Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Rahasia yang Terbongkar
Suasana gedung pernikahan Sam dan Vanya begitu megah dan dipenuhi tamu undangan. Mita, Rara, dan Sari berjalan beriringan, langsung menjadi pusat perhatian karena keanggunan gaun mermaid mereka. Malam ini, mereka memancarkan pesona yang berbeda lewat warna gaun masing-masing; Mita tampak begitu anggun dan tenang dalam balutan warna biru laut, Rara terlihat menawan dengan warna ungu yang elegan, sedangkan Sari memancarkan kesan hangat sekaligus berkelas lewat warna cokelat.
Saat sedang asyik berbincang di dekat area prasmanan, tiba-tiba seorang wanita seangkatan mereka di kampus bernama Nia berjalan mendekat dengan senyum lebar. Nia mengenakan gaun dengan potongan model dan warna biru laut yang sangat mirip dengan yang dikenakan Mita. Bedanya, bagian perut Nia tampak sedikit menyembul di balik kainnya yang ketat.
"Eh, ya ampun! Baju kita bisa mirip begini ya? Warnanya sama-sama biru laut lagi!" seru Nia heboh begitu menyadari kemiripan gaun mereka.
Rara yang melihat itu langsung menyenggol lengan Nia sambil tertawa bercanda, "Heh, Nia! Kamu ini lagi hamil ya? Kok perutnya buncit begitu?"
Nia langsung melotot dan menepuk perutnya sendiri dengan heboh. "Mana ada aku hamil! Menikah pun belum, pacaran juga tidak ada! Bagaimana mau punya pacar, aku ini diatur-atur banget sama kakak laki-lakiku yang introvert setengah mati itu!" Keluhan Nia sontak membuat Sari tertawa karena tahu betul rasanya punya kakak laki-laki yang protektif.
"Oh iya, sorry, sorry!" sahut Rara sambil terkekeh geli. "Masalahnya begini loh... sebenarnya yang hamil itu si Mita. Tapi kenapa malah perutmu yang kelihatan lebih gede?"
Nia seketika tertegun, matanya langsung beralih menatap Mita dengan pandangan tidak percaya. "Ya ampun, Mita?! Kamu hamil? Aku bahkan tidak tahu kalau kamu sudah menikah!"
Mita tersenyum canggung namun tetap tenang. "Iya, sudah... nanti saja ya kita bahas masalah itu di kampus."
Nia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan kagum sekaligus haru. "Eh Mita, aku benar-benar tidak menyangka loh. Ternyata secantik-cantiknya kamu, rupanya sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu. Selamat ya, Mita! Duh, aku sungguh tidak tahu kalau kamu ternyata akan segera punya momongan."
"Iya, terima kasih banyak ya, Nia," jawab Mita tulus.
Mendengar ucapan Nia, Rara dan Sari langsung pasang badan dengan kompak. Sebagai sahabat siaga, mereka segera mengambil posisi di depan meja hidangan.
"Kalau begitu, hei kalian berdua sebagai temannya, tolong jaga makanan Mita ya! Jangan sampai ada makanan atau minuman yang mengandung alkohol yang dia konsumsi!" ujar Nia mengingatkan dengan perhatian.
"Siap bos! Itu sudah pasti aman di tangan kami!" sahut Rara dan Sari bersamaan sambil memberi hormat jenaka, membuat suasana di tengah pesta itu terasa begitu hangat bagi Mita.
Namun, tanpa mereka sadari, posisi mereka mengobrol itu tepat berada di dekat Sam yang sedang berdiri tidak jauh dari sana. Sam yang awalnya berniat mengambil minuman, seketika mematung saat mendengar potongan obrolan tersebut. Kata "Mita hamil" bergaung begitu keras di telinganya, menghantam dadanya hingga terasa sangat sesak.
Sam memperhatikan Mita dari kejauhan dengan tatapan tidak percaya. Matanya tertuju pada gaun biru laut itu, memperhatikan lekat-lekat ke arah perut Mita yang dikatakan sedang mengandung—janin yang artinya sudah ada di sana sejak beberapa bulan yang lalu, bahkan sebelum Sam menikahinya dulu. Namun anehnya, perut Mita justru terlihat masih begitu pas dan rata di balik gaun ketatnya.
Kenyataan itu seketika membuat pikiran Sam berputar liar dan membandingkannya dengan kondisi calon istrinya saat ini. Ironisnya, Vanya yang belum pernah ia sentuh sama sekali selama ini, justru memiliki perut yang sudah kelihatan lebih buncit dari apa yang ada di dalam bayangannya. Kontras yang aneh itu membuat kepala Sam mendadak pening. Bayangan demi bayangan kecurigaan mulai berkecamuk, membuat pikiran Sam semakin kabur dan bingung di tengah riuhnya hari pernikahannya sendiri.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)