Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.
Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.
Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.
Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Hari yang paling kutakutkan akhirnya tiba. Langit di atas gereja tua itu tampak abu-abu, seolah mencerminkan perasaanku yang mendung. Di dalam aula gereja yang megah dengan arsitektur gotik yang menjulang, prosesi pemberkatan berlangsung dengan sangat khidmat. Setiap kata janji yang kuucapkan di depan altar terasa seperti belenggu yang semakin kencang melilit pergelangan tanganku. Abhinav di sampingku berdiri tegak, tenang dan penuh kemenangan, sementara aku hanyalah sosok yang tersesat di balik gaun pengantin megah yang terasa seperti baju zirah yang menyesakkan.
Setelah pemberkatan, acara berlanjut ke taman luas di area gereja. Para tamu undangan orang-orang penting dari kalangan elit yang tak kukenal berdatangan untuk memberi selamat. Sepanjang hari, aku harus memasang senyum palsu, bersalaman, dan berbasa-basi di bawah pengawasan ketat G dan tatapan posesif Abhinav yang seolah memastikan tidak ada satu pun orang yang berani menyentuh "miliknya".
Energi dan emosiku benar-benar terkuras habis oleh drama yang tak berkesudahan ini. Saat matahari mulai terbenam dan tamu terakhir beranjak pergi, aku merasa seluruh tubuhku remuk. Setiap inci ototku nyeri, seolah-olah beban kehidupan yang dipaksakan kepadaku telah mematahkan daya tahanku.
Tanpa sempat berganti pakaian, tanpa sempat melepas aksesori yang masih melekat berat di tubuhku, aku ambruk di atas tempat tidur di kamar hotel tempat kami menginap. Rasa lelah yang teramat sangat membuat kesadaranku lenyap seketika, menelanku ke dalam kegelapan yang tenang, bahkan sebelum aku sempat menyadari apakah Abhinav sudah masuk ke kamar atau belum. Aku tertidur dalam balutan pakaian pengantin yang masih utuh, terbawa oleh keletihan yang begitu dalam.
Pintu kamar terbuka dengan suara engsel yang hampir tak terdengar, disusul oleh derap langkah tenang Abhinav yang memasuki ruangan. Ia tidak langsung beranjak ke tempat tidur, melainkan berhenti sejenak, memandang diriku yang terkapar tak berdaya dalam balutan gaun pernikahan yang masih melekat erat.
Ia mendekat, dan dengan gerakan yang sangat berhati-hati, ia mulai melonggarkan kaitan gaun itu. Setiap kain yang ia singkapkan seolah dilakukan dengan presisi seorang ahli melepas perhiasan, tiara, dan aksesori pernikahan yang berat satu demi satu, tanpa menimbulkan suara yang bisa mengusik tidur nyenyakku.
Setelah tubuhku terbebas dari beban pakaian yang menyesakkan itu, ia mengambil kapas dan pembersih wajah. Dengan teliti, ia menghapus riasan tebal di wajahku. Jemarinya yang besar namun terasa begitu lembut mengusap kelopak mata, pipi, dan bibirku, menyapu bersih sisa-sisa topeng pernikahan yang tadi kupakai sepanjang hari. Ia melakukannya dengan kesabaran yang tak terduga, seolah sedang memoles sebuah benda berharga miliknya agar kembali murni dan bersih.
Setelah wajahku benar-benar bersih, ia meraih piyama berbahan sutra yang lembut dan memakaikannya ke tubuhku dengan penuh kehati-hatian. Saat ia menyelimutiku hingga sebatas dada, ia berhenti sejenak, menatap wajahku yang kini polos tanpa riasan. Ada tatapan yang sulit diartikan di balik mata hazel nya sesuatu yang tampak seperti kepuasan, namun terselip keinginan posesif yang begitu pekat. Ia membelai helaian rambutku sekali sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berbaring di sampingku, membawa kedekatan yang tak bisa kuhindari bahkan dalam tidurku.
Dalam sisa-sisa kesadaranku yang mengambang di antara tidur dan bangun, aku merasakan sebuah tarikan lembut. Sesuatu yang hangat dan berat merapat ke punggungku, disusul oleh lengan yang melingkar posesif di sekitar pinggangku, menarikku masuk ke dalam dekapan yang begitu nyata.
Aroma maskulin yang tajam campuran dari wine, kayu cendana, dan parfum mahalnya menyusup ke indra penciumanku. Aku berusaha untuk membuka mata, ingin memastikan apakah ini mimpi atau realita yang memang sudah tak terelakkan, namun rasa lelah yang menghujam tubuhku jauh lebih kuat. Kelopak mataku terasa tertambat, menolak untuk terangkat meski hanya sedetik.
Aku merasakan napasnya yang teratur berhembus pelan di ceruk leherku, sebuah sensasi yang seharusnya membuatku waspada, namun entah mengapa, dekapan itu memberikan rasa aman yang ganjil di tengah keterasingan yang kurasakan. Perlahan, perlawanan dalam diriku meluruh. Aku tidak lagi mencoba untuk melepaskan diri. Dengan pasrah dan tubuh yang semakin lemas, aku membiarkan diriku tenggelam lebih dalam, membiarkan pelukannya menjadi satu-satunya dunia yang kukenal malam ini. Akhirnya, aku kembali terhanyut ke dalam lelap, terkunci rapat di balik dekapannya yang tidak memberiku ruang untuk melarikan diri, namun cukup hangat untuk membuai jiwaku yang lelah.