Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah berapa lama?
Di bawah, teriakan Ratna masih bergaung memenuhi ruang tengah. Wanita tua itu masih berdiri di pangkal tangga, menatap ke arah kamar atas dengan napas terengah-engah dan emosi yang meluap-luap.
"Awas ya kalau kamu berani macam-macam! Kamu yang nggak bisa ngasih anak, jangan sok-sokan mau ngatur anak saya!" teriak Ratna lagi, suaranya melengking tinggi tanpa ampun.
"Cukup, Ratna! Diam!"
Bentakan keras dari Pak Baskoro seketika menghentikan serentetan makian dari mulut istrinya.
Pak Baskoro melangkah mendekati Ratna dengan wajah memerah padam, menyuarakan kemarahan yang sudah sampai di puncaknya.
"Kamu ini bukannya mendinginkan suasana, malah terus-terusan memperkeruh masalah!" tegur Pak Baskoro tajam, menatap istrinya dengan pandangan penuh kekecewaan.
"Rumah tangga anakmu sedang hancur, dan kamu justru tambah memperkeruh keadaan dengan provokasi dan cercaanmu itu! Jaga mulutmu!"
Ratna terbelalak kaget mendapati suaminya membentak setegas itu. Ia hendak membalas dan membela diri, namun tatapan membunuh Pak Baskoro membuatnya bungkam seketika.
Sementara itu di lantai atas, di depan pintu kamar, Rindu sama sekali tidak mengindahkan perdebatan di bawah maupun pegangan tangan Arsen pada pergelangan tangannya.
"Lepas!" bentak Rindu seraya menghempaskan cengkeraman tangan Arsen dengan begitu kuat hingga terlepas.
Ia menatap pria di hadapannya itu dengan sorot mata yang dingin bagaikan es, tanpa menyisakan sedikit pun hangatnya rasa cinta yang dulu pernah ada.
"Jangan pernah sentuh aku lagi, Arsen!" kata Rindu dengan suara yang pelan namun menekan, penuh penegasan yang tak bisa diganggu gugat.
"Besok, aku sendiri yang akan daftarkan gugatan cerai ke pengadilan. Kita selesai!"
Kata-kata itu bagai belati yang menusuk langsung ke dada Arsen. Pria itu menggeleng kuat-kuat, air mata panik mulai meluncur membasahi pipinya.
"Nggak, Rindu! Aku mohon, jangan." ratap Arsen. Pria itu bahkan hampir berlutut di depan pintu kamar mereka, menahan tubuh Rindu agar tak berpaling.
"Aku mohon, Sayang... beri aku kesempatan sekali lagi. Aku bakal lakuin apa aja, tapi tolong jangan bercerai! Aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Rindu!"
"Basi!" potong Rindu singkat.
Tanpa memedulikan tatapan dan ratapan memelas pria yang telah meremukkan hatinya itu, Rindu melangkah masuk ke dalam kamar.
"Rindu, aku mohon... dengarkan aku dulu!" pintanya, suaranya parau bergetar hebat.
"Aku cinta sama kamu! Demi Allah, Rindu, di hati aku cuma ada kamu! Aku salah, aku khilaf.Tapi tolong jangan tinggalkan aku, aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Sayang!"
Arsen terus memohon, bualan manis yang dulu selalu hangat di telinga Rindu kini terdengar begitu menjijikkan, memicu tawa getir yang tertahan di bibirnya.
Rindu menatap Arsen lurus-lurus, sorot matanya tajam dan menghunus, tanpa ada sedikit pun tersisa kelembutan di sana.
"Cinta?" bisik Rindu pelan, namun sanggup membungkam kepanikan Arsen seketika.
"Kalau kamu benar-benar mencintai aku, Arsen, kamu nggak akan pernah mengkhianati pernikahan kita!" tegas Rindu dengan nada menekan.
"Kamu nggak akan pernah menyentuh wanita lain, apalagi sampai menikahinya di belakangku! Kata cintamu itu cuma sampah yang memuakkan!"
Dengan sekuat tenaga, Rindu menghempaskan pintu kamar hingga terlepas dari tahanan tangan Arsen.
Brak!
Pintu terkunci rapat dari dalam. Di luar, Arsen tersungkur berlutut, menggedor kayu keras itu seraya meratap histeris memanggil nama Rindu, sementara Rindu bersandar di balik pintu dengan dada bergemuruh, membiarkan air matanya runtuh dalam diam.
Di dalam kamar yang hening dan remang, tubuh Rindu meluruh perlahan di balik pintu yang terkunci rapat.
Kedua lututnya memeluk dada, menopang tubuhnya yang mendadak hilang daya.
Di luar sana, di hadapan Arsen dan mertuanya, ia berdiri tegap. Ia memasang perisai dingin, memamerkan ketegaran dan ketegasan yang tak tertembus, sebuah sandiwara hebat agar Arsen tak pernah bisa melihat seberapa hancurnya wanita yang telah dikhianatinya. Namun kini, di ruang tertutup ini, perisai itu tanggal tanpa sisa.
Pecah sudah pertahanan Rindu. Air matanya merembes deras, membawa rasa sesak yang menghimpit dada hingga ia kesulitan bernapas.
Hatinya tidak sekadar terluka, melainkan hancur berantakan, berkeping-keping menjadi serpihan tajam yang menancap makin dalam di setiap detak jantungnya.
Cinta tulus yang selama tiga tahun ini ia jaga dengan segenap jiwa dan doa, kini ternodai oleh kebohongan yang teramat menjijikkan. Rumah tangga yang diimpikannya hingga akhir hayat, kini berada tepat di dasar jurang kehancuran.
Yang paling mengiris batinnya hingga tak berdarah adalah kenyataan pahit tentang siapa para pelaku di balik tragedi ini. Pengkhianat itu bukan sekadar orang asing. Mereka adalah dua sosok yang begitu berarti dalam hidupnya, Arsen, suami yang dipujanya sebagai pelindung, dan Nia, sahabat yang ia percayai sebagai tempat berbagi cerita.
Rindu meremas dadanya sendiri yang terasa ngilu luar biasa. Hanya isak tangis tanpa suara yang paling menyakitkan.
Dengan langkah gontai dan bahu terkulai, Arsen berjalan turun dari lantai dua. Setiap pijakan di anak tangga terasa begitu berat, seolah beban bersalah yang mengimpit dadanya menyeret tubuhnya ke bawah.
Pintu kamar di atas sudah terkunci rapat, menutup habis aksesnya menuju Rindu dan menyisakan kehampaan yang luar biasa.
Ia melangkah pelan memasuki ruang tengah, kembali menghadap kedua orang tuanya yang kini sudah duduk di sofa.
Pak Baskoro mengembuskan napas berat yang terdengar begitu bergemuruh di tengah keheningan ruangan. Pria paruh baya itu memperbaiki posisi duduknya, lalu mengarahkan pandangan matanya yang tajam dan menusuk tepat ke arah Arsen.
"Jawab Papa sejujurnya, Arsen," kata Pak Baskoro dengan nada suara yang sangat dalam dan menuntut, tak memberikan ruang sedikit pun untuk menghindar.
"Sudah berapa lama kamu menikah sama Nia?"
Arsen tersentak pelan. Jemarinya saling bertautan rapat, gemetar hebat menahan tekanan yang kian memuncak. Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya memberanikan diri membuka suara.
"Satu... satu tahun, Pa," bisik Arsen lirih dengan kepala yang makin tertunduk dalam, tak sanggup melihat reaksi orang tuanya atas pengakuan jujur tersebut.
"Satu tahun?!"
Pak Baskoro langsung membelalak kaget. Telapak tangannya menghantam meja kaca di depannya hingga menimbulkan dentuman keras yang membuat Ratna di sampingnya terperanjat.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰