Sekuel dari 'Menikah Muda Denganmu' sebelumnya. Klik profil jika ingin membaca cerita yang pertama!
Sofia Putri Anggara, gadis berisik yang penuh ide gila di kepalanya. Gadis muda berusia 19 tahun ini harus extra keras meluluhkan hati seorang
duda tampan dan kaya raya bernama Dilan Danuarta.
Duda yang memiliki sikap dingin, tegas dan tak suka dibantah.
Karena sebuah surat peninggalan adik kesayangannya, Dilan terpaksa harus menikah dengan Sofia gadis pilihan sang adik yang sudah meninggal.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara gadis sembilan belas tahun dan pria beranak satu ini?
Usia yang terpaut dua belas tahun dan sikap yang bertolak belakang.
Sofia
"Abang akan jatuh cinta sama Sofi!"
Dilan
"Dalam mimpi!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta & Obsesi
Harap bijak membaca adegan ini yah!! khusus yang sudah dewasa!!
Keringat membanjiri tubuh keduanya. Dengan semangat yang tiada habisnya Dilan menikmati setiap inci vitamin dan makanan barunya. Rasa yang sudah lama tidak ia nikmati. Kehangatan dan gairah yang begitu asing di tubuhnya.
Bukan yang pertama bagi Dilan. Tapi yang pertama bagi Sofia. Gadis itu tak bisa lagi menahan desahan di tiap sentuhan kenikmatan yang di berikan suaminya.
Rasa lapar dan pekerjaan yang menumpuk tak di hiraukan Dilan lagi. Ia hanya ingin memiliki istri kecilnya itu seutuhnya.
Mulai saat ini Sofia hanya miliknya, ia tidak akan gagal lagi menjadi seorang suami untuk yang kedua kalinya. Mulai saat ini Dilan akan bertekad menjaga miliknya.
"Abang ...," Panggil Sofia di tengah aktivitas panas keduanya.
"Hmmm."
"Masih lama?"
"Hmm ... bukankah ini yang kamu inginkan? Nikmati saja." Dilan semakin menggila. Pakaian keduanya sudah berserakan di atas lantai.
Lagi dan lagi untuk kesian kalinya hingga menjelang sore hari.
Dilan benar-benar memakan vitaminnya dengan dosis yang sudah melebihi standar.
Aktivitas itupun berakhir saat Sofia sudah merasa benar-benar kelelahan.
Dilan tersenyum lalu mengecup kening istrinya dengan penuh rasa cinta.
"Terima kasih sudah mau menerima saya."
"Sofia yang harusnya bersyukur, Abang mau membuka hati untuk Sofia." Sofia memeluk erat tubuh suaminya dengan cinta yang luar biasa." I love you Abang ..."
Dilan tertegun sesaat. Kata cinta yang biasa namun mampu meluluhkan tembok tebal di hati Dilan. "Love you too."
Mereka akhirnya terlelap di balik selimut.
* * *
Raisya melebarkan senyumnya. Kembali ke Negaranya adalah keinginan terbesarnya selama beberapa tahun terakhir.
Wanita itu lahir dan di besarkan di sini, karena perceraiannya dan keadaan perusahaan ayahnya yang bangkrut, membuat wanita itu harus hidup sebagai kekasih seorang pria kaya yang gila akan dirinya.
Raisya mengibaskan rambut panjangnya, ia melangkah keluar dari bandara menuju mobil di depan bandara. Beberapa pria dengan stelan jas hitam sudah menunggu kedatangannya. Pria bayaran yang di bayar Eric untuk menjaga dan melindungi Raisya.
Wanita itu sangat antusias ingin bertemu dengan Lano dan Dilan selama berada di sini. Sudah lama sekali dia tidak melihat anak dan mantan suaminya itu.
Mama datang Lano. Bagaimana kabar anak itu? Dia pasti sangat tampan. Aku sudah tidak sabar melihat putraku. Dan tentunya pria mempesona itu.
* * *
Dilan turun dari tempat tidur. Mengambil pakaian yang berserakan di lantai, Dilan tersenyum saat memandang tubuh polos Sofia yang terlelap di dalam selimut tebal.
Kecantikan natural yang di miliki istrinya. Hatinya menghangat saat memandang wajah polos Sofia saat terlelap.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Panggilan telepon dari Boy.
Dilan mengangkat panggilan dari Boy. "Ada apa Boy?" Tanya Dilan sambil menuju ke kamar mandi.
"Nona Raisya membawa Lano dari sekolahnya Tuan."
"Apa? Di mana pengawal Lano?"
"Dia sudah di rumah sakit sekarang. Raisya membawa banyak pengawalan untuk membantunya membawa paksa Lano Tuan."
Kekesalan Dilan benar-benar tak terbendung.
"Dasar wanita gila ... Kerahkan semua anggotamu Boy, buat wanita itu merasakan hal yang mengerikan dalam hidupnya. Dia sudah berani melawan ku."
"Jangan terbawa emosi Tuan. Bagaimanapun Raisya ibu kandung Lano. Dia masih punya hak atas Lano. Saya takut kita akan kehilangan hak asuh Lano jika bertindak gegabah."
Sofia terbangun mendengar suara Dilan. Ia mengerjap matanya yang masih mengantuk.
"Abang ... ada apa?" Tanya Sofia. Ia duduk bersandar di sandaran tempat tidur dengan selimut menutup sampai dada.
"Urus semuanya Boy, batalkan semua jadwal! fokus mencari keberadaan Lano. Raisya mungkin menginap di salah satu hotel di sini."
Dilan menutup telepon. Ia menghampiri Sofia di atas kasur.
"Ada apa dengan Lano Abang?"
"Ibu kandung Lano sudah kembali, dia membawa Lano dari sekolahnya. Saya akan pergi sebentar. Kamu pulanglah lebih dulu."
"Sofia gak boleh ikut?"
"Jangan sofi, Raisya wanita yang jahat. Saya tidak mau kamu kenapa-napa. Tunggu saja saya di rumah."
"Tidak ada seorang ibu yang jahat Abang, Sofi yakin Lano akan baik-baik saja. Mungkin dia hanya ingin bertemu anak kandungnya. Cuma caranya saja yang salah."
"Kamu tidak kenal siapa Raisya, dia bisa melakukan apa saja untuk memenuhi keinginannya."
"Baiklah, Sofia akan menurut. Abang pergi saja, Sofia bisa pulang dengan kak Al."
Dilan mencium bibir Sofia sekilas. Lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Jangan nakal ... dan mulai sekarang, jangan pernah naik motor lagi dengan Aldi. Naik mobil saja! saya tidak suka." Ucapnya sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.
Sofia menggeleng kepalanya. Di satu sisi ia bahagia dengan perubahan Dilan. Di satu sisi ia khawatir dengan keadaan Lano.
Tapi ia yakin sekali, bahwa Raisya tidak akan macam-macam dengan Lano.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Dilan pergi menuju markas Boy.
Boy sudah lebih dulu berada di sana. Pria-pria berbadan tinggi dan tegap sudah mengerahkan semua keahlian yang mereka miliki. Tak perlu waktu lama mereka sudah berhasil menemukan keberadaan Lano dan Raisya.
"Dimana Lano Boy?" Tanya Dilan yang duduk di sofa di dalam markas. Sejak tadi Dilan tampak khawatir menunggu hasil pencarian Lano.
"Tenang Tuan. Saya sudah punya rencana. Lano akan kembali, Anda jangan khawatir."
"Bagaimana saya tidak khawatir Boy, wanita gila itu membawa Lano."
"Dia akan semakin gila jika kita tidak hati-hati Tuan. Anda tau sendiri siapa pendukung wanita itu. Saya akan mengirim James ke sana, biarkan sepasang kekasih lama itu bernostalgia."
"Maksudmu Boy?"
"James akan menjadi umpan pertama untuk mencari tau maksud kedatangan wanita itu." Boy tersenyum licik.
Dilan mengerti maksud Boy, " Saya sudah pernah katakan pria itu memang masih kita butuhkan Boy."
"Benar Tuan. James sangat berguna."
"Tapi, apa Raisya tidak curiga? Dan bagaimana jika James mengkhianati kita lagi."
"Itu tidak akan terjadi Tuan. Saya pastikan James bisa di andalkan." Boy berkata dengan yakin.
Dilan mengangguk ia sangat percaya dengan keahlian Boy. " Baiklah Boy, kita akan lihat pekerjaan James. Tapi jika sampai malam nanti Lano belum juga kembali, saya yang akan langsung turun tangan."
"Iya Tuan. Saya juga tidak akan tinggal diam jika terjadi apa-apa dengan Tuan Muda."
* * *
James mendekati Lano dan Raisya di sebuah restoran siap saji. Terlihat Lano yang sangat ketakutan dengan sikap Raisya, tapi anak itu berusaha menutupi rasa takutnya.
"Ini Mama Lano ... Aku ibu kandungmu, kenapa kamu takut sayang?" Raisya memang dagu Lano.
"Anda tidak tampak seperti seorang ibu Tante." Jawab Lano.
James mendekat dan menyapa. " Hai Raisya ... Kenapa kamu lama sekali datang sayang? Aku sudah merindukanmu." Ucap James dengan senyuman lebar. Ia juga merentangkan kedua tangannya.
Raisya menoleh ke arah suara yang memanggilnya. " James ...." Ia kaget melihat bahwa James yang datang bukan Dilan.
Pengawal Raisya mulai menatap tajam ke arah james, mereka orang suruhan Eric. Mereka tentu tau Raisya milik bos mereka Eric bukan pria di hadapan mereka.
Raisya mulai panik saat melihat ekspresi pengawalnya yang mulai curiga dengan James.
"Hai juga Lano ... putraku, sudah lama kita tidak bertemu. Hampir saja aku bisa memilikimu, andai saja si Dilan itu tidak datang mungkin aku sudah berhasil membawamu." Ujar James lagi, dan itu sukses membuat Raisya semakin panik.
Bersambung ...
Tinggalkan jejak! jangan lupa like dan vote!!