NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 013

Tugas Wawancara Reza

Ia sudah mendengar semuanya.

Rayhan menutup map di tangannya dengan bunyi pelan.

Suara pelan itu cukup membuat Aldi kembali menatap layar komputernya seolah laporan di sana tiba-tiba menjadi sangat menarik. Fajar pura-pura memeriksa laci. Sari berdiri dengan map menutupi setengah wajah.

"Ada yang ingin ditanyakan?" tanya Rayhan.

Tidak ada yang bernapas terlalu keras.

Aldi mengangkat tangan setengah. "Izin, Pak."

Rayhan menatapnya.

"Tidak jadi, Pak."

"Bagus."

Rayhan membuka map lagi. "Fokus ke Brandon. Saya mau daftar perempuan hilang yang pernah berada di lingkaran klubnya sebelum sore."

"Siap, Pak," jawab seluruh ruangan hampir bersamaan.

Sari berjalan cepat ke mejanya. Namun sebelum duduk, ia masih sempat menaruh kunyit asam kemasan di ujung meja Rayhan tanpa suara. Aldi melihat itu. Fajar melihat Aldi melihat itu. Rayhan melihat keduanya.

"Kerja."

Dua laki-laki itu langsung menunduk.

Di rumah, Kiara baru membaca pesan Cici yang masuk sejak pagi.

Cici:

Ki, kantor heboh. Galih dengar dari temannya di Polda kalau Pak Rayhan bikin satu unit takut gara-gara nyeri haid.

Cici:

Ini dia atau malaikat berseragam?

Cici:

Jawab kalau sudah tidak kram.

Kiara menutup wajah dengan bantal.

Rayhan benar-benar bertanya pada Sari.

Dan sekarang satu unit tahu.

Rasa malu itu seharusnya membuatnya ingin pindah kota. Anehnya, di balik malu, ada rasa hangat yang tidak mau pergi. Rayhan tidak hanya membeli barang, tidak hanya mencuci noda, tidak hanya membuat wedang jahe. Ia mencari tahu cara merawat dengan benar, bahkan jika itu membuatnya jadi bahan bisik-bisik di kantor.

Kiara:

Aku sudah lebih baik. Jangan bahas itu di kantor.

Cici:

Terlambat. Gue cuma punya dua telinga, tapi gosipnya datang dari empat arah.

Cici:

Besok masuk, ya. Bu Ratna cari lo.

Keesokan harinya, Kiara kembali ke Kota Barat Post dengan tubuh yang masih sedikit lemas, tetapi pikirannya lebih jernih. Cici langsung menyodorkan teh hangat di meja.

"Jangan tanya. Ini bukan dari tetangga misterius. Ini dari gue."

Kiara tersenyum. "Makasih."

"Gue masih ingin interogasi soal dia, Pak Song, cluster mahal, dan kenapa polisi selevel Rayhan Tan bisa tahu nyeri haid lo. Tapi Bu Ratna beneran cari lo, jadi lo selamat lima menit."

"Lima menit saja?"

"Maksimal."

Bu Ratna memanggilnya sebelum Cici bisa melanjutkan. Di ruang redaksi, Galih dan Dewi sudah duduk dengan beberapa berkas media kit. Di layar besar, wajah seorang pria tersenyum muncul dalam poster promosi album solo.

Reza.

Mantan anggota STELLAR. Penyanyi, aktor, bintang iklan parfum, dan nama yang bisa membuat kolom hiburan meledak hanya dengan satu foto.

Kiara mengenalnya tentu saja. Siapa yang tidak? Bahkan orang yang tidak mengikuti idol pun tahu wajah Reza dari billboard dan iklan minuman energi.

"Hotel Grand Hyatt besok sore," kata Bu Ratna. "Reza akan melakukan wawancara eksklusif soal comeback solo dan kampanye anti-narkoba untuk anak muda."

Kiara duduk lebih tegak.

Cici yang ikut mengantar teh dari luar ruangan langsung menahan jeritan. Bu Ratna menoleh. "Cici, kalau mau teriak, keluar."

"Siap, Bu. Saya hanya batin."

Galih membagikan print out email dari Mbak Yuni, manajer Reza. Di bagian atas tertulis jelas: durasi wawancara tiga puluh menit, pertanyaan pribadi harus dikirim lebih dulu, tidak boleh bertanya soal kehidupan malam kecuali berkaitan dengan kampanye, foto hanya di area yang ditentukan pihak hotel.

"Ini yang saya tidak suka," kata Galih sambil mengetuk kertas. "Terlalu rapi. Kalau narasumber sudah memberi pagar sebelum kita datang, berarti ada sesuatu yang tidak ingin disentuh."

Dewi mengangguk. "Tim Reza minta lighting khusus dan angle kanan. Katanya untuk konsistensi brand."

Cici berbisik, "Kalau mukaku setampan dia, aku juga punya angle nasional."

Bu Ratna menatapnya lagi.

Cici pura-pura batuk.

"Kita hormati aturan hotel, tapi jangan jadi mesin promosi," lanjut Bu Ratna. "Kalau jawaban Reza terlalu sempurna, Kiara, kamu catat jeda, ekspresi, dan siapa yang memotong pertanyaan. Kadang manajer lebih banyak memberi berita daripada artisnya."

Bu Ratna kembali pada Kiara. "Galih menulis profil panjang. Dewi pegang foto. Kamu ikut sebagai reporter pendamping."

Kiara menunjuk dirinya. "Saya, Bu?"

"Kamu belajar cepat. Dan setelah kasus Brandon, kamu tahu pentingnya mendengar kalimat yang orang lain anggap biasa." Bu Ratna menyodorkan satu lembar briefing. "Reza punya citra bersih, tapi beberapa bulan terakhir ada rumor soal lingkungan pergaulannya. Kita tidak menuduh. Kita bertanya dengan rapi."

Galih mengangguk. "Jangan terpesona wajahnya. Artis paling ramah pun tetap narasumber."

Dewi tertawa. "Itu nasihat untuk Cici, bukan Kiara."

Cici yang masih di pintu langsung protes, "Saya bisa profesional."

Bu Ratna menatapnya.

"Oke, mungkin tidak kalau Reza senyum."

Kiara membaca briefing. Pertanyaan tentang karier, STELLAR yang bubar, rencana film baru, kampanye anti-narkoba, dan rumor pesta privat. Semua terlihat seperti liputan hiburan biasa. Tapi setelah Brandon, kata rumor tidak pernah terasa polos lagi.

Ia menandai tiga pertanyaan dengan stabilo kuning. Bukan pertanyaan paling tajam, melainkan pertanyaan yang bisa membuat narasumber memilih sendiri arah kebohongannya jika memang ada yang disembunyikan.

Itu pelajaran pertama yang ia curi diam-diam dari Bu Ratna.

"Saya siap, Bu."

"Bagus. Pakai baju rapi. Ini hotel bintang lima, bukan lobi kantor. Dan jangan datang sendirian. Galih akan jemput dari kantor."

Kiara mengangguk, tetapi ponselnya bergetar di pangkuan.

Rayhan:

Sudah makan?

Kiara menahan senyum kecil.

Kiara:

Sudah. Cici bawakan teh juga.

Rayhan:

Kram?

Kiara:

Jauh lebih baik.

Ia ragu sebentar, lalu mengetik lagi.

Kiara:

Besok aku ada liputan di Hotel Grand Hyatt. Wawancara Reza.

Balasan Rayhan tidak langsung datang.

Satu menit.

Dua menit.

Kiara hampir memasukkan ponsel ke tas ketika layar menyala.

Rayhan:

Reza yang mantan STELLAR?

Kiara mengerutkan kening.

Kiara:

Kak Rayhan tahu STELLAR?

Balasan kali ini cepat.

Rayhan:

Aku polisi, bukan hidup di gua.

Kiara hampir tertawa di ruang rapat.

Rayhan:

Jam berapa?

Kiara:

Sore. Galih jemput dari kantor.

Rayhan:

Aku antar.

Kiara menatap pesan itu.

Kiara:

Ini tugas kantor.

Rayhan:

Aku tahu.

Kiara:

Jadi tidak perlu.

Rayhan:

Hotel. Artis. Rumor pesta privat. Setelah Brandon, kamu masih mau bilang tidak perlu?

Kiara menggigit bibir.

Ia baru akan membalas ketika pesan berikutnya masuk.

Rayhan:

Besok aku antar. Selesai wawancara, aku jemput.

Cici menyelinap di belakang kursinya dan membaca sekilas sebelum Kiara sempat mengunci layar.

"Wah," bisik Cici. "Tetangga misterius mulai posesif."

Kiara menutup ponsel cepat, tetapi di layar yang gelap ia masih bisa melihat bayangan wajahnya sendiri yang tidak mampu berhenti tersenyum.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!