NovelToon NovelToon
Second Half: Velix The Next Legend

Second Half: Velix The Next Legend

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Wawan wan

Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.

"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix

bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33 Irisan Pisau Bedah

BAB 33: Irisan Pisau Bedah

Bola hasil umpan belah bumi (laser pass) dari kaki Velix meluncur begitu deras, meninggalkan riak rumput yang tertekan di sepanjang jalurnya. Dua bek tengah SMP Cendrawasih Pusat yang memiliki postur kekar tersentak. Mereka tidak menyangka Velix bisa melihat celah sekecil itu di antara kerapatan lini tengah mereka.

Striker utama Merah Marun menerima bola tepat di ruang antar-lini. Begitu menyentuh bola, dia langsung merasakan tekanan dari bek tengah lawan yang merangsek maju untuk melakukan body crash.

"Jangan kasih dia balik badan!" teriak kiper Cendrawasih lantang.

Sesuai dengan cetak biru transisi yang sudah dilatih berulang kali, striker utama Merah Marun tidak memaksakan diri untuk memutar tubuh. Dia menggunakan dinding dadanya untuk memantulkan bola kembali ke lini kedua—persis ke ruang kosong yang ditinggalkan oleh Arya yang sebelumnya terkecoh oleh Velix.

Di sana, Danu sudah berlari menyongsong bola pantul tersebut.

"Danu! Tembak!" teriak Pak Joko dari pinggir lapangan sampai badannya condong melewati garis pembatas.

Danu tidak mengontrol bola. Menggunakan seluruh kekuatan kaki kanannya, dia melepaskan tendangan first-time dari luar kotak penalti. Bola melesat lurus bagaikan peluru kendali menuju pojok kanan atas gawang Cendrawasih Pusat.

Wusss!

Penjaga gawang Cendrawasih yang memiliki refleks tingkat elit menunjukkan kelasnya sebagai pemain beasiswa nasional. Dia melompat secara diagonal, meregangkan seluruh tubuhnya, dan berhasil menyentuh ujung bola dengan ujung jarinya.

Plak!

Bola berbelok arah, menghantam mistar gawang dengan keras sebelum akhirnya memantul keluar lapangan. Hanya menghasilkan tendangan sudut untuk Tim Merah Marun.

Stadion Cendrawasih seketika mengembuskan napas lega yang massal. Sorakan penuh ketegangan terdengar dari tribune hitam-emas. Mereka hampir saja tertinggal dari tim kecamatan yang tidak diperhitungkan ini.

"Sialan! Dikit lagi!" Danu berteriak frustrasi sambil menjambak rambutnya sendiri, tidak percaya peluang emasnya digagalkan oleh penyelamatan fantastis.

Velix berjalan mendekat, menyeka peluh yang mengalir di rahang tajam tubuh 165 cm-nya. Sifat hangat dan suportifnya kembali memancar untuk menjaga mental sang kapten. Dia menepuk dada Danu dengan mantap.

"Tendangan lu udah sempurna, Dan. Kiper mereka aja yang lagi beruntung," ucap Velix dengan suara baritonnya yang tenang, memberikan senyuman renyah yang seketika meredakan kekecewaan Danu. "Fokus ke tendangan sudut. Ini momen kita."

Menit ke-25, Velix berjalan menuju sudut lapangan sebelah kanan untuk mengambil eksekusi tendangan penjuru. Ini adalah pertama kalinya dia mengambil bola mati di level provinsi.

Begitu Velix menaruh bola di titik busur, atmosfer di dalam kotak penalti Cendrawasih Pusat langsung berubah mencekam. Enam pemain bertubuh tegap milik Cendrawasih menumpuk di depan gawang, melakukan kawalan satu-satu (man-to-man marking) yang sangat ketat terhadap pemain Merah Marun.

Arya berdiri di tiang dekat, matanya menatap tajam ke arah Velix dengan napas yang mulai memburu. Tingkat frustrasinya yang berada di angka 45% membuatnya kian waspada.

Velix mundur tiga langkah ke belakang, mengambil sudut diagonal. Di sudut pandangnya, layar Sistem mendadak memunculkan kalkulasi lintasan baru berkat efek sinkronisasi skill Pirlo yang kian matang.

[Mengaktifkan Fitur Pendukung: Analisis Putaran Bola Terbuka]

[Target Lintasan: Tiang Jauh (Far Post)]

[Rekomendasi Teknik: Outswinging Curve dengan Efek Backspin Mikro]

Di bawah pengaruh Cold-Blooded Mentor, detak jantung Velix berada di angka ideal, 72 BPM. Dia tidak melihat ke arah kemelut pemain; matanya menatap ruang kosong di belakang bek terakhir Cendrawasih yang luput dari pengawasan.

Prreeettt! Wasit meniup peluit, memberi isyarat eksekusi.

Velix berlari kecil, menumpu kaki kirinya dengan kokoh di samping bola, lalu mengayunkan kaki kanannya dengan pergelangan kaki yang dikunci erat. Bagian dalam sepatunya mengiris sisi bawah si kulit bundar dengan presisi yang mengerikan.

Bum!

Bola melesat tinggi, melambung menjauhi gawang (outswing) untuk mengecoh jangkauan kiper, sebelum akhirnya berputar melengkung secara ekstrem menukik tajam menuju tiang jauh. Sebuah irisan bola mati yang tampak seperti karya seni seorang seniman Italia di atas lapangan hijau Barat.

1
Alia Chans
lanjut🌹✍️🤭
Wawan
Salam kenal buat Velix✍️
aldo
seru sekali 🙏🙏🙏🙏
aldo
ayo lanjut author 🙏🙏🙏🙏
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏
NoxVeil
Ayok like dan komen guys biar tambah smngt up nya💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!