Lanjutan dari "Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen"
"Perasaanku sudah mati sejak lama. Tidak ada satu pun di antara kalian yang mampu membuat hatiku kembali bergetar seperti dulu. Berhentilah! Aku tidak akan memilih satu di antara kalian. Jangan perjuangkan sesuatu yang sia-sia!" ~Diandra.
"Aku tidak akan berhenti! Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu kembali! Maafkan aku yang sudah pernah menorehkan luka yang sangat dalam di hatimu! Kamu tidak perlu memberi aku kesempatan, karena aku yang akan berusaha mendapatkan kesempatan itu!" ~Alden.
"Aku tidak akan berhenti! Aku mencintaimu apa adanya. Tapi, aku tidak akan egois. Semua terserah padamu. Aku tau betapa hancurnya hatimu, dan bukanlah hal mudah untuk kembali jatuh cinta setelah sakit yang teramat dalam. Aku ingin menjadi penyembuh hatimu yang luka, tapi itu semua terserah padamu. Siapa pun yang kamu pilih, aku harap kamu akan bahagia nantinya." ~Austin.
"Mau bermain? Bagimana jika kita putar balik alurnya." ~Unknown
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Berdebar
"Lho ... katanya pengen ke pasar malam, Kak?" Rara tentu sedikit bingung saat Austin justru membawanya ke bioskop, padahal laki-laki itu mengatakan ingin pergi ke pasar malam.
Rara memang pergi dengan Austin hanya berdua saja, sedangkan Alden tinggal di rumah, menjaga twins K. Meski awalnya terjadi perdebatan, tapi akhirnya Alden merelakan Rara pergi bersama Austin, dan dirinya menjaga twins K di rumah. Ya, setidaknya dirinya bisa bersama anak-anaknya.
"He-he, mending nonton aja, Ra." Austin berkata sambil cengengesan.
"Yaudah deh, nggak apa-apa, Rara juga lagi pengen nonton film hantu terbaru, katanya hari ini tayang," ujar Rara dengan semangat, sementara Austin dibuat terkejut mendengarnya. Apa ia tidak salah dengar? Dia baru tau jika wanita itu suka film horor, padahal niatnya ingin menonton film terbaru, yang mengisahkan perjuangan seorang laki-laki mendapatkan seorang gadis yang trauma dengan kisah percintaan, akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh sahabat dan pacarnya. Menurutnya kisah itu sedikit mirip dengan cerita cintanya, di mana dia juga sedang memperjuangkan seorang wanita yang sekarang sedang berjuang untuk menghilangkan rasa traumanya.
"Ka—kamu seriusan?" tanya Austin sedikit terbata-bata.
"Kenapa memangnya? Jangan bilang Kakak yang takut," goda Rara dengan senyum mengejek.
"Ekhem ... siapa bilang? Masa takut sama begituan, itu kan cuman film biasa aja. Takut sama hantu? Dih ... malu sama badan gede dong!" Austin mengelak ucapan Rara yang mengatakan dirinya takut. Sebisa mungkin laki-laki itu bersikap tenang, seolah-olah dia memang berani, meski pun sebenarnya fakta berkata lain.
Rara terkekeh saat melihat wajah tegang Austin. Sepertinya laki-laki itu memang takut dengan film hantu. Rara sendiri tidak takut dengan film begituan, karena dulu hampir setiap hari ia dan Rissa menonton film horor di laptop miliknya.
'Ah, gue jadi kangen sama Rissa. Kira-kira keadaannya sekarang gimana, ya? He'em mungkin besok gue ngajak Rissa aja buat ngunjungin dia di rumah sakit jiwa' batin Rara yang mendadak merindukan sahabat somplaknya itu.
"Yaudah ayok masuk! Kita liat apakah seorang Dokter bule tampan ini benar-benar berani? Tapi ingat! Jangan sampai ngompol lho di sana." Setelah mengatakan itu Rara berlari dengan tawa yang pecah. Merasa senang habis mengejek laki-laki yang ahli dalam segala bidang tersebut.
"Sembarangan kamu, Ra! Ya kali aku ngompol cuman karena nonton film horor doang!" teriak Austin kesal. Tapi, meski pun demikian, dia merasa bahagia melihat wanita yang sangat ia cintai itu bisa tertawa lepas kembali tanpa beban. Inilah momen yang Austin suka, yaitu bisa melihat wanita yang sangat ia cintai tertawa, terlebih itu karena dia, rasanya ia ingin sekali menghentikan waktu untuk mengabadikan tawa manis tersebut.
"Badan doang yang gede, tapi nonton film horor aja takut! Malu dong sama badan mungil Rara. Wlekk!" Rara dengan sengaja menjulurkan lidahnya, mengejek Austin, lalu kembali berlari.
"Awas kamu, Ra! Kalau aku dapat, pasti aku jitak kepala kamu!" teriak Austin, lalu segera berlari, berniat untuk menangkap wanita itu.
Akibat kecerobohan Rara yang terus berlari tanpa melihat jalan, wanita itu hampir saja terjatuh, karena tidak sengaja menabrak pembatas lantai.
"Akhh!" Rara berteriak sambil menutup mata, pasrah saja jika dirinya harus nyungsep dengan tidak aesthetic di depan orang-orang yang sedang lalu lalang.
Tapi sebelum Rara terjatuh, ada tangan yang lebih dulu menangkap wanita itu, sehingga dia tidak jadi mencium lantai yang dingin tersebut.
Perlahan Rara membuka matanya, karena merasa tidak sakit sama sekali. Bertepatan Rara membuka mata, dia melihat mata indah laki-laki tampan yang selalu menjaganya selama ini. Mata indah berwarna sedikit kebiruan tersebut seketika menghipnotis Rara.
Deggg ....
Untuk pertama kalinya jantung Rara kembali berdetak dengan sangat kencang saat melihat wajah Austin yang cukup dekat dengan dirinya. Selama ini Rara tidak pernah berdebar sedikit pun jika berada di sekitar Austin, tapi sekarang ... jantungnya justru berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
'Pe—perasaan macam apa ini? Kenapa aku deg-deg'an dekat dengan Kak Austin?' batin Rara.
'Jantung aku bahkan nggak berdetak waktu berada di dekat Alden, bahkan saat laki-laki itu mengacak rambut ku seperti yang sering dia lakukan dulunya' Rara terus bertanya-tanya di dalam hati. Ada apa dengan dirinya yang sekarang?
'Cinta? Tidak! Aku sudah menegaskan kepada diriku sendiri untuk tidak jatuh cinta kembali'
'Ra, lo nggak boleh jatuh cinta, ingat itu! Sekarang yang perlu lo lakukan hanya fokus dengan kebahagiaan anak-anak lo! Bukannya kembali jatuh cinta' Rara terus menyangkal pada dirinya bahwa dia jatuh ke pesona Austin.
'Sangat cantik. Apakah aku akan diberi kesempatan untuk mengecup kening wanita ini lagi? Aku ingin sekali melakukannya, tapi itu tidak mungkin, karena bisa saja dia justru membenci ku jika berani melakukan hal itu' batin Austin. Laki-laki itu sedang berusaha untuk menahan dirinya untuk tidak memberikan kecupan lembut di kening wanita itu.
'Enggak, Ra! Lo nggak boleh jatuh cinta lagi!'
"POKOKNYA NGGAK BOLEH, RA!" Tanpa sadar Rara berteriak dengan sangat nyaring, sehingga hampir saja membuat Austin melepaskan pelukan tersebut. Tapi, untungnya dia secepat mungkin sadar, lalu kembali menangkap wanita itu agar tidak jatuh.
.
.
.
.
Maaf jarang update, dan updatenya malam mulu, soalnya selain sibuk di dunia nyata (Biasa, lagi nyari jodoh yang CEO juga, siapa tau ada yang kecantol sama nih muka😂) aku tuh juga lagi iseng-iseng bikin cerita baru, dan pengennya nabung bab, biar pas awal Agustus langung publish sekaligus 3 cerita (Duda, Kesalahpahaman, dan Suami Takut Istri) jadi biasanya aku nulis cerita ini jam 3 sore dan baru selesainya jam 7/8 malam, karena aku tuh lagi greget-gregetnya sama alur cerita baru itu, yang sampai dikira orang gila sama keluarga, karena guling-guling nggak jelas😭😂
bs kalii dipakai disesuaikan dgn bahasa anak2 seusianya/Grin/