Benar kata pepatah, penyesalan memang selalu datang terakhir (belakangan).
Hal serupa terjadi kepada Evan satria.
Dengan gelap mata Evan tega mentalak tiga Byanca Almahera. Istri yang baru beberapa hari ia persuntingnya.
Ke salah pahaman Evan terhadap Byanca, membuat rumah tangga yang baru saja akan di mulai tersebut hancur sekatika.
Akan kah mereka bisa kembali bersama?
Mampukah takdir merubah semuanya?
Ikuti cerita selengkapnya : SESAL USAI TALAK
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naffia Inthan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33 APAKAH INI TAKDIR
Hari demi hari berganti, Minggu berganti bulan.
Selama itu pula Evan terus berusaha menemui Byanca, namun hasilnya nihil. Evan pernah berhasil menemui Byanca pada saat Byanca sedang berkerja di kantornya. Namun hanya bertemu sebentar saja, karna Byanca dengan tegas mengusirnya. Dan setelah itu Evan kembali berusaha menemui Byanca ke kantornya, namun ternyata Byanca sudah tidak berkerja lagi di sana.
Ya usai pertemuan dengan Evan itu, Byanca langsung berhenti berkerja, dan kini wanita itu hanya berdiam diri di rumahnya, bahkan Byanca jarang sekali keluar rumah. Apa lagi kini perutnya sudah mulai membesar, usia kandungan Byanca sudah memasuki bulan ke enam.
Byanca membesarkan kandungan-nya itu seorang diri, tanpa Evan ketahui. Seperti sudah tekat awalnya Byanca tidak akan memberi tahu soal kehamilannya kepada Evan, walaupun Byanca tau ini salah, walau bagaimana pun Evan adalah ayah dari bayi yang kini tengah di kandungnya. Dan Byanca tahu, bahwa talak yang Evan pernah jatuhkan tidak sah, tidak berlaku karna ia tengah mengandung benih cintanya dengan pria itu.
Byanca tak perduli jika memang egois, namun untuk kembali bersama Evan kembali, rasanya cukup sulit.
Terlalu sakit, secara lisan bisa saja ia memaafkan Evan, namun luka di hatinya masih terasa sampai detik ini.
Byanca bisa tanpa Evan, buktinya sampai saat ini ia bisa menjalani hari-harinya dengan bahagia bersama orang tua dan calon anak yang ada di kandungannya.
Hari ini Byanca sudah terlihat sangat rapi, ya hari ini Byanca ada jadwal pengecekan kandungan-nya ke rumah sakit. Dokter yang memeriksa kandungan Byanca tidak bisa datang ke rumahnya, karna ia sibuk dengan jadwal di rumah sakit, jadi mau tidak mau akhirnya Byanca--pun harus ke rumah sakit. Demi melihat perkembangan janin yang ada di dalam kandungannya.
Klek...
Pintu kamar Byanca terbuka, mamah Lyli masuk ke dalam kamar anaknya itu. Byanca menoleh sambil mengulas senyumannya, kepada mamah Lyli.
"Mah.." Ucap Byanca.
"Kamu sudah siap By?" Tanya mamah Lyli, berjalan menghampiri Byanca yang tengah duduk di depan meja riasnya.
"Sudah mah!"
"Ya sudah ayo kita berangkat."
Byanca menganggukan kepalanya, lalu berajak dari duduknya, mereka--pun keluar dari kamar tersebut.
"By apa kamu yakin mau periksa ke rumah sakit sekarang?" Tanya mamah Lyli, "apa gak nunggu besok saja By, biar dokter yang ke rumah kita." Lanjutnya.
"Aku yakin mah." Jawab Byanca.
Mamah Lyli tersenyum, jujur saja hatinya merasa sedikit khawatir. Mamah Lyli takut jika nanti mereka bertemu dengan Evan, dan Evan mengetahui semuanya.
"Mamah, mamah tenang saja! Lagian mas Evan jam segini di kantor mah, kita gak mungkin ketemu sama dia." Ujar Byanca, meyakinkan mamahnya. Byanca tau kalau mamahnya itu sedang khawatir.
"Baiklah By, kamu benar."
Lalu Byanca dan mamah Lyli masuk ke dalam mobil, sopir mereka mulai melajukan mobil tersebut, usai ke dua majikannya masuk.
...........
Hari ini Evan tidak masuk kantor, belakangan ini kondisi laki-laki itu tidak baik-baik saja. Mungkin terlalu lelah berkerja. Di tambah pikiranya sangat kalut, memikirkan Byanca, rasa rindunya teramat berat. Ingin rasanya Evan bertemu dengan wanita yang di cintainya itu. Sudah berbulan-bulan Evan tak pernah lagi melihat Byanca, datang ke rumahnya pun. Sangat susah sekali karna rumah orang tua Byanca sangat di jaga ketat oleh anak buah Jonathan.
"Ya tuhan apakah ini takdir? Takdir yang kau berikan kepadaku, apa tidak ada kesempatan untukku bersama lagi dengan Byanca, aku sangat mencintainya," ujar Evan.
Tok tok tok
Terdengar pintu kamar Evan ada yang mengetuk.
"Siapa?" Teriak Evan.
"Saya tuan muda," jawab Art Evan, "tuan sudah menunggu anda untuk sarapan!" Lanjutnya.
"Iya saya akan kebawah."
Evan--pun beranjak dari tempat tidurnya, sebenarnya Evan hanya meriang saja, dan sebenarnya ia masih bisa berkatifitas. Namun Papah Edward menyuruhnya untuk tidak ke kantor dulu, agar Evan bisa beristirahat.
Entah meriang apa yang Evan rasakan, meriang penyakit atau meriang (Merindukan kasih sayang), wleee
"Bagaimana kondisimu Van?" Tanya papah Edward.
"Sudah lebih baik Pah!" Jawab Evan, sambil menarik kursi meja makan, dan mendaratkan pantatnya disana.
"Wajahmu masih terlihat pucat, sebaiknya kamu periksa kondisi kamu Van!" Titahnya.
Evan membuang nafas berat, "iya nanti Pah!"
Lalu mereka--pun memulai aktifitas sarapan mereka. Sebenarnya Evan tidak ada ***** makan sama sekali, namun ia tidak mau membuat papahnya khawatir. Jadi Evan memaksakan untuk sarapan pagi ini.
Evan menikmati sarapannya dengan tatapan kosong, Edward hanya bisa mengelengkan kepalanya. Pemandangan yang sudah biasa Edward lihat setiap hari. Semenjak Evan dan berpisah dengan Byanca. Terlihat tidak ada semangat di diri putranya itu, bahkan Evan sering sekali melamun. Edward mengerti dengan perasaan putranya itu, Edward merasa sangat iba, namun kali ini ia tak bisa berbuat apa-apa. Namun di balik itu semua Edward merasa bangga, di dalam kondisi yang bisa di bilang terpuruk itu, Evan masih bisa konsisten dalam mengurus semua pekerjaannya.
"Van..." Panggil papah Edward.
Tatapan kosong Evan--pun buyar seketika saat ia mendengar papahnya memanggilnya.
"Emm, iya pah. Ada apa?" Tanya Evan.
"Kamu harus bisa mengiklaskan semuanya. Ini sudah takdir, mungkin kamu dan Byanca tidak berjodoh Van. Mulailah lupakan Byanca, buka hati kamu untuk wanita lain. Papah sudah tua Evan, papah ingin melihat kamu berumah tangga, menimbang cuci dari kamu dan istrimu kelak," tutur papah Edward.
"Papah ingin kamu bahagia Van!" Lanjutnya.
Evan terdiam, mencoba mencerna ucapan papahnya itu. Apa mungkin Evan bisa melupakan Byanca, semuanya terasa mustahil bagi Evan.
Tidak ada wanita yang bisa menggantikan Byanca yang bertahta di hati Evan. Evan sangat-sangat mencintai Byanca, tidak ada wanita lain selain Byanca.
"Tapi pah-----"
"Van ingat waktu akan terus berjalan. Papah tidak mau melihatmu seperti ini terus! Di ujung usia papah yang sudah tidak muda lagi ini. Papah ingin melihat putra satu-satunya papah bahagia!" Pungkas Papah Edward.
"Tapi aku sangat mencintai Byanca Pah!"
"Van, cinta itu tidak harus saling memiliki. Jika kamu mencintai Byanca, maka lepaskanlah dia."
"Seandainya jika kalian bersama, dan kamu tetap memaksa, belum tentu Byanca bahagia," Lanjut papah Edward.
"Apa iya, aku harus melupakan Byanca, semua itu terasa mustahil. Tapi benar juga kata papah, jika aku memaksa Byanca kembali bersamaku. Apa aku bisa menjamin Byanca akan hidup bahagia. Apa lagi dengan kesalahan yang sama ini aku buat, dah luka yang aku torehkan di hatinya. Ya tuhan berikan akan aku petunjuk, aku takut mengulang lagi semua kesalahanku!" Batin Evan.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya.
Terima kasih.
Maaf ya baru sempat up.
Kasih dukungan author yuk, biar up tiap hari lagi😁😁😁🤭
ada satu dua tipo itu biasa, tidak mengurangi alur ceritanya
semangaaat Thor 🙏