WARNING
Semua adegan dewasa di sensor.
My Instagram @Uzay1720 follow me😍
Sesion duanya berjudul Istri Tuan Smith.
Novel baru sang perebut kehormatan
Jangan ada yang plagiat, coba-coba gue santet lu. Tapi kalau terinspirasi bolehlah, bedain yah mana terinspirasi sama plagiat.
Jonathan Smith adalah seorang Mafia terkenal dari Amerika yang pindah ke jepang untuk mengurus beberapa pekerjaan kotornya itu, selama ia berada di Jepang ia menangkap seorang wanita bernama Haruka Kujo yang Jonathan jadikan budak nafsunya.
Haruka sudah berusaha kabur dari rumah Jonathan tapi ia selalu tak pernah berhasil, Haruka sangat membenci Jonathan. Karena Jonathan selalu memperlakukan Haruka dengan kasar, saat Haruka benar-benar sudah muak dan tak kuat dengan perlakuan kasar Jonathan, Jonathan malah jatuh cinta pada Haruka.
Akankah Haruka mencintai Jonathan, atau Jonathan akan terus memaksa Haruka tetap bersamanya walaupun Haruka tak mencintainya.
Yang abis baca sesion
ini lanjut ke sesion selanjutnya yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Haruka bertepuk tangan sambil tertawa puas, Nathan bangun dari duduknya lalu menarik Haruka untuk pergi dari sana. Para wartawan langsung menyerbu Kriss, namun bodyguard Kriss menghalangi wartawan mengikuti Kriss.
Nathan dan Haruka sampai di parkiran, Nathan dan Haruka bersembunyi di balik mobil orang lain untuk melihat keributan Kriss dan istrinya Yoona.
"Lepasin aku sekarang juga," tegas Yoona pada Kriss sambil berusaha melepaskan genggam Kriss.
"Tolong dengarkan penjelasan ku terlebih dahulu," Kriss ingin Yoona mendengarkan penjelasannya dulu.
"Apa yang mau kamu jelaskan? Bukannya semuanya sudah jelas," tanya Yoona sambil menangis.
Nathan tersenyum miring, Nathan menarik Haruka untuk menemui Yoona dan Kriss yang sedang berdebat. Haruka sempat menolak ajakan Nathan, tapi Nathan tak mendengarkan ucapan Haruka.
Nathan sampai di tempat di mana Kriss dan Yoona berdebat, Nathan mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, "Nih, wanita baik tidak boleh menangisi pria tidak punya harga diri seperti dia," ucap Nathan memberikan sapu tangannya pada Yoona.
Yoona menatap Nathan lalu mengambil sapu tangan yang Nathan berikan, "Terimakasih," balas Yoona.
"Tidak boleh kasar pada wanita," Nathan melepaskan tarikan Kriss pada tangan Yoona.
Haruka tersenyum sinis, "Hey, kau juga suka kasar pada wanita, tidak sadar diri sekali dia ini," gumam Haruka dalam hatinya sambil melirik Nathan dengan tatapan sinis.
"Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu, terimakasih untuk pertunjukan yang sangat menghibur tadi," pamit Nathan sambil menatap Kriss dan merangkul posesif pinggang Haruka.
Haruka dan Nathan kini sudah naik mobil, di dalam mobil sudah ada Herry, Herry menjalankan mobil keluar dari parkiran restoran. Nathan membuka ponselnya dan melihat berita hari ini, berita Korea Selatan saat ini sedang ramai membicarakan Kriss yang terkena scandal.
Nathan tertawa dengan keras membuat Haruka sedikit risih dengan tawa Nathan, Haruka mencoba memalingkan tatapannya ke arah kaca mobil.
"Maaf Tuan, kita langsung pulang atau pergi kemana lagi?" tanya Herry.
"Kita pulang saja," balas Nathan.
"Aku lapar, tadi kan belum sempat makan, gimana kalau kita ke tempat makan dulu, aku juga lagi mau makanan Korea deh," usul Haruka sambil menatap Nathan.
"Tidak, kita makan di rumah saja, nanti kau suruh Fiona memasak makanan Korea," balas Nathan tanpa menatap Haruka.
Haruka menghela nafasnya kesal sambil memalingkan tatapannya, "Ya sudahlah terserah kau saja," balas Haruka tak bisa memaksa Nathan.
Di restoran tadi Kriss saat ini sedang marah-marah karena vidio yang tadi saat ia manggung, "Siapa yang melakukan ini?" tanya Kriss setelah membanting semua barang yang ada di dekatnya ke sembarang arah.
"Kita tidak tau, tadi tiba-tiba kita komputer kita di hack oleh orang lain," balas seorang petugas monitor sambil menundukkan pandangannya.
"Gara-gara kalian semua kini karir ku benar-benar hancur," ucap Kriss sambil pergi meninggalkan ruangan itu.
Kriss masuk ke ruangan khusus yang di siapkan hanya untuknya, ia duduk di kursi sambil memegang botol yang berisikan air putih. Kriss meminum air itu sampai tandas tapi setelah ia minum tiba-tiba Kriss kejang-kejang, saat Kriss sedang kejang-kejang seseorang masuk ke ruangan itu.
Orang itu menyimpan botol obat lalu menganti botol minum Kriss dengan botol yang ia bawa, ia juga menempelkan tangan Kriss di botol itu agar sidik jari Kriss menempel di sana, pria itu menyimpan botol minum dan satu toples kecil obat di samping Kriss yang masih kejang-kejang.
Kriss yang saat itu masih tersadar hanya bisa menatap pria di hadapannya tanpa bisa melakukan apapun, pria itu berjongkok di hadapan Kriss sambil tersenyum miring, "Tidurlah, karena masih banyak yang harus ku buat tidur juga," ucap pria itu menyeramkan, setelah melihat Kriss benar-benar mati pria itu pergi meninggalkan kamar itu.
Sambil menyelinap ia berhasil keluar dari restoran itu tanpa di curigai, pria itu naik ke mobilnya lalu pergi entah kemana.
Setelah beberapa menit kemudian dempat lain Haruka dan Nathan sampai di tempatnya, ada seseorang yang menelpon Nathan, Nathan mengangkat telpon itu.
"Bagaimana?" tanya Nathan.
"Saat saya akan membawa Kriss pergi ternyata pria itu sudah mati," ucap seseorang yang menelpon Nathan.
"Apa? Di bunuh atau bunuh diri?" tanya Nathan kaget.
"Menurut polisi yang mengidentifikasi mayatnya, Kriss di nyatakan bunuh diri dengan cara minum obat," jelas seseorang yang menelpon Nathan.
"Tapi ada yang janggal," tambah orang itu kembali.
"Apa yang janggal?" tanya Nathan penasaran.
"Aku merasa itu bukan bunuh diri melainkan di bunuh, aku belum bisa memastikan saat ini, tapi aku akan mencari kebenaran di balik semua ini dengan jelas," balas pria di sebrang telpon.
"Baiklah, kalau kau sudah mendapatkan kebenarannya segera beritahu aku," ucap Nathan sambil mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
Nathan memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jas, Nathan berjalan mengikuti Haruka yang sudah pergi duluan ke meja makan, Haruka sudah meminta Fiona untuk masak-masakan Korea saat ini.
Nathan duduk di samping Haruka, "Belum matang masakannya?" tanya Nathan datar.
"Belum lah, kan aku juga baru ngomong kalau aku mau makan," balas Haruka tanpa menatap Nathan.
Haruka mengeluarkan ponsel yang tadi Nathan berikan padanya, "Wah ponsel keluaran terbaru, makasih yah Tuan Nathan," ucap Haruka sambil menatap Nathan beberapa detik.
Haruka menyalakan ponselnya ia rindu memainkan ponsel, dulu ponselnya ia jual untuk pamannya. Karena saat ini Mizuki meminta uang pada Haruka, jadi mau tak mau Haruka akhirnya menjual ponselnya itu.
Makanan mereka pun datang, Fiona di bantu pelayan lainnya menyiapkan makanan di atas meja makan, saat melihat makanannya datang Haruka menyimpan ponselnya di samping kiri.
"Wah banyak sekali, baunya juga sangat enak sama seperti penampilannya," ucap Haruka manis sambil menatap makannya dengan tatapan yang berbinar.
Nathan dan Haruka mulai makan dengan lahap, Haruka sudah nambah berkali-kali. Nathan selesai duluan karena ia sudah kenyang, "Aku pergi," Nathan pergi dari meja makan karena sudah selesai makan.
Haruka menatap kepergian Nathan, "Ya pergi saja," balas Haruka tak peduli.
"Jangan terlalu banyak makan, nanti kau gendut," ucap Nathan di tangga.
"Tidak papah, lagipula aku tidak terlalu mempermasalahkan penampilanku," balas Haruka tak peduli penampilannya.
"Bukan masalah penampilanmu, tapi kalau kau gendut nanti saat di kejar musuh kau akan ketangkap," jelas Nathan.
Haruka yang sedang asik makan mendadak menghentikan makannya karena mendengar ucapan Nathan, "Apa yang pria itu katakan benar juga, bagaimana kalau nanti aku gendut dan susah untuk berlari? Ah sudahlah berhenti makan," ucap Haruka menghentikan makannya.
Haruka bangun dari tempat duduknya walaupun ia masih lapar, "Makanan, nanti aku akan kembali setelah membakar lemak ku ini," tambah Haruka pada makannya yang ada di meja.
Nathan terkekeh pelan melihat kelakuan Haruka yang tidak pernah berubah, yah Haruka masih bodoh seperti dulu saat ia bertemu dengan Haruka pertama kalinya. Tapi Nathan senang akan hal itu, bahkan kini ia takut Haruka lebih pintar darinya.