NovelToon NovelToon
After Reunion

After Reunion

Status: sedang berlangsung
Genre:Teman lama bertemu kembali
Popularitas:231.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mak Nyak

Reuni, ajang bertemunya kembali dengan kawan lama. Tidak jarang, ajang ini dijadikan momen pamer kekayaan dan kekuasaan. Apakah mungkin, kisah cinta lama dapat bersemi kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Nyak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Papahnya Gandi

Pov : Tompi

Aku menunggui Gandi yang tengah sakit. Kami masih berada di IGD. Nusa, teman satu angkatan kami menjelaskan padaku, bahwa kemungkinan besar Gandi terjangkit penyakit demam berdarah. Aku dipanggil lagi di bagian pendaftaran untuk mengisi formulir.

Ada beberapa poin yang harus ku isi. Seperti hubungan dengan pasien sebagai apa? Kutuliskan orang tua garis miring papah. Nusa tersenyum dan mengacungkan jempolnya padaku saat melihat formulir yang telah ku isi.

Aku meminta Banun untuk pulang, biarkan aku yang menjaga jagoanku. Aku ingin memiliki waktu berdua dengannya. Meskipun di dalam keadaan tengah terbaring sakit.

Gandi dipindahkan ke ruang rawat inap. Kupilin kelas vip agar dia bisa beristirahat dengan nyaman. Selagi dia masih terpejam, aku mengambil gambarnya saat sedang tidur. Persis seperti Widya, matanya, hidungnya, bibirnya, bahkan sampai alisnya. Semua mirip dengan wanita itu.

Ibunya Widya datang bersama seorang lelaki. Mungkin dibawahku tiga tahun, entah siapa, aku tidak tahu. Kucoba menyalami wanita yang melahirkan Widya itu. Beliau menemani Gandi yang masih tertidur. Aku memilih keluar dan berkenalan dengan lelaki tadi.

Ternyata sepupu Widya. Kukira calonnya lagi. He-he-he. Kami bercerita seputar kehidupanku. Yoga, nama sepupu Widya mengatakan memang orang tua Widya itu susah-susah gampang. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

Bu Susi, ibu Widya pamit, tidak dapat berlama-lama karena meninggalkan abah sendiri di rumah. Aku mengangguk.

"Terima kasih kamu telah bersedia menjaga Gandi. Sedari tadi Gandi memanggil papah, kamu tahu siapa orang yang dimaksud Gandi?" tanya Bu Susi.

Aku mengangguk, "Maaf Bu, itu panggilan Gandi untuk saya."

Aku menangkap ekspresi kaget itu. Dengan cepat aku mengklarifikasi yang baru saja kuucapkan. Takut jika bu Susi berpikir aku dan Widya masih menjalin hubungan. Aku tidak ingin mereka sakit lagi.

"Tolong jangan salahkan Widya, Bu. Saya memang sudah lama putus dari Widya. Tapi, saya tidak pernah putus komunikasi dengan Gandi. Maaf, Bu."

Bu Susi hanya menghela napas. Aku tidak tahu apa maksud helaan itu. Lalu dia mengusap bahuku. Pamit pulang dan meninggalkanku sendiri.

Ponselku berdering. Sudah kuduga, pasti dia menghubungiku. Entah siapa yang memberitahunya, antara Banun atau Nusa. Sudah kubilang biarkan dia menikmati harinya. Biar aku yang menggantikan tugasnya.

Sengaja tidak kuangkat, sampai akhirnya berakhir sendiri. Lalu Widya mencoba menghubungiku lagi, kali ini panggilan video. Aku mengalihkannya.

Tiba-tiba saja Nusa datang dan menyerahkan ponselnya padaku.

"Kamu bilang sama dia?" kutanya Nusa. Wanita itu hanya mengangguk.

"Aku nggak mau ngomong sama dia. Kamu saja yang bilang, Gandi sudah ada yang menjaga." Kuminta Nusa mengatakan hal itu.

"Gandi sudah ada yang jaga katanya, Wid. Tahu siapa yang jaga? Papah. Cie ..., aku sampai ketinggalan berita jauh lho."

Aku menggelengkan kepala dan menyunggingkan senyum pada Nusa. Ternyata dia juga sama saja.

"Tom, angkatlah telepon Widya. Aku sudah selesai shift, nih." Nusa memintaku mengangkat panggilan Widya.

Masalahnya bukan mau atau tidaknya mengangkat panggilan itu. Jujur saja, aku masih canggung. Terpaksa aku mengangkatnya.

"Assalamu'alaikum," suluknya dari seberang.

"Wa'alaikum salam," jawabku.

"Kamu kenapa sih, Mas? Susah banget ya mengangkat teleponku? Nggak tahu aku disini panik? Khawatir?" cecarnya padaku.

"Apa sih? Tenang, ada aku disini. Kamu sudah sampai?" Jujur saja, aku ingin mengetahui keadaannya.

"Sudah, ini baru selesai check in. Keadaan Gandi gimana, Mas?"

Aku memperlihatkan keadaan Gandi yang masih terbaring. Matanya masih terkatup. Widya sedih dan merasa bersalah meninggalkan anaknya yang tengah sakit. Aku juga mengatakan hasil laboratorium yang menyatakan Gandi dicurigai terkena demam berdarah.

Trombosit Gandi turun drastis. Untungnya cepat dibawa ke rumah sakit. Aku memintanya untuk membersihkan rumah dengan lebih bersih lagi. Antisipasi, agar tidak timbul lagi kejadian seperti ini.

"Kamu masih pakai seragam, kamu belum mandi dan pulang ke rumah, Mas?"

Aku menggeleng, dia malah minta maaf padaku. Ku amati wajahnya, dalam kepanikan saja masih terlihat ayu.

"Kamu sudah makan, Wid?" tanyaku, aku menatap matanya. Dia hanya menggeleng.

"Makan, jangan sampai kamu sakit juga. Nanti aku bingung."

"Bingung?" tanya Widya.

Jelaslah aku bingung. Kalau dia sakit di dekatku tidak mengapa, sekalian aku merawat mereka. Nah ini jauh, di Bali. Mau menyusul juga punya tanggung jawab menjaga Gandi. Bingung kan?

Kami sama-sama terdiam. Hubungan apa yang kami jalani saat ini? Hubungan tanpa status? Masih zamannya atau tidak ada hubungan begini?

"Aku pulang saja ya, Mas?" tanyanya padaku.

"Nggak usah, nikmati kegiatanmu. Gandi aman sama aku, Yang." Ups keceplosan. Semoga dia tidak dengar.

"Ulangi, Mas."

"Apa? Sudah, sana istirahat. Makan, jangan lupa. Aku juga mau istirahat dulu. Sampai jumpa, have fun ya."

Aku segera mengakhiri panggilan itu. Gandi tersadar. Aku segera mendekat, kugenggam tangannya.

"Pah, Papah," panggilnya, aku terharu ada yang memanggilku begitu. Meskipun dia bukan anak kandungku, bukan lahir dari benihku, tapi rasa sayang yang terjalin antara kami begitu besar dan kuat.

"Papah disini, Nak. Gandi mau apa, Sayang? Minum?" tanyaku. Dia mengangguk. Segera kuraih air dalam botol lalu kuberikan pipet untuknya.

Gandi seperti orang kehausan. Satu botol habis diminumnya. Aku menawarkan air lagi, tapi dia sudah menolak. Anakku memilih memejamkan matanya lagi.

Aku menelepon Gusti untuk membawakan makanan, minuman, dan pakaian. Gusti ini adalah juniorku, yang sepertinya naksir dengan Banun. Entahlah, itu urusan anak muda. Aku tidak mau menguliknya.

Setelah dia datang, aku segera mandi dan berganti baju. Saat aku selesai, ternyata Gandi sudah bangun. Lemah sekali dia.

"Makan ya, Nak? Papah suapkan mau?" Aku menawarkan diri menyuapinya. Dia mengangguk setuju.

Makannya sedikit sekali. Baru tiga suap, Gandi sudah tidak mau makan lagi. Katanya perutnya mual. Ya sudahlah, daripada dia muntah.

Aku meminta Gusti untuk pulang saja. Biarkan aku berjaga malam ini. Gandi masih belum kuat turun ke kamar mandi. Akhirnya kupakai pispot untuk membantunya.

Mantan : Sedang apa? Gandi bagaimana?

Baru saja aku ingin mengecek ponsel. Sudah ada pesan baru darinya

Me : Sedang mengurus Gandi. Sudah sadar. Tadi minum satu botol habis. Tapi dia masih lemas.

Mantan : Ini masih bangun atau kembali tidur?

Me : Melek, mau video call?

Baru saja kutawarkan, dia sudah menghubungi anaknya. Kubiarkan mereka berbincang lama. Sampai akhirnya ponselku dikembalikan lagi oleh Gandi.

"Sudah makan?" tanyanya.

"Siapa?" Aku berbalik tanya padanya.

"Ya kamulah!" Sewot sekali wanita ini.

Aku mengangguk. Kami terdiam lagi. Saling memandangi wajah satu sama lain.

"Tadi gimana di kantor?"

Aku heran, kenapa dia bertanya hal itu? Aku hanya menjawab seperlunya saja.

"Kamu benar-benar benci sama aku ya, Mas? Sampai aku tanya keseharian kamu, jawabanmu cuma baik."

Kubiarkan dia mengungkapkan apa yang ingin dia katakan. Hatiku masih saja sama seperti dulu, genderangnya akan ditabuh ketika hal itu berkaitan dengan Widya.

"Jawab, ih! Malah mesam-mesem nggak jelas."

Aku tertawa mendengar protesnya. "Ya apa sih, hah? Kamu tanya keseharian aku itu kenapa? Perjelas dulu apa hubungan kita, beri dulu aku sebuah kepastian. Aku bukan tipe lelaki yang ember tentang keseharianku. Aku hanya bercerita pada orang yang memang membuatku berharga baginya. Paham?"

Widya diam, kulanjutkan kalimatku, "Gini deh, aku tanya sama kamu. Kamu itu dari kemarin-kemarin mancing-mancing terus. Kamu ingin kita balikan? Lalu nanti endingnya akan seperti apa? Putus lagi? Sakit kali, Wid."

Apa ucapanku keterlaluan? Dia menangis di seberang sana. Meski tangannya mencoba menghapus air mata itu, tapi aku masih bisa melihatnya.

"Sudah jangan nangis, nanti aku lagi yang dimarahin sama bu ketua."

Dia menghapus lagi air matanya, "Sudah marahnya? Sudah lega? Maaf kalau kamu terusik. Maaf juga merepotkan kamu. Mulai besok biar Banun yang jaga Gandi. Assalamu'alaikum"

Panggilan berakhir, bahkan aku belum menjawab salamnya. Beberapa hari setelah komunikasi malam itu, dia tidak menggangguku lagi. Ada yang hilang, seperti ada yang kurang rasanya.

Alhamdulillah keadaan Gandi semakin membaik, trombositnya juga mulai naik perlahan. Widya sudah kembali dari Bali. Dia menemani Gandi yang nanti siang sudah bisa pulang.

Widya hanya diam saat bersamaku. Rasa canggung kembali hinggap diantara kami. Aku duduk di sebelahnya yang sedang menata baju-baju Gandi.

"Kapan pulang?" tanyaku.

"Ngapain tanya? Toh itu tidak penting untukmu."

"Marah?" Sumpah ini desiran di dada kenapa semakin hebat saat kami sedang bersitegang seperti ini.

Aku mengantarkan mereka pulang. Kembali kupijakkan lagi kakiku di rumahnya. Aku berpesan pada Gandi untuk tidak banyak aktivitas. Banun membawakanku oleh-oleh dari Bali. Banyak sekali, makanan, kaos, kain, dan beberapa gantungan kunci.

"Makasih oleh-olehnya. Kok banyak buat siapa saja?" tanyaku.

"Terserah buat siapa saja. Maaf aku lelah, kutinggal dulu," sahutnya dengan nada kesal.

"Aku pulang, ya?" Pamitku pada Widya.

Dia hanya mengangguk dan meninggalkanku menuju kamarnya. Ingin kususul, tapi sekali lagi aku ditampar oleh kenyataan bahwa kami sudah lama putus.

1
Ari Utami Ningsih
Luar biasa
Ari Utami Ningsih
Lumayan
Sri Lestari
andai anakku ketemu jodoh sprti tompi...
alhamdulillah...
Mukmini Salasiyanti
klrga cemara??
pinus kaliiikkkkk

wkwkwk
Mukmini Salasiyanti
lahhh
ini mmg abangnya yg gimanaaaa gituh
bikes!!
bikin kesel!!!
Mukmini Salasiyanti
eng ing eng......
fighting!!!!!


wkwkwk
Mukmini Salasiyanti
wowwwwww
kereeeen!!!!?
martina melati
versi laki2 widya y
martina melati
bikanny pusing krn soal matematika???
martina melati
saling tekan menekan nih...
martina melati
kalo dkota sdh hilang tuh sepeda dan motor
martina melati
cara gentelment y pria vs remaja lelaki (man vs boy)
martina melati
hahaha...
martina melati
kan grouo cerdas band.../Grin/
martina melati
acara reuni pas smp ato smu bahkan kuliah sdh tidak ku ikuti lagi... artiny jika gk celutuk y dsentil bahkan dbully gt.. bikin emosi bergejolak... blm lg jika ada cinta tumbuh bersemi lagiii...
martina melati
hahaha. polisi mah siap tangkap badan y
martina melati
emang sih apa pun alasanny... buntut2ny jd bersitegang malah berantem, pi yere??
martina melati
betulkn reuni maut tuh... bukan berharap jelek lho, nti pas karma pasangan april yg selingkuh bgm???
martina melati
emang ada apa y thor???
martina melati
shrsny terbuka aja, ceritakn ayahmu selingkuh...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!