Saat kau di anggap tidak berguna lagi, kau di buang dan di campakkan
Seolah-olah kau bagaikan sampah yang tidak terpakai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nova Queensha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
#Dibuang_Seperti_Sampah
#Part 23
POV Ivan.
***
Ketika Azka menangis dan berlari ke dalam. Aku tahu dengan pasti Aisha sangat emosi dengan sikap mantan suaminya. Aku segera menggenggam tangan Aisha, agar dia bisa menahan diri, dari ucapan kasar. Meskipun menurutku, mantan suami Aisha memang pantas mendapatkan semua makian dari Aisha.
Namun aku tidak mau, Aisha larut dalam kebencian, terlebih, benci terhadap Ayah kandung Azka. Aisha segera beranjak menyusul Azka ke dalam, meninggalkan aku dan mantan suaminya berdua di ruang tamu. Suasana hening untuk beberapa saat.
"Kalau sudah tidak ada yang mau disampaikan, lebih baik Mas pulang saja." Ucapku memecah keheningan.
Aku melihat, ada sorot kecewa di matanya, entah kecewa karena tidak bisa mengajak Azka untuk tinggal bersamanya, atau kecewa karena telah membuat Azka menangis.
"Kalau suatu saat nanti, Mas mau menjenguk Azka, pintu rumah saya terbuka lebar. Akan tetapi, jika Mas datang ke rumah saya, hanya untuk membuat Azka dan Aisha menangis seperti tadi, saya pastikan, Mas nggak akan pernah lagi bisa melihat Azka."
Mantan suami Aisha bangkit dari duduknya, dan berlalu dari hadapanku, tanpa mengatakan sepatah katapun.
Aku segera menuju kamar Azka, aku sungguh khawatir dengan anak itu. Saat aku membuka pintu kamarnya, ku lihat Azka sudah tertawa dan bermain bersama kedua Adiknya, tetapi aku yakin, kalau Azka menyembunyikan rasa sedihnya di depan kedua adiknya.
Aisha pun kulihat sedang tersenyum melihat tingkah anak-anak kami, tetapi aku tahu, kalau senyum Aisha sangat dipaksakan.
"Nanti abis sholat Maghrib, semuanya siap-siap ya ... Papa mau ajak makan di luar, sesudahnya... Kita jalan-jalan, oke?"
"Oke, Papa." Jawab mereka serempak. Aisha menghampiriku yang berdiri di depan pintu.
"Makasih, Kak." Ucapnya seraya memeluk dan menciumku. Aku sempat terpaku beberapa saat, karena semenjak kami menikah, Aisha tidak pernah memelukku ataupun menciumku lebih dulu dalam keadaan sadar. Biasanya dia lakukan, kalau melakukan kesalahan.
Awalnya aku ingin menggodanya, tapi semua aku urungkan. Aku hanya tersenyum dan membalas pelukannya.
***
Anak-anak terlihat bahagia, setelah aku mengajak mereka makan makanan kesukaan mereka di luar, apalagi setelah makan aku mengajak mereka untuk bermain di playground, yang terdapat di dalam Mal.
Ketika Malik dan Izza bermain playground di temani Mba Cici, Azka tidak ikut bermain, tentu saja karena dia malu. Dia selalu beranggapan, bahwa dirinya sudah besar, meskipun terkadang sifatnya jauh lebih kekanakan di bandingkan dengan Adiknya, Izza. Sedangkan Aisha sedang ke toilet untuk membersihkan bajunya yang kotor terkena makanan, karena Malik.
"Azka hari ini senang?"
"Senang, Pa. Makasih ya, sudah ajak Azka makan di luar, dan jalan-jalan." Jawabnya seraya memelukku.
"Azka masih sedih?" Tanyaku lagi. Azka hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Atau ... Azka masih marah sama Ayahnya Azka?" Aku bertanya lagi, sambil mengamati wajah Azka. Sesaat, Azka menatapku.
"Apa Ayah akan buat Mama marah-marah dan nangis lagi?" Tanyanya masih menatap mataku.
"Papa pastikan, Ayah Azka nggak akan buat Mama marah-marah dan nangis lagi." Aku mengelus rambut Azka. Kemudian dia tersenyum.
"Azka nggak marah lagi, Pa." Aku memeluk Azka erat.
"Wah ... Ada apa ini peluk-pelukan?" Tiba-tiba Aisha datang menghampiri kami.
"Rahasia ... " Jawabku kepada Aisha. Tiba-tiba Azka tertawa terbahak-bahak.
"Azka juga punya rahasia dengan Mama, Papa nggak boleh tahu."
Aku melihat Aisha menempelkan telunjuknya di bibirnya, mengisyaratkan agar Azka diam. Akan tetapi Azka semakin tertawa melihat Aisha. Aku hanya memandang mereka berdua bergantian.
"Rahasia apa?" Tanyaku kepada Azka.
"Papa curang, kalo mau tahu, Papa harus kasih tahu rahasia kita."
"Papa nggak keberatan, kalau Mama tahu rahasia kita."
"Nggak boleh, kalau Papa tahu rahasia Mama, Azka yakin, Papa akan ngambek." Ucapnya lagi sambil tertawa.
Aku Menggelitik badan Azka hingga ia tertawa dan berteriak minta ampun. Aku sungguh gemas sekali. Meskipun Azka bukan darah dagingku, entah mengapa, tidak mengurangi sedikitpun rasa sayangku terhadapnya.
"Ampun Pa." Ucap Azka memohon kepadaku. Aku berhenti mengelitiki badan Azka. Anak itu masih saja tertawa, padahal aku sudah berhenti menggelitikinya.
Sesungguhnya aku penasaran, apa yang mereka rahasiakan terhadapku. Namun, melihat mereka tersenyum dan tertawa berbahagia, rasanya sudah cukup membuat hatiku ikut bahagia, dan melupakan rahasia mereka.
Aku berjanji akan selalu berusaha memberikan kebahagiaan untuk keluarga kecil kami. Untuk Aisha, Azka, Izza dan Malik.
Aku bersyukur akhirnya setelah sekian lama menanti, sekian lama berharap, akhirnya aku bisa memiliki Asiha. Aku jadi teringat masa di mana aku sungguh hilang harapan ketika Aisha sudah menikah dengan Ayahnya Azka dulu.
Bagaimana mama selalu memberikan pengertian kepadaku, bahwa meskipun nama Aisha selalu ku sebut dalam doa-doaku, bukan berarti aku bisa dengan mudah mendapatkannya.
Ternyata Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah dari semua rencanaku. Sampai sekarang aku masih tidak percaya, kalau Tuhan Maha baik terhadapku. Dia memberikan apa yang selalu aku minta dalam setiap sholatku.
***
***
emosi jiwaaa 😈😡😡😡