Suatu kehormatan, seorang gadis muda belia memilih menikah dengan seorang dokter duda tua, daripada menjual harga diri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sifa ngompol
Mereka berdua sudah sampai dirumah.
Setelah turun dari mobil, Sifa langsung lari terbirit birit menuju kamar mandi.
Ditengah tengah tangga, Sifa langsung membuka krudung dengan paksa, copot baju juga paksa, badan lengket, capek, dan yang terakhir kebelet pipis
Sampai dikamar mandi, Sifa langsung
Kracak kracak kracak
"Iyaaaa" Sifa melemah
Ilham yang mengikuti dengan langkah cepat, langsung membuka pintu kamar mandi
"Sayang, kenapa lari?"
Wajah Sifa terlihat sedih, dan kesal
"Ngompol" Tunjuknya pada CDnya yang basah akibat terkencing kencing tak bisa ditahan
Ilham melihat istrinya berdiri dengan baju masih menyampir dipundak karena satu lengannya belum terlepas, kakinya agak membuka, dengan paha sampai kaki masih ada air yang mengalir dari dalam CDnya
"Kalau kebelet pipis kan ngomong dulu sayang, tadi dijalan minta mampir kan bisa, kenapa ditahan? tadi kalau ngompolnya didepan, terus pak Dar lihat, apa sayang nggak malu?"
Ilham membantu melepas seluruh baju yang masih separuh melekat dibadan
"Ya sudah mandi, bau" Ilham meletakkan baju Sifa dikeranjang khusus baju kotor
Begitupun Ilham. Ia melepaskan seluruh pakaiannya dan menyisahkan boxer
"Sifa mau mandi, kenapa papa disitu? malah lepas baju"
"Papa juga mau mandi, kan sama sama lengket"
Bersamaan itu, Ilham melepas boxernya
"Sayang, berdirinya kayak power rangers mau terbang, gimana papa nggak bingung"
Ilham ngomong, tapi tangannya sibuk mengisi air hangat kedalam bethup "Pas" Ilham menambahkan wewangingan aroma terapy agar merelaxkan badan
Ilham langsung ngglosor menenggelamkan seluruh badan, kecuali kepala yang masih kering didalam bak mandi tersebut "Nyaman"
Ilham menoleh kearah Sifa "Kenapa mandi masih mengenakan daleman, ini kan bukan dikali"
"Memangnya kalau mandi dikali, Sifa makai beginian, papa membolehkan?"
"Memangnya mau mandi dikali mana? daerah sini nggak ada kali"
"Dibelakang rumah Sifa"
"Oh, maksudnya sayang kangen? terus ingin mandi dikali begitu? dan mau pakai bikini seperti itu?"
"Kalau mandi dikali pakai beginian, Jaka tarub yang akan nyulik" Celetuk Sifa yang sudah basah kuyup dibawah air shower yang mengalir
"Jaka tarub? mantan pacarkah?" Lirih ucapnya
Hati Ilham sedikit sakit, mendengar nama lelaki yang disebut istrinya tadi, tapi Sifa tidak mendengar ucapan yang keluar dari mulut suaminya
Sifa mendekat ingin ikut nyebur didalam bethup
"Oh sini" Ilham mendongak, dan memberi tempat untuk Sifa didepannya, dan membenahi diri agar bisa terisi dua orang
Sifa sudah nyebur, dan mendudukkan bokongnya agar terbenam oleh air
Klepaaatttt
Sifa langsung turun dari bethup
"Kenapa?" Ilham bingung
"Perih"
"Apanya?"
"Ah, jangan tanya tanya terus" Sifa sudah gejuk gejuk dengan badan yang penuh busa
Ilham yang belum paham, bangun dari bak mandi, berdiri disamping Sifa
"Sayang, apanya yang perih? ada yang terluka?" Ilham mengontrol seluruh tubuh Sifa
"Nggak ada apapun?" Ilham mengecek seluruh tubuh Sifa tidak menemukan luka, Ilham tambah bingung
Sifa melirik dan menunjuk biang keladi yang membikin perih pada tubuh intinya "Gara gara ini"
Tul
Ilham seperti singa tidur yang dibangunkan, akibat sentuhan jari mungil Sifa, Sijeki langsung berdiri kokoh
"Oh, karena siotong sengaja disentuh, dan siotong bangun, yang mau disalahkan siapa ini, hayo?" Ancamnya
"Mana sifa tau? Sifa mau bilas" Sifa sudah berdiri dibawah shower. Maksud hati ingin menyingkir dari terkaman singa ganas
"Oh nggak bisa" Ilham mematikan air showernya "Siapa tadi yang menyentuh? dia harus tanggung jawab"
Sifa sudah gejuk gejuk
"Kebangetan kebangetan, siapa tadi yang salah!? kenapa jariku tak tau malu hwahaha"
Ilham sudah mendekati Sifa dan merengkuh tubuh istrinya, Sifa hanya diam kaku. Karena perbuatan dia, dia harus menanggung akibatnya
Mereka sama sama polos, tidak mengenakan kain secuilpun. Yang masih mereka pakai, hanya berjaket kulit murni.
"Obatnya biar perihnya cepet sembuh, ponakan papa harus nengokin lagi, nanti perihnya otomatis sembuh, ok"
Dalam hati Ilham bersorak
"Modussssnya suksessss, yeessss!!!"
Sifa mencembik
"Ngaku salah, nggak ngaku salah. Nasib"
Ilham mulai menyium bibir Sifa yang sudah basah karena air, sesapan demi sesapan sudah mendarat diseluruh tubuh Sifa
Emmmuah
Emmmuah
Emmmuah
Ilham sudah membatik seluruh tubuh Sifa. Tak berapa lama, Ilham sudah menyetrum Sifa lagi.
Setelah selesai penyatuan usai, perasaan Ilham berbunga bunga.
Ia langsung membantu Sifa berdiri "Ayo bilas, papa bantu"
Setelah sudah main basah basahan, akhirnya mereka keluar dengan rambut yang basah semua.
Ilham sudah rapih menggunakan piyama yang serba panjang, sedangkan Sifa masih usreg dengan baju yang akan ia pakai
"Mau tidur nggak usah pakai BH"
"Nanti papa tergoda lagi kalau Sifa nggak pakai"
Dalam hati Ilham
" Iya ya, dada saja masih kayak tutup panci, badannya kecil, terus yang membuat aku tertarik apa? tapi aku juga suka, dan sangat butuh dia"
Ilham sudah menepuk nepuk kasur sampingnya
"Ayo sudah malam tidur" Ajaknya
"Rambut Sifa masih basah, ntar bantal Sifa basah"
"Iya, ntar bawahnya juga ikut basah" Goda Ilham
"Kalau begitu Sifa tidur diSofa aja, nggak mau deket sama papa"
"Kenapa?" Ilham masih sibuk dengan ponsel baru Sifa
"Takut basah"
"Memangnya kenapa takut basah?"
"Dengkul Sifa paaaah, capek"
Sifa sudah sujud diatas sofa, sambil punggung kakinya dihentak hentakkan disofa, persis kayak anak kecil yang lagi mogok melakukan apapun
Ilham tersenyum, dan berdiri terus berjalan menuju anak yang lagi protes
plok
Pantat Sifa sudah ditabok tangan besar Ilham
Sifa otomatis duduk dan mengusap pantatnya "Sakit"
"Hanya sedikit, itu tabokan dengan volume kecil. Makanya, jangan mogok. Berdiri" Titahnya
Sifa berdiri menjulang diatas Sofa dengan kedua tangannya mbaplang membentuk sayap
Ilham berdiri mendongak, dan kedua tangannya sudah berada dipinggang Sifa, dan siap mengangkatnya "Power rangersnya sudah nggak tahan ingin terbang?"
Tangan Sifa ia taruh dikedua pundak Ilham
"Hiyyyaaaakkk"
Ilham mengangkat Sifa dan mengemban Sifa, seperti emaknya menggendong anak usia TK
"Enteng banget, berapa kilo ini?" Ejeknya
Ilham terus menggendong Sifa didepan perutnya, dan ia pindahkan ketempat tidur
"Bilangnya enteng, gaya. Coba Sifa tantangin, kapan kapan Sifa digendong muterin lapangan, mampu nggak ?"
"Mampu, siapa takut"
Sifa sudah berdiri menjulang diatas tempat tidur, mereka berhadapan.
Ilham masih berdiri dilantai "Mau nantangin apalagi? mumpung papa besok masih cuti"
Sifa tersenyum sumringah, tangan Sifa menjulur dikedua pundak Ilham. Wajah Sifa semakin mendekat kewajah Ilham
Cup
Sifa mencium bibir tebal Ilham
"Yeaaaah Sifa menang"
Sifa menjauhi Ilham berdiri dan Sifa mengangkat satu tangannya bertanda dia menang, seperti pemain WCW diatas ring
"Oh, rupanya tidak jerah ya membuat ulah"
Sifa langsung berhenti dari kemenangan
"Memang papa mau apalagi?"
"Kalau sayang terus menggoda, malam ini juga, sayang nggak bakalan bisa tidur"
Sifa langsung membanting badannya diranjang
Dalam hati Sifa berteriakkkkk
N A S I I I I I B......
BERSAMBUNG......
kangen sama cerita lama...
kangen pengen baca lagi...
sakjane ki aku kangen karro karrya mu thor...😩
gak buat karya lagi kah🤔
kata *samoza* jadi kelingan sama novel ini🙈
klw suami di dunia nyata kayak bgtu.. ummmm senangx