NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Operasi Kramat Jati

"Sepenuhnya."

Kata itu menjadi perintah sebelum subuh.

Tiga truk disiapkan di gerbang utama Cluster Pondok Indah. Yanto memeriksa ban dan solar. Fajar memeriksa daftar personel. Cahaya berdiri dengan papan logistik, menandai karung kosong, tali, terpal, kotak Kristal, dan jalur pulang. Herman memberi peta kasar Pasar Kramat Jati yang ia dapat dari salah satu orang lamanya.

"Perkiraan dua ratus sampai tiga ratus zombie," kata Herman. "Banyak supplies. Beras, mie instan, bumbu, mungkin obat dari kios sebelah. Tapi pasar itu sempit. Kalau salah masuk, orang bisa mati bukan karena zombie kuat, tapi karena nggak bisa mundur."

"Berarti kita masuk dari pintu selatan," kata Hendry. "Keluar tetap lewat selatan. Jangan serakah mengejar lorong yang belum dipetakan."

Tim yang dibawa tidak besar. Hendry, Raja, Bagus, Awan, Melati, Fajar, Budi, Sari, Angin Cahyadi, Lina Kusuma, dan delapan anggota tempur lain. Cahaya ikut sampai zona aman luar untuk mengatur muatan, bukan masuk terlalu dalam.

Angin Cahyadi, Wind Power Level 1 dari kelompok Herman, terlihat gugup tapi matanya cepat membaca celah jalan. Lina Kusuma, Light Power Level 1, membawa tas medis kecil di bawah koordinasi Mawar. Ia belum sekuat Mawar, tetapi cukup untuk menahan luka kecil di lapangan.

Sebelum berangkat, Mawar menyerahkan perban tambahan kepada Hendry.

"Jangan terlalu jauh dari tim medis."

Hendry menatapnya. "Aku yang harus bilang itu pada orang lain."

"Aku tahu. Makanya aku bilang ke kamu."

Melati berdiri tidak jauh, pura-pura memeriksa sarung tangan. Hendry melihatnya, mengingat ramalan Nasi, lalu mengalihkan pandangan ke peta.

"Berangkat."

Konvoi bergerak saat langit Jakarta masih abu-abu. Jalan menuju Pasar Kramat Jati melewati ruko kosong, mobil terbakar, dan beberapa titik yang sudah mulai dipenuhi tanaman liar. Di beberapa simpang, zombie Level 1 berkeliaran, tetapi Tim Alpha membersihkannya tanpa berhenti lama.

Raja Level 4 menjadi bayangan hitam di depan konvoi. Satu sambaran petir terarah cukup untuk menjatuhkan zombie yang terlalu dekat. Anggota tempur di truk melihat itu dengan campuran kagum dan takut.

Pintu selatan Pasar Kramat Jati masih berdiri, tetapi sebagian pagar sudah roboh.

Bau busuk menyambut mereka lebih dulu.

Pasar yang dulu penuh suara tawar-menawar sekarang menjadi lorong lembap berisi kios rusak, sayur busuk, ikan kering membusuk, darah lama, dan plastik berserakan. Air kotor menggenang di lantai. Atap seng membuat cahaya pagi masuk terpotong-potong.

"Masker," perintah Fajar.

Semua orang menutup hidung.

Operasi awal berjalan terlalu lancar.

Lima puluh zombie pertama dibunuh dalam tiga puluh menit. Tim Beta membuka jalur. Bagus menghantam lutut, Awan membekukan lantai tipis agar zombie jatuh, Budi dan anggota tempur menghabisi dari belakang. Tim Gamma menjaga lorong. Melati membakar titik sempit seperlunya, tidak membiarkan api melebar ke kios penuh barang.

Hendry bergerak di tengah, matanya membaca alur pasar.

Setiap kali zombie Level 1 atau Level 2 jatuh tetapi belum mati, ia mengangkat tangan.

Tangan Kosong.

Ruang di sekitar dahi zombie berkerut tipis. Kristal di dalam kepala tertarik keluar seperti benda kecil yang dicuri dari saku tanpa menyentuh tubuh. Zombie itu langsung kehilangan tenaga dan roboh. Tidak perlu memecah kepala. Tidak perlu membuang pukulan.

Fajar yang melihat pertama kali hampir lupa mencatat.

"Komandan, itu..."

"Efisiensi," kata Hendry. "Catat Kristal tanpa kerusakan."

Dalam satu jam, kotak Kristal pertama terisi lebih cepat daripada operasi sebelumnya. Cahaya yang menunggu di zona luar menerima laporan melalui radio pendek dan langsung menyesuaikan karung muatan.

Mereka menemukan supplies pertama di blok sembako: dua puluh karung beras yang masih layak, ratusan dus mie instan, garam, minyak goreng, kecap, dan beberapa kotak obat warung. Dewi pasti akan menangis bahagia kalau melihat rak bumbu itu, meski ia mungkin akan pura-pura memarahi semua orang karena cara mengangkatnya salah.

Cahaya dari radio langsung meminta semua barang diberi tanda lokasi. "Jangan campur beras dengan obat. Foto rak sebelum diangkat. Kalau kita harus mundur, kita tahu apa yang belum diambil."

Instruksi itu membuat operasi terasa bukan sekadar menjarah pasar. Ini pemetaan sumber daya. Setiap karung yang diberi tanda berarti beberapa hari porsi Anggota Baru. Setiap dus mie instan berarti poin logistik. Setiap botol obat batuk bisa menjadi alasan satu anak tidak mati karena demam kecil.

Bagus tersenyum lebar sambil memikul dua karung. "Komandan, kalau tiap operasi begini, gue rela latihan empat jam."

Awan menatap lantai. "Jangan bicara terlalu cepat."

Peringatan itu datang tepat sebelum lorong basah bergerak.

Di antara kios ikan dan meja potong, zombie-zombie yang tadinya tampak seperti tumpukan mayat mulai bangkit. Mereka bersembunyi di bawah terpal, di balik freezer rusak, di antara keranjang plastik. Bau busuk pasar menutupi bau mereka.

"Kontak!" teriak Fajar.

Serangan datang dari tiga arah.

Melati langsung membuka api di lorong kiri. Api menyapu pendek, menciptakan jalur aman, tetapi panas dan suara membuat zombie di blok belakang ikut bergerak.

"Api menarik lebih banyak!" teriak Angin.

"Aku tahu!" Melati membalas. "Kalau tidak dibakar, mereka sudah di lehermu!"

Awan menghentakkan kaki. Es menyebar di lantai basah. Air kotor membeku menjadi lapisan licin yang memperlambat zombie, tetapi anggota tim harus bergerak hati-hati agar tidak jatuh.

"Langkah pendek!" Awan memberi perintah. "Jangan lari!"

Strategi itu menyelamatkan garis kanan. Zombie Level 2 yang mencoba menerobos kehilangan pijakan, lalu dihantam Bagus dari samping. Budi menghabisi satu lagi, kali ini tanpa maju terlalu jauh. Sari menutup sudut gelap agar zombie salah arah.

Namun jumlahnya terus bertambah.

Dari utara pasar, suara gerombolan datang seperti ombak dalam ruangan sempit.

Fajar naik ke atas meja kios, wajahnya berubah. "Komandan! Dua ratus lebih dari arah utara. Campuran Level 1 dan Level 2. Mereka bergerak serentak!"

Hendry melihat lorong di depan, belakang, kiri, kanan.

Pasar itu bukan medan terbuka.

Ini perangkap daging.

"Semua tim, rapat ke blok tengah!" perintahnya. "Muatan ditinggalkan dulu. Nyawa lebih mahal dari beras."

Mereka mundur ke area tengah pasar, membentuk lingkaran kasar di antara kios buah dan meja besi. Raja berdiri di depan dengan listrik menyala. Bagus dan Awan menutup sisi kanan. Melati menahan sisi kiri. Angin memakai hembusan pendek untuk mendorong bau busuk dan memberi pandangan lebih jelas. Lina membantu membalut luka seorang anggota yang kena cakaran dangkal.

Zombie mulai memenuhi setiap lorong.

Di tengah tekanan itu, Hendry melihat sesuatu yang tidak sesuai.

Di balik kios daging yang roboh, ada sosok manusia bergerak sendirian.

Bukan zombie.

Pria itu bertarung tanpa senjata panjang. Tubuhnya penuh luka, tetapi gerakannya tajam. Sikut, sapuan kaki, pukulan telapak, langkah miring. Setiap zombie yang mendekat dipatahkan ritmenya, dijatuhkan, lalu dihantam tepat di belakang kepala.

Pencak Silat.

Di tempat yang sudah dikepung lebih dari dua ratus zombie, masih ada manusia yang bertarung sendirian.

Hendry menyipitkan mata.

"Siapa itu?"

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!