NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Mahkota Baru dan Langkah di Atas Altar Monako

Keheningan di dalam ruang kerja utama Victor Garrick terasa begitu anggun. Alana melangkah masuk dengan langkah kaki yang tenang, gaun panjang hitamnya menyapu lantai kayu jati yang mengilap. Di belakangnya, kelima kakak laki-lakinya berbaris rapi seperti dinding barikade yang tak tergoyahkan. Pemandangan ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah dinasti Garrick—lima serigala kejam yang biasanya saling gigit, kini berdiri tunduk di bawah kendali seorang gadis remaja.

Victor Garrick duduk tenang di balik meja kerjanya. Dia tidak menyentuh senjata, tidak juga memanggil pasukan elitenya. Sepasang mata elangnya yang sarat akan pengalaman puluhan tahun hanya menatap Alana dengan ketenangan seorang Raja tua.

Alana berhenti tepat dua meter di depan meja Victor. Dia menundukkan kepalanya sedikit, memberikan penghormatan yang sangat sopan kepada pria di depannya. Tidak ada kebencian membara di matanya, tidak ada pula niat untuk mempermalukan sang ayah.

"Selamat pagi, Ayah," ucap Alana, suaranya terdengar lembut, jernih, namun memiliki ketegasan yang mutlak. "Kami datang ke sini tidak untuk menentang Ayah. Kami datang untuk meminta Ayah beristirahat dengan tenang."

Victor menaikkan sebelah alisnya, lalu melirik kelima putranya yang berdiri di belakang Alana dengan tatapan protektif yang gila. "Beristirahat?" tanya Victor, suaranya berat dan bergaung rendah.

"Benar, Ayah," Alana melanjutkan dengan nada taktis yang sangat berkelas. "Mulai jam delapan pagi ini, Kak Dominic dan Kak Cedric telah memegang kendali penuh atas seluruh sektor militer Faksi Utama dan Pertama. Kak Julian dan Adrian telah mengunci total jaringan komunikasi dan logistik domestik, sementara Kak Xavier telah mengamankan seluruh stabilitas finansial dinasti kita di pasar saham. Seluruh fondasi keluarga Garrick kini telah berada di bawah satu poros."

Alana menatap lurus ke dalam mata Victor. "Kami tidak memusuhi Ayah. Kami hanya ingin menunjukkan bahwa anak-anak yang pernah Ayah sia-siakan ini, kini telah tumbuh menjadi benteng yang utuh. Kami ingin pengakuan dari Ayah, bahwa era baru dinasti ini telah lahir hari ini."

Mendengar pemaparan yang begitu rapi, elegan, dan tanpa cela dari Alana, keheningan sempat kembali merayap. Namun detik berikutnya, sebuah tawa rendah yang berat lolos dari bibir Victor Garrick. Tawa itu tidak dipenuhi amarah, melainkan kepuasan dan kebanggaan yang teramat masif. Victor berdiri dari kursi kebesarannya. Dia melepaskan cincin stempel emas berlambang serigala dinasti Garrick dari jari manisnya—simbol kekuasaan absolut sebagai kepala keluarga tertinggi.

Victor melangkah memutari meja, berhenti tepat di depan Alana. Dia menatap putri bungsunya itu dengan binar mata yang belum pernah dia tunjukkan kepada siapa pun seumur hidupnya.

"Aku selalu tahu bahwa serigala terbaikku adalah kamu, Alana," bisik Victor, suaranya sarat akan pengakuan mutlak. Dia meraih tangan mungil Alana, lalu meletakkan cincin stempel emas itu di atas telapak tangannya. "Kamu tidak hanya menghancurkan bidak-bidakku, kamu menjinakkan mereka semua di bawah kakimu. Ambil takhta ini. Bawa dinasti ini setinggi yang kamu mau, dan biarkan pria tua ini menikmati masa pensiunnya di vila selatan."

Victor menepuk bahu Dominic dan Cedric sekilas, memberikan restu terakhirnya, sebelum akhirnya dia melangkah keluar dari ruangan dengan senyuman puas. Sang Raja tua telah lengser dengan terhormat, ditundukkan oleh kejeniusan putrinya sendiri.

Satu minggu setelah penobatan Alana sebagai penguasa tertinggi yang baru, atmosfer di Mansion Utama berubah total. Begitu urusan politik faksi luar selesai dikondisikan, topeng dingin Alana sebagai The Ice Queen runtuh sepenuhnya saat dia berada di dalam rumah bersama kakak-kakaknya. Dia kembali menjadi seorang adik perempuan yang manusiawi, yang bisa mengeluh lelah atau tersenyum manis saat berkumpul bersama.

Namun, hal ini justru membuat sifat posesif kelima kakak laki-lakinya meledak tanpa rem dan menjadi ugal-ugalan.

Pagi itu, di ruang kerja utama, Alana baru saja menduduki kursi kebesarannya ketika Dominic dan Cedric masuk dengan wajah kaku, saling melempar tatapan membunuh.

"Mulai hari ini, jadwal pengawalan pribadimu diubah, Alana," Dominic membuka suara dengan nada otoriter yang luar biasa protektif. "Aku yang akan berjaga di depan pintumu dari jam enam pagi sampai enam sore. Cedric terlalu ceroboh untuk menjaga keselamatan fisikmu."

"Jaga mulutmu, Dominic!" bentak Cedric, tidak terima. Pria bertato ular itu melangkah maju, membusungkan dadanya yang masif di depan meja Alana. "Aku adalah panglima militernya Alana! Aku yang tahu bagaimana cara mematahkan leher mata-mata dalam hitungan detik. Aku yang berhak menjaganya sepanjang hari!"

Sebelum Alana sempat merespons, pintu ruangan kembali terbuka kasar. Xavier masuk dengan setelan jas mahalnya, diikuti oleh Julian yang membetulkan letak kacamatanya dengan senyuman dingin, serta Adrian yang sibuk dengan tabletnya.

"Kalian berdua berisik sekali," cibir Xavier dengan sifat posesif finansialnya yang gila. Dia meletakkan sebuah katalog mewah di depan Alana. "Alana, abaikan dua pria otot itu. Aku sudah menyuruh desainer interior terbaik dari Italia untuk merombak total kamarmu. Aku juga sudah membelikanmu kasur medis khusus seharga setengah juta euro agar punggungmu tidak sakit lagi saat membaca berkas."

"Xavier, selera dekorasimu terlalu mencolok dan norak," potong Julian dengan nada tenangnya yang mematikan. "Aku sudah menyiapkan tim medis pribadi terbaik yang akan memantau nutrisi makanan Alana setiap tiga jam sekali. Tidak boleh ada pelayan luar yang menyentuh makanannya."

"Dan aku sudah meretas seluruh sistem pendingin ruangan ini agar suhunya selalu pas untuk Alana!" seru Adrian tidak mau kalah, mencoba mencari perhatian sang adik.

Alana menatap kelima kakaknya yang kini malah bertengkar hebat hanya karena masalah sepele seperti dekorasi kamar dan jadwal pengawalan. Alih-alih merasa terganggu, sebuah tawa kecil yang sangat manis dan tulus lolos dari bibir Alana. Sudut hatinya yang dulu beku kini benar-benar telah mencair.

"Kak Dominic... Kak Cedric... Kak Xavier... Kak Julian... Kak Adrian... cukup," ucap Alana dengan nada manja seorang adik perempuan yang tulus.

Mendengar suara lembut Alana yang memanggil mereka semua dengan sebutan 'Kakak' secara berurutan, kelima pria kejam yang ditakuti oleh seluruh dunia bawah tanah itu seketika mematung di tempat. Amarah mereka menguap begitu saja, digantikan oleh kilatan rasa sayang yang luar biasa protektif di mata mereka. Bagi mereka berlima, mendengar Alana memanggil mereka seperti itu adalah sebuah candu yang membuat mereka rela meratakan dunia demi gadis itu.

"Karena luka di punggungku sudah sembuh total... bagaimana kalau kita jalan-jalan hari ini?" tanya Alana dengan senyuman manisnya.

Sore harinya, pusat kota Monte Carlo, Monako, menyaksikan sebuah pemandangan yang sangat ikonik dan mencengangkan.

Distrik perbelanjaan paling mewah yang biasanya dipenuhi oleh kaum elit global, sore itu mendadak sepi secara tidak wajar. Xavier Garrick telah mengeluarkan jutaan euro untuk menyewa dan mengosongkan seluruh distrik butik mewah tersebut selama tiga jam penuh, hanya agar Alana bisa berjalan-jalan santai menikmati udara sore tanpa perlu berpapasan atau diganggu oleh orang asing.

Alana berjalan dengan anggun di atas Altar marmer distrik tersebut, mengenakan gaun kasual berwarna putih yang cantik.

Di kiri dan kanannya, Dominic dan Cedric berjalan tegap sebagai perisai manusia yang masif. Menggunakan setelan jas hitam legam dan kacamata hitam, kedua pria bertubuh kekar itu terus melemparkan tatapan membunuh yang sangat pekat kepada siapa saja—bahkan pelayan toko sekalipun—yang berani memandang Alana lebih dari tiga detik. Tangan mereka tidak pernah lepas dari balik jas, siap mencabut senjata jika ada ancaman sekecil apa pun.

Di belakang Alana, Xavier berjalan dengan senyuman puas, membawa kartu hitam tanpa batasnya yang siap menggesek apa pun yang dilirik oleh mata Alana. Sementara itu, beberapa ratus meter dari sana, sebuah van mini mewah yang gelap terparkir di pinggir jalan. Di dalamnya, Julian dan Adrian sibuk memantau jalannya perjalanan melalui layar monitor. Adrian telah meretas seluruh CCTV kota dan lampu lalu lintas Monte Carlo untuk memastikan perjalanan sang adik berjalan sempurna tanpa hambatan ataupun kemacetan.

Sesi jalan-jalan itu diakhiri di sebuah restoran bintang lima yang menghadap langsung ke pelabuhan Monako, menampilkan pemandangan kapal-kapal pesiar mewah di bawah langit senja yang merona jingga.

Alana duduk di kursi tengah yang paling nyaman. Di sekeliling meja, kelima kakaknya sibuk memperlakukannya layaknya seorang ratu yang rapuh. Dominic dengan telaten memotong daging steak di piring Alana menjadi potongan-potongan kecil yang mudah dimakan, Xavier sibuk menyodorkan buah-buahan segar, sementara Cedric dan Julian berebut menuangkan teh hitam hangat ke dalam cangkirnya.

Alana menerima semua perhatian gila dan protektif itu dengan senyuman hangat yang menghiasi wajah cantiknya. Sambil menyesap tehnya, Alana menatap wajah kakak-kakaknya satu per satu.

Di dalam hatinya, Alana berbisik dengan penuh rasa syukur. Dia tidak pernah mendamba untuk menguasai dunia. Tujuan hidupnya sejak awal sangat sederhana: dia hanya menginginkan kehidupan yang cukup, uang yang banyak agar dia bisa membeli apa saja, keamanan yang mutlak tanpa perlu takut mati esok hari, dan yang paling penting... memiliki orang-orang yang tulus menyayangi dan menjaganya.

Malam itu, di bawah langit Monako yang indah, Alana tahu bahwa tujuan hidupnya telah tercapai seutuhnya. Buku pertama dari perjuangannya telah ditutup dengan kemenangan manis, dan dia kini siap menghadapi badai dari dunia luar bersama kelima pelindung setianya.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!