Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Kekayaan III
Di tengah deretan rumah-rumah tak terawat dan pepohonan tinggi, berdiri sebuah rumah megah yang terasa begitu tidak masuk akal.
Rumah itu dilapisi cat putih bersih tanpa noda sedikit pun. Di sekeliling bingkai jendelanya yang menjulang tinggi, ornamen-ornamen rumit berlapis warna emas yang elegan.
Siapa pun yang melihatnya pasti akan bertanya-tanya dengan rasa tak percaya. Bagaimana mungkin bangunan semewah ini masih berdiri kokoh diluar jangkauan Menara Pelindung?
Seolah tidak pernah tersentuh kekacauan pada ‘Malam Kehancuran’ yang telah membuat manusia mentelantarkan semua bangunan diluar zona pelindung.
Matahari telah terbenam.
Pekatnya malam kini sepenuhnya menggantikan cahaya senja.
Pak Dadang dan Bu Siska keluar dari mobil dengan kaki gemetar.
Tanpa mereka sadari, mereka telah dikepung.
Berdiri melingkar, kumpulan hantu terdiam memaku pandangan mereka tepat ke arah dua manusia yang tak berdaya itu.
Wujud makhluk-makhluk itu teramat bervariasi dan mengerikan. Ada sosok yang kisahnya sudah sering berembus dalam mitos masyarakat umum, hingga bentuk-bentuk monster mengerikan yang tak pernah terbayangkan oleh pikiran manusia.
Dengan peluh dingin yang membasahi dahi, Pak Dadang mencoba melirik ke arah belakang.
Jalan setapak yang tadi mereka lalui kini telah ditelan sepenuhnya oleh gulungan bayangan hitam pekat dan kabut putih tebal yang mengunci seluruh area, bergerak aktif seolah-olah menjadi dinding tak kasat mata yang melarang keras siapa pun untuk berpaling dan melarikan diri.
Mereka benar-benar terperangkap.
Krrrrriiiiieeeeekkkkk...
Suara berderit keras dan berat membelah malam. Pintu kayu raksasa di bagian depan rumah mewah itu perlahan-lahan terbuka dari dalam.
“Masuklah…”
Sebuah suara serak dan berat bergema pelan, memotong hening dan memaksa Pak Dadang serta Bu Siska secara refleks mengalihkan pandangan mereka ke arah ambang pintu yang terbuka.
“Tenang saja, mereka tidak akan menyerang kalian.”
Di balik daun pintu yang terbuka lebar, berdiri sesosok pria berbadan tegap yang dibungkus jubah hitam tebal. Kepalanya botak tanpa sehelai rambut pun, memantulkan bias cahaya remang dari dalam ruangan. Garis-garis wajahnya keras, dingin, dan ditegaskan oleh alis tebal yang membingkai matanya yang tajam.
Dengan langkah kaku dan jantung yang berdegup kencang, Pak Dadang dan Bu Siska melangkah maju, mengekor di belakang pria botak berjubah hitam tersebut.
Berbeda jauh dengan tampilan luar rumah yang megah dan bersih, interior di dalam bangunan itu justru diselimuti kegelapan. Cahaya penerangan hanya berasal dari lilin-lilin kecil yang tergantung.
Aroma bau dupa yang menusuk hidung berpadu samar dengan amis darah kering, merayap memenuhi setiap sudut udara.
Belum jauh mereka melangkah masuk, terdengar derap langkah kaki berlari kencang dari depan. Seorang pria tak dikenal muncul dari kegelapan dan menerobos paksa di antara mereka berdua, berlari histeris menuju pintu keluar yang masih terbuka.
“T-tidak! Semua ini pasti palsu!” jerit pria itu seraya melompat keluar.
BRAK!
Seketika itu juga, dari balik pintu yang tertutup rapat, terdengar suara raungan, disusul oleh jeritan kesakitan dari pria tadi.
Suara koyakan kain, derak tulang yang patah, dan cegukan darah terdengar begitu jelas sebelum akhirnya lenyap.
Sensasi dingin merayap naik dari telapak kaki Pak Dadang hingga ke ubun-ubunnya. Tubuh tua itu mematung sepenuhnya.
Di sebelahnya, Bu Siska membekap mulutnya sendiri rapat-rapat, mata bergetar hebat.
Dengan bibir gemetar, Pak Dadang memberanikan diri menatap punggung pria botak di depan mereka.
"D-Dia... kenapa, Pak?"
Pak Dadang menunjuk ke arah pintu yang kini terkunci rapat.
Pria botak berjubah hitam itu berhenti melangkah, tanpa memutar tubuhnya ia berkata.
"Oh, dia? Dia tidak percaya padaku dan memilih untuk kabur. Biarkan saja dia."
Kata-kata pria itu menegaskan satu hal yang mengerikan.
Tidak ada jalan memutar, tidak ada ruang untuk berubah pikiran.
Dengan berat hati keduanya mengikuti pria botak itu hingga akhirnya tiba di sebuah ruangan yang luas.
Di tengah lantai ruangan tersebut, terukir sebuah pola lingkaran raksasa berwarna merah gelap. Garis-garis rumit dan simbol misterius yang tidak dapat dimengerti orang awam.
Pria botak itu menghentikan langkahnya tepat di tepi lingkaran. Ia berbalik perlahan, lalu menatap Bu Siska dan Pak Dadang secara bergantian.
“Jadi siapa yang ingin melakukan ritual?”
Bu Siska melangkah maju sambil tersenyum cerah.
“Saya, Tuan," sahut Bu Siska cepat. Ia melirik Pak Dadang sekilas sebelum kembali menatap sang pria botak.
"Pak tua di sebelah saya ini hanya menemani saya di sini."
"Baiklah. Ibu ikuti saya ke dalam, dan Bapak... tetap di sini." Jawab pria botak itu sambil mengangguk pelan.
Bibir pria botak itu menyunggingkan senyum tipis sewaktu melangkah masuk bersama Bu Siska ke dalam sebuah ruangan kecil yang gelap gulita di sudut aula.
Menit demi menit berlalu.
Pak Dadang berdiri kaku di tengah ruangan mengerikan itu. Bau amis dan hawa panas di udara semakin pekat, membuat mual menekan tenggorokannya.
Beberapa menit kemudian, suara derap langkah kembali terdengar dari ruangan gelap.
Bu Siska berjalan keluar bersanding dengan pria botak tersebut. Senyuman di wajah wanita itu kini berubah—tampak sangat aneh, kaku, dan hampa, seolah kewarasannya telah bergeser.
"Hehehe..."
Suara terkekeh pelan bergema dari celah bibir Bu Siska.
Pak Dadang seketika merinding hebat yang menjalar dari tengkuk hingga ke seluruh tubuhnya.
Di dalam cengkeraman tangan kanan Bu Siska, tercekik seekor Ayam Cemani.
Tubuh unggas itu seluruhnya hitam—mulai dari bulunya yang legam, paruh, jengger, hingga cakarnya.
Ayam itu meronta-ronta hebat, mengepakkan sayap dan bersuara berisik secara histeris, berusaha keras meloloskan diri dari cengkeraman jemari Bu Siska yang mencengkeram lehernya.
Tanpa memedulikan rontaan itu, Bu Siska dan pria botak melangkah mantap menuju tepat ke tengah gambar lingkaran di ruangan itu.
Pak Dadang memaku pandangannya, membeku dalam ketakutan. Pendengarannya mendadak menangkap sesuatu yang tidak wajar.
Suara kokokan dan jeritan melengking dari ayam berbulu hitam itu perlahan-lahan terdistorsi. Nada suara unggas yang berisik itu memudar, berganti menjadi lengkingan tangis parau dari seorang gadis kecil.
"Mama! Mama! Adik mau diapain...?"
Keringat dingin yang mengucur deras membasahi punggung dan pakaian lusuhnya. Matanya terbelalak menatap ayam di tangan Bu Siska.
Pria botak itu berdiri di tepi lingkaran, memberi perintah dengan suara berat.
"Lakukan seperti yang sudah dijelaskan. Jangan menarik pisaunya sebelum lehernya benar-benar putus."
"Baik, Tuan..."
Bu Siska menjatuhkan ayam cemani itu tepat di titik pusat lingkaran, menekan tubuh unggas yang meronta itu ke lantai marmer yang dingin. Di tangan kanannya yang lain, kini sudah tergenggam sebilah golok tajam yang berkilat tertimpa cahaya lilin.
Begitu mata golok yang dingin dan tajam itu mulai menggorok kulit leher sang ayam, jeritan anak kecil itu meledak semakin histeris, terdengar begitu jelas dan menyayat hati tepat di gendang telinga Pak Dadang.
"Mama sakit! Adik salah apa, Mama! Mama...!"
Namun, seolah-olah sepenuhnya tuli terhadap benturan suara memilukan, Bu Siska terus menggerakkan goloknya dan tetap tersenyum.
Krrrekkk...
Darah hitam pekat menyembur, membasahi garis-garis pola di lantai. Kepala ayam itu akhirnya terputus sepenuhnya. Bersamaan dengan lepasnya kepala unggas tersebut, suara jeritan dan tangisan anak kecil tadi seketika lenyap.
Pak Dadang gemetar hebat. Dengan bibir yang kaku dan suara yang bergetar hebat, ia memberanikan diri menyapa wanita di depannya.
"B-Bu... permisi... apa tadi Ibu dengar suara anak kecil meminta tolong?"
Bu Siska mendongak perlahan dari genangan darah hitam di tengah lingkaran. Wajahnya masih tersenyum dan tatapan mata yang tak lagi memancarkan binar manusia.
"Saya tidak mendengar apa-apa, Mungkin itu hanya imajinasi Pak Dadang saja.”