NovelToon NovelToon
Bitter Sweet

Bitter Sweet

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Sekejap manis, sekejap pahit. begitulah urusan hati seorang Dinata Mahika Jennar, patah hati yang berulang membuat sikap egoisnya memaksa untuk selalu berpindah kampus tempatnya belajar dan trauma untuk menjalin rasa itu kembali terhadap seseorang.

"Gue mau jadi biksu aja, seumur hidup ngga akan pernah mau lagi ngerasain jatuh cinta sama manusia."

Namun kepulangannya ke tanah air justru mempertemukannya dengan seorang penggombal receh dimana nasib justru menghadapkan keduanya di situasi pernikahan yang terpaksa.

Adalah Prasasti Dirgantara, prajurit militer bersenjata negri yang lahir dari keluarga sederhana dan harus turut menerima derita menikahi Dina secara paksa, sepaket sifat menjengkelkan gadis kaya raya itu.

"Jangan lupa uang panainya! Pendidikan gue itu sarjana, om. Minimal 150 juta..." sengak Dina congkak. Prasasti menjedotkan kepalanya ke dinding beton markas militer, "mesti minjem kemana?!"

Sanggupkah keduanya menjalani pahit manisnya kehidupan sebuah pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)

Zea dan Cle segera melesat ke rumah Dina, setelah mengetahui kabar ini, sebagai teman keduanya tak lantas meninggalkan Dina yang tengah dalam keterpurukan, begitupun Iyang yang terus memantau lewat sambungan telfon.

Beberapa mobil menghalangi dan memenuhi blok perumahan Dina, hingga membuat keduanya harus nyelap-nyelip diantara orang-orang.

Pras mengendurkan pelukannya demi melihat wajah Dina, "hey. Dengar abang. Semuanya akan baik-baik saja." ucapnya tepat di depan wajah Dina dan mengecup kening mulus itu.

Brum...

Deru mesin mobil yang mulai menyala bersama bunyi sirine hendak membawa papi Rendra keluar dari kediamannya sontak membuat Dina bergegas bangkit dan berlari mengejar mobil polisi itu.

"Papiii! Jangan pergi, piii!" tangisnya.

"E...eee...Dina!" Zea dan Clemira refleks menahan Dina, khawatir jika Dina akan nekat dan itu justru membahayakan dirinya sendiri.

Mami sudah menangis pilu di belakang, ia tak sanggup untuk berlari, bahkan untuk berdiri saja ia sudah tak ada daya.

"Tante, Cle...tante..." tepuk Zea di lengan Cle, membuat istri dari Pratama Adiyudha itu segera menyerbu mami Dina.

Prasasti sudah berlari menyusul Dina untuk kembali menahan istrinya itu, yang sudah mengetuk-ngetuk kaca mobil, "papii, buka piii....om polisi jangan bawa papi Dina. Pasti ini salah---papi ngga kaya gitu!"

"Papiiii!"

Zea dan Pras menahan Dina yang terus saja menempeli kaca mobil sebelah kiri, dimana bayangan papi Rendra menatap nanar berkaca-kaca melihat putrinya, "papi oke, sayang...papi oke."

"Dinata Mahika!!!" bentak Zea menangkup wajah Dina, "biarin papi lo pergi, Din. Menyelesaikan apa yang sudah dia lakukan. Dan lo mesti sadar itu!" bentak Zea, "disini lo ngga sendiri!"

"Bilang sama mereka Zee, bilang papi gue ngga salah! Ambil aja hartanya, perusahaannya, semuanya ambillll.....gue ngga takut miskin----tapi jangan papi gue!" ucapnya diantara tangisan lirih.

"Astaghfirullah..." lirih Pras, "nyebut ndi. Jangan seperti ini..." ia membawa kedua tangan Dina untuk memeluknya, mencegah Dina kembali menatap kepergian mobil yang membawa papi Rendra.

"Tante..." jerit Clemira merangkul mami Dina yang pingsan.

"Tante!" Zea ikut berlari kesana, begitupun Pras dan Dina.

"Bawa ke dalam."

Pras kini menggendong ibu mertuanya ke dalam diikuti Dina dan kedua temannya.

Riona, istri dari Dion datang kesana demi melihat kondisi mama mertuanya dan Dina atas permintaan Dion. Atas rembukan akhirnya mama Dina dibawa ke rumah Dion dan Riona untuk sementara waktu, karena tak mungkin Dina membawa mami ke asrama Prasasti.

Tampilannya begitu kacau, Dina dibawa pulang oleh Pras dengan motornya. Gadis itu tak mau bicara apalagi makan. Ia benar-benar persis mayat hidup.

"Ndi..." Pras menyendokan nasi tepat di depan mulut Dina, namun gadis itu tak bergeming dan hanya menatapnya berurai air mata.

Pras menaruh sendok yang terisi nasi utuh itu di atas piringnya kembali dan menggenggam tangan Dina.

"Kamu tau apa ini?" tanya nya menyentuh dan mengusap cincin nikah yang tersemat di jari Dina.

"Cincin ini artinya lebih dari cuman sekedar pengingat bahwa kamu adalah seorang istri, artinya kamu sudah tidak sendiri lagi," ocehnya, apapun akan ia katakan bahkan sampai mulut berbusa dan kering asalkan Dina mau kembali bersemangat dari kesedihan dan kekecewaannya kali ini.

"Artinya kalau ada apa-apa sudah ada abang yang akan mendengar, melindungi dan berbagi. Artinya, kamu juga punya keluarga lain, selain papi, mami, Dion, Riona dan Cio. Atau keluarga besar di angin mamiri. Kamu punya ibu, bapak, Pratiwi, bu'lek, budhe, pa'lek, padhe."

"Aku cuma bisa bagi rasa malu sama om dan keluarga." jawabnya dengan suara parau. Pras menggeleng, "engga. Kalau andi ngga makan, abang juga ngga makan. Biar kita sama-sama lapar, share, remember? Aku sakit kamu sakit?"

Dina menggeleng, "om ngga boleh sakit. Om harus dinas...om masih dibutuhkan sama ibu pertiwi, ngga kaya aku..." ia kembali menangis. Dina yang ada si hadapannya sekarang adalah Dina yang begitu rapuh, Pras tak henti-hentinya memberikan pelukan untuk istri kesayangan.

"Kalo ibu pertiwi butuh abang, abang butuh kamu untuk mengurus abang....kalau dunia tidak menginginkan kamu, maka abanglah orang yang sangat menginginkan kamu...." Pras meyakinkannya, harus Dina tau dan harus Dina ingat, Pras pernah ada di posisi ini dulu, dan ia bersama Tama sudah berhasil melewatinya.

Pras tau apa yang akan terjadi berikutnya, hukum sosial...itu yang lebih kejam dari ibu tiri apalagi ibukota. Dan ia sudah siap menjadi garda terdepan gadis milk bunnya itu.

Larut dalam kesedihan, Dina sampai tertidur dalam dekapan si hitam manis ini. Tak sedetik pun Pras meninggalkan Dina. Ia tak tau sampai kapan bisa begini, setidaknya ia harus berkoordinasi dengan Zea dan Clemira demi menemani Dina disaat ia bertugas.

"Ndi, pindah ke dalam yuk tidurnya..." pinta Pras.

"Emhh---" gumam Dina. Alis Pras mengernyit merasai suhu badan Dina yang semakin sini semakin hangat, gumaman Dina seolah pertanda jika tidurnya gundah.

"Ndi, kamu sakit?" ia menempelkan pipinya ke kening Dina yang masih memejamkan matanya.

Segera, Pras menggendong Dina masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di atas kasur.

"Pusing?" tanya Pras melihat Dina yang membuka matanya, Dina mengangguk, "sedikit."

Pras berdecak, salahkan ia yang tak pernah menyediakan kotak P3K di rumah, mengingat ia yang bujangan sebelumnya, dan ia terlupa akan hal itu. Diliriknya jam di dinding kamar yang menunjukan waktu tengah malam.

"Shitt! Mau minta tolong ke siapa jam segini?" gumamnya, ia membuka jaket jeans Dina yang terlihat tak nyaman untuk si empunya.

"Maaf," ucapnya ketika meminta Dina membuka. Dina menatapnya pasrah, Pras begitu telaten mengurus Dina, sejurus kemudian ia membawa air hangat untuk kompres. Lalu dengan gesit ia juga membuat teh manis hangat, terlihat ia juga seperti sedang menelfon seseorang di sana, "iya. Tolong kau masuk ruang kesehatan. Disana pasti ada kotak P3K, coba lihat ada obat penurun demam. Tolong, bawa ke rumah saya..."

"Ya. Terimakasih."

"Om---" paraunya sukses membuat Pras menoleh ke arah kamar.

"Iya ndi, abang datang...kenapa haus?" Pras segera masuk kembali ke dalam kamar dan berlutut di depan kasur.

"Pelan-pelan, tehnya masih agak panas." pinta Pras menyodorkan bibir gelas.

"Om belum tidur?"

Pras menggeleng, "gampang lah kalo abang. Anggap aja lagi jaga malam, piket..." kekehnya enteng, perasaan mencelos dan tersentuh sudah membuat Dina runtuh akan kasih sayang yang Prasasti berikan, "maafin Dina udah nyusahin om suami..." lirihnya yang mengundang tawa Pras, "jadi sekarang manggilnya om suami, bukan si item jelek lagi?" godanya.

Dina tersenyum lemah, "ngga usah ngajakin berantem. Dina ngga lagi pengen bercanda."

Tangan besar itu menangkup wajah Dina, dengan jempolnya mengusap-usap pipi Dina, "abang ngga pernah ngerasa dibikin susah."

Lama keduanya saling menatap, bahkan Pras sudah memajukan wajahnya hingga tak berjarak, ketukan di pintu mengejutkan keduanya, mengurungkan niatan bibir Pras yang akan nyosor Dina.

"Bang....Bang Black!" teriaknya meledakan tawa Dina, kok jatohnya persis nama satwa.

"Rekan si alan." dengus Pras beranjak ke arah pintu rumah demi menemui rekan minus akhlak itu.

Dina menggeleng geli, ia menunduk melihat sprei namun pikirannya sudah jauh melanglang buana entah kemana, diantara rasa pening yang mendera bersama rasa tak enak badan ia masih memikirkan nasib keluarganya, nama yang dielu-elukan mungkin besok akan berganti menjadi cemoohan, tentang bagaimana ia akan menjalani hari-harinya ke depan pasti akan begitu sulit. Ia akan di cap sebagai anak koruptor, anak penjahat, anak pem**nuh. Apakah ia akan sanggup?

.

1
...
duh iyang iyang🤣🤣
Kim_Nia⁹⁶ 💞
mungkin sudah jalan nya ya Dina nikah sama Pras buat membuka kejahatan mertuanya
Sri Ariyanti
terima kasih othor
Dicky Sugandi
kereen
Vitriani
👍
Kuntyo Wantari Dewi
Kasih bonchap atuhh thorr
Kuntyo Wantari Dewi
Kl aku suami ngorok aku blg... pelan2 ngoroknya mama ga bisa tidur... akhirnya volumenya mengecil... tp lama2 besar lg🤣🤣🤣🤣
febby fadila
lho lho lho kok tamat si yaelah kak ini gimana apa gantung atau tamat benaran ini, adee masih asyik baca juga, blom lihat keahliannya dina gimana untuk mengembang bakatnya sama kek umi faranisa
febby fadila
dina klw om pras yg ceramah masuk telinga kiri keluar ke kanan 🤣🤣🤣🤣
febby fadila
ck. bgtlah klw kasih pemahaman pada orang awam
febby fadila
sabar dina jadi istri prajurit itu kuat kek baja
Endang Sulistia
keren
febby fadila
owalah om pras cemburu tu dina 🤣🤣🤣
febby fadila
bagus juga tu istilah gubuk derita penuh cerita aku kira penuh cinta 🤣🤣
febby fadila
bungkusan kadomu sangat unik dina 🤣🤣🤣
febby fadila
ya allah pasutri ini bikin geleng² kepala aja untung nggaka da cle sama zea 🤣🤣
febby fadila
iya sebagai istri prajurit tu harus tetap disamping suami dimana pun berada,, tp aku blom pernah ikut suami tugas keluar pulau sampai bertahun tahun
febby fadila
hmm bakalan ketemu sama jenggala dan russel itu mah di kota karang ♥️🤣
febby fadila
semoga dina hamil ya walaupun capek hati dan fisik ya
febby fadila
untung kamu dapt suami kek pras, dina. bukan kek tama sama saga yg dingin kek es kutub 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!