Melati...
Cantik, kan? Tentu saja. Nama itu sesuai dengan parasku.
Cantik, anggun dan berkelas.
Semua ku dapat dalam genggamanku. Semuanya. Tapi tidak dengan kebahagiaan.
Akankah kutemukan kebahagiaan itu? Apakah masih ada jatah bahagia untuk seorang ja lang sepertiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jenk kelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Berjuang
Aku sampai di apartemen sekitar jam setengah lima. Dara sudah menungguku dengan cemas. Dia mengikuti saat aku masuk ke dalam.
"Mel, kamu nggak papa kan?" Dara mendudukkan pantatnya disebelahku.
Wajahnya nampak khawatir. Aku memandangnya dengan lelah dari atas sofa. Bisa nggak sih, itu mata nggak usah sok imut gitu?
"Gue sehat, Dar..." Gumamku sambil merebahkan kepalaku di sandaran sofa.
"Apa anak itu baik-baik aja?" Cicitnya takut-takut, mungkin dia peka, aku sedang malas ditanya-tanya. Tapi dia terlajur kepo.
"Baik darimana? Dia masih kritis." Jawabku, nggak tega juga membentak Dara, jadi ku coba melembutkan sedikit suaraku. Dia tampak salah tingkah, lalu berdiri.
"Baiknya kamu mandi deh Mel, keburu malam. Aku masak buat makan malam dulu, ya?" Pamitnya lalu beranjak pergi.
Bener-bener anak ini, kerjaannya apa sih, selain masak? Hari hari di dapur sampai lupa healing.
"Dar..." Panggilku. Dara menghentikan langkahnya, ia berbalik menatapku lagi.
"Kita makan diluar, yuk. Tunggu sini, aku mandi dulu."
Dara sudah mangap siap protes, tapi sudah ku tinggal masuk kedalam kamar duluan. Mau nggak mau, dia nungguin juga sampai aku selesai mandi, ganti baju, sampai make up.
Ku bubuhkan make up, senatural mungkin. Mengimbangi Dara yang sepertinya hanya memakai bedak tabur dan lip tint doang. Takut dibilang Tante jalan sama ponakannya kalau terlalu tebal.
Ku tanggalkan heelsku malam ini, pakai flat shoes sepertinya lebih tepat. Kebayang kan, tinggiku yang 170 centi, jalan berdua Dara dengan tinggi 150 an centi. Tambah jomplang kalau pake hak tinggi.
Dara sendiri berdandan cukup simpel, rok jeans di atas lutut, plus baju model Sabrina, rambut pendeknya digerai dengan satu jepit rambut manis di sisi kiri. Tas selempang kecil menghiasi pundaknya.
Yang aku tak suka, dia tetap membawa-bawa sweaternya. Jadi ku rebut benda itu, lalu ku buang ke atas sofa. Buru-buru kutarik Dara agar tak mengambilnya lagi.
Jadilah malam ini kami jalan berdua. Keliling Mall sambil nyari tempat makan yang enak.
Keluar masuk toko satu ke toko yang lainnya. Cekikikan saat melihat sesuatu yang lucu, juga komentar sana sini dengan gaya berpakaian orang-orang yang kami lihat.
Aku baru tahu, begini rasanya punya teman, bisa share hal-hal nggak penting senyaman ini.
Penatnya kepalaku bisa sedikit terangkat, aku juga lebih rileks memikirkan banyak hal. Pantas saja banyak wanita bergerombol, menghabiskan waktu mengitari Mall, mereka bukan hanya sedang berbelanja, tapi juga sedang melepaskan segala beban yang menghimpit dada.
"Apa kamu sering hang out bareng temanmu seperti ini?" Tanyaku ke Dara saat kami memasuki toko baju yang kesekian kalinya.
"Aku nggak punya teman disini. Kalau keluar belanja, ada Mas Brian yang antar. Mau jajan diluar, tinggal pencet ponsel. Kamu temanku yang pertama." Cengir Dara, ia terlihat bahagia.
Aku tertegun sambil memegang gaun malam yang terbuat dari sutra.
"Serius Dar?" Selidikku tak percaya.
"Swear..." Dara mengacungkan kedua jarinya.
"Terus hidup kamu ngapain aja? Ngurusin Yayan doang?"
"Yayan?" Tanya Dara sambil memiringkan kepalanya, mencari-cari nama Yayan di otaknya.
"Ck, Brian maksud gue."
Dara mengangkat bahunya, "Mas Brian suamiku, meski dia nggak melihatku sama sekali. Tapi mengurusnya adalah wajib."
Aku memijit pelipisku, ada ya cewek naif kebangetan gini?
"Jadi wajib kalau dia memenuhi tanggung jawabnya."
"Mas Brian bertanggung jawab kok, dia baik, nggak pernah kasar, kasih nafkah juga."
"Oh ya?" Kunaikkan alisku sebelah. "Gimana dengan nafkah batinmu, hm?"
Wajah Dara memerah, ia langsung salah tingkah.
"Apa Brian hebat di ranjang? Dia suka gaya apa?" Cecarku.
Dara semakin salah tingkah, ia mencoba mengalihkan wajahnya dariku.
"Hei Dar..." Aku mencolek-colek lengannya.
"Apa sih, Mel..." Dara menepis telunjukku.
"Atau jangan-jangan kamu masih perawan?" Tebakku asal, ya kali Brian kuat anggurin yang gemes begini. Yang namanya kucing, ya kan? Dikasih ikan, auto hap deh.
Dara semakin menundukkan wajahnya. Aku langsung menutup mulutku.
"OMG... Serius, Dar? Sumpah lo?" Pekikku.
Dara mencubit lenganku gemas, beberapa orang melihat ke arah kami, penasaran dengan kehebohan yang ku buat.
Aku nyengir, lalu menyeret Dara keluar dari toko. Kami duduk di bangku terdekat.
Dara melirikku galak. Ampun deh, bukannya takut, aku malah pingin ngakak.
Dan beneran, aku ngakak se jadi-jadinya. Menertawakan ke-biksu-an Brian, juga keg*blokan Dara. Perutku sampai sakit saking gelinya.
"Udah dong, Mel..." Mohon Dara, mukanya beneran hampir nangis.
Aku langsung mingkem.
"Sorry, sorry, sorry... Bukan maksudku. Aduh..." Aku kelabakan sendiri saat Dara malah menutupi wajahnya dengan tangan dan mulai terisak.
Aku bingung, gimana sih cara nenangin orang nangis? Nyari tutorial di YouTube ada nggak sih?
Akhirnya aku hanya bisa mengelus-elus punggung Dara pelan, saking bingungnya. Sampai Dara tenang dan mulai me lap ingusnya dengan tisu.
"Bagiku, Mas Brian itu seorang dewa, dialah penolongku. Apa pantas aku mengharap lebih? Sama saja aku tak tahu diri.
Jadi saat dia meminta ijinku untuk menikahimu, aku setuju. Bukan karena aku tidak mencintainya, justru inilah bentuk rasa terima kasihku padanya." Dara menghela nafas, dia menatapku sendu.
"Saat kamu menawarkan ide untuk menggagalkan pernikahan kalian, aku rasa masih ada harapan walaupun tipis. Rasanya aku ingin mencoba berjuang walaupun cuma sekali.
Tapi saat melihat Mas Brian tadi pagi, dia kelihatan kecewa karena kamu nggak ada di apartemen, sepertinya harapanku ikut pupus.
Kelihatannya dia beneran cuma mau sama kamu, Mel."
Aku membasahi bibirku yang kering. "Lalu sekarang apa maumu?" Tanyaku akhirnya, Dara ini plin plan juga ternyata. Dia yang nggak punya pendirian atau memang masih labil?
Dara menggeleng perlahan.
"Kamu pernah nggak tidur berdua Brian?" Tanyaku.
Dara menggeleng.
"Pernah ciuman?"
Dara menggeleng lagi.
"Kalau pegangan tangan?"
"Mel, kontak fisik yang pernah kami lakukan itu, paling mentok Mas Brian gandeng tangan aku doang pas nyebrang jalan." Jawab Dara frustasi.
Aku menepuk jidatku.
"Kayaknya kamu harus coba deh, merayu Brian."
Dara melotot, "nggak! Aku takut!" Tolaknya langsung.
"Cih, katanya mau berjuang, walaupun itu cuma sekali?" Cibirku.
"Tapi..." Dara terlihat ragu.
"Dar, percaya nggak percaya, ada sebagian laki-laki yang takluk setelah tidur dengan pasangannya. Kamu mau nyoba nggak? Mana tahu Brian cintanya setelah gituan sama kamu?"
"Mel, kamu jangan gila deh. Aku nggak bakal berani ngajak begituan."
"Ck, belum juga dicoba, udah nyerah aja." Cibirku, mencoba ngomporin Dara.
"Nnggg... Caranya?" Gumam Dara, hampir tak terdengar.
Aku bersorak dalam hati, ini bagus, Dara mulai tertarik dengan ideku.
Aku meraih tangannya, "ikut aku."
***
bang Brian memberi restu kalian ko
brian cuma lg nguji kamu doang biar makin kuat
kamu juga harus ikut memperjuangkan ketulusan. cinta dewan
buat Zain kamu hebat bisa menyadarkan marni
tokoh tokohnya keren
dialognya kekinian membuat para pembaca terkoneksi ke situasinya.
tulisannya menjadi candu yg nikmat terasa saat dibaca.
great job
you're the best Jeng Kelin ❤️🌹
adegan situasinya..
dialognya..
complicated nya..
haa haa haa 🤣
you did it JENG KELIN ❤️🌹