Menghindar dari pernikahan dengan healing ke timur tengah, siapa sangka justru ia membuat sang pangeran jatuh cinta dan menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
1 bulan telah berlalu.
Raja Abbas masih bersikukuh untuk menjodohkan Zayn. Ia berpandangan sebagai seorang putra mahkota, Zayn harus mendapatkan istri yang sesuai dengan pilihannya.
Tidak ada seorang pun yang mampu mengubah pandangannya itu. Meskipun orang tua Aisha telah membatalkan perjodohan antara Zayn dan Aisha.
Kedua orang tua Aisha berpikiran terbuka dan bijak. Mereka sadar jika perasaan tidak dapat dipaksakan. Bagi mereka kebahagiaan putri mereka adalah hal utama.
Oleh karena itu, setelah mendapatkan pengakuan dari Aisha mengenai perasaannya kepada Kemal, maka mereka memilih untuk mendukung hubungan keduanya.
Kemal dan Ratu Latifa sendiri memilih meninggalkan istana setelah perdebatan mereka dengan sang raja. Mereka kini tinggal bersama Zayn dan Rania di vila.
" Apa kau sudah menemui keluarga Aisha untuk memperjelas hubungan kalian ? " tanya Zayn kepada Kemal.
Mereka kini tengah duduk di halaman belakang vila. Sementara Rania asyik merawat bunga bersama Ratu Latifa ditemani Amina.
" Aku ingin sekali menemui mereka. Tapi aku takut, Kak... " jawab Kemal.
" Apa yang kau takutkan ? Kau takut mereka menolakmu ? "
Kening Zayn nampak berkerut saat mengajukan pertanyaan tersebut.
" Entahlah, Kak. Meskipun mereka sudah menerima hubungan kami. Tapi mereka tentunya akan menerima tekanan dari ayah. Kakak tahu sendiri kan, bagaimana sikap ayah " jelas Kemal.
" Tidak perlu mengkhawatirkan ayah. Aku sendiri yang akan menghadapinya. Ayah sudah terlalu lama hidup dengan obsesinya. Sudah saatnya ayah sadar dan menerima kenyataan " ucap Zayn.
" Tapi, Kak... Ayah pasti akan terus berusaha mencarikan wanita untuk kakak. Jika bukan Aisha, pasti akan ada wanita lain..."
" Tidak akan ada wanita lain selain Rania. Kau tenang saja, nanti malam kita akan menemui keluarga Aisha. Jangan lupa kau kabari Aisha dan Nenek " seru Zayn lantas berdiri meninggalkan Kemal.
Zayn berjalan menuju tempat sang istri dan Ratu Latifa berada.
" Rania... Kau harus bersabar menghadapi sikap ayahnya Zayn. Dia memang keras kepala, tapi itu dia lakukan karena ia sangat menyayangi Zayn. Dia hanya ingin Zayn mendapatkan haknya " ucap Ratu Latifa.
" Aku tahu itu, Bu ! Ibu pastinya sangat mencintai ayah sampai-sampai ibu bisa bertahan selama ini di sampingnya " sahut Rania.
Ratu Latifa mengulum senyum. Ya, ia memang sangat mencintai Raja Abbas, bahkan semenjak ia belum menikah dengannya. Hanya saja, ia tahu sejak dulu hati sang raja hanya untuk Hana. Meskipun ia mendapatkan raganya namun hatinya tidak sepenuhnya menjadi miliknya.
" Ibu... Maaf jika ucapanku menyinggung perasaanmu " ucap Rania merasa bersalah.
" Tidak apa, Rania. Ya, kau memang benar. Ibu memang mencintainya, tapi ibu cukup tahu diri untuk tidak berharap cinta darinya. Ibu tahu hanya ibunya Zayn yang ia cintai " sahut Ratu Latifa.
Rania menyentuh punggung tangan Ratu Latifa.
" Aku pikir ayah juga mencintai ibu. Hanya saja beliau masih belum bisa keluar dari rasa bersalahnya kepada ibu Hana " ucap Rania.
Ratu Latifa menarik sudut bibirnya. Ucapan Rania adalah satu hal yang menurutnya tidak mungkin, kendati ia berharap itulah yang terjadi.
" Tidak perlu membahas hal itu lagi. Apa sudah ada tanda-tanda kehamilan yang kau rasakan ? " tanya Ratu Latifa sambil menatap perut Rania.
Tahu kemana arah pembicaraan sang ratu, Rania lantas mengusap lembut perutnya.
" Belum tahu, ibu... Semoga secepatnya kami diberi kepercayaan untuk memiliki anak " harap Rania.
" Aamiin... " ucap Zayn yang tiba-tiba berada di belakang Rania lalu memeluk dan ikut mengelus perut rata Rania.
" Ish, kau itu mengagetkanku saja " dengus Rania.
" Hei, aku ini suamimu. Masa kau tidak mengenali suamimu ini hem ? " sahut Zayn sambil mengecup pipi Rania.
" Astaga, Zayn ! Ada ibu dan Amina disini, jaga sikapmu ! " seru Rania merasa canggung dengan ulah Zayn.
" Tidak apa kan, Bu ? Aku hanya menunjukkan kasih sayang kepada istriku ini " tukas Zayn lalu kembali menghadiahi pipi Rania dengan ciuman lagi.
" Ya, ampun Zayn ! Ayo, Amina kita pergi dari sini " Ratu Latifa menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian mengajak Amina untuk segera pergi dari sana sebelum bocah kecil itu melihat adegan lain yang belum boleh dilihat oleh anak seumur Amina.
" Astaga, Zayn ! " pekik Rania saat Zayn justru menyesap lehernya hingga menciptakan maha karya bukti kepemilikan Zayn disana.
Zayn hanya terkekeh saat Rania mengerucutkan bibirnya.
" Kau ! "
Ia membulatkan matanya sambil membalik badannya menghadap Zayn dan mengangkat telunjuknya.
Sementara sang pelaku hanya menatapi wajah kesal istrinya yang justru terlihat sangat menggemaskan di matanya.
Cup
" I love you, Rania "
Sebuah kecupan mendarat di bibir Rania dan tentu saja membuat sang empunya justru terpaku.
Bukan hanya karena ciumannya saja, akan tetapi pengakuan cinta Zayn yang selalu saja membuat Rania melayang meskipun pria itu sering menyatakan perasaannya.
Wajah Rania merona. Awalnya ia ingin memarahi sang suami, namun sikap Zayn selalu saja bisa membuatnya melupakan semuanya. Seolah semua kekesalannya menguap begitu saja atas sikap manis yang diberikan oleh Zayn. Sikap yang selalu membuat Rania merasa begitu dicintai.
Rania kini menggembungkan kedua pipinya untuk menyembunyikan perasaan yang meletup-letup di dalam hatinya.
Zayn justru semakin gemas melihat tingkah polah sang istri.
Ia menangkup pipi Rania, lantas melabuhkan kembali bibirnya di atas bibir Rania. Memagutnya dengan lembut.
" Kau tidak ingin mengatakan cinta padaku ? " tanya Zayn saat tautan bibir mereka terlepas.
Rania menggigit bibir bawahnya. Entah mengapa ia menginginkan hal yang lebih dari itu.
" Zayn... Aku... "
" Kenapa ? Kau mencintaiku ? " ucap Zayn dengan seringai di wajahnya.
" Ish, itu kau sudah tahu ! " cebik Rania sambil memalingkan wajahnya.
Zayn terkekeh kembali mendengar jawaban yang diberikan Rania.
" Ayolah, honey ! Aku ingin mendengarmu mengatakan jika kau mencintaiku " ucap Zayn memohon kepada Rania.
" Hem... " sahut Rania singkat.
" Hem apa ? " tanya Zayn.
" Hem, iya " balas Rania lagi.
" Iya apa ? " tanya Zayn lagi sambil menahan senyum.
" Ck... Iya, iya... Aku mencintaimu Pangeran Zayn, suamiku... Cintaku... Sayangku... "
Cup
Kembali Zayn mencium bibir Rania dengan lembut kemudian ia melum*tnya dengan menuntut. Zayn bahkan segera mengangkat tubuh Rania dan membawanya ke kamar mereka.
Merasa malu atas ulah Zayn, Rania menyembunyikan wajahnya pada dada bidang milik sang suami.
" Zayn... " d*sah Rania begitu Zayn menurunkan tubuhnya di atas tempat tidur.
" I want you, honey ! Aku sudah tidak tahan " sahut Zayn sambil membuka pakaian yang melekat di tubuh Rania.
" Kalau begitu, biar aku memuaskanmu " ucap Rania.
Rania yang juga sejak tadi menahan hasratnya, kini tak lagi bisa membendungnya. Ia bahkan berinisiatif untuk melepas pakaian Zayn.
Melihat sang istri yang berinisiatif dan begitu agresif membuat Zayn heran dan senang sekaligus. Apalagi saat Rania memimpin permainan, sungguh nikmat yang tidak bisa didustakan oleh Zayn.
Kini, setelah mereka mendapatkan pelepasannya. Rania berada dalam pelukan Zayn.
" Kau, hebat honey ! Aku menyukainya " ucap Zayn lalu mengecupi bahu Rania yang terbuka.
Wajah Rania bersemu merah. Ia pun tak menyangka jika ia bisa melakukan hal tersebut.
" Zayn... "
" Yes, honey "
" Aku mau pulang " ucap Rania.
" Apa ? Kenapa ? Kau merindukan kakakmu ? " Zayn sedikit kaget karena tiba-tiba Rania menginginkan pulang.
" Em... Sebenarnya... Aku ingin makan rendang buatan Bi Umi "