Di Bukit Firdaus, satu nama menentukan nasib semua orang: Macan.
Rana baru sembilan belas tahun. Ia hanya ingin bekerja, menjaga neneknya, dan turun bukit tanpa berurusan dengan siapa pun. Tapi penguasa bukit itu sudah melihatnya, dan di wilayah Macan, apa yang diinginkannya akan menjadi miliknya. "Kamu atas namaku."
Rana menolak. Macan tidak terbiasa ditolak. Antara pesta bukit, pengintaian, dan kunjungan intim di balik jeruji, batas antara paksaan dan hasrat semakin kabur. Rahasia keluarga, sekutu yang berkhianat, dan musuh yang mengincar dari bayang-bayang membuat cinta mereka berbahaya.
Seberapa jauh seorang laki-laki berani melindungi apa yang ia klaim sebagai miliknya? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bruna Mattos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan / Kejutan
Macan (narasi)
Akhirnya hari pemindahan gue tiba. Pagi-pagi sipir datang ngasih tahu, gue sama Dekil bakal dipindah jam empat sore. Kami mandi, ganti baju, lalu nunggu. Hari itu jalan lambat banget, rasanya jam empat nggak datang-datang. Begitu waktunya tiba, seorang polisi ngeluarin kami dari sel, memborgol kami, dan membawa kami keluar penjara. Sudah ada dua mobil lagi penuh aparat buat ngawal. Polisi itu ngedorong kami masuk ke sebuah van, dan di dalam udah ada dua polisi lain plus yang ngedorong tadi.
"Sekarang lo bakal busuk di penjara, Macan. Lo boleh jadi jagoan di bukit lo, tapi di sini lo nggak lebih dari cacing." Dia ngomong sambil melotot ke gue. Gue nggak jawab, cuma nusuk dia dengan tatapan. Dua polisi lainnya diam aja.
Sekitar empat puluh menit di jalan, kami dengar ledakan dan suara tembakan.
"Ada apa ini, anjing?" tanya polisi itu ke sopir.
"Mobil depan diserang, sial, yang belakang juga!" kata sopir, ketakutan.
Gue melirik Dekil dan nyengir ke dia.
"Ini anak buah lo kan, cacing sialan!" Polisi itu menatap gue, lalu meninju ulu hati gue. Gue tetap diam.
Beberapa menit kemudian van berhenti dan polisi itu nanya ke sopir.
"Kenapa berhenti, sialan?"
"Pak, kita harus gimana? Kita dikepung." Gue bisa nangkap rasa takut di suaranya.
"Sial," katanya.
Saat itu juga anak buah gue sudah melumpuhkan sopir van dan membuka pintunya. Polisi itu menodongkan pistol ke kepala gue, jadiin gue sandera. Gue kasih isyarat ke Kerempeng, dan dia nembak tepat di dahi polisi itu. Dua polisi lainnya langsung menyerah.
Gue keluar dari sana dan masuk mobil bareng Kerempeng dan Jagung.
"Jalan, anjing!" kata gue, dan Jagung ngebut kayak kesetanan.
"Turunin gue di lapak. Gue nggak mau ada yang tahu gue kabur dulu. Gue mau bikin kejutan di pesta bukit malam ini." Gue ngebayangin muka cewek gue.
Mobil berhenti di depan lapak. Gue sama Dekil turun tanpa ada yang lihat, dan kami masuk ke ruangan gue di lapak.
Sisa sore itu kami habiskan buat ngurus banyak hal. Penjagaan gue perketat, soalnya gue tahu sekarang aparat bakal pengin nyerbu ke sini nyariin gue. Tapi kami bakal siap.
Kerempeng pergi nyari pakaian dan perlengkapan mandi supaya gue bisa mandi di sini aja.
Setengah jam kemudian dia muncul bawa tas ransel isi baju, sabun, parfum gue, kalung-kalung gue, dan sepatu.
"Rana nggak curiga, kan?" tanya gue.
"Nggak. Dia lagi di salon sama Dinda, belum balik." Gue geleng-geleng kepala, lalu masuk kamar mandi dan mandi lama. Gue pakai kolor boxer putih, celana kargo hitam, kaus Lacoste putih, topi hitam, dan sepatu Nike hitam. Gue semprot parfum, pasang emas-emas gue, dan siap. Tinggal nunggu waktu yang pas buat naik ke pesta bukit.
Rana (narasi)
Hari Selasa begini mereka malah bikin pesta bukit, dan Dinda bilang aku harus ikut nemenin dia. Katanya bakal ada orang penting di sana dan kami harus hadir. Aku berangkat cuma buat nyenengin dia, soalnya aku sendiri nggak ada semangat sama sekali. Apalagi besok aku harus bangun dini hari buat jenguk pacarku.
Habis makan siang, kami ke salon karena Dinda memaksa banget. Aku ngelakuin semuanya di sana: kuku, rambut, waxing, bulu mata, alis, dan dandan yang cantik banget.
Kami keluar dari salon sudah jam sembilan malam. Sampai rumah, Dinda masuk kamarnya buat mandi, aku ke kamarku.
Aku ikat rambut dan pakai penutup kepala biar nggak basah, lalu mandi cepat sambil jaga supaya riasannya nggak rusak. Habis itu aku mengeringkan badan dan oles pelembap. Aku pakai celana dalam mini hitam, rok dengan ikat pinggang, dan atasan hitam berkilau, sandal hitam yang talinya diikat di kaki, beberapa aksesori, dan parfum yang banyak. Rambutku yang sudah di-blow kubiarkan terurai, ujungnya dibikin ikal. Aku siap.
Pakaian Rana 👆
Aku ambil ponsel dan coba nelepon Arga, tapi cuma terdengar nomornya mati atau di luar jangkauan. Aku mulai cemas, soalnya dia nggak pernah selama ini nggak nelepon. Seharian ini dia nggak menghubungi aku, padahal aku mau bilang kalau aku berangkat ke pesta bukit, tapi teleponnya nggak tersambung. Jangan-jangan terjadi sesuatu sama dia.
Aku turun ke ruang tamu, dan Dinda sudah siap, cantik banget dengan gaun biru kecil, nungguin aku. Kali ini mertuaku nggak mau ikut. Katanya kepalanya pusing banget dan lebih baik di rumah.
"Wah, kamu seksi banget," kata Dinda, dan aku tersenyum ke dia.
"Kamu juga cakep."
Saat itu juga kami dengar klakson di depan rumah, dan kami tahu itu Kerempeng yang datang jemput.