Kisah cinta seorang wanita yang berlumuran dosa yang dipertemukan dengan lelaki sholeh
Thara dijodohkan dengan Ayaz lantaran tidak tahan dengan sikap anaknya yang liar dan diluar kendali. Surya yang merupakan ayah dari Thara memilih Ayaz, yang merupakan murid teladannya dulu. Dia yakin bersama Ayaz, Thara akan berubah menjadi wanita baik-baik. Mengingat reputasi Ayaz yang gemilang dan juga ke shalehannya.
Namun keluarga Ayaz tidak setuju anaknya dinikahkan dengan wanita liar seperti Thara. Ibunya takut hal itu akan membuat malu nama baik keluarga. Namun karena Surya banyak berjasa pada Ayaz. Membuat pria itu mau tidak mau menyetujui perjodohan itu.
Lalu bagaimana rumah tangga mereka, mengingat sifat mereka yang sangat jauh bertentangan.
Apakah Ayaz mampu mendidik istrinya? membuat Thara jatuh cinta atau malah menyerah karena tidak tahan dengan wanita itu.
"Tidak ada yang menginginkan pernikahan ini! untuk apa ditanggapi dengan serius. Urus, urusanmu sendiri. Jangan ikut campur dengan urusanku!!"
"Memang kita tidak menginginkan pernikahan ini, tapi ketahuilah bahwa segala sesuatu yang terjadi atas kehendak ALLAH. Kau adalah amanah dari ayahmu untukku, Thara. Dan tanggung jawabku begitu besar terhadapmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aff18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
"Kalian mau kemana?" tanya Mama Gina melihat Ayaz dan Thara sudah sangat rapi.
"Mau kontrol kehamilan Thara, Ma."
"Oh, kalo gitu biar Mama aja. Mama tahu dokter spesialis kandungan yang sangat ahli."
"Nggak, Ma. Biar Ayaz aja. Ayaz juga tahu dokter kandungan terbaik disini."
"Heh, emangnya kamu nggak ada kerjaan apa? cari duit aja sana yang banyak! kamu pikir biaya lahiran itu sedikit?! Mama nggak mau ya, Thara lahiran di sembarang tempat. Dia bukan kucing! Mama mau bawa dia lahiran diluar negri. Tempat paling mahal dan elit untuk menyambut cucu pertama Mama."
Ayaz memutar matanya. Dia akui Mamanya sudah sangat berlebihan sekarang.
"Apa Mama lupa kalo Ayaz ini Bos nya? lagian ngapain jauh-jauh lahiran di luar negri, Ma. Keburu berojol di pesawat nanti."
"Pokoknya biar Mama aja yang anterin Thara. Kamu kerja aja sana yang bener," ucap Mama Gina dengan kekeras kepalaannya. Thara hanya menatap keduanya secara bergantian. Memperdebatkan hal yang sangat sepele membuatnya hanya tercengang heran.
"Nggak bisa. Ayaz ini suaminya, ya jelas Thara lebih membutuhkan Ayaz didekatnya. Bukan Mama!" Ayaz tidak mau kalah.
"Heh, Ayaz! Mama ini udah jauh berpengalaman dari pada kamu. Tau apa kamu masalah kehamilan!"
"Ayaz bakal cari tau Ma. Mama pikir Ayaz ini gak sekolahan apa? lagian ngapain Mama mau nganterin Thara segala, mending Mama fokus aja sama kesehatan Mama sendiri."
"Kamu pikir Mama ini penyakitan, apa?! jangan sampe darah tinggi Mama kumat lagi gara-gara kamu ya!!"
Melihat perdebatan antara ibu dan anak yang sepertinya tidak akan ada habisnya itu, membuat Thara merasa jengah.
Sedangkan Bi Ratni yang juga menyaksikan perdebatan itu berusaha untuk menengahi.
"Aduh, Nyonya. Tuan, sudah jangan berdebat. Gimana kalo-"
"DIAM KAMU!!"
Suara kompak dari ibu dan anak itu membuat Bi Ratni segera menutup rapat mulutnya. Dia menyesal telah berani menengahi kedua orang yang sama-sama keras kepala dan over protektif.
"Pokoknya biar Mama aja yang anterin. Tugas kamu cari duit yang banyak!"
"Jadi mesin pencari uang aja gak cukup buat bikin istri bahagia, Ma. Thara juga butuh perhatian dan waktu Ayaz. Pokonya Ayaz tetap mau nganterin Thara."
"Dasar anak kepala batu! nggak pernah mau ngalah sama orang tua. Mama ini lebih paham dari pada kamu!"
Thara memijit pelan kepalanya. Perdebatan seperti ini memang tidak akan ada habisnya. Thara memilih duduk dan mendekati Bi Ratni.
"Kamu hebat, Nya. Dulu, pas saya hamil. Suami saya malah susah diminta buat nemenin saya kontrol. Baru kali ini saya menyaksikan orang tua sama anak rebutan buat nganterin kamu kontrol. Jadi iri saya liatnya," bisik bi Ratni didekat Thara.
"Tapi kalo kayak gini, Thara kapan kontrolnya Bi. Mereka masih asik berdebat. Thara duduk disini aja lah nontonin mereka."
"Hihihi. Iya, gak usah dipeduliin. Nyonya makan aja dulu. Biarin mereka sibuk dengan perdebatan unfaedah nya. Nanti juga capek sendiri." bi Ratni terkikik geli.
"Ayo sayang, kita pergi!" Ayas menarik tangan istrinya. Membuat Thara tiba-tiba berdiri dari duduknya.
"Eh, eh. Jangan jadi anak durhaka kamu ya! pokonya biar Mama aja yang bawa Thara kontrol. Ayo Thara!"
Mama Gina menarik tangan Thara yang satunya. Sementara genggaman Ayaz semakin erat. Sampai akhirnya terjadilah tarik menarik yang membuat Thara memekik kesal.
"CUKUP!! Kenapa nggak dua-duanya aja sih?! nggak perlu ribut kayak gini," ucap Thara yang nyaris mengerang kesal.
Mereka berdua terdiam dan saling menatap dalam raut wajah yang kesal. Namun tidak bisa dipungkiri dengan cara itulah keduanya bisa damai.
Sampai akhirnya Mama Gina benar-benar ikut mengantar Thara memeriksakan kandungannya.
Namun sayang, bahkan didalam perjalanan pun mereka masih sempat-sempatnya berdebat. Hingga memaksa Thara menutup telinganya.
"Mending kamu putar arah. Mama lebih percaya sama dokter yang dulu bantu Mama buat ngelahirin kamu! dia lebih berpengalaman dan lulusan terbaik dari luar negri."
"Aduh Ma... Mama gak sadar apa, Ayaz udah setua ini?! ya jelas dokter itu udah renta, kalo enggak udah meninggal. Mana bisa lagi dia ngurusin ibu hamil."
"Tapi kan masih ada anaknya! jangan ngeyel kamu Ayaz, Mama nggak mau sembarangan milih dokter. Harus dicek dulu, lulusan mana dan pengalamannya udah sejauh mana. Kamutuh jangan nganggep sepele hal kayak gini, ya. Ini anak pertama kamu loh!"
Ayaz kembali menghela nafasnya. "Ayaz yakin ini juga dokter terbaik Ma. Udahlah jangan cerewet. Bisa meledak kepala Ayaz kalo Mama gak berenti ngoceh aja!"
"Awas aja kalo gak sesuai sama kriteria Mama! Mama suruh tutup itu rumah sakitnya."
"Astaga.... "
****
"Apa Anda ada keluhan? Seperti morning sickness dan yang lainnya?"
"Enggak dok? Cuma sering lemes dan kepala suka pusing. Kalo mual-mual kayaknya enggak deh!"
"Oke baik. Berhubung kehamilannya baru berusia 4 minggu. Untuk saat ini kita belum bisa melakukan banyak prosedur. Tapi kita bisa melakukan USG untuk pertama kalinya di trimester pertama ini. Silahkan berbaring... "
"Pantes kamu nggak mau dokter pilihan Mama. Pasti karena dia cowok kan? Kamu lebih milih istri kamu diperiksa dokter cewek. Dasar!" Bisik Mama Gina yang membuat Ayaz malah terkekeh. Karena memang benar itu salah satu alasannya.
"Anak saya yang mana Dok?" meski Ayaz mendengar celoteh Mama Gina. Namun matanya tidak pernah berpaling dari layar monitor yang menunjukkan kehadiran anaknya.
"Disebelah sini, Pak."
"Mana? nggak keliatan."
"Haduh, apa Mama bilang kan. Kamu tahu apa, Ayaz. Usia kehamilan istrimu itu masih kecil. Ya jelas janinnya juga masih kecil. Kamu ini gak salah-salah lulusan terbaik, giliran ngadepin ginian aja gak ngerti!"
"Ya, mana Ayaz tau Ma. Inikan pertama kalinya."
"Benar Pak. Di usia kehamilan sekarang, ukuran janin masih sangat kecil. Pada tahap ini, bayi Anda berukuran sebesar biji bayam atau biji kacang hijau, yaitu sekitar 2 milimeter. Secara teknis janin yang istri Anda kandung sudah bisa disebut sebagai embrio." Dokter itu mencoba menjelaskan.
Ayaz mengangguk mengerti.
"Apa ada yang mau ditanyakan?"
"Jadi begini dok. Kapan kami bisa-"
PLETAK
"Auh!"
"Apa, hah! Mama tau ya, kamu mau nanya apa! apa kurang jelas yang Mama bilangin kemarin. Kamu harus puasa dulu, Ayaz. Tahan diri sebentar, kasian usia kehamilan istri kamu masih sangat muda."
Dokter itu ingin menyela, namun sayangnya dia tidak punya kesempatan.
"Ayaz cuma mau mastiin aja, Ma. Bukannya gak percaya. Apa salahnya coba?"
"Maksud saya, apa nggak ada solusi lain, Dok?"
Dokter itu ingin menjawab, namun sayang. Mama Gina sudah kembali menyelanya. Hingga ucapan sang Dokter hanya bisa tertahan.
"Nggak! nggak ada solusi. Jangan ngeyel ya kamu kalo dibilangin. Udah, Dok. Kalo gitu kami pulang dulu. Saya nggak mau nanti anak saya semakin banyak tanya yang aneh-aneh. Bikin malu aja!"
"Astaga Mama...."
****
AYO TEKAN LIKE, VOTE DAN HADIAH
thara menag banyak juga, masah bersenang2, sex bebas, hura2, poyah2, dan akhiratnya dapat lelaki yang mencintanya, dan menerima dia apa adanya, bahkan berjuang untuknua
atas lelaki sejati,
fatma miris, berjuang mendapatkan hati lelaki pujaanya tapi miris pujaannya malah nikah dengan wanita lain, dan dia dihujat karena mencinta suami orang, dan miris sekali hidupnya author hukum dia dengan diperkosa dan diperlakukan sangat hina dan kasar
satu kesalahan besar fatma bukan mencintai suami orang tapi fatma mencinta suami pemeran utama wanita karena dasarnya author dan readernya wanita jadi mereka ngehalu diposisi pemeran utama wanita jadi pelakor mereka laknat habis tapi pebinor mereka jaga
*saat fatma melakukan kesalahan mereka beramai menhujat, melaknat dan memaki fatma
tapi
*saat viky melakukan kesalahan meraka diam, tidak mempermasalahkan itu
inilah sikap egois wanita yang dibawa reader dalam berkomentar
*mereka akan melaknat wanita yang menyukai suami alias pelakor
*tapi memaklumi dan terkesan baper dengan lelaki lain yang menyukai mereka, jadi semua kelakuan lelaki itu mereka maklumi bahkan mbenarkan
aku tunggu ucapan thara "maafkan karena tidak sempurna dan Terima kasih suamiku karena ikhlas menerima aku apa adanya" ucapan ini simple tapi sangat banyak maknanya
*membuat suami merasa dihargai dan dianggap
*membuat thara merasa bersukur dan berterima kasih
*membuat thara naik derajatnya karena peka terhadap perasaan suami
*membuat thara naik derajat karena sadar akan kesalahannya
tapi sayang sekali thara tidak pernah mengucapkan kalimat itu