dan denda 500 juta serta ganti rugi kepada korban 2M" Ujar Hakim
TOK… TOK… TOK…
Arvin teriak histeris diseret 2 polisi
"Kalian nggak tau siapa saya!" Teriak Arvin
“Tolong jangan bawa anak saya, anak saya tidak bersalah” Teriak Valerian sambil menangis
“Tolong bu, kerja samanya” Ujar Polisi
“Jangan sentuh anak saya, kalian tidak tahu siapa saya ?” Sarkas Valerian
“Tapi ini sudah prosedurnya, tolong kerjasamanya nyonya” Jawab Polisi
Arvin langsung di bawa kea rah sel besi, dan itu membuat Valleryan semakin histeris lalu memandang Galen dan Nabila begitu murka.
“Tante tidak menyangka, kamu bisa setega ini kepada sepupumu sendiri. Tante pikir, kamu orang yang baik dan tulus menyayangi keluarga tetapi tante salah” Ucap Vallerian
“Maafkan aku tante, tapi ini murni kesalahan Arvin dan saya sebagai dokter hanya membantu pasien saya” Jawab Galen dan membuat Vallerian meningalkannya bersama suaminya
*****
Di luar …
Galen buang napas, lututnya lemes dan Nabila langsung peluk dari samping.
"Kita menang sayang, kita menang" Ujar Galem
"Kamu hebat, aku bangga banget sama kamu" Tambah Galen
Pukul 21:00 di rumah Anggita …
Anggita dari tadi di kamar lampu mati, Nabila ngetok
"Git, keluar yuk, kita masak mie" Ajak Galen
"Nggak laper" Jawab Anggita, membuat Nabila ngelirik Galen
"Biar aku" Ujar Nabila
Nabila duduk di depan pintu.
"Git, kamu tau nggak. Dulu pas kamu hilang, tiap malem aku mimpi kamu manggil Bila terus” Ucap Nabila
"Terus aku janji sama Tuhan, kalau kamu pulang, aku mau masakin kamu tiap hari” Lanjut Nabila
Mendengar itu Anggita menoleh ke arah Nabila
"Mie nya... masih ada?" Tanya Anggita
Galen langsung senyum.
"Ada, masih anget" Jawab Galen sambil tersenyum
Mereka makan di lantai ruang tamu bertiga, tidak banyak ngomong cuma terdengar suara sumpit.
*****
Jam 23:00 Nabila gelar 3 kasur tipis
"Malam ini kita tidur sini ya,l dengan ampu nyala" Ucap Nabila
"Boleh lampu kecil?" Tanya ANggita
"Boleh" Jawab Galen
Galen colokin lampu tidur bentuk bulan dan sebelum tidur mereka duduk melingkar.
"Gimana kalau kita doa syukur?" Tanya Galen
"Aku mulai ya, Tuhan terima kasih..." Jawab Nabila
"Karena sudah kembalikan saudara kami" Ujar Galen
"...dan karena sudah kasih aku keluarga lagi. Amin."Galen selimutin Anggita. "Tidur. Besok kita mulai hidup baru."
Anggita merem, kali ini nggak kebangun tengah malem, nggak teriak. Galen bisik ke Nabila.
"Dendam kita selesai" Bisik Galen
Nabila bisik balik
"Sekarang giliran cinta yang jalan" Jawab Nabila
Untuk pertama kalinya dalam 5 tahun, rumah itu nggak sepi.