SEASON 1
Tentang Azzahra yang memiliki kehidupan rumit dan dicintai banyak laki-laki sampai hampir kehilangan nyawa.
SEASON 2
Tentang kehidupan Azzahra setelah menikah dan kehidupan kakaknya yang telah mendapatkan jodohnya masing-masing. Juga cerita laki-laki yang mendapat cinta tulus dari wanita lain setelah patah hati karena Azzahra.
SEASON 3
Tentang perjuangan cinta Azam dan Aisha dengan anak-anak dari sahabat orangtua mereka.
Penuh suka duka, juga perjuangan yang kuat dan tangguh dari mereka.
***
Ig. Karlina_sulaiman
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlina Sulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
🎻🎻 Please tap jempol kalian sebelum membaca...
🔥🔥🔥 Happy Reading all...
Setelah selesai, Azzahra mengantarkan Kak Arvie ke kamarnya, Azzahra dan Kak Arvie sholat berjamaah. Setelah selesai sholat, Azzahra menyuruh Kak Arvie untuk segera tidur.
Azzahra menyelimuti Kak Arvie sampai lehernya kemudian mencium Kak Arvie dan meninggalkannnya, karena sejak kemarin Azzahra belum tidur sama sekali, dia hanya sedikit beristirahat saat pinsan di rumah sakit kala itu,jadi Azzahra hari ini tidur lebih awal.
🍁🍁🍁
Hari demi hari telah berlalu, Azzahra kembali aktif bekerja, begitu juga dengan Kak Arvie. Hari ini Hafizh sudah di perbolehkan untuk pulang. Selama di rumah sakit Hafizh tidak pernah bertemu dengan Azzahra.
Tapi hari saat Hafizh akan pulang, Hafizh melihat Azzahra sedang bertugas. Hafizh berjalan menghampiri Azzahra.
Walaupun Hafizh belum memastikan kalau gadis itu benar-benar Azzahra, gadis yang sangat ia cintai, tapi wajahnya, itu benar-benar wajah yang selalu Hafizh rindukan selama ini.
"Bee, apa benar ini kamu?" tanya Hafizh sambil menatap Azzahra dengan seksama, tatapannya memperlihatkan kerinduan di sana.
Azzahra yang sedang mendorong kursi roda pasiennya, menoleh ke arah Hafizh.
"Nek, Azzahra antar kembali ke kamar ya. Nenek istirahat yang cukup, biar cepat pulih ok." Azzahra mengantar pasiennya kembali ke kamar perawatan.
Setelah itu, Azzahra mengajak Hafizh untuk ke taman belakang. Mereka duduk di kursi panjang dan berdampingan namun ada jarak di antara mereka.
"Bee, apa benar ini kamu?" tanya Hafizh lagi dengan wajah sangat bahagia namun juga sedih.
"Saya bukan Bee, saya Azzahra." jawab Azzahra.
"Bee, setelah sekian lama akhirnya kakak bisa melihatmu lagi, kakak sangat bahagia." ucap Hafizh, air mata mengalir dari sudut matanya.
Kak Arvie sudah menceritakan sedikit tentang kisah masa lalu Azzahra dan Hafizh, jadi Azzahra bisa mengambil kesimpulan dari apa yang di ceritakan Kak Arvie.
"Apakah Anda bahagia dengan hal ini?" tanya Azzahra, dirinya sebenarnya tidak mau menanggapi Hafizh tapi apa boleh di kata jika hati sudah bicara.
"Tentu saja Bee, tentu saja kakak bahagia, penantian kakak selama ini tidak sia-sia. Setelah sekian lama akhirnya kakak bisa bertemu lagi denganmu." ucap Hafizh lembut, dari suaranya Azzahra bisa tau kalau Hafizh tidak sedang membohonginya.
"Tapi kenapa Kak Farij dulu meninggalkan aku? kenapa Kak Farij tidak mengerti kalau aku tidak mau Kak Farij pergi, mengapa Kakak pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun kepadaku dulu, kenapa Kak Farij jahat." Azzahra hanya bisa berbicara dalam hati.
"Bagaimana dengan hubungan Anda dan kekasih Anda?" Kata-kata yang terlontar begitu saja dari mulut Azzahra.
"Dia bukan kekasih kakak, Bee, apa kamu salah paham dengan kakak?" Suara yang masih sangat lembut yang keluar dari mulut Hafizh.
"Mungkin saya dulu mudah di bodohi Anda, tapi Anda perlu tau, sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat, banyak hal yang berubah selama sepuluh tahun ini, dan begitu juga dengan saya." ucap Azzahra, sebisa mungkin Azzahra bicara dengan tenang, walau sesuatu perasaan berbeda muncul di hatinya.
"Bee, sebegitu besarkah rasa benci di hatimu untuk kakak? bahkan kamu sudah tidak memanggilku kakak lagi, jangan bicara formal Bee." Suaranya begitu lembut, penuh kasih sayang.
"Jangan termakan ucapannya Azzahra, ingat Azzahra dia telah meninggalkanmu dulu."
Azzahra meyakinkan hatinya agar tidak goyah dengan ucapan Hafizh.
"Kenapa saya harus memanggil Anda kakak? apakah kita sedekat itu dulu?" ucap Azzahra agar Hafizh merasa jika dirinya sudah tidak berarti lagi untuk Azzahra, dia hanya orang asing untuk Azzahra.
Hafizh sedikit terkejut dengan penuturan Azzahra, sebegitu asingkah dia sekarang untuk Azzahra? apa memang dari dulu Hafizh adalah orang asing untuk Azzahra?.
"Kenapa kamu bicara seperti itu Bee? apa kesalahan yang kakak buat padamu dulu hingga kamu sangat membenci kakak?" Hafizh menangis setelah mengucapakan itu, dia tidak tau kesalahan apa yang telah dia perbuat hingga gadis yang teramat dia cintai membenci dirinya.
"Azzahra yang Anda kenal sudah tiada, dia sudah meninggal delapan tahun yang lalu, dan Azzahra yang berada di depan Anda saat ini, adalah Azzahra yang baru." ucap Azzahra yang berhasil membuat Hafizh bingung.
"Bee, apa maksud perkataanmu barusan? kenapa kamu bilang kalau kamu sudah meninggal delapan tahun yang lalu, kalau kamu sudah meninggal kenapa kamu masih ada di sini sekarang?" Hafizh menuntut penjelasan kepada Azzahra, dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Azzahra tadi.
Namun sayangnya Hafizh tidak akan pernah mendengar penjelasan dari Azzahra, karena Azzahra tidak akan memberitahunya. Biarlah Hafizh mencari tau sendiri.
"Maaf Tuan, sekarang saya masih dalam jam kerja, saya akan kembali, Assalamu'alaikum." Azzahra bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Hafizh seorang diri di taman belakang.
"Wa'alaikumsalam." Hafizh menjawab salam Azzahra dengan lemah.
Saat Azzahra berjalan di koridor rumah sakit, Azzahra berpapasan dengan Dokter Zainal. Namun Azzahra tidak menyadari itu karena Azzahra berjalan dengan menundukkan kepalanya.
"Selamat pagi Dokter Azzahra." sapa Dokter Zainal kepada Azzahra.
Azzahra menghentikan langkah kakinya kemudian melihat ke arah Dokter Zainal.
"Selamat pagi juga Dokter Zain,Anda mau ke mana?" tanya Azzahra.
"Saya mau memeriksa pasien saya, kalau begitu saya duluan ya Dokter."
"Silakan."
Dokter Zainal kembali berjalan ke ruang pasien yang akan dia periksa.
🍁🍁🍁
Hafizh masih berdiam di kursinya, dia sedih saat Azzahra memanggilnya secara asing, Hafizh sangat merindukan Azzahra yang seperti dulu.
Hafizh menangis seorang diri di taman, orang-orang menatapnya dengan tatapan kasian. Tapi Hafizh tidak menghiraukan itu.
Toh orang lain hanya bisa mengasihaninya, orang lain tidak tau apa yang dia alami.
"Aku akan pergi ke rumahnya dan bertanya kepada Paman Ali dan Bibi Aisyah." gumam Hafizh.
Hafizh menghapus air matanya, kemudian membasuh mukanya di toilet rumah sakit, setelah itu Hafizh pergi ke rumah Azzahra dengan taksi.
Hafizh masih ingat alamat rumah Azzahra jadi Hafizh tidak perlu repot-repot mencarinya.
🍁🍁🍁
Azzahra hendak masuk ke ruangannya, namun pandangannya tidak sengaja tertuju kepada seorang pria yang Azzahra kenal.
Azzahra berjalan dan menghampiri pria itu, yang sedang duduk di kursi ruang tunggu depan lab.
"Selamat pagi Tuan Farhan." sapa Azzahra.
Farhan yang mendengar ada seseorang yang menyapanya langsung melihat ke arah orang itu. Dan Farhan kemudian tersenyum saat melihat Azzahra berdiri di depannya.
"Selamat pagi juga Dokter Azzahra, senang bisa bertemu dengan Dokter lagi." ucap Farhan.
"Boleh saya duduk?" tanya Azzahra sambil menunjuk kursi di sebelah Farhan.
"Tentu saja."
"Apa yang Anda lakukan di sini? apa Kakek Hussain sakit lagi?" tanya Azzahra ramah.
"Ya, kondisinya sedikit memburuk akhir-akhir ini, sehingga aku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit, jangan panggil aku dengan formal, panggil saja namaku seperti dulu."
"Baiklah Tuan eh maksudku Farhan, apa aku boleh bertemu dengan kakekmu?" tanya Azzahra.
"Tentu saja, ayo ikut denganku kalau kamu mau bertemu dengan kakek. Kakek pasti akan sangat senang bertemu lagi denganmu." Farhan berdiri kemudian mengajak Azzahra menaiki lift untuk menuju ke kamar kakeknya di rawat.
Sampailah mereka di lantai tiga, tempat di mana kakeknya Farhan di rawat.
"Assalamu'alaikum Kek, lihat lah Kek siapa yanga datang bersamaku." ucap Farhan hangat.
"Wa'alaikumsalam, siapa memangnya Farhan?"
"Assalamu'alaikum Tuan Hussain." salam Azzahra.
"Wa'alaikumsalam, oh ternyata Dokter Azzahra." ucap Tuan Hussain ramah.
"Apa yang menyebabkan Anda sakit lagi Tuan Hussain?" tanya Azzahra.
"Usia saya kan tidak muda lagi Dokter, jadi mungkin ini karena faktor usia." jawab Tuan Hussain.
"Semoga cepat sembuh ya Tuan Hussain, saya pamit ya karena masih ada kerjaan." ucap Azzahra ramah.
"Terima kasih sudah menengok Kakek." ucap Tuan Hussain.
"Sama-sama Tuan, permisi Assalamu'alaikum Tuan, Farhan."
"Waalaikumsalam."jawab mereka bersamaan.
🍁🍁🍁
Waktu berjalan dengan cepat, kini hari sudah menjelang petang, Azzahra sengaja pulang malam karena jika di rumah dia akan merasa bosan.
Selepas waktu Isya, Azzahra menghubungi Kak Arvie agar menjemputnya. Lima belas menit kemudian Kak Arvie sampai di rumah sakit.
"Assalamualaikum Kak." sapa Azzahra ketika masuk ke mobil.
"Waalaikumsalam, De mau makan di rumah apa di luar?" tanya Kak Arvie.
"Di luar yuk Kak, tapi Kak Arvie yang bayar ya hehe...."
"Ok."
Kak Arvie mengemudikan mobilnya menuju ke restoran favoritnya dan juga Azzahra. Kurang lebih dua puluh menit akhirnya mereka sampai di restoran itu.
Kak Arvie memarkirkan mobilnya kemudian mengajak Azzahra masuk dan duduk di kursi paling pojok, karena suasana di sana yang paling nyaman daripada di kursi yang lain.
"Selamat malam, ini buku menu kami,silahkan di pilih?" ucap seorang waiters.
Kak Arvie melihat menu begitu juga dengan Azzahra, setelahmemilih mereka memberitahu pelayan agar mencatat pesanan mereka.
"Baik di tunggu ya Kak, pesanan akan segera kami antar setelah siap." ucap pelayan sambil berjalan menjauh dari mereka.
🌷🌷Aku cuma mau minta like, komen, rate dan votenya dari kalian... biar aku makin semangat nulisnya..
Setidaknya tinggalkan jempol kalian oke🙏🙏🙏 ...
Semoga kalian sehat selalu dan di lancarkan rezekinya Aamiin...