Hiatus
Balas dendam memang dapat memuaskan hatimu, tapi itu tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik.
Kesalahan orangtua dimasa lalu berimbas pada kisah percintaan yang sudah terjalin.
Seguel dari kisah "TERPAKSA MENIKAH"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanzhuella annoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
🍀🍀🍀
Pagi menjelang tapi matahari belum menampakan sinarnya.
Cup
Sebuah ciuman mendarat di seluruh wajah cantik yang masih terlelap dalam mimpi indahnya.
" Minggu depan aku datang lagi " gumamnya.
Pria jangkung itupun keluar dari kamar sederhana. Menghampiri Bik Sumi yang sibuk membuatkan sarapan.
" Bik, jaga dia. Aku akan kembali minggu depan " ucapnya sebelum pulang.
" Iya Tuan " balas Bik Sumi.
Sedangkan di kamar, wanita hamil muda itu terduduk. Malam ini ia bermimpi memeluk dan menciumi mantan suaminya, mimpi itu seakan nyata baginya.
" Hmmm ternyata hanya sebuah mimpi " lirihnya kecewa karena ia mengira itu adalah nyata.
" Selamat pagi sayangnya Mom " ia menyapa calon bayi mungil itu sembari mengelus perut yang masih rata.
Tiba-tiba mual menyapa paginya, ia pun bergegas ke kamar mandi. Setiap pagi sudah menjadi kebiasaannya memuntahkan isi perutnya.
Setelah selesai membersihkan diri, Vita keluar menuju dapur. Rasa lapar mulai menyerang.
" Bik, masak pagi pagi ini? " tanyanya sembari meneguk segelas susu yang selalu disiapkan Bik Sumi setiap pagi. Walaupun Vita melarang tapi tetap saja wanita tua tersebut melakukan tugasnya.
" Pagi ini Bibi masak sup ayam Non. Non segera makan, mumpung masih hangat "
" Vita suka Bik " Vita memulai menikmati makanan yang sudah dihidangkan, sembari tersenyum-senyum menandakan ia sangat senang.
" Non sepertinya sangat senang pagi ini? " tanya Bik Sumi karena tidak biasanya anak majikannya seperti ini.
" Hmmm iya Bik, malam ini Vita begini nyenyak. Bahkan si baby ikut tertidur pulas juga, biasanya Vita berkali-kali terbangun tapi tadi malam begitu nyaman " terangnya sembari mengingat akan mimpi indahnya.
" Baguslah Non, berarti calon cucu Bibi anak baik " ucap Bik Sumi.
" Iyalah Non..... karena Papanya menemani kalian tidur " ucap Bik Sumi dalam hati.
Tapi satu hal yang Vino tidak ketahui, jika tentang itu Bik Sumi sengaja menyembunyikan. Wanita lanjut usia itu tidak ingin ada sesuatu yang terjadi.
🍀🍀🍀
Seperti biasanya Vino menjalani aktivitasnya didua bidang. Malam ini ia menghadiri ulang tahun salah satu kliennya yang diadakan di hotel berbintang. Pada dasarnya ia malas untuk menghadiri acara itu tapi tidak enak hati karena mereka sudah cukup dekat.
Ia sangat lelah, waktu istirahatnya berkurang. Belum lagi bolak-balik mengunjungi wanita yang masih ia cintai.
Tok tok tok
" Masuk "
" Apa Tuan sudah bersiap? " tanya Ryan, anak pelayan mendiang kedua orang tuanya. Kini dialah yang menjadi Asisten pribadi Vino.
" Hmmm kita segera berangkat " ucapnya bangkit dari kursi kebesaran. Mereka pulang kantor langsung menuju tempat dimana pesta diadakan.
Kini Vino dan Ryan sudah berada dalam hotel. Keduanya masuk kedalam lip memencet tombol angka sesuai tujuan.
" Selamat ulang tahun semoga panjang umur bro " ucap Vino memberi selamat pada Tn. Richardo.
" Terimakasih sudah berkenan hadir. Silahkan nikmati pesta sederhana ini bro " padahal ini pesta sangat mewah. Richardo mengatakan di hotelnya sendiri.
Vino dan Ryan mencari tempat duduk yang sudah tertata rapi.
Acara penipuan lilin dan potong kue telah usai. Kini tersedia jamuan untuk para tamu undangan, termasuk Vino menikmati hidangan sebagai makan malam.
Di pojok sana sejak dari awal tadi memperhatikan Vino dengan sang Asistennya. Ia memanggil pelayan yang membawakan beberapa gelas berisi jus.
" Beri ini pada minuman ini, dan beri pada pria jangkung memakai kemeja warna putih, dimeja no 3 " ucap seseorang itu sembari meletakan amplop berisi uang ditangan pelayan tersebut sebagai bayarannya.
" Laksanakan " tegasnya dengan mata tajamnya.
Sang pelayan memberikan minuman jus itu di setiap orang yang belum mendapatkan.
" Silahkan diminum Tuan " ucap sang pelayan di meja sasaran. Meletakan minuman jus dihadapan Vino dan Ryan.
" Terimakasih " balas Ryan segera meneguk minuman itu karena kebetulan haus. Begitu juga dengan Vino, ia merasa kehausan.
" Ryan, apa kamu sudah selesai? jika begitu kamu duluan saja pulang. Aku sebentar lagi menyusul, ada sedikit urusan yang ingin ku selesaikan " terangnya pada Ryan.
" Baiklah Tuan, jika begitu saya permisi " dan diangguki oleh Vino.
Vino merasa ingin BAK, ia bangkit dan segera menuju toilet. Keluar dari toilet, tiba-tiba ia merasakan kantuk luar biasa.
" Kenapa aku sangat ngantuk? tidak seperti biasanya jam segini sudah ngantuk " gumamnya sembari memijit ujung keningnya.
Bukk
Vino tersungkur di dinding, rasa kantuk itu tidak bisa ia tahan sehingga membuatnya tersungkur di dinding. Seorang pria memapah tubuhnya, membawakan masuk kedalam kamar hotel yang sudah dipesan.
" Kerja bagus " wanita itu melemparkan amplop berisi uang kepada pria yang memapah Vino.
Kini Vino sudah terbaring di kasur dengan tidur nyenyak nya.
" Kamu begitu tampan Dokter Vino. Beruntung sekali wanita sia*an itu memilikimu " ucap tidak suka wanita itu sembari menelusuri seluruh wajah Vino menggunakan jari telunjuknya. Mengagumi wajah tampan didepan matanya saat ini.
" Malam ini dan seterusnya kamu akan menjadi milikku, dan akan menjadi milik Dokter Tari seorang " bisiknya dengan nada sensual di telinga Vino.
" Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku tidak perduli dengan statusmu sayang... malam ini milik kita berdua " bisiknya kembali sembari membuka satu-persatu kancing kemeja Vino.
Deg
Ia kagum melihat tubuh dada polos Vino, dimana menampilkan roti sobek yang begitu membuat siapapun memujanya.
Tari memberanikan diri menyentuh satu-persatu ke enam roti sobek milik Vino. Ini bukan pertama bagi dia melihat tubuh bagian dalam pria. Tari termasuk wanita kalangan nakal, pergaulannya bebas. Tapi tubuh seperti Vino hanya ini pertama baginya. Membuat aliran darah menjalar ke mana-mana.
Tari mendaratkan ciuman di bibir seksi itu sembari memotretnya. Ia segera melucutkan semua yang dikenakannya, ikut berbaring di samping Vino dan melakukan aksinya.
Pagi menjelang
" Hiks hiks hiks " tangisan wanita itu terdengar begitu pilu, sembari melilitkan selimut di tubuhnya.
" Ssst kepalaku sangat pusing " gumamnya Vino dengan suara serak khas bangun tidur. Ia berusaha membuka kelopak matanya, perlahan ia memandangi tempat asing baginya. Seketika ingatannya kembali.
" Hiks hiks " tangisan itu kembali terdengar.
Vino menoleh kearah samping, ia melihat wanita terlilit selimut. Vino bangun dan menyandarkan tubuhnya, seketika ia kaget melihat dada polosnya. Ia kembali memeriksa bagian bawah.
Deg
Ia sangat terkejut dengan mata melotot.
" Ka-kamu siapa? " tanyanya dengan bibir bergetar.
" Kamu tega melakukan ini padaku Dokter Vino. Kamu merampas mahkota yang selama ini ku jaga untuk orang yang aku cintai hiks hiks..... " Tari kembali menangis dan menolehkan tubuhnya agar bisa dilihat Vino.
Deg
" Dokter Tari!! " gumam Vino mulai panik dan tidak mengerti dengan semua ini.
" Kamu jahat Dok, tega melakukan ini padaku. Bahkan Dokter merampas mahkota yang selama ini aku jaga " ucapnya dengan isakan sembari menunduk.
Vino mengusap wajahnya, ia bisa melihat noda darah asli di selimut yang digunakan Tari membungkus tubuhnya.
" Sebenarnya apa yang terjadi? dan bagaimana aku bisa berada di sini? dan kenapa Dokter Tari bisa berada disini juga? " pertanyaan Vino bertubi.
" Seharusnya aku yang bertanya, kenapa Dokter bisa masuk kedalam kamarku. Ini kamar yang aku pesan, sudah seminggu aku menginap disini " bohongnya.
" Tapi sungguh aku tidak mengingatnya " Vino menjambak rambutnya tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi bukti noda darah itu membuatnya frustasi.
" Bagaimanapun Dokter harus mempertanggungjawabkan, aku tidak ingin sesuatu terjadi. Apalagi Dokter melakukan tanpa pengaman, bisa jadi menghasilkan benih " Tari masih terisak. Ia turun dari ranjang ingin masuk ke kamar mandi.
" Aauuu.... " teriaknya setelah kedua kakinya melangkah.
" Kamu kenapa? " tanya polos Vino.
" Ini ulah keganasan mu tadi malam, tidak membiarkanku untuk istirahat. Dokter melakukan berkali-kali. Ini sungguh perih " terangnya untuk menyakinkan Vino.
" Ahhkkk " teriak Vino membanting semua bantal ke dinding. Ia yakin yang dikatakan Dokter Tari, karena dulu Vita juga kesakitan untuk berjalan.
" Kenapa aku ceroboh sekali, tapi aku benar-benar tidak mengingatnya. " Teriaknya kembali, sedangkan wanita didalam kamar mandi tersenyum didepan cermin. Pria tampan yang membuatnya terobsesi saat ini di genggamannya.
Bersambung.....
🌻🌻🌻
Jangan lupa vote, like dan comennya.