Mila Hamid adalah seorang wanita cantik, lembut dan memiliki senyuman yang hangat. Ia juga seorang wanita yang sangat mencintai suaminya, Irsyad Mauza. Mila Hamid dan Irsyad Mauza menikah karena permintaan ibu dari Irsyad yang menderita kanker hati. Irsyad yang sebenarnya telah memiliki kekasih pun dengan patuh menuruti keinginan ibunya. Irsyad menceraikan Mila tepat setelah seminggu kematian ibunya. Pernikahan mereka hanya bertahan selama 6 bulan, dan selama itu Irsyad selalu memperlakukan Mila dengan sangat baik, namun Irsyad tidak pernah menyentuh istrinya itu.
Tepat di hari perceraiannya, Mila mengalami kecelakaan hingga membuat kaki kirinya lumpuh total. Setelah lima tahun berlalu, takdir kembali mempertemukan keduanya.
Akankah mereka bersatu kembali atau justru mereka kembali berpisah untuk kedua kalinya?
Buat yang penasaran seperti apa ceritanya, yuk ikuti kisah mereka disini 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragazza Belle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku ingin menikahimu
Lisa melangkah dengan kesal memasuki kamarnya. Tanpa harus bersusah payah untuk meletakkan tasnya di atas meja, Lisa justru dengan kasar melemparkan tas yang dibawanya tersebut hingga jatuh di atas kasur miliknya.
" Selalu saja berusaha menghinaku di depan orang-orang. Sebenarnya apa mau mu Irsyad? " Desis Lisa yang kini duduk di pinggir ranjangnya. Nafasnya memburu cepat
" Ada apa denganmu? " Ujar Jeremy begitu dia masuk ke dalam kamar Lisa. Sambil mendengus kesal Lisa mengangkat kepalanya menatap Jeremy dengan sengit.
" Untuk apa mengikutiku hingga kemari? Sudah jelas-jelas kamu tidak membelaku saat Irsyad menghinaku barusan " Lisa menekan gigi-giginya dengan kuat berusaha untuk tidak bangkit dan menerjang Jeremy.
" Sudahlah jangan terlalu dipikirkan " Bujuk Jeremy lalu ikut duduk di pinggir ranjang. Ia duduk di samping Lisa. Tangan Jeremy merangkul bahu Lisa dengan begitu lembut. Menahan Lisa agar tidak menjauh darinya. Perlahan Lisa menoleh ke arah Jeremy dengan tatapan yang masih menyiratkan kekesalan yang begitu dalam.
" Kamu tahu Jeremy, Irsyad selalu saja bertingkah seperti itu padaku. Bahkan saat aku ingin bertemu dengan anakku, dia selalu saja menghalangiku. Aku tau, kesalahan yang kuperbuat dulu memang sangat besar. Tapi...tidak bisakah dia berdamai denganku, agar kami bisa sama-sama mengasuh putri kami " Lisa menitikkan air matanya hingga mengaliri kedua pipi mulusnya.
" Jangan menangis, aku tidak ingin kamu menangis karena pria itu " Jeremy mengusap pelan surai panjang Lisa.
" Jangan khawatir sayang, kita akan merebut putrimu darinya " Tambah Jeremy lagi
" Apa katamu? " Lisa menatap Jeremy dengan tidak percaya. Dengan cepat kedua tangannya mengusap kedua pipinya menghapus jejak air matanya. Jeremy memajukan wajahnya hingga kini wajah mereka hanya berjarak satu senti.
" Kita akan membawa putrimu kemari dan kamu bisa mengasuhnya setiap hari yang kamu inginkan " Jeremy merangkum wajah Lisa dengan kedua tangannya. Jeremy menarik pelan wajah tersebut lalu mencium bibir Lisa dengan begitu lembut.
" Aku bisa mengasuhnya setiap hati. Oh Jeremy, aku benar-benar menginginkannya ! " Gumam Mila setelah Jeremy melepaskan bibirnya.
" Iya, aku tahu " Jeremy kembali mencium Lisa dan wanita itu juga membalasnya. Lisa merasa perasaannya langsung berubah cepat saat mendengar Jeremy mengatakan semuanya.
Kita akan bersama-sama lagi Sha. Mama janji
Malam sudah semakin larut, namun pikiran Mila masih berkelana jauh. Memikirkan bagaimana caranya ia harus melunasi hutang satu milyar itu pada Irsyad. Mila memutar posisi tubuhnya hingga berbaring menyamping, sudah seharian ini ia memikirkan permasalahan tersebut. Mila takut bila suatu hari nanti ia meninggal dan hutang tersebut belum sempat ia bayar. Ia dan keluarganya pasti akan terjerat dengan semua itu.
" Aku harus bicara dengannya " Gumam Mila setelah lama berpikir. Ia harus menemui Irsyad besok pagi di kantor pria itu. Ia harus menyelesaikan permasalahan hutang ini pada pria itu. Jika tidak, seterusnya ia tidak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak.
Mila merasa waktu didunia ini benar-benar berubah sangat cepat. Ia sudah terbangun lagi begitu mendengar kumandang adzan subuh yang mengajak setiap orang untuk melaksanakan kewajiban mereka kepada Sang Pencipta. Mila merasa kedua matanya terasa berat untuk di buka, pasalnya semalaman ia bisa di katakan hampir tidak tidur. Ia merasa kepalanya sedikit pusing dan melayang, tapi dirinya belum melaksanakan sholat subuh. Dengan sekuat tenaga Mila berjalan memaksa tubuhnya untuk berwudhu.
Jalan kaki sudah menjadi rutinitas yang tak pernah tertinggal. Setiap harinya Mila harus berjalan kaki keluar dari gangnya untuk menuju jalan utama. Dan sekarang ia sedang berjalan dengan rasa ngantuk yang luar biasa. Untung saja pagi ini angkutan umum yang biasa di pakainya langsung ada begitu ia sudah sampai di jalan utama. Dua puluh menit berlalu dan angkutan yang membawanya sudah berhenti di luar halaman gedung perkantoran milik Irsyad yang terlihat menjulang tinggi dengan tiang-tiang penyangga yang tampak kokoh dan kuat. Mila keluar dari dalam angkutan yang membawanya lalu melangkah lebih jauh masuk ke dalam, Mila menengadahkan kepalanya, berdiri memandangi gedung tersebut dengan tatapan penuh harap dan perasaan yang berdebar tak menentu. Ia sudah memikirkan hal ini semalaman penuh, dan ia harus menyelesaikan semuanya agar hatinya merasa lebih lega.
" Selamat pagi ada yang bisa saya bantu? "
Hal pertama yang Mila dengar begitu dirinya sudah masuk ke dalam gedung tersebut. Sambil sedikit gemetar, Mila memberitahukan niatnya pada resepsionis wanita itu. Mila berniat untuk tidak gemetar tapi sekuat apapun ia mencoba rasa gemetar itu tetap ada. Resepsionis wanita itu terlihat berbeda dari resepsionis wanita yang pernah ia temui waktu itu.
" Pak Irsyad mempersilahkan anda untuk masuk ke ruangannya " Ujar resepsionis wanita itu sambil tersenyum ramah. Mila yang sedari tadi menahan nafas saat wanita itu menelpon Irsyad langsung tersenyum lega mendengarnya. Ia pikir Irsyad akan menolak kedatangannya ternyata ia sudah salah sangka.
Setelah diantar oleh seseorang untuk naik ke lantai paling atas dimana pria itu berada, Mila kini sudah berdiri di depan pintu ruangan Irsyad. Ia meremas jemarinya dengan gugup berharap semuanya cepat selesai setelah ini. Tangan Mila yang sedikit gemetar terulur mengetuk pintu tersebut hingga sebuah suara mempersilahkannya untuk masuk ke dalam.
Dengan langkah penuh hati-hati Mila bergerak mendekati pria itu yang kini tengah duduk sambil memeriksa beberapa kertas yang ada di atas mejanya. Postur tubuhnya yang besar dan tegap begitu pas saat mengenakan jas hitam yang tampak berkilau mahal. Rambutnya yang tersisir rapi ke belakang semakin membuat Mila berdesir tak menentu.
Rahangnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu semakin membuat Irsyad terlihat tampan. Meski pria itu masih menunduk, Mila bisa melihat dengan jelas tatapan tajam Irsyad saat memeriksa semua kertas-kertas itu. Irsyad benar-benar cocok menjadi seorang atasan yang tegas namun juga berwibawa dan pastinya sangat tampan. Hanya dengan memikirkan hal ini saja Mila merasa wajahnya perlahan memerah.
Mila ! Mila ! Berhenti menggambarkan semua hal dari pria itu.
Mila membatin dengan panik. Ia berdiri mematung di depan meja Irsyad sambil menahan rasa panas di wajahnya.
" Duduklah Mila, jangan hanya berdiri saja " Ujar Irsyad sembari mendongak menatap Mila. Di akhir ucapannya Irsyad terdengar tertawa geli.
" Baiklah " Mila dengan gugup menarik kursi didepan meja kerja pria itu sambil menghembuskan nafas lega.
" Apa kamu sedang demam? " Tanya Irsyad dan fokus matanya yang tadi menatap kertas-kertas itu kini beralih menatap Mila.
" Ti-tidak " Jawab Mila dengan bingung.
" Lalu kenapa wajahmu terlihat sedikit memerah? "
" Merah? " Mila dengan panik meraba wajahnya sendiri. Irsyad mengangguk sembari tersenyum kecil.
Apa masih terlihat jelas ? Ya ampun memalukan sekali !
" Wajahku memerah karena cuaca hari ini sedikit panas " Mila beralasan.
" Panas? Bukankah ini masih pagi. Lagipula di luar tampaknya cuaca sedikit mendung " Irsyad memajukan wajahnya sambil mengulas senyum tipis.
" Aku memang selalu seperti ini. Ada saatnya di pagi hari aku merasa sedikit kepanasan. Biasanya aku juga akan berkeringat " Jelas Mila dengan rinci. Irsyad tersenyum geli sembari mengangkat sebelah alisnya.
" Begitu ya "
" Iya " Mila melirik sekilas ke arah Irsyad yang masih setia menatapnya.
" Baguslah jika kamu tidak sakit. Jadi, apa yang membuatmu datang kemari sepagi ini? " Irsyad kini berpindah ke topik yang sebenarnya. Mila mendongak dengan tegang tatapan matanya melebar.
" Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Kedatanganku kemari untuk membicarakan masalah hutang ayahku. Irsyad, aku tahu mungkin bagimu ini terlihat lucu atau mengada-ngada tapi aku ingin berusaha membayar semua hutang itu padamu "
" Mila, aku minta maaf tapi aku tidak ingin membahas lagi uang itu " Tolak Irsyad dengan pelan. Pria itu memalingkan wajahnya menghadap ke arah lain
" Kenapa? " Tanya Mila bingung. Harusnya Irsyad yang bersikeras membahas masalah uang itu dengannya. Bukannya malah meminta untuk tidak membahasnya seperti sekarang ini. Irsyad menoleh kembali pada Mila. Menatap wanita itu dengan lembut.
" Karena aku sudah mengikhlaskan uang itu Mila. Lupakanlah " Pada akhirnya Irsyad bisa mengatakannya pada Mila.
" Bagaimana mungkin? Aku tidak bisa membiarkan orang lain menanggung hutang ayahku yang seharusnya menjadi kewajibanku untuk membayarnya"
" Aku hanya ingin membantumu Mila " Irsyad mengusap kasar wajahnya.
" Terima kasih atas bantuanmu. Tapi bagaimana pun juga aku harus membayar semua uang tersebut padamu. Aku tidak akan merasa tenang bila belum melunasi semua hutang itu"
" Mila kumohon lupakanlah "
" Aku bahkan tidak bisa tidur memikirkan semuanya. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya " Mila menghela nafasnya dengan kasar.
" Mila. Tenanglah "
" Aku tidak bisa tenang sama sekali. Meski kamu sudah mengikhlaskan semuanya tapi aku tetap tidak bisa "
" Mila, uang itu tidak ada apa-apanya bagiku "
" Aku tahu. Tapi itu tetap menjadi hutangku " Tolak Mila. Ia bersikeras untuk tetap membayarnya.
" Aku tidak ingin kamu membayarnya Mila "
" Lalu katakan padaku, kamu ingin aku melakukan apa untukmu ? "
Irsyad terdiam, ia memikirkan pertanyaan Mila selama beberapa detik. Irsyad merasa tertarik dengan pertanyaan yang Mila ajukan padanya. Bukankah ia menginginkan Mila untuk kembali padanya. Ia ingin menikahi Mila kembali. Selama ini ia melakukan segala cara agar bisa mendapatkan Mila kembali tapi wanita itu selalu saja menolaknya. Mungkin saja dengan cara ini Mila bisa kembali padanya lagi. Irsyad yakin dirinya harus mencoba mengatakannya.
" Kamu yakin akan melakukannya? "
" Iya aku akan melakukannya apapun itu " Jawab Mila tanpa sempat memikirkan konsekuensi yang mungkin timbul dari ucapannya.
" Baiklah Mila ada satu hal yang aku inginkan darimu" Irsyad menatap Mila dengan penuh keseriusan. Mila yang ditatap menahan nafas menunggu kelanjutannya.
" Aku ingin menikahimu lagi "
Bersambung....
Happy reading, love you guys😘
kok enK bgt hidupmu.... km cmpakn mila demi mnikahi kekasih sundalmu itu...
setelah perempuan idamanmu berhianat... km pungut lgi si mila.. buat mngobati luka hatimu...
km cmpakan... setelah km hncurkn hati & harapannya.... dgn entengnya km ingin mila kmbali....
laki" kucing garong km irsyad😅😅
bukankah kh km mncintai ibu dri ankmu.... 🤔🤔
Syarat dan ketentuan:
Sudah tamat dan Penulis belum di kontrak/sedang tidak terikat kontrak dengan penerbit manapun.
Jenis naskah yang dicari:
1. Novel;
2. Kumpulan Puisi;
3. Kumpulan Cerpen;
4. Naskah non Fiksi, dll.
Jika bersedia harap segera menghubungi saya via DM instagram (@dwafril) atau laman chat yang tersedia pada platform ini.
AE Publishing Cab. Gresik
*paling lambat 15 Agustus 2023
terimakasih author, ceritanya bagus , beda alur dgn yg lain 👍👍👍😍😍😍