Mira, seorang wanita yang harus hidup berkubang di lumpur penuh dosa. Mengubur semua impiannya atas masa depan dan cinta. Bukan karena alasan klise, melainkan sebuah pembalasan dendam atas orang tuanya di masa lalu.
Masa kecilnya yang begitu keras, membuat Mira menjadi pribadi yang tangguh dan tak mudah menyerah.
Hingga ia bertemu dengan pria masa lalunya, yang selalu hadir di dalam mimpi buruknya.
Akankah pria itu akan selalu menjadi mimpi buruknya? Ataukah justru menjadi penerang jalannya yang gelap gulita?
⚠️Novel ini mungkin mengandung beberapa hal-hal negatif, mohon bijak dalam memilih bacaan🙏 jika berkenan, silakan mampir dan baca ya, jangan lupa tinggalkan kritik dan saran juga di kolom komentar😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Lingga masuk ke dalam apartemennya, ketika mendengar pintu geser kamar Mira menutup.
Ia duduk di sofa yang terdapat di dalam kamar tidurnya.
Pikirannya kembali ke saat di mana ia masih berada di dalam kamar wanita dingin itu.
"Rupanya, kamu masih menyimpan benda itu. Itu artinya, kamu masih mengingat ku, Mari. Kau masih ingat semuanya. Tapi kenapa kau sangat bersikeras untuk mengakuinya?" pria itu memijit pangkal hidungnya, karena terlalu pusing memikirkan gadis kecilnya dulu, yang kini telah berubah menjadi wanita dingin, sedingin dan sekeras gunung es.
Lingga terdiam cukup lama, hingga sebuah panggilan menyadarkannya dari lamunan.
Ia pun bangkit dan berjalan menuju nakas, dan mengambil hand phone yang tengah diisi dayanya.
"Nick?" gumamnya seraya melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Segera, ia pun menggeser tombol hijau ke kanan, untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, Nick. Ada apa?" tanya Lingga langsung.
"Maaf, Tuan. Ada rapat dadakan dengan para anggota dewan direksi, terkait kepindahan mendadak Anda ke tanah air. Bisakah Anda segera datang ke kantor?" tutur Nick kepada atasannya.
"Hah … ada-ada saja para orang tua itu. Masalah gampang seperti ini, kenapa malah mereka buat rumit sih," gerutunya.
"Tuan. Halo, Tuan. Anda bisa datang kemari kan?" tanya Nick lagi, karena tak kunjung mendengar jawaban pasti dari bosnya itu.
"Baiklah! Aku sebentar lagi ke sana," kata Lingga malas.
"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya akan menunggu Anda," ucap Nicholas.
Tanpa menjawab lagi, Lingga pun segera memutuskan sambungan telepon Nick.
Ia kemudian beranjak dari tempatnya, dan berjalan menuju walk in closet, untuk mengganti pakaian santainya dengan yang lebih formal, karena sebelumnya ia hanya memakai kaus oblong dan celana bahan pendek selutut, untuk bersantai di dalam huniannya.
Lingga hanya mengenakan kemeja biru langit dengan aksen garis-garis halus, dipadu dengan celama panjang bahan berwarna navy, tanpa memakai jas dan juga dasi.
Tak ketinggalan sepatu sneaker yang ia pilih untuk out fit-nya saat itu, agar lebih santai namun tetap terkesan formil.
Ia lalu melumuri rambutnya dengan sedikit gel pomade, dan menyisirnya menggunakan jari.
Kini, ia pun berjalan keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai bawah unitnya. Ia menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja ruang tamu.
Ketika Lingga hendak membuka pintu, ia mendengar pengunci pintu otomatis di apartemen sebelahnya berbunyi, pertanda Mira juga hendak pergi keluar.
"Mau ke mana dia sore-sore begini?" gumamya yang kemudian menyusulnya keluar.
Saat pria itu keluar, Mira sudah berada di depan pintu lift sedang menungu lift itu datang.
Ia pun lalu menghampiri wanita itu, namun terlambat, karena lift datang dan dengan cepat pintu terutup sebelum Lingga mampu menyusulnya.
"Hah … ya sudahlah. Mungkin dia hanya sekedar cari makan aja," gumamnya lagi sembari menekan tombol turun di depan pintu lift.
Sesaat kemudian, lift terbuka dan ia pun bergegas turun ke area parkir basement.
Ia memarkirkan mobilnya berdekatan dengan milik Mira, karena dia memang sengaja ingin selalu dekat dengan wanita itu.
Ketika dia tengah berjalan menuju tempat mobilnya berada, dari kejauhan, dia melihat seorang pria dengan setelan hitam, berpenutup wajah, tengah berjalan mengendap-endap di belakang seorang wanita, yang sangat ia kenal.
Lingga segera berlari. Namun sayang, si pria asing telah berhasil membekap wanita itu, dengan sebuah sapu tangan yang telah diolesi obat bius.
Mira nampak melakukan perlawanan, namun karena tenaganya kalah jauh dengan pria tak dikenal itu, ia pun akhirnya berhenti dan perlahan melemas, hingga terkulai lemah.
Saat itu lah, Lingga datang dan memukul tengkuk si penyerang dengan keras hingga pria asing itu pun melepaskan Mira karena merasa sempoyongan.
Wanita itu pun terjatuh ke lantai, dan mulai tak sadarkan diri.
Sedangkan Lingga, dia berusaha menyerang balik penyerang tadi. Namun, orang itu buru-buru kabur kala melihat kehadiran Lingga yang tiba-tiba berada di tempat itu.
Lingga pun segera menghampiri Mira, dan mencoba membangunkannya dengan menepuk-nepuk pipinya agak keras.
"Mari! Mari, bangun! Mari!" panggil Lingga.
Pria itu panik bukan main, hingga ia pun segera mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya kembali ke atas.
Ia lalu membawa wanita itu masuk ke dalam apartemen miliknya, karena ia tak memiliki key card apartemen Mira. Bisa saja ia mencarinya di dalam tas Mira, namun itu bisa memakan waktu lebih lama.
Setelah berhasil masuk, Lingga segera merebahkan tubuh lemah Mira ke atas ranjangnya. Ia lalu segera menelepon seseorang dengan tergesa-gesa.
"Halo, Dok. Tolong ke apartemen The royal blossom sekerang, lantai dua puluh empat, unit nomor 245 A. Ada kondisi darurat. Tolong, Dok," seru Lingga yang menghubungi dokter pribadi keluarganya, yang telah mengabdi lama kepada keluarga Wijaya.
"Baik, Tuan. Saya akan segera ke sana. Tunggu sekitar lima belas menit lagi," sahut Dokter Tama, seorang dokter yang telah berusia lanjut dan masih aktif dalam praktek medisnya.
"Tolong cepat, Dok!" perintah Lingga.
Pria itu lalu menutup sambungan teleponnya dengan Dokter Tama, dan kembali menggulirkan layar ponselnya. dia tengah mencari kontak sekretaris pribadinya, dan kembali melakukan panggilan.
"Halo, Nick. Aku tidak jadi ke sana. Ada hal darurat yang mengharuskanku tetap tinggal di apartemen," ucapnya.
"Tapi, Tuan. Bagaimana soal rapat dengan para anggotan dewan?" tanya Nick, yang terdengar cemas.
"Beritahukan kepada mereka, kalau aku akan menemui mereka semua besok," ucap Lingga sambil memijit pangkal hidungnya, untuk mengurangi rasa pening akibat masalah yang datang bersamaan ini.
"Tapi, Tuan. Bagaimana kalau mereka marah dan melakukan sesuatu yang merugikan perusahaan? Anda tahu betul jika mereka tak suka dengan keberadaan Anda, yang dinilai kurang serius dalam bekerja. Anda harus datang dan meyakinkan mereka, Tuan. Anda …," cerocos Nick tanpa tahu apa yang tengah dialami oleh bosnya.
"Nick!" bentak Lingga yang geram dengan ocehan Nicholas.
"Katakan pada mereka untuk datang besok! Di sini, aku bosnya! Kalau tak suka, silakan mereka pergi dari Shine group sekarang juga. Aku bisa bekerja tanpa adanya mereka sekali pun. Katakan itu pada mereka!" perintah Lingga dengan nada tinggi, membuat nyali Nick untuk terus mendesak bosnya menciut.
"Be … baik, Bos."
Tanpa menjawab lagi, Lingga segera memutuskan sambungan teleponnya dengan Nick.
Pandangannya lalu tertuju pada wanita yang tengah tak sadarkan diri, dan terbaring di atas kasurnya.
Ia berjalan mendekat, dan duduk di tepi ranjangnya. Lingga meraih tangan Mira, dan menggenggamnya erat.
"Apa yang sudah menimpamu hingga membuatmu jadi seperti ini? Apakah aku salah satu penyebab membekunya hatimu, Mari?" gumam Lingga sembari mengusap lembut pipi Mira.
.
.
.
.
Next eps besok ya😊
jangan lupa like, komen dan segala dukungannya untuk novel recehan ini ya😘
*cmiiw
❤❤❤❤❤❤