Stevani Safira adalah putri seorang mandor bangunan. Ia harus rela meninggalkan kekasihya yang seorang dosen karena harus membayar kerugian perusahaan yang diakibatkan oleh oknum yg tidak bertanggung jawab.
Para oknum itu menjebak Ayahnya seolah olah ayah gadis itu terlibat.
Bukti bukti yang didapat perusahan mengarah bahwa Ayahnya benar benar terlibat.
Kerugian senilai miliyaran harus dia bayar dengan pernikahan.
Big bos perusahan itu mengingikan Stevani menjadi budaknya seumur hidup berkedok pernikahan.Agar ayahnya tak dijebloskan ke penjara.
Stevani terpaksa berhenti dari kuliahnya, karena dia benar benar dipenjara oleh suaminya, mahasiswi tataboga ini terpaksa menghabiskan hari harinya di rumah big bos tersebut.
Willam Wijaya adalah nama big bos ayah Stevani.William pernah pengalami kegagalan dalam hubungan percintaanya,yang mengakibatkan perubahan sikap yg amat drastis.
Dia menjadi pribadi yang kasar arogan dan dingin.
Akankah Stevani mampu menjalani hari harinya ditengah tekanan.
Hinanan dan perlakuan kasar suaminya.
Simak kisahnya selanjutnya ga gaes.
Dalam Kasabaran Cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meski Tau
William menatap kesal pada wanita yang baru saja mencumbunya, tak henti hentinya dia mengucapkan sumpah serapah kepada papanya.
"Tunggu saja kalian yang mempermainkan aku ha, sial." William masih mengumpat kesal, dia melajukan mobilnya ke apartemen Eric berharap Eric bisa membuatnya lebih tenang, sesampainya disana dia melihat Eric sedang serius mencari informasi yang di minta nya.
"Dasar manusia jadi jadian, beginian mau dijadiin istri." umpat Eric, Eric masih setia menutak atik laptopnya,mengumpulkan bukti bukti yg dikirim orang suruhanya, tak lama William datang dan langsung masuk ke apartemen Eric.
"Hay Ric, gimana." sapa William.
"Udah bos semua siap lebih jelasnya kita buntuti sendiri aja." jawab Eric mantap.
"Heemmm." William menyenderkan tubuhnya ke sofa dan menggigit jarinya.
"Orang nya sih oke bo seksi pakek banget, bos lihat aja kalau ke club," Eric memperlihatkan foto foto sexy Anita ketika berada diclub.
"Tau gue tadi aja udah ngajakin gue ML." jawab Willam, Eric terkejut.
"Serius bos." Eric menutup laptopnya.
"Heemmm pasti dia uda ahhh...sial bener gue." umpat Willam sambil melempar jas nya ke sofa.
"Nolak aja bos kan bos udah tau tu cewek ga bener." Eric mencoba memberi ide.
"Ga semudah itu Ric lo ngrasa ga kepergian Vani ada hubunganya sama ini." jawab William Eric mengangguk agukan kepalanya, masuk akal juga batin Eric.
"Hah bisa jadi bos." jawab Eric.
"Gue kenal bokap gue, kalau gue nolak keselamatan mereka jaminanya." Willam megutarakan isi pikiranya pada Eric, Sekarang Eric paham meski Willi tau calon istrinya seperti itu dia tidak mampu menolak karena keselamatan orang orang yang ia sayangi jadi jaminanya.
"Sial juga bokap lo bos eh maaf bos." Eric keceplosan mengucapkan sumpah serapahnya.
"Ga papa santai aja kita harus hati hati ngadepin si tua bangka sialan satu ni." Willi sudah tak mampu lagi menahan Emosinya.
"Bos, sebaiknya kita harus tau dimana Vani sekarang."
"Heemmm."
"Sebaiknya saya fokus nyari Vani aja dulu ya bos." Eric memberi penawaran.
"He em, biar kita tau dia sama anak gue aman."
"Bos anak lo imut banget gemes gue."
"Ya iya lah lo lihat aja bapaknya kece, emaknya apa lagi." William kambuh narsisnya.
"Heemm udah bucin ya bos ama Vani."
William tersenyum.
"Nama anak lo siapa bos."
"Devan Nicholas." jawab William otak Eric langsung bekerja, sepertinya ga asing eh, Devan Devan Eric berusaha mengingat, kayaknya pernah denger dimana ya, batin Eric.
"Bos kemarin ketemu Vani sempet main ga." goda Eric.
"Kepo lo ya ga lah ga halal ***** mana dia mau." jawab William sambil merebahkan tubuhnya ke sofa.
"Ya kan cinta bos, biasanya bos juga main trobos." ledek Eric.
"Kalau ama dia lain lah." dih sarafnya waras tumben hahaha.
"Gue tambah yakin kalau bos cinta mati sama Vani." tambah nya.
"Sok tau lo kerjakan perintah gue jangan omong lo brengsek." umpat Willi sambil melepar bantal sofa ke arah Eric.
"Paling ga udah mimik susu dong bos." Eric makin bersemangat menggoda bosanya.
"Dibilang enggak dia ga kasih." William selalu terpancing untuk membalas candaan Eric.
"Seriusan bos pelit amat Vani." Eric masih belum mau berhenti.
"Bukan pelit kami lagi ga halal ***** ga ngerti ngerti ni anak." William mulai kesal.
"Iye bos iye bos yakin ni bos mau nikahin cewek yang begini."
"Heemm ga masalah buat gue kita kan udah tau kartu as tu cewek, tinggal kita cari tau aja tu tujuan utama si tua bangka brengsek itu." William benar benar kesal pada papanya.
"Kira kira bos bakalan tidur sama ni cewek?" tanya Eric
"Ga lah gue udah janji sama Vani yang penting lo cari Vani aja." jawab William, Dia yakin bisa memegang teguh pendirianya.
"Siap bosku." William menatap kosong kedepan sambil mengigit bibirnya Eric tau benar jika bosnya saat ini kacau.
"Bos, gue pesenin makan ya."
"Ga usah Ric."
"Eh, tumben bos."
"Kangen masakan Vani gue, dari pada makananya gue buang ntar." William hanya alasan sebenernya dia lagi ga bisa merasakan rasa masakan, hatinya benar benar kacau.
"Ya udah, eh bos nanya sekali lagi boleh kagak."
"Heemmm."
"Simandor itu seriusan ayah nya Vani."
"He em."
"Tapi kan bukan cuma dia yang nyolong bos."
"Tau gue kayaknya itu juga bukan ulah mak tiri gue, pasti bokap lah." Willi sudah yakin dengan pemikiranya.
"Bisa jadi bos nyatanya dia kemarin sebut jelas banget."
"Heemm."
"Motifnya ape ya bos."
"Dibilang gue cuma dimanfaatin ama si tua bangka sialan itu."
"Kan bos udah keluar dari rumah?"Eric bertambah bingung.
"Ya kan dia selalu nganggep gue mainanya dia mau gue tetep kerja ama dia, nurutin apa mau dia eh Ric, kayaknya nyokap gue masih hidup deh, lo coba lacak dong." William bangkit dari tidurnya, lalu duduk dikarpet bersamaan dengan Eric, Eric menuruti perintah Willi dan menyalakan laptopnya kembali.
"Hah, bos serius."
"Lah kan kemarin bokap bilang jelas banget kan, ngelihat sifat bokap gue bisa jadi selama ini gue diboongin Ric bener ga."
"Heeemmm bisa jadi bos." Eric makin serius dengan laptopnya.
"Gue takut nyokap udah diapa apain ama bokap gue."
"Kejem banget sih bos bokap lo."
"Heemm, gue juga ga tau tu manusia apa iblis sebenernya."
"Bos, maaf banget ni ye."
"Kenapa?"tanya Willi.
"Bos kuat banget sih."
"Kuat kenapa."
"Kalau gue jadi bos, udah lari gue."
"Lari kemana, lo pikir gue ga pernah kabur, sering ***** ketangkep lagi ketangkep lagi, ampek bosen gue." William jadi teringat kenangan masa lalunya dimana dia sering kabur ketika tinggal di mension papinya diSingapura.
"Bos, kenapa ga pernah cerita sih." tanya Eric lagi.
"Lo tau kan temen aja gue dibatesi, pulang kuliah dijemput kayak anak kecil." Eric tau itu, Willi tak pernah bisa kemana mana jika main dikosanya dulu aja dia nyolong nyolong.
"Bos, kenapa bos ga nanya paman bos soal mama bos."
"Dia ga berani jawab Ric takut ama bokap, emang lo pikir gue ga pernah nanya." jawab Willi.
"Aduh, gue jadi pusing sama tuan besar bos, kayak gurita aja tentakelnya banyak." Eric masih belum menemukan apapun soal mamanya Willuli.
"Lama lama kalo udah ga bisa nahan gue bakal lempar tu situa bangka ke bikini botom, biar main sono ama petrik." William memainkan kunci mobilnya
"Hahahahahahah, bos bos..suasana gini aja bos masih bisa becanda Ya Tuhan.."Eric tertawa terbahak bahak.
William hanya tersenyum melihat Eric tertawa sampai mengeluarkan air matanya.
"Jujur aja gue bosen sakit Ric, pas ketemu Vani tu gue seneng banget, dia kalau ngelus rambut gue bikin nyenyak, berasa punya emak gue." William masih setia mengenang kasih sayang Vani untuknya.
"Tau bos, bos kayak ga pernah bobo kalo deket Vani, bangun siang mulu, jam 9 jam 11..itu juga gue bangunin."
William tersenyum malu."Diem lo." umpat William.
"Vani manjaain bos banget ye ." Eric merasa sedikit lega, setidaknya Willam bisa merasakan kebahagiaanya ketika dia mengajaknya mengenang Vani.
"He em, dia lembut banget Ric, gue iri sama Devan." William mengigit jari jarinya, Eric tau William menahan rasa perih didadanya.
"Astaga bos, dia anak elo."
"Tau gue gue iri Devan punya Ibu, punya gue ga tau kemana." William semakin dalam jatuh kedalam rasa sakitnya.
"Sabar bos, Insya Allah kalo Vani jodoh elo doi bakalan balik, bakalan ketemu, percaya aja." Eric mengingatkan Willi agar selalu percaya pada keajaiban jodoh.
"Semoga pas ketemu nanti, dia belum jadi milik orang ya Ric." William masih berharap akan keajaiban cintanya.
"Mikirin itu, ini bos aja mau jadi milik burung hantu." Eric kesal.
"Yang penting lo cari bukti aja, bila saatnya tiba tinggal di lempar juga ke bikini batom, biar pacaran sono ama plangton." Sisi kocak Willi keluar lagi, Eric tersenyum.
"Kok plangton bos kan kecil bos, doi kelihatanya suka yang gede." otak Eric mulai ikutan geser.
"Hahaha, tau ah..jadi ngomong yang ga enggak kita." William berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju dapur mencari minum, Eric pun haus dan mengikuti William.
"Bos, bos kalau ada apa apa cerita aja, selain soal kerjaan, jangan di pendem sendiri." Eric berusaha membuat Willi terbuka padanya, Agar Willi tak memikirkan sendiri masalahnya.
"Heemm.."
"Gue bakalan setia sama bos, sampai kapanpun."
"Yakin lo, ga cuma mau harta gue doang."
"Ya salam bos bos, pernah ga sih gue perhitungan sama bos, ga kan, kita kenal kan dari kuliah, masak ga kenal kenal sama gue, aaaiiissstt, bener bener lo bos."
"Iya gue tau karena cuma lo temen gue."William menepuk pundak Eric.
"Sama mak lampir sebenernya, tapi doi malah gitu."
"Ric."
"Heemmm."
"Gue ga pernah lihat lo sama cewek, lo gay ya, jangan jangan lo suka ama gue." Eric terkejut dengan pertanyaan gila sahabatnya.
"Ih najis enak aja gue sebenernya naksir cewek bos." Eric meminum kembali airnya.
"Siapa, ngarang lo." Willi tak percaya dengan Ucapan sahabatnya.
"Bos, mana pernah sih gue ngarang, bos inget ga, bos pernah minta semangka kuning 2 tahun lalu.." Mata Eric berbinar ketikaengingat kejadian itu.
"Kapan, lupa gue."
"Aisst, bos dua tahun lalu pernah minta macem macem kayak orang ngidam juga." Eric mencoba mengingatkan tingkah konyol Willi.
"Eh, mana ada." sebenernya William ingat, dia hanya pura pura lupa.
"Iye bos, lah pas waktu itu saya rebutan sama bidadari bos, belum lama gue ketemu doi lagi di mall kita di Surabaya, belum sempet minta nope nya doi kabur, apes bener gue."
"Hahahahah...seriusan lo Ric?" tanya Willi, dia percaya sahabatnya ini memang selalu jujur padanya.
"Iye bos, doi bilang kalau ketemu sekali lagi mau kasih, ehh, ga ketemu ketemu lagi sampai sekarang."
"Belum jodoh Ric, sabar aja."
"Soal cinta nasib kita mirip mirip bos dalam penantian, hahaha apes apes."
Ya begitulah persahabatan Willi dan Eric. Selalu mendukung satu sama lain.
***Bersambung**