“Aku atau dia yang pelakor!” Dia berteriak dengan kerasnya di pinggiran pantai berpasir putih.
Semuanya berawal dari ...
Isyana yang sudah bersuami tidak sengaja bertemu dengan Elvano yang saat itu juga memiliki seorang istri dan putra. Saat mengerjakan proyek bersama. Keduanya menjadi sangat dekat dan perlahan tumbuhlah perasaan cinta itu. Dengan penuh rasa bersalah kepada pasangan masing-masing, mereka menjalin hubungan terlarang itu. Tapi hubungan itu kandas, saat Isyana mulai sadar bahwa mereka tidak ditakdirkan bersatu.
Akan tetapi, disaat yang sama Isyana dan Elvano tidak sadar. Kalau Ikbal suami Isyana dan Nabila istri Elvano ternyata sudah menjalin hubungan lebih dulu dari mereka berdua. Bahkan Ikbal dan Nabila sampai melakukan hubungan intim di belakang mereka.
Kemudian beberapa bulan setelah Isyana dan Elvano berpisah. Isyana mengetahui bahwa Ikbal suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain, yang ternyata adalah Nabila istri Elvano. Pria yang dia cintai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : Bajingan!
Selesai membersihkan diri. Elvano berdiam diri di balkon yang ada di ruang kerjanya. Dia memikirkan wajah Isyana yang tadi siang tertidur pulas di dalam dekapan nya. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman.
“El...” Nabila tiba-tiba datang dan mengejutkan nya, dengan cara memeluk nya dari belakang.
Elvano hanya diam dan membiarkan Nabila terus melingkarkan tangan di tubuhnya.
“El, aku kangen kamu ... sudah berapa lama ya kita tidak tidur berdua?” ucap Nabila dengan nada sensual sambil meraba-raba dada Elvano yang dibungkus piyama tidur.
Elvano lagi-lagi hanya diam tidak menjawab ucapan Nabila. Tangan wanita itu terus menggerayanginya. Sampai pada saat tangan Nabila mengarah kebagian intim milik Elvano. Pria itu segera menghentikan nya. Lalu dia berbalik menatap Nabila dengan datar.
“Aku capek, mau istirahat.” Elvano berlalu begitu saja.
“El, kamu kenapa sih?” Nabila meraih tangan Elvano. Langkah pria itu terhenti dia mengerutkan keningnya.
“Aku lelah Nabila ... kamu nggak ngerti ya?” Elvano lagi-lagi berbalik dan hendak pergi.
“Elvano! Tunggu dulu aku belum selesai bicara! Elvano!” Nabila berteriak kesal melihat Elvano keluar dari ruangan tersebut.
Setelah Elvano keluar. Nabila mendengus kesal dian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku piyama tidur nya. Kemudian menekan kontak Ikbal.
“Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada........”
Nabila mengepalkan tangan nya dengan kuat. Mendengar petugas operator yang menjawab panggilan tersebut.
“Kenapa sih semua laki-laki seperti ini! Nggak Elvano yang tidak menolakku ... ini Ikbal malah nggak ada kabar yang sudah janji mau ngajak aku keluar malam ini!” Nabila mengomel sendiri merutuki kekesalan nya kepada Elvano dan juga Ikbal.
Disisi lain. ELvano merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia terpikirkan Isyana lagi saat menatap langit-langit kamarnya. Dia pun meraih ponselnya yang sedang di charge di atas nakas. Lalu mengirim pesan ke ponsel Isyana.
Drrt drrt drrt.
Selesai mandi Isyana langsung naik ke atas tempat tidur. Memeriksa pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Senyuman nya merekah membaca nama pengirim pesan tersebut adalah Elvano.
“Sudah tidur?” tanya Elvano melalui pesan.
“Belum, baru selesai mandi,” jawab Isyana.
“Jangan tidur terlalu malam, kamu juga harus jaga kesehatan,” balas Elvano lagi.
“Iya El, makasih ya tadi siang sudah temanin aku,” balas Isyana seraya tersenyum sendiri.
“Apa Ikbal sudah pulang?” tanya Elvano.
“Sampai sekarang belum ada kabar, aku juga bingung dia kemana? Bagaiman dengan Nabila, apa dia sudah pulang kerja?” Isyana berusaha menggali informasi. Karena dia pikir jika Nabila juga tidak ada dirumah sudah pasti Ikbal bersamanya.
“Dari sore dia sudah ada dirumah ... yasudah, sebaiknya kamu istirahat,” balas Elvano dengan emot senyum di akhir kalimatnya.
“Ok, good nite.” Balasan terakhir dari Isyana.
Wanita itu pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur menatap ke arah balkon kamarnya. Berpikir keras tentang keberadaan Ikbal yang menghilang sejak tadi pagi. Pria itu juga tidak sedang bersama selingkuhan nya.
Keesokan pagi saat di kantor. Isyana terkejut saat Dira memperlihatkan rekaman cctv terakhir kali yang ada diluar kamar tidur ayahnya. Direkaman itu nampak Ikbal adalah satu-satunya orang yang datang menemui sang ayah sebelum di temukan pingsan di dalam kamarnya.
“Apa yang di lakukan si brengsek itu di kamar ayahku?” tangan Isyana mengepal kuat pulpen yang ada di genggamannya.
Drrt drrt drrt.
Ponsel Dira bergetar. Dira segera menerima panggilan itu. Di depan Isyana yang masih sibuk menonton rekaman cctv tersebut.
“Bu Isyana,” ucap Dira menatap Isyana dengan serius.
Isyana menengadah menatap Dira yang berdiri didepan mejanya. “Ada apa Dir?”
“Sekertaris pribadi Pak Germian, memberitahukan kalau Pak Ikbal saat ini ada di rumah sakit mengunjungi Pak Germian,” jelas Dira.
Sontak Isyana terperanjat. “APA!”
“Dir, siapkan mobil kita ke rumah sakit sekarang, aku harus bertemu dengan si brengsek itu dan mendengar alasan nya!” Isyana berlalu keluar dari ruang kerjanya dengan wajah serius tanpa menghiraukan karyawan yang dia lewati menyapanya.
Dirumah sakit. Isyana langsung mendatangi Ikbal yang tengah berdiri di depan jendela kaca ruangan tempat sang ayah di rawat.
“Apalagi yang mau kamu lakukan disini Mas?” serang Isyana dengan tatapan tajamnya.
“Apa maksudmu Sya? Aku kesini untuk menjenguk ayah,” jawab Ikbal.
Isyana menatap Ikbal yang nampak gusar, pandangan nya tidak fokus. Seperti menghindari tatapan mata Isyana.
“Nggak usah pura-pura bodoh ... kemarin apa yang kamu lakukan di kamar ayah? Sampai ayah pingsan?”
“jika sampai terjadi sesuatu pada ayah aku tidak akan mengampunimu Mas,” ucap Isyana sembari menunjuk wajah Ikbal dengan jarinya.
“Sya a- aku,” Ikbal terbata-bata. Meraih tangan Isyana.
“Lepaskan aku! Kamu ingat apa yang aku katakan tadi kan, aku nggak akan tinggal diam jika terbukti kamu yang membuat ayah seperti ini!” Isyana menepis tangan Ikbal dengan kasar.
Lalu dia pergi meninggalkan pria itu yang masih mematung. Bergetar ketakutan mendengar ancaman dari Isyana. Isyana sudah tidak bisa mentoleransi apa yang di lakukan Ikbal jika sudah menyangkut sang ayah.
Di sisi lain.
Elvano sedang mengemudikan mobilnya dengan kencang. Diam-diam mengikuti arah yang dituju mobil Nabila. Dahinya mengkerut menyadari jalanan yang di lewatinya sama dengan arah ke rumah sakit dimana ayah Isyana di rawat. Benar saja, mobil Nabila memasuki parkiran rumah sakit.
“Apa yang di lakukan Nabila disini? Jangan bilang apa yang aku pikirkan selama ini benar, Nabila dan-” belum selesai Elvano berkata. Nabila keluar dari mobil dan bertemu dengan Ikbal.
Dari kejauhan Elvano melihat Nabila memeluk Ikbal dengan mesra. Begitu juga dengan Ikbal yang mengecup kening Nabila. Elvano terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
“Bajingan!” maki Elvano.
Nabila dan Ikbal masuk kedalam mobil lalu pergi meninggalkan rumah sakit. Lagi-lagi Elvano menyalakan mobilnya dan mengikuti keduanya dari belakang. Sampai berhenti di sebuah kafe.
Beberapa saat setelah keduanya masuk kedalam hotel. Elvano turun dari mobil dan masuk kedalam kafe tersebut. Pandangan nya mengedar menatap pengunjung kafe yang ramai. Di pojok kanan dekat jendela, Elvano melihat Ikbal yang menyuapi Nabila makanan. Dia pun berjalan menghampiri keduanya.
“Nabila? Ikbal?” ucapnya menyapa kedua orang tersebut.
Mendengar suara Elvano sontak membuat nabila terkejut dan langsung berdiri. “El, ka- kamu disini ngapain?”
Elvano tersenyum, “kalian pasti sedang membahas tentang pekerjaan, benarkan.”
Nabila menatap Ikbal dengan wajah panik. Ikbal tersenyum menatap Elvano. “Iya kami sedang membicarakan masalah pekerjaan,” ucap Ikbal.
“Kalau begitu apa tidak masalah aku bergabung disini?” tanya Elvano menatap Nabila dan Ikbal secara bergantian.
“Tidak masalah, Elvano. Silahkan!” Ikbal mempersilahkan Elvano duduk.
“Bil, bisa ambilkan ponselku ketinggalan di mobil?” ucp Elvano kepada Nabila.
Nabila melirik Ikbal seraya tersenyum gugup kepada Elvano. “Tentu saja El, aku akan segera kembali,” ucap Nabila.
Selepas kepergian Nabila. Ikbal hendak meneguk kopi di gelasnya. Tapi Elvano dengan cepat mengambil gelas tersebut, lalu menumpahkan kopi Ikbal ke dalam piring makanan yang ada di atas meja.
Ikbal mengerutkan keningnya melihat sikap Elvano yang tiba-tiba berubah. Dia tersenyum miring menatap Elvano.
“Ada apa El? Apa kamu cemburu dan jengkel aku mengajak istrimu ke kafe ini?” Ikbal tersenyum menjengkelkan.
Elvano terkekeh dan menyeringai sangat jahat. “Untuk apa cemburu? Seperti kerak kopi ini, kalian sangat cocok ... aku kemari hanya ingin bilang jangan sampai menyesal jika milikmu menjadi milik orang lain,” bisik Elvano pelan.
Ikbal mengepal taplak meja dengan kuat. Elvano pun beranjak dan segera pergi meninggalkan Ikbal. Diluar kafe dia berpapasan dengan Nabila.
“El, kamu mau keman? Ini ponselmu!” ucap nabila memperlihatkan ponsel Elvano ditangan nya.
Elvano mengambi lponselnya di tangan Nabila. Tersenyum miring lalu berlalu begitu saja.
“Elvano!” Nabila meraih tangan Elvano.
Elvano menarik tangan nya menatap Nabila. “Aku ada urusan, nikmati makan siang mu Nabila.”
Lalu dia pergi masuk kedalam mobil. Di dalam mobil, Elvano menghela nafasnya dengan kesal. Lalu memukul-mukul kuat setir kemudinya beberapa kali. Dia mengusap wajahnya yang tatapan matanya sudah mulai berubah seperti harimau yang kelaparan.
“Bajingan kalian berdua, aku tidak tega pada Isyana ... sedangkan ayahnya sedang sakit, jika dia tahu kali ini suaminya malah selingkuh dengan wanita lain, pasti dia sangat sedih. Sialan kamu Ikbal!”
.
.
.
To be continued.