Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Yang Kamu Suka Banyak Juga, Ya
Naomi akhirnya tidak lari malam itu.
Ia berdiri di depan Kelvin, menggenggam pergelangan tangannya sendiri, sementara Felix duduk di antara mereka seperti penjaga kecil yang tidak tahu harus membela siapa.
Kelvin tidak menyentuhnya lagi.
Itu justru membuat Naomi semakin sulit bernapas.
"Aku takut," katanya akhirnya.
Dua kata itu keluar hampir tanpa suara.
Kelvin menatapnya.
"Takut apa?"
Naomi tertawa kecil, tapi tidak ada lucunya. "Kalau aku tahu, mungkin lebih mudah."
Kelvin tidak mendesak. Ia hanya mengambil piring makan yang masih tertutup di meja, membukanya, lalu mendorong kursi.
"Makan dulu."
Naomi menatapnya bingung. "Kita sedang bicara."
"Kamu bicara lebih buruk saat lapar."
"Saya tidak lapar."
"Roti vending machine bukan makan malam."
Naomi mengangkat wajah. "Kamu tahu?"
"Aku bisa menebak. Kamu menghindar dengan cara yang tidak kreatif."
Ia seharusnya tersinggung. Tapi setelah semua ketegangan tadi, kalimat itu justru membuat dadanya longgar sedikit.
Kelvin duduk di kursi seberang, tidak memaksa apa pun. "Kita tidak selesai bicara. Tapi kamu makan dulu."
Naomi akhirnya duduk.
Malam itu mereka tidak menyelesaikan semua hal. Naomi tidak tiba-tiba berani menyebut perasaan. Kelvin juga tidak memintanya mengaku. Namun setelah makan, Naomi tidak kembali mengunci diri di kamar. Ia duduk di ruang tengah selama setengah jam, membiarkan Felix tidur di kakinya, sementara Kelvin membaca dokumen di sofa seberang.
Jarak masih ada.
Tapi kali ini, jarak itu tidak dipakai untuk menghilang.
***
Keesokan siangnya, Naomi bertemu Brandon di depan perpustakaan fakultas.
Ia baru keluar membawa tiga buku referensi Jerman dan satu map berisi fotokopi bahan kuliah ketika beberapa lembar kertas hampir jatuh. Brandon yang muncul dari arah tangga langsung membungkuk membantu.
"Hati-hati," katanya.
"Terima kasih, Kak."
Brandon mengambil dua buku paling tebal dari tangan Naomi. "Kamu mau ke kelas?"
"Iya, di gedung B."
"Aku lewat sana. Biar aku bantu bawa."
Naomi ingin menolak, tapi tangannya memang penuh. Selain itu, Brandon selalu menawarkan bantuan dengan cara yang membuat penolakan terasa terlalu kaku.
"Terima kasih. Nanti di depan kelas saja."
Mereka berjalan berdampingan melewati koridor. Beberapa mahasiswa menoleh, tapi tidak seberisik minggu-minggu sebelumnya. Mungkin gosip tentang Naomi dan Kelvin sudah menjadi berita lama. Atau mungkin orang-orang hanya menunggu episode baru.
"Kamu terlihat lebih baik," kata Brandon.
Naomi mengangkat alis. "Lebih baik?"
"Beberapa hari lalu kamu kelihatan capek."
"Tugas."
"Dan masalah kerja?" Brandon menurunkan suara. "Aku dengar kamu tidak lagi ambil shift minimarket."
Naomi berhenti setengah langkah.
Brandon langsung tersenyum meminta maaf. "Maaf. Aku tidak bermaksud ikut campur. Anak BEM ada yang cerita karena dia juga kerja di sana."
Penjelasan itu masuk akal.
Terlalu masuk akal.
"Iya, saya berhenti."
"Kalau butuh part-time lain, aku punya beberapa kontak." Brandon mengeluarkan map tipis dari tasnya. "Ini beberapa lowongan event translator dan admin pameran. Tidak semuanya besar, tapi lebih aman daripada minimarket malam."
Naomi menerima map itu.
Di bagian depan, ada catatan kecil tulisan tangan Brandon, rapi dan jelas. Jam kerja, lokasi, perkiraan honor.
Ia terdiam.
"Kamu tidak harus ambil," kata Brandon. "Aku cuma pikir kamu mungkin butuh pilihan."
Pilihan.
Kata itu akhir-akhir ini terlalu sering muncul dalam hidup Naomi.
"Terima kasih, Kak."
Brandon menatapnya lembut. "Kamu selalu berterima kasih seperti takut merepotkan."
Naomi tidak tahu harus menjawab apa.
"Kalau ada interview malam, jangan pergi sendiri," lanjut Brandon. "Kamu bisa minta Sinta atau Ayu menemani. Kalau mereka tidak bisa, kabari aku."
"Saya tidak mau merepotkan."
"Itu bukan merepotkan." Brandon mengatur posisi buku di tangannya agar lebih ringan untuk Naomi nanti. "Setelah kejadian di kos, wajar kalau kamu lebih hati-hati."
Naomi terdiam.
Brandon mengingat hal-hal seperti itu dengan nada yang tidak menekan. Ia tidak bertanya berlebihan, tidak memaksa tahu detail. Hanya meletakkan bantuan di tempat yang bisa dijangkau.
Karena itu, Naomi tersenyum kecil. "Saya akan hati-hati."
Di saat itulah suara mobil berhenti terdengar di dekat drop-off gedung.
Naomi menoleh.
Kelvin Hartono keluar dari mobil hitamnya.
Ia tidak memakai hoodie santai seperti biasanya di kampus. Hari itu ia memakai kemeja gelap dan wajah yang terlalu tenang. Matanya jatuh pada Brandon yang memegang buku Naomi, lalu pada map di tangan Naomi.
Udara koridor berubah.
Brandon tersenyum sopan. "Kelvin."
Kelvin berjalan mendekat. "Brandon."
Naomi merasa punggungnya menegang. "Kamu ke kampus?"
"Jemput kamu."
"Saya masih ada kelas."
"Aku tahu. Aku tunggu."
Brandon menyerahkan buku Naomi. "Kalau begitu aku tinggal dulu. Naomi, kalau ada yang cocok dari daftar itu, kabari aku."
"Iya, Kak."
Brandon pergi dengan langkah tenang. Tidak ada yang aneh. Tidak ada komentar berlebihan.
Tapi Kelvin menatap punggungnya sampai ia menghilang di belokan.
Naomi memeluk buku ke dada. "Kenapa?"
"Yang kamu suka banyak juga, ya."
Kalimat itu terdengar datar.
Justru karena datar, Naomi perlu beberapa detik untuk memahami maksudnya.
Brandon.
Kebohongan di malam perjanjian.
"Itu..." Naomi menelan ludah. "Kamu masih ingat?"
"Aku tidak amnesia."
"Saya cuma berterima kasih karena Kak Brandon memberi info kerja."
"Kak Brandon," ulang Kelvin pelan.
Naomi menatapnya. "Itu panggilan kampus."
"Aku tidak bilang apa-apa."
"Wajahmu bilang banyak."
Kelvin menatapnya, lalu mengambil map tipis dari tangan Naomi.
"Kelvin."
Ia membukanya, membaca sekilas halaman pertama, lalu halaman kedua. Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah sedikit.
"Lowongan event ini dari vendor yang pernah telat bayar mahasiswa magang tiga bulan."
Naomi terkejut. "Kamu tahu?"
"Aku tahu banyak hal yang seharusnya tidak perlu kamu urus."
"Brandon mungkin tidak tahu."
"Mungkin."
Kata itu terdengar tidak percaya.
Naomi mengulurkan tangan. "Kembalikan. Saya bisa cek sendiri."
Kelvin menutup map itu.
"Ini aku yang urus."
"Itu punya saya."
"Bukan lagi."
Sebelum Naomi sempat bereaksi, Kelvin menarik beberapa lembar lowongan dari map, melipatnya sekali, lalu memasukkannya ke tempat sampah kertas di dekat pilar.
Naomi membelalakkan mata. "Kelvin!"
Kelvin memegang sisa map yang masih berisi catatan jadwal kosong dan mengembalikannya pada Naomi.
"Aku carikan yang bayar tepat waktu."
"Kamu tidak bisa membuang barang saya begitu saja."
"Bisa kalau barang itu akan membuatmu kerja untuk orang yang tidak membayar."
"Kamu cemburu atau sedang jadi bos mafia lagi?"
Kelvin menatapnya.
Untuk pertama kalinya, jawabannya tidak langsung keluar.
Naomi memegang map di dadanya. Jantungnya berdebar, bukan hanya karena marah.
Kelvin akhirnya berkata, "Masuk kelas. Nanti aku tunggu."
"Kita belum selesai bicara."
"Memang."
Ia menatap tempat sampah kertas itu, lalu kembali pada Naomi.
"Tapi soal Brandon, aku yang urus."