"Aku suamimu. Aku akan buat kamu jatuh cinta padaku." Kata Riza membuat Sang Istri menghentikan langkahnya.
Gadis itu membalikkan badan menatap Riza dengan wajah datar. "Jangan terlalu berharap banyak dalam pernikahan ini. Aku tidak mencintaimu." Kata Jihan penuh penekanan dan segera pergi.
"Ku mohon cintailah aku." Lirihnya menatap sendu kepergian Sang Istri. Cintanya tak terbalas. Namun Ia akan selalu berusaha untuk mendapatkan hati gadis yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Polos
Riza sedaritadi mengomel namun di abaikan istrinya. Pria itu tak memperbolehkan Jihan pergi ke cafe karena keadaannya baru membaik beberapa hari ini. "Jangan pergi ya Dek. Kamu nanti kelelahan. Dokter kan sudah bilang kamu harus banyak banyak istirahat." Riza mencoba membujuk namun sang istri tetap dalam keputusannya. "Kamu ini kenapa sih? Aku kan sudah bilang kalau aku disana nggak akan kerja. Aku cuman duduk manis sambil cek laporan keuangan." Jihan mulai berdiri dari duduk. "Kemarikan kunci mobilnya." Riza menggeleng. Pergi saja tak rela apalagi membiarkan wanita hamil itu menyetir sendiri. Tentu saja Riza lebih tidak setuju lagi. "Aku antar. Kan sekalian aku ke kampus." Jihan tak menjawab langsung melangkah pergi.
Mark mengantarkan Sepasang suami istri itu sampa ke depan. "Kak. Hari ini aku ada janji sama teman. Aku pakai motornya ya." Ia meminta izin pada Sang Kakak. "Cuaca panas banget. Bawa mobil saja. Hati hati jangan ngebut. Kamu itu masih amatiran." Tuturnya dan remaja itu mengangguk. "Hati hati." Ucap Mark mencium pipi kakaknya sekilas sebelum wanita itu memasuki mobil.
Lima belas menit perjalanan Jihan sudah sampai di cafenya. "Kamu ikut juga?" Tanya Jihan karena suaminya juga ikut masuk ke dalam dan terus mengikuti sampai ke ruangannya. "Iya. Aku cuma mau memastikan kamu baik baik saja sampai duduk." Ucap pria itu membuat Jihan menghela nafas. Wanita itu duduk di kursi kerjanya. "Sudah kan. Kamu kalau mau ke kampus bergegaslah." Jihan mengusir dengan halus membuat suaminya tersenyum. Pria itu menunduk kemudian memeluk tubuh istrinya dengan hangat. "Baiklah. Nanti aku jemput. Mobilnya biar disini saja. Aku ke kampus dulu Dek. Sayang. Assalamualaikum." Riza tersenyum kemudian menangkup wajah sang istri dan menciumi sampai puas. Jihan kesal memukul dada suaminya membuat pria itu terkekeh dan bergegas pergi. "waalaikumsalam. Dasar. Astaga. Bisa tekanan batin lama lama." Ucapnya sembari membersihkan wajah dengan tissue.
Jihan sedang berkumpul dengan para karyawannya yang sedang istirahat makan siang. "Mbak Jihan sudah baik baik saja? Sudah nggak mual lagi?" Tanya mereka di sela sela makan. "Sudah mendingan." Jawabnya. "Kamu nggak makan? Belum doyan makan ya?" Meta merasa khawatir. "Belum bisa makan seperti biasa. Masih mual kalau dipaksa makan." Jawabnya sambil meraih botol air mineral di depannya. "Assalamualaikum." Riza datang kemudian merebut minum sang istri. Pria itu duduk di samping Jihan sambil membuka tutup botol untuk istrinya. "Waalaikumsalam." Jawab mereka kompak. "Ini Dek. Mau aku bantu minum?" Tanya Riza begitu perhatian pada istrinya membuat Mereka yang menyaksikan tersenyum hanyut dalam keromantisan. "Astaga. Tangan aku masih bisa di gunakan dengan baik. Nggak perlu." Jawab Jihan membuat suasana pahit seketika. Mereka sudah terbiasa dengan sikap wanita itu tidak heran malah menjadi hiburan. "Kamu sudah selesai urusannya?" Tanya Jihan dan suaminya mengangguk sembari mengelap bibir istrinya dengan ibu jari. "Ih. Kamu kenapa sih?" Jihan protes. "Ada air di bibir kamu dek." Jawab Pria itu dengan lembut. Mereka menghela napas melihat sepasang suami istri itu. Riza sangat perhatian namun istrinya......ah jangan membahas lagi sikap wanita itu. "Kenapa cepat sekali. Aku kan masih mau disini." Jihan mengeluh. "Kamu harus tidur siang tau. Makannya aku jemput sekarang. Ayo pulang dulu." Ajaknya sambil berdiri. "Tapi. Nanti dulu deh. Tunggu mataharinya turun. Panas banget pasti nggak enak pulang panas panas begini." Jihan mencari alasan membuat mereka menahan tawanya. "Jangan cari alasan Dek. Di mobil ada AC dan kami nggak akan kepanasan. Ayo." Pria itu menggandeng tangan istrinya. "Kami pulang dulu ya. Assalamualaikum." Riza berpamitan. "Waalaikumsalam." Jawab mereka.
"Jangan cemberut begitu. Aku makin gemas tau." Riza mencium pipi istrinya yang tak luput dari perhatian semua orang. Jihan kesal melepaskan tangan suaminya dan berjalan mendahului.
Riza baru selesai mandi menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa. Wanita itu tampak **** menggunakan hot pants dan kemeja kebesaran. Riza duduk di samping Jihan memperhatikan wanita itu yang sedang makan pisang. Otak Riza traveling. Apalagi Ia tidak bisa menyentuh sang istri karena kandungannya yang masih muda. Miliknya kan..... Jadi tegang. "Kamu kenapa sih?" Tanya Al melihat suaminya itu beberapa kali menelan salivanya. "Tidak papa." Jawab Riza gugup. Jihan tersenyum miring. Wanita itu mulai mendekati suaminya membuat Riza mundur hingga terpentok ke sofa. Jihan berdiri kemudian duduk di pangkuan suaminya. Jemari lentiknya mulai menari di ceruk leher Riza dan turun membelai dada pria itu. "Dek...." Ucap Riza memejamkan mata. "Kya....Mas.. Kamu pipis ya." Teriak Jihan cepat cepat berdiri karena boxer yang dipakai suaminya basah. "Untung kamu polos Dek. Kamu harus tanggung jawab di lain waktu." Ucap Riza mengecup bibir istrinya sekilas kemudian segera pergi ke kamar mandi.