NovelToon NovelToon
Tak Akan Aku Biarkan Kau Ambil Suamiku, Mbak!

Tak Akan Aku Biarkan Kau Ambil Suamiku, Mbak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: Aryani Ningrum

Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.

Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.

Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.

Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27

Netra Rayyan menatap kesal pada wanita yang tidak mengerti apa itu sindiran cemburu. Dengan menghentakkan kakinya Rayyan masuk ke dalam kamarnya.

Laras dibuat heran oleh Rayyan yang tiba-tiba pergi begitu saja tanpa menjawab apa yang ia tanyakan, minim menyetujui atau tidak jika dirinya periksa ke dokter kandungan.

"Mas ... Mas Rayyan ..! Mas kok pergi begitu saja?! Mas belum jawab lhoh, setuju apa tidak jika Laras pergi periksa ke dokter kandungan.

Rayyan tetap berjalan dengan sedikit menghentakkan kakinya, panggilan Laras sama sekali tidak ia hiraukan.

"Laras, apa yang sudah kamu lakukan hingga suamimu marah, hah!" hardik Mak Harti tiba-tiba, hingga membuat Laras terkejut dan hampir saja tersandung kaki meja ruang tamu itu.

"Eh, Emak dari mana? Malam-malam begini emak tuh dari mana aja?" sahut Laras memutar tubuhnya dan berbalik ke arah suara wanita yang ia sayangi dan muliakan itu. Walaupun sepintas lalu penampilan Mak Harti terlihat seperti wanita kuno karena masih pakai kebaya dan jarik bagian bawahnya, Laras tetap menganggapnya sebagai sosok yang harus dia utamakan setelah Sang Penciptanya.

Laras tahu jika bagi wanita yang telah bersuami tentu saja dia harus menomor satukan suaminya sebelum ibunya. Akan tetapi suami yang bagaimana dulu, bagi Laras Rayan masih lah suami kontraknya yang hanya akan menjadi suami selama satu tahun saja. Dan semua itu juga dia lakukan karena tidak ingin ibunya melakukan hal yang tidak membahayakan nyawanya sendiri.

"Kamu itu ditanya malah balik nanya, jangan begitu, Nduk, tidak sopan. Jawablah pertanyaan orang tanpa balik bertanya, tidak baik dan tidak sopan," ucap Mak Harti seraya mengeluarkan sesuatu dari tas kresek yang dia bawa.

"Iya, Mak. Maafkan Laras, tadi Laras hanya kesal pada mas Rayyan. Laras kan ingin memeriksakan diri Laras ke dokter kandungan agar tahu apakah rahim Laras ini baik-baik saja, karena sudah sudah tiga bulan menikah Laras belum hamil juga," ucap Laras terlihat kecewa.

Mak Harti tersenyum melihat anaknya yang polos itu. "Yang namanya hamil atau tidak itu adalah keputusan dari Sang Pencipta, Nduk. Kita tidak bisa memaksa untuk cepat hamil ataupun memundurkannya. Ada yang benar-benar tanpa dipinta pun dia akan cepat hamil dan juga yang benar-benar mengharapkan, bahkan sudah melakukan berbagai cara, eh ... tidak hamil juga!"

Mak Harti menjelaskan bahwa hamil itu hanyalah hak Veto dari Allah. Tidak ada yang bisa mendahului dan tidak bisa memundurkannya.

"Iya, Mak. Tapi kan Laras ingin cepat hamil agar anak ini bisa merasakan kasih sayang orang tuanya secara lengkap," ucap Laras keceplosan tanpa sadar. Memang jika dengan sang ibu sebelum nikah, semua Laras ungkapan apa yang menjadi ganjalan di hatinya.

"Laras! Apa maksudmu? Apa kamu katakan tadi tidak lah baik, Nak. Anak yang ada di dalam kandungan mu akan tetap punya orang tua, emak tidak akan mengizinkan kamu ataupun Rayyan untuk berpisah. Jangan pernah berkata hal yang buruk, berkatalah hal yang baik karena kita tidak tahu perkataan kita yang mana akan dikabulkan oleh Allah. Sudah cukup Laras, jangan berkata yang aneh-aneh lagi!"

Mak Harti menatap tajam pada anaknya, dia terkejut mendengar apa yang baru saja Laras katakan.

Glek!

"Aduh ... Kenapa mulut ini keceplosan?!" Laras merutuki kebodohannya sendiri yang sudah bicara tanpa rem. Bahkan dia tidak sadar kalau yang ia ajak bicara itu adalah sosok yang tidak boleh tahu tentang apa yang menjadi rahasia besarnya.

"Mmm ... Maaf, Mak. Bukan begitu maksud Laras tadi. Laras hanya tidak ingin anak yang kelak tumbuh di dalam sini, merasakan penderitaan yang sama dengan Laras karena ditinggal oleh bapak, Mak. Semenjak mas Rayyan sakit, Laras selalu berpikir berlebihan, takut mas Rayyan kenapa -kenapa," jawab Laras menjadikan sakit kepala Rayyan sebagai alasannya.

Walaupun memang pikiran itu ada, akan tetapi bukan itu hal yang utama, melainkan perjanjian kontrak dirinya dengan Naya.

"Laras, itulah yang membuatmu tidak kunjung hamil juga. Kamu terlalu stress, dan wanita yang ingin cepat hamil itu tidak boleh stres. Oh ya kamu belum pergi bulan madu kan dengan Rayyan? Emak minta kamu tinggalkan pekerjaan mu dan bulan madu lah dengan Rayyan. Masalah biaya, biar emak yang nanggung. Emak masih punya simpanan uang hasil jualan jamu dulu. Uang itu emak sisihkan hanya untuk mu Laras, kau patut mendapatkan kebahagiaan," ucap Mak Harti mengeluarkan buku tabungan yang ia bawa tadi sekalian setoran.

Laras menerima buku tabungan yang disodorkan oleh Mak Harti. Dengan tatapan yang tidak percaya, Laras membaca nominal yang tertera di buku tabungan itu.

"Apa?! Dua ratus juta?!" pekik Laras melihat angka yang berderet dengan enol sebanyak delapan buah.

"Gunakan itu untuk bulan madu, jangan pikirkan apa-apa lagi. Itu duit emak dan jika kau ingin bilang sayang jika hanya untuk bulan madu lebih baik untuk naik haji. Ketahuilah Laras, bulan depan adalah bulan haji dan emak akan berangkat bulan itu. Emak sudah mendaftarkan diri sebagai calon haji Furoda."

"Apa?! Emak sudah mendaftarkan haji Furoda? Haji yang mahal itu, Emak?! Yang langsung bisa berangkat tanpa menunggu antrian itu, Mak?" tanya Laras bertubi -tubi. Dia sangat terkejut dengan kabar berita yang dikatakan oleh Mak Harti.

"Benar, dan semua itu dari hasil jerih payahnya emak dan juga uang yang selalu kau berikan untuk emak. Selain itu juga dari adik-adik mu yang selalu kirim uang bulanan untuk emak. Enak simpan semua dan tidak pernah emak pakai. Emak ingin naik haji tanpa harus khawatir meninggalkan mu, Laras."

Mak Harti menitikkan air matanya, dia sangat bersyukur memiliki anak-anak yang baik. Ketiga anaknya memanglah sangat baik, hanya saja di saat pernikahan Laras yang terkesan mendadak itu adik-adiknya tidak bisa hadir karena masing-masing baru saja memiliki anak. Adik perempuannya baru saja melahirkan dan adik iparnya pun juga sama.

"Alhamdulillah, Mak. Ternyata adik-adik ku semua memang baik, walaupun tidak bisa hadir di pernikahan Laras, tapi hati mereka masih mau memikirkan emak. Laras kira mereka sudah tidak peduli dengan emak lagi, ternyata Laras salah. Laras sudah berburuk sangka pada adik-adik Laras, Mak," ucap Laras ikut menangis.

Selama ini dia telah salah menilai adik-adiknya, memang keadaan sang adik tidaklah sesukses dirinya. Akan tetapi minim mereka juga peduli dengan sang ibu itu sudah lebih dari cukup bagi seorang Laras.

"Itulah kamu Laras. Kamu selalu banyak pikiran hingga menutup dirimu sendiri, dan menjadi sosok yang berpikiran negatif. Kurangilah hal itu, jangan kau ikuti pikiran burukmu jika kamu ingin secepatnya hamil. Wanita yang ingin cepat hamil harus tenang, bahagia dan tidak banyak pikiran. Mak ingin saat emak berangkat haji besok, kamu juga bulan madu!" tegas Mak Harti tidak ingin dibantah oleh Laras.

"Tapi, Mak. Musim haji hanya tinggal hitungan jari saja. Apa ini tidak buru-buru, Mak?" sahut Laras yang heran pada ibunya itu yang jalan pikirannya memang susah ditebak dan penuh kejutan.

"Tidak, Laras. Semua sudah emak persiapkan sebelumya. Kamu dan enak akan siap-siap berangkat semua. Tenangkan pikiran mu dan selesaikan pekerjaan mu sebelum berangkat."

Laras mengangguk pelan diselingi dengan senyuman bahagianya.

"Okey, Mak. Sekarang Laras akan coba memberi tahu mas Rayyan." Laras berkata demi membuat hati sang ibu tenang. Laras mengecup kening sang ibu, lalu melangkah menuju kamarnya.

*****

Keesokan harinya di butik Laras, demi agar bisa memenuhi keinginan sang ibu, Laras menyelesaikan semua pesanan dari pelanggannya.

Dari pagi sampai jam tutup butik, Rayyan terus mengekori Laras. Keduanya sudah mulai menjalankan aktivitas seperti biasanya di mana Laras mengurus toko butik bersama Rayyan yang membantunya memviralkan produk yang Laras produksi di toko butiknya.

Belakangan ini Rayyan lebih aktif dari biasanya, aktif menempel pada Laras sampai-sampai wanita itu kesusahan melakukan aktivitas. Tiap Laras customer pria yang mencari gaun untuk sang kekasih, maka Rayyan terus memepet pada Laras dan memastikan agar interaksi Laras dengan pria lain tidak terlalu dekat dengan adanya Rayyan di tengah-tengah keduanya.

Bukan hanya itu, bahkan secara terang-terangan Rayyan ngedumel pada Laras dan mengakui kalau dirinya cemburu. Rayyan tidak menyukai Laras dekat-dekat dengan costumer pria, sehingga mulai saat itu Laras menyuruh karyawan toko untuk melayani consumer pria.

"Mas Rayyan lain kali jangan seperti tadi lagi, ya? Masa cemburu sama pelanggan, lagipula kan pelanggan pria ke toko butik Laras untuk mencari baju buat pasangannya. Bukan buat pdkt an sama Laras," ucap Laras, meminta pengertian pada Rayyan untuk tidak bersikap demikian karena Laras tidak mau membuat suaminya salah paham.

Mendengar teguran Laras tidak membuat Rayyan memberengut, namun raut wajahnya berbanding dengan isi hatinya, Rayyan memasang wajah imutnya dengan senyuman manis khasnya di depan sang istri.

"Aku cuma tidak mau Mbak Laras dekat-dekat dengan pria lain. Tidak salah, kan?" jawab Laras dengan tampang polosnya, yang mana membuat Laras menghela napas pasrah, membiarkan saja sebebas suaminya saja.

"Iya, ya sudah tidak apa-apa, Mas Rayyan berhak kok larang Laras untuk berinteraksi dengan siapa saja. Tapi, Laras cuma gak mau kalau Mas Rayyan seperti tadi bisa-bisa membuat pelanggan tidak nyaman." Akhirnya Laras yang mengalah, mau bagaimana juga Laras tidak tega jika melihat wajah polos nan manipulatif Rayyan yang selalu memasang wajah polos dan menggemaskan itu.

"Ya udah Mas Rayyan makannya dihabiskan dong, kan Laras sudah masak. Ini resep spesial masakan dari Emak, Lho, Mas." Laras menaruh capcay masakannya ke dalam piring Rayyan, dengan senang hati lelaki itu menerimanya. Karena bagi Rayyan, masakan Laras paling enak meskipun terkadang suka kelebihan garam dan rasanya sangatlah asin.

1
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!