Venus Bach, melarikan diri dari mansion milik keluarganya. Ia beruntung karena bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang akhirnya mempekerjakan dirinya di rumah menantunya sebagai babysitter untuk cucunya. Redley Smith, putra bungsu Keluarga Smith, jatuh hati pada Venus, babysitter keponakannya. Namun, Venus membentengi dirinya dari makhluk bernama laki-laki. Apakah Red akan berhasil meluluhkan hati Venus? Ataukah semakin membuat Venus menjauh dan menutup dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pansy Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK KEMBALI
Plakkk
Dengan kencang Izebel menampar pipi Edison. Kemarahan begitu terlihat di wajahnya.
“Bodoh!! Menjaga satu orang saja tidak bisa!” teriak Izebel tepat di depan wajah Edison.
“Aku akan menangkapnya lagi,” ujar Edison.
“Menangkapnya lagi?” tanya Izebel dengan tatapan meremehkan, “mereka sudah pasti akan menjaganya lebih ketat dari sebelumnya. Apa kamu pikir mereka bodoh sepertimu?!”
Edison mengeraskan rahangnya saat mendengar Izebel mengatakannya bodoh untuk kesekian kalinya. Ia mengepalkan tangannya, bahkan deru nafasnya sudah mulai memburu.
“Lalu sekarang apa maumu?” tanya Edison.
“Mauku? Tentu saja keinginanku tetap sama, mendapatkan seluruh harta kekayaan Keluarga Bach,” jawab Izebel.
Semakin hari, Edison semakin muakk dengan sikap Izebel. Ia merasa dirinya seperti budak yang hanya menuruti perintah dan naffsu wanita itu.
“Aku ingin kamu mendekati Venus kembali dan bawa dia padaku,” ujar Izebel.
“Aku tidak mau mengorbankan diriku lagi!” kata Edison. Izebel sepertinya hanya ingin mengumpankan dirinya tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti ke depan.
“Sudah pintar bicara kamu ya?! Kamu itu hanya pria miskin yang aku angkat derajatnya. Kalau tidak, tak mungkin kamu bisa menjadi supir Keluarga Bach!” Hinaan demi hinaan diterima oleh Edison.
Edison semakin mengepalkan tangannya, menunjukkan ketidaksukaannya pada Izebel yang menganggap dirinya begitu rendah.
Plakkk
Tanpa banyak berpikir lagi, Edison mendaratkan sebuah pukulan tepat di pipi Izebel. Biarlah dia disebut pengecut karena berani memukul seorang wanita, ia tidak peduli lagi.
“K-kamu! Berani sekali kamu menamparku,” ujar Izebel tak terima.
Edison tersenyum miring, “Kamu pikir aku akan terus menurutimu hah?!”
“Siallann!!!” kata Izebel geram.
“Kamu tak akan bisa apa-apa tanpaku! Aku pastikan kamu akan merangkak di kakiku dan memohon untuk mengangkatmu kembali,” lanjut Izebel dengan sombong dan tatapan merendahkan.
“Kalau begitu, kerjakan semuanya sendiri. Aku tak akan lagi mau menjadi suruhanmu!”
Tanpa menoleh ke belakang, Edison pergi meninggalkan Izebel. Izebel mengepalkan tangannya bahkan sempat menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali. Ia tak menyangka Edison akan benar-benar pergi.
“Siallannn!! Akan kubuktikan kalau aku bisa melakukannya tanpamu. Kamu memang tak berguna!” gumam Izebel kesal.
***
Redley yang terus berada di samping Venus, merasa bahw dirinya tak berguna. Ia bahkan kesulitan mendekati Venus karena wanita itu selalu saja berteriak.
“Apa aku harus mendatangkan Mars ke sini?” gumam Redley bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Ia merasa galau karena banyak hal yang ia pikirkan. Namun, jika terus seperti ini juga Venus tak akan bisa segera sembuh dan kembali seperti semula, meskipun ia telah menggunakan jasa seorang psikiater.
Setelah berpikir masak-masak, Redley akhirnya memutuskan untuk menemui Mars dan Bertha. Ia menitipkan Venus pada perawat yang berjaga.
Redley menekan bel di depan pintu apartemen yang ditempati oleh Mars dan Bertha. Meskipun apartemen itu adalah miliknya, tapi ia tak ingin sembarangan masuk.
“Tuan Red?” Bertha yang membukakan pintu sedikit menautkan alisnya karena melihat penampilan Redley yang tak seperti biasanya. Pria itu terlihat berantakan, seperti tak terawat.
“Silakan masuk,” lanjut Bertha.
Redley pun akhirnya masuk dan melihat ke sekeliling, tak tampak keberadaan Mars.
“Mars sedang berada di kamar, sebentar kupanggilkan,” kata Bertha yang bergegas menuju kamar tidur yang ditempati oleh Mars.
“Tuan Red, apa kamu datang membawa kabar baik untukku? Apa kamu sudah menemukan Venus?” tanya Mars penuh harap.
Redley menatap Mars, kemudian menganggukkan kepalanya, “Ya, aku sudah menemukannya. Tapi ….”
***
“Ve!”
Mars yang mendengar kabar dari Redley, tak dapat menyembunyikan rasa kuatirnya. Ia meminta Redley membawanya ke rumah sakit di mana Venus berada.
Dan saat ini, Mars sudah berdiri di ambang pintu, melihat kondisi adiknya yang hanya diam dan tatapannya seakan kosong.
“Ve!” Mars dengan dibantu oleh Bertha, tang mendorong kursi rodanya, mendekat ke arah Venus.
Mars menggenggam tangan Venus dan mengelus punggung tangannya perlahan.
“Ve, ini kakak. Maaf,” kata Mars yang merasa sangat bersalah. Ia sebagai seorang kakak, merasa tidak berguna, tak bisa menolong Venus. Ia bahkan menjadi beban bagi adiknya itu.
Venus menoleh ke arah Mars lalu tersenyum tipis, “Kak.”
“Ve.”
Mars mencoba bangkit, ia ingin memeluk Venus. Bertha yang mengerti akan hal itu pun membantunya. Sementara itu, Redley hanya memperhatikan interaksi keduanya.
Ia bisa tersenyum pada Mars, tapi denganku … ia justru berteriak dan memintaku menjauhinya. - batin Redley.
“Kak, aku mau pulang,” pinta Venus.
“Kita akan pulang.”
Mars melihat ke arah Redley, tapi pria itu langsung menggelengkan kepalanya.
“Tha, temani Venus di sini. Aku akan berbicara dengan Tuan Redley,” kata Mars.
“Baiklah.”
Redley pun membantu mendorong kursi roda Mars dan membawanya keluar. Mereka kini berada di koridor, tepat di depan ruang perawatan Venus.
“Ia belum diijinkan untuk pulang,” ujar Redley.
“Belum? Mengapa?”
“Venus masih membutuhkan bimbingan dari seorang psikiater. Selain itu, luka-luka di tubuhnya juga belum pulih seratus persen.”
“Tak bisakah ia melakukan rawat jalan saja?” tanya Mars.
“Psikisnya belum stabil. Dokter sedang berusaha menenangkannya agar mengetahui metode yang bisa mereka gunakan untuk menghilangkan trauma yang dialami oleh Venus,” jawab Redley.
Terdengar helaan nafas pelan dari Mars. Ia menatap pintu ruang perawatan, kemudian kembali menatap Redley.
“Ku rasa akan lebih baik ia bersama dengaku dan Bertha. Apa aku bisa berbicara dengan dokter?” tanya Mars lagi.
“Aku akan mengantarmu,” kata Redley.
Dari balik dinding, tampak sepasang mata mengawasi pergerakan Mars dan Redley. Ia ingin mengambil kesempatan untuk menculik Venus kembali dan meminta tebusan.
Aku tak memerlukan siapa-siapa, aku bisa bekerja sendiri. - batin Izebel.
Izebel begitu kesal karena Edison benar-benar pergi meninggalkannya. Awalnya ia mengira Edison hanya meluapkan emosinya sesaat dan nantinya juga akan kembali padanya. Namun, ia salah. Pria itu tak kembali.
🌹🌹🌹
Terimakasih kak ❤️❤️❤️❤️😍😍😍😍😍
serba tiba2,,serba mendadak,,
yg tadinya gadis lemah biasa,tetiba jd kuat,yg dr awal kbur tak ada hp tetiba pny hp,yg tadinya tak d jelaskan asal muasalnya tetiba pny org kepercayaan d mansion ny😅😂
setiap part macam d kejar deadline, kesannya terburu2 sampe yg baca gak dapat fiel ny,gk masuk k hti,,n jadilah baca nya macam baca berita di koran sbb setiap hal gak ada kesan lebih mendalam n detile ny