Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Session 1 - Xavier - Cassandra [Tamat]
Session 2 - Roman - Alesha [Tamat]
Session 3 - Ongoing
Tiga tahun menjalani pernikahan akhirnya membawa Alesha pada keputusan penting, yaitu meminta perceraian dari sang suami, Roman Alvero.
Apakah keretakan rumah tangga itu akan berakhir di persidangan? Atau mampukah Roman, mempertahankan Alesha sekali lagi?
~Selamat membaca terima kasih sudah mampir~ ♥️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Kacang
"Jangan tolak pesonaku. Kau bisa saja semakin terjatuh di dalam sana." ~Xavier Forzano.
.
.
.
Cassandra menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk kafe. Dia terperangah saat melihat Xavier benar-benar sudah berdiri di depan sana, bersandar pada mobilnya sambil mengembuskan asap rokoknya ke udara. Xavier menyunggingkan senyuman, dia terlihat maskulin dengan celana jeans dan kemejanya yang terlihat licin. Sneakers laki-laki itu juga sukses menambah nilai kegantengannya sore ini.
"Cassandra, kau sudah selesai?" tanyanya sembari melambaikan tangan.
Cassandra masih terdiam di posisinya untuk beberapa saat. Setelah berfikir, dia akhirnya melangkah pelan menuju tempat Xavier berdiri.
"Berhentilah merokok, Xavier. Kau bisa mati lebih cepat," sungut gadis itu mendekat.
Xavier tersenyum dan mematikan rokoknya dengan kaki, memungut puntung rokok itu dan berjalan cepat menuju tong sampah terdekat.
"Kau ingin aku hidup lebih lama?" katanya bertanya, dengan sorot mata menggoda pada Cassandra.
Cassandra mendengus.
"Matilah saat aku sudah kaya nanti. Agar aku bisa memberimu sumbangan yang banyak!" geram gadis itu tertahan.
Xavier semakin tertawa lebar.
"Kau benar-benar ingin mengajakku makan malam?" tanya gadis itu kemudian.
"Ayo!" Xavier membukakan pintu penumpang untuk Cassandra, menyuruh gadis itu untuk masuk ke dalam. Cassandra tak punya pilihan, dia memilih untuk menurut saja dan duduk manis di dalam mobil Xavier.
"Baiklah. Ayo kita berkencan," kata Xavier kemudian, memakai sabuk pengamannya dan bersiap memegang kemudi.
"Berhentilah berkata kita berkencan, Xavier!" protes Cassandra pelan.
Gadis itu melihat ke arah depan, tidak memandang Xavier.
"Kau keberatan kita berkencan?" Lelaki itu menoleh, memutar badannya untuk melihat sepenuhnya pada bola mata Cassandra.
Cassandra menggeleng lemah.
"Tentu saja. Orang-orang akan berfikir yang tidak-tidak."
Xavier mendekat. Kini dia tidak kurang dari sepuluh senti meter dari wajah cantik Cassandra, yang menatapnya dengan wajah memerah.
"Kau tahu, Cassandra. Aku tidak pernah salah memilih wanita," bisik lelaki itu pelan, menyunggingkan kembali senyuman mautnya, sebelum akhirnya menarik dirinya menjauh dari gadis itu untuk mulai mengemudi.
Cassandra merasa dirinya refleks menjadi kikuk, berusaha menahan gejolak di dalam dada, merasakan seolah banyak kupu-kupu berterbangan di perutnya.
Kenapa Xavier bisa sekeren ini sih?
***
Xavier melirik Cassandra yang sedang menikmati makan malamnya. Dia ingin membawa gadis itu ke sebuah restoran mahal, memesan hidangan paling enak dan membuat Cassandra kenyang. Namun lagi-lagi dia kalah. Alih-alih mendarat di restoran, di sinilah mereka, di sebuah warung kecil pilihan Cassandra yang menyajikan menu andalan nasi pecel.
Xavier tidak ingin berdebat. Dia tidak ingin waktunya bersama gadis itu penuh pertengkaran, jadi dia hanya akan mengalah saja untuk saat ini. Dia mungkin tidak cocok dengan hidangan yang disajikan, namun jika Cassandra menyukainya maka itu akan lebih dari cukup untuknya.
Cassandra meraih sebuah toples berisi peyek kacang, mengambil beberapa potong dari sana dan menyodorkannya ke hadapan Xavier.
"Kau pernah makan peyek?" tanyanya polos.
Xavier berdecak.
"Astaga, Cassandra. Tentu saja. Aku memang konglomerat namun aku tidak hidup di mars, kau tahu," rutuk Xavier sembari mengambil peyek yang disodorkan Cassandra.
Gadis itu menaikkan bahunya, tertawa kecil.
"Ya, mana tahu kau memang tak pernah memakannya," katanya membela diri.
"Kau suka peyek?" tanya lelaki itu, dijawab dengan anggukan cepat dari Cassandra.
"Ibuku dulu berjualan peyek. Aku membawanya ke sekolah saat aku berada di sekolah menegah, dan orang-orang menjulukiku dengan si gadis peyek." Cassandra tertawa.
Xavier menatap lekat pada gadis itu.
Bagaimana kau tumbuh besar, Cassandra? Apa saja yang telah kau lalui selama ini?
"Benarkah?"
"Tentu saja. Peyek buatan ibuku sungguh enak. Ibu pernah berkata padaku untuk menjadi kacang saja," Cassandra kembali bersuara.
Xavier mengernyitkan dahinya.
"Kacang?" tanyanya tak mengerti.
"Kau tahu, Xavier. Kacang adalah partner si tepung pada peyek. Kau bisa saja menggoreng adonan peyek tanpa kacang, namun rasanya tidak akan lengkap dan sempurna, kau perlu kacang untuk membuatnya menjadi satu kesatuan." Cassandra menjelaskan panjang lebar, membuat Xavier mengangguk mengerti.
Kau ingin menjadi kacang, Cassandra?
"Begitukah? Ibumu pandai menganalogikan sesuatu," kata Xavier kemudian.
"Ibuku juga pandai membuat kue. Jika nanti dia membuatnya, akan kuberikan padamu." Cassandra meraih gelas plastik yang berisi teh dingin, menyesapnya perlahan.
Xavier menyunggingkan senyuman.
"Baiklah. Jangan lupa, berjanjilah," katanya kemudian, mengajukan jari kelingkingnya ke hadapan gadis itu, membuatnya tertawa kecil.
"Baiklah. Aku berjanji. Kau akan jatuh cinta pada kue buatan ibuku," balas gadis itu kemudian, membuat Xavier menatapnya lekat.
Kurasa aku telah terlebih dahulu jatuh cinta pada anak dari ibumu, Cassandra.
***
Alesha menghentikan langkahnya tiba-tiba. Gadis itu baru saja turun dari bus dan berjalan kaki menuju kafe tempatnya bekerja, namun kakinya berhenti mendadak saat dia melihat seorang pria sedang mendongak ke arah papan nama kafe mereka, memberikan arahan pada beberapa orang yang memanjat ke atas sana. Axel tampak berbeda pagi itu. Pria itu terlihat sedang berkacak pinggang, mengawasi pekerjaan dari orang-orang yang ditugaskan untuk mengganti nama kafe mereka, yang kini berubah menjadi C-Kingdom.
Alesha tertegun melihat punggung pria itu. Bahkan bahunya tampak lebar dan bidang, sukses menonjolkan sisi kemaskulinan pria itu. Hari ini weekend, dan Axel tampak mengenakan setelan baju yang terlihat lebih santai dari biasanya. Jika biasanya lelaki itu datang dengan kemeja licinnya, hari ini dia lebih tampak muda dengan kaos sport yang membalut tubuh atletisnya. Axel memadukan kaos dengan sebuah celana panjang santai berbahan kain, yang menampilkan kaki jenjangnya dengan sempurna.
Wajah gadis itu tiba-tiba memerah. Dia memegangi pipinya yang bersemu, diam-diam memuji kesempurnaan Axel di dalam hatinya. Hingga tiba-tiba sebuah tepukan di bahunya membuatnya sedikit terkaget.
"Alesha! Ngapain lo bengong di sini?" Cassandra telah berdiri di samping gadis itu, celigukan memperhatikan rekannya yang terlihat masih tersipu.
Alesha tersenyum kecil sambil menunjuk ke arah Axel.
"Cass, liat deh. Kayaknya malaikat itu memang ada, kan?" bisik Alesha pelan.
Cassandra mengernyitkan dahi. Malaikat? Mana? Dia mencari ke sekeliling untuk memastikan apa yang menjadi objek pandang Alesha kali ini, namun tidak menemukan sesuatu yang sepadan dengan sebutan 'malaikat'.
"Yang mana?" tanyanya bingung.
Alesha kembali menunjuk ke arah kafe.
"Itu," katanya penuh kekaguman, tidak melepaskan sorot matanya dari Axel yang masih berdiri di sana.
Cassandra terbelalak.
"Astaga, Alesha! Maksud lo Pak Axel?! Dia malaikat?!" seru Cassandra tertahan, tidak percaya.
Alesha mengangguk dengan senyuman saat Cassandra menggeleng pelan. Memperhatikan bagaimana raut wajah temannya itu menjadi lebih merah, bersemu. Entah apa yang terjadi pada Alesha baru saja, namun gadis ini benar-benar tidak seperti dirinya.
Astaga, Alesha.
Cassandra melirik arloji di pergelangan tangannya, mereka hampir terlambat. Menyadari Alesha mungkin belum menguasai diri, Cassandra berinisiatif untuk menarik tangan gadis itu ke dalam rangkulannya, membawanya berjalan pelan menuju kafe sebelum si malaikat Alesha menyemprot mereka pagi itu.
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Makasih untuk semua like, vote dan komennya ya kak.. semoga suka dan selamat membaca 🙏
kalau novel ini kayaknya seru jadi mau lanjut baca dulu