NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar utama rumah nomor 115, jatuh tepat di wajah Cia.

Gadis itu mengerjap pelan, mengumpulkan nyawanya. Ia meraba sisi kasur di sebelahnya, menduga akan menemukan ruang kosong yang dingin seperti biasanya. Namun, tangannya justru membentur dada bidang yang hangat.

Cia membuka mata seutuhnya. Di sebelahnya, Mayor Ren Adhyaksa masih berbaring di atas ranjang. Pria itu menumpukan kepala di atas lengan kanannya, sementara lengan kirinya yang dibalut perban anti-air dibiarkan berada di atas perut. Matanya terbuka, menatap Cia dengan ekspresi yang sangat damai.

Cia melirik jam beker di nakas. Pukul 07.15 WIB.

"Tumben komandan belum bangun? Biasanya jam segini udah selesai keliling kompleks tiga putaran," suara Cia serak, ia menarik selimut sebatas dada sambil tersenyum menggoda.

"Saya sudah bangun sejak pukul empat tiga puluh, Dokter," jawab Ren santai. Suara baritonnya di pagi hari terdengar luar biasa seksi. "Tapi karena ada perintah absolut dari Panglima untuk menunda aktivitas fisik, saya memaksakan diri melakukan simulasi tidur selama tiga jam terakhir."

Cia tertawa lepas hingga bahunya bergetar. Membayangkan seorang perwira menengah Pasukan Khusus berbaring menatap langit-langit kamar selama tiga jam hanya untuk mematuhi istrinya adalah hal yang sangat konyol sekaligus romantis.

"Kasihan banget sih suamiku," Cia menggeser tubuhnya mendekat, menyandarkan kepalanya di bahu kanan Ren. "Pasti gatal ya badannya pengin olahraga?"

Ren menunduk, mengecup dahi Cia cukup lama. "Rasa gatal itu bisa ditoleransi, selama kompensasinya adalah melihatmu bangun tidur dari jarak sedekat ini."

Pipi Cia memerah. Ia segera bangkit duduk sebelum pria ini melontarkan gombalan lapangan lainnya yang bisa membuat jantungnya berolahraga lebih awal.

"Ayo, mandi. Target operasi pertama kita hari ini: tukang bubur ayam di depan gerbang cluster," perintah Cia antusias, melompat turun dari ranjang.

Setengah jam kemudian, pasangan itu berjalan beriringan menyusuri trotoar kompleks perumahan yang asri.

Udara pagi Bandung terasa sejuk. Cia mengenakan sweter rajut berwarna lilac dan celana jeans, sementara Ren mengenakan kaus polo hitam berlengan pendek dan celana chinos. Meski berpakaian kasual sipil, postur tegap, rahang mengeras, dan langkah terukur sang Mayor membuatnya tetap terlihat seperti agen rahasia yang sedang menyamar. Belum lagi perban putih tebal yang menyembul dari balik lengan baju kirinya.

Di depan gerobak bubur ayam Mang Udin yang sedang ramai pembeli, Cia memesan dua mangkuk.

Mereka duduk di kursi plastik merah yang sedikit reyot. Ren mengamati sekelilingnya dengan tatapan memindai. Ia memperhatikan jarak gerobak dari jalan raya, posisi kendaraan yang lewat, hingga jumlah orang di sekitarnya. Insting protektifnya tak pernah mati, bahkan di hadapan semangkuk bubur.

"Mas, ini Mang Udin, tukang bubur kompleks, bukan intel musuh. Santai aja matanya," tegur Cia sambil menyodorkan mangkuk bubur ke depan Ren.

Ren berdeham pelan, menarik pandangannya dan fokus pada mangkuk di depannya.

"Tim diaduk atau nggak diaduk?" tanya Cia, memegang sendoknya siap-siap.

"Tidak diaduk," jawab Ren tegas. "Mencampur semua elemen makanan menjadi satu akan merusak tekstur dan hierarki rasanya. Dalam taktik logistik tempur, kita harus tahu apa yang kita makan lapis demi lapis."

Cia mencibir, lalu dengan sengaja mengaduk buburnya sendiri hingga menjadi bubur bubur yang hancur berantakan. "Tim diaduk adalah jalan ninja kelangsungan hidup anak IGD, Mas. Kita nggak punya waktu buat meresapi hierarki rasa. Yang penting nutrisi masuk dengan cepat sebelum ada pasien kecelakaan datang."

Ren menggelengkan kepalanya pelan, ujung bibirnya berkedut menahan senyum melihat tingkah bar-bar istrinya yang kontras dengan jas putih yang biasa ia kenakan.

Mereka menghabiskan sarapan pagi itu dengan obrolan ringan. Sesekali, beberapa tetangga kompleks yang sedang lari pagi menyapa mereka. Ren hanya mengangguk sopan, membiarkan Cia yang mengambil alih peran public relations keluarga Adhyaksa dengan senyum ramahnya.

Misi kedua hari itu: Supermarket.

Suasana supermarket di akhir pekan cukup padat. Cia berjalan masuk sambil membaca daftar belanjaan di ponselnya. Di belakangnya, Mayor Ren bertugas sebagai operator troli logistik. Pria itu mendorong troli menggunakan tangan kanannya saja, sementara tangan kirinya yang terluka ia masukkan ke dalam saku celana agar tidak tersenggol orang.

"Sayur-sayuran dulu, Mas," instruksi Cia, berbelok ke lorong produk segar.

Ren mendorong troli itu dengan presisi mutlak. Tidak ada insiden roda troli yang menabrak rak atau menyenggol kaki pengunjung lain. Ia memosisikan troli tepat di sudut yang tidak menghalangi jalan orang, lalu berdiri tegap mengawasi Cia yang sedang sibuk memilih paprika.

Bagi Ren, lorong supermarket ini terasa seperti peta operasi. Cia adalah Very Important Person (VIP) yang harus ia kawal, dan ibu-ibu yang berlarian mengejar diskon minyak goreng adalah potensi ancaman yang harus ia waspadai.

"Mas, tolong ambilin selada air yang di rak atas itu dong, aku nggak nyampe," Cia berjinjit, menunjuk ke rak teratas.

Ren melangkah maju. Dengan tinggi badannya yang menjulang di angka 185 sentimeter, ia meraih selada itu dengan sangat mudah menggunakan tangan kanannya, lalu meletakkannya ke dalam troli.

"Target sayuran clear. Selanjutnya?" tanya Ren dengan nada seolah ia baru saja melumpuhkan sasaran.

Cia tertawa geli hingga ia harus menutupi mulutnya. "Ya ampun, Mas. Nggak usah kaku gitu bahasanya. Sekarang kita ke lorong daging dan seafood."

Saat mereka sedang berada di lorong daging, seorang ibu paruh baya yang terburu-buru mendorong trolinya dengan kecepatan tinggi tiba-tiba berbelok tajam di tikungan rak, meluncur lurus ke arah Cia.

"Awas, Neng!" teriak ibu itu panik karena roda trolinya macet.

Dalam hitungan kurang dari dua detik, sebelum troli itu sempat menyentuh Cia, Ren sudah bergerak.

Pria itu menarik pinggang Cia dengan tangan kanannya, menyembunyikan istrinya di balik tubuh tegapnya. Di saat yang sama, ia menggunakan kaki kanannya untuk menahan laju troli ibu tersebut, menghentikannya tepat beberapa sentimeter dari lututnya. Gerakan itu sangat cepat, bersih, dan tanpa suara.

Cia yang wajahnya menabrak dada bidang Ren, mengerjap kaget. Bau musk dan parfum maskulin suaminya langsung memenuhi penciumannya.

"E-eh, ya ampun! Maaf ya, Mas, Neng. Trolinya macet ini rodanya," ibu paruh baya itu meminta maaf dengan wajah pucat, takut melihat tatapan tajam Ren yang menembusnya.

Ren menarik kakinya, auranya sangat dingin. "Perhatikan kecepatan Anda di ruang publik, Bu. Sangat berbahaya."

"Iya, iya, Mas. Punten pisan," ibu itu buru-buru menarik trolinya mundur dan kabur ke lorong lain.

Cia mendongak, menatap suaminya. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan karena hampir tertabrak troli, melainkan karena refleks melindungi yang ditunjukkan Ren selalu berhasil membuat lututnya lemas.

"Mas, kakimu nggak apa-apa?" Cia mengecek kaki Ren dengan panik.

"Hanya troli plastik. Tidak akan mematahkan tulang kering saya," jawab Ren datar, namun tangan kanannya masih melingkar posesif di pinggang istrinya. "Kamu aman?"

"Aman. Kan ada perisai bajaku," Cia tersenyum lebar, menepuk dada Ren pelan. "Ayo lanjut. Tinggal beli bumbu dapur sama snack buat kamu ngemil kalau lagi bikin laporan malam-malam."

Siang hari di rumah nomor 115.

Setelah menata semua belanjaan di kulkas dan lemari penyimpanan, Cia menyeduh teh chamomile hangat dan membawanya ke ruang keluarga.

Ren sedang duduk di atas karpet berbulu tebal, bersandar pada sofa. Televisi menyala menayangkan film aksi, namun mata pria itu terpejam rileks. Kaus polonya sudah sedikit kusut, dan wajahnya memancarkan kedamaian yang absolut.

Cia meletakkan cangkir teh di atas meja, lalu ikut duduk di atas karpet. Ia menyelipkan tubuhnya di antara kaki suaminya, menyandarkan punggungnya ke dada bidang Ren.

Secara otomatis, lengan kanan Ren melingkar di bahu Cia, merengkuh gadis itu. Pria itu membuka matanya, menumpukan dagunya di puncak kepala Cia.

"Gimana rasanya hari Sabtu jadi warga sipil biasa, Mayor?" tanya Cia santai, jarinya memainkan ujung kaus Ren. "Membosankan?"

Ren terdiam sejenak. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah. Dapur yang bersih, kulkas yang penuh, televisi yang menyala, dan aroma sabun stroberi dari rambut gadis di pelukannya.

Selama bertahun-tahun, definisi akhir pekannya adalah membersihkan laras senapan, membaca laporan intelijen, atau memimpin patroli di hutan berlumpur. Ia tidak pernah tahu bahwa mendorong troli supermarket dan sarapan di pinggir jalan bisa terasa begitu... membebaskan.

"Tidak, Almeera," bisik Ren, suaranya sangat rendah dan mengalun syahdu. "Ini jauh dari kata membosankan."

Ren mempererat pelukannya, menempelkan hidungnya di rambut Cia.

"Di medan perang, saya selalu waspada pada setiap suara karena itu mungkin pertanda kematian," Ren melanjutkan, nada suaranya berubah menjadi sangat tulus. "Tapi di sini... suara televisi, suara piring yang beradu saat kamu menata belanjaan, hingga suara napasmu... semuanya adalah pertanda kehidupan."

Cia tersenyum haru, matanya sedikit berkaca-kaca. Ia mengusap lengan Ren yang melingkari tubuhnya. "Itu artinya kamu udah mulai beradaptasi sama kehidupan rumah tangga normal kita."

"Ya," Ren mengecup pelipis Cia dengan lembut, meresapi rasa hangat yang menjalar di hatinya. "Dan saya baru menyadari... kedamaian yang saya perjuangkan dengan darah dan peluru selama ini, ternyata bentuk fisiknya ada di rumah ini. Bersamamu."

Di luar sana, langit Bandung mulai berawan, bersiap menjatuhkan gerimis rintik-rintik. Namun di dalam rumah itu, cuaca tidak lagi menjadi masalah. Sang Jenderal kecil telah berhasil menjinakkan komandannya seutuhnya, mengubah barak militer menjadi rumah yang paling hangat, dan mengubah akhir pekan yang kaku menjadi strategi paling manis yang pernah dijalankan oleh Mayor Ren Adhyaksa.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!