Sekuel dari "Bukan Salah Cinta"
Siapkan tissu, lap, atau kanebo ya readers 🤧
Takdir seseorang tidak ada yang bisa menebak. Takdir mampu mempertemukan seseorang, takdir juga yang mampu memisahkan orang itu.
Pertemuan tidak sengaja oleh takdir antara Melodi dengan pemuda hangat dan humble bernama Ben Damian Ezra.
Disaat cinta mulai tumbuh, terjadilah sebuah tragedi yang mengharuskan Melodi meninggalkan Ben.
Tahun-tahun berlalu, bagaimanakah kehidupan mereka?
Akankah takdir mampu mempertemukan mereka kembali?
Mampukah Melodi memaafkan Ben hingga mereka bersatu kembali?
"Dunia mungkin akan mampu mengubah hidupku, tapi tidak dengan rasa cintaku padamu."
"Kamulah Takdirku"
Happy reading ya guys, i hope you'll enjoy it😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Happy reading
💕💕💕💕💕
Bali,
"Gila, Ga! Gue tadi sebenarnya gak tega banget liat ekspresi Cinta." Mario yang sedang mengemudi menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang barusan mereka lakukan pada Cinta.
"Ya, habis mau bagaimana lagi. Ini sudah jadi rencana ayah Reyhan dengan daddy loe." Rangga menghela napas berat lalu menyandarkan kepala pada jok mobil.
"Tapi sumpah, liat wajah Cinta tadi benar-benar bikin gue ngilu. Kayaknya dia sedih banget," ucap Mario mendramatisir. "Kata feeling gue nih ya, tadi tuh Cinta ngarep banget kalo Ben itu adalah Rangga."
"Gue juga berpikir begitu." Rangga memijit pangkal hidungnya. "Gue gak habis pikir, kenapa pas bener cincin nikah Cinta jatuh di kaki gue?"
"Itu yang namanya jodoh. Udah tertulis, kamulah takdir Cinta. Lalu gimana, loe mau lanjutin rencana ini apa udahan sampai di sini? Menurut gue, Cinta masih ngarepin elo dan dia juga kayaknya kangen banget sama loe."
"Sok tau banget loe," cibir Rangga.
"Yaelah, masak loe gak bisa liat dari sorot matanya tadi. Ketika dia natap loe sebelum naik nih mobil. Sorot matanya tu manggil-manggil loe. Kak Rangga tunggu, jangan pergi, jangan tinggalkan aku." Mario bersuara menirukan suara perempuan yang membuat Rangga bergidik geli.
"Ish, apaan sih loe. Jijik banget gue dengarnya."
"Hahaaa, tapi beneran gue ngeliat kerinduan yang mendalam di mata Cinta. Loe emangnya gak kangen sama dia?"
"Kangen bangetlah pasti. Kalau bukan karena tantangan dari ayah Reyhan, mungkin begitu sadar dari koma gue langsung nyusul Cinta ke sini. Tapi di sisi lain gue berpikir, kalau bukan karena tantangan dari ayah Reyhan, mungkin gue gak akan ada di posisi sekarang ini. Mungkin gue masih hidup dengan bayang-bayang ayah Reyhan, bukan berdiri di kaki gue sendiri seperti sekarang."
"Berarti loe beruntung banget punya mertua kayak ayah Reyhan."
"Bukan hanya beruntung sebagai menantunya, tapi juga sangat beruntung pernah menjadi putranya. Ayah Reyhan selalu membuatku kagum. Dia kebanggaanku. Rasanya dari gue masih menjadi putranya sampai gue menjadi menantunya, gue hanya bisa membuatnya kecewa. Tapi, ayah Reyhan dan ibu Diana masih menerima gue dan menyayangi gue." Pandangan Rangga menerawang, otaknya mengabsen daftar kelakuan nakalnya sewaktu masih menjadi putra tunggal seorang Reyhan Aditya Wijaya.
"Tapi gue juga kagum sama loe," celetuk Mario sembari melirik Rangga sekilas.
"Hah? Loe kagum sama gue? Gak kebalik," Rangga balas mencibir. "Loe putra tunggal dari seorang crazy rich man bernama Tuan Putu Davin Rajendra Brata yang jelas-jelas pemilik puluhan resort, villa, apartemen, beserta bisnis properti lainnya yang tersebar di dalam dan luar negeri, kagum sama gue yang cuma bisnis penyewaan limousin? Gak salah?!" cerca Rangga.
Mario hanya tersenyum bangga. "Semua itu milik daddy gue. Gue mah belom punya apa-apa. Gak selevel ma loe yang udah sukses berdiri di kaki sendiri. Memulai dari nol, sendiri tanpa campur tangan orang tua."
"Semua ada masanya. Lagi pula, loe bangun bisnis sendiri buat apa, bisnis yang dibangun daddy loe sendiri aja udah kewalahan sama loe."
"Tapi gue pingin juga mendapatkan sesuatu dari hasil kerja keras gue sendiri." Rangga menggut-manggut mendengar curahan Mario.
"By the way, balik lagi ke laptop. Loe beneran tadi gak ada rasa pengen apa gitu pas ketemu Cinta? Lima tahun Bro, lima tahun."
"Gue 'kan udah bilang, gue kangen banget sama Cinta, apalagi sama anak gue. Gak sabar juga gue ketemu Sunny. Tadi rasanya gue pengen banget meluk Cinta, bahkan sewaktu pertemuan pertama di bandara pagi tadi. Jika tidak ingat pesan om Davin selama di pesawat, mungkin begitu melihat Cinta yang berdiri menunggu om Davin, gue akan berlari ke arahnya dan memeluknya seerat-eratnya detik itu juga."
"Ngenes gue dengar cerita loe," ucap Mario antara prihatin atau mencibir. "Tapi, ini beneran nih, pertanyaan serius. Serius gue penasaran banget."
"Apa?" Rangga menatap Mario curiga.
"Si Joni beneran kuat selama lima tahun ini? Lima tahun, Sob? Yang kalau gue pribadi, puasa seminggu itu udah paling lama."
"Ck, gue kira apaan." Rangga berdecak kesal.
"Heh, gue serius."
"Loe pikir gue masih sempat berpikir ke arah itu, di saat otak gue dipenuhi dengan rasa rindu gue ke Cinta dan juga ambisi membangun bisnis untuk masa depan keluarga kecil gue," beber Rangga kesal. "Udah loe fokus nyetir biar kita cepat sampai di hotel daddy loe."
"Ya siapa tau, namanya laki-laki normal. Kalau begitu bertambah kagum gue sama loe. Asal loe masih normal, 'kan? Loe masih doyan cewek, 'kan? Loe gak impoten, 'kan?" ceroscos Mario yang tertawa geli karena ucapannya sendiri.
"Sialan, ya iyalah." Rangga meninju punggung Mario.
"Gue kok sangsi," goda Mario lagi.
"Apaan?" Rangga mendelik ke arah Mario.
"Bagaimana kalo tar malam loe buktiin?" Mario mengerling ke arah Rangga.
"Maksud loe?"
Mario menyunggingkan sudut bibirnya. "Gue bikin Cinta mabuk di pesta tar malam, terus ...."
"Gue gak setuju," sela Rangga cepat, "Cinta gak pernah minum, alkohol akan menyiksa tubuhnya nanti."
"Kalau begitu gue campur obat ...."
"Pokoknya gue gak setuju," tegas Rangga tanpa membiarkan Mario melanjutkan ucapannya.
Mario mendesah.
Loe boleh sekarang bilang gak setuju, tapi liat aja tar malam. Loe pasti gak bisa nahan naluri loe begitu Cinta mabuk, hahahaha.
❤️❤️❤️❤️❤️
Masih inget gak waktu cincin penikahan Cinta yang terlepas di lift lalu jatuh di kaki Rangga🤔
Nah, ini scene dari sudut pandang Rangga setelah kejadian cincin terlepas itu. Dan juga sebelum kejadian Cinta mabuk di pesta Mario yang berujung kuda poni milik Cinta melayang ke wajah Rangga🤭inget gak inget gak😅
Sukur kalo masih inget, berarti kalian masih sayang sama Rangga dan Cinta😁
Sebelum lanjut ke Ben dan Melodi, yukkk tinggalkan jejak kalian di sini🤗🤗🤗
Dukung aku yuk dilapak sebelah, bacanya juga sama tanpa koin,
Jgn lupa mampir ya krna ada give away di akhir bulan,
Aku tunggu 😊