Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.
Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.
Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.
Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambutan sang Mafia
"Selamat datang, serigala betinaku. Selamat datang di kediaman Garda Rajamu," ucap Garda sembari bangkit lalu berjalan mendekat ke arah Zara yang langsung beringsut mundur.
"Tidak-tidak! Jangan begitu. Aku adalah Rajamu sekarang. Kamu bukan budak bajingan bernama Herdi dan Susi lagi. Kamu akan kujadikan Ratu di istanaku," jelas Garda dengan nada kepuasan seolah ia baru saja menemukan harta karun di antara semak-semak.
Namun masih dengan tatapan penuh siaga, Zara tak melepaskan pandangan dari pria itu.
"Dengar, aku mengerti perasaan ketidakberdayaan itu. Tapi kamu harus tahu, bahwa tekad, ambisi, dan perasaan ingin balas dendam itu sia-sia tanpa adanya kekuasaan dan kekuatan." Garda mengatakannya seolah ia tahu bahwa Zara mengerti apa yang ia maksud.
"Dan aku, memiliki semuanya. Uang, relasi, koneksi, dan semua yang kamu butuhkan. Kemarilah, jadilah Ratuku, dan kita menikmati kepuasan itu bersama. Hanya orang sepertiku yang mampu memahami dirimu, Zara," ucap Garda menuntut meyakinkan.
"Rasa sakit orang yang sudah menjatuhkanmu, balas dendam itu, 'dopamin' yang kamu butuhkan itu, hanya aku yang bisa membawamu untuk mewujudkannya," ungkap Garda yang kini tangannya telah di raih oleh Zara.
***
Dunia tidak pernah benar-benar mengenal kata adil, dan pada akhirnya–malam itu Zara memahami makna kalimat tersebut sepenuhnya. Di hadapannya, Garda telah membentangkan sebuah jalan baru yang menawarkan segala bentuk kemewahan dunia; kekuasaan, kekayaan, dan kepuasan untuk membalas setiap tetes luka serta penderitaan yang pernah tumpah darinya. Namun di sisi lain, jalan itu juga pasti menuntut harga yang ia sendiri belum mengetahui akan semahal apa yang harus ia bayar nantinya.
Selama ini Zara hidup sebagai buruan, sebagai korban yang selalu lari demi tetap bernapas. Namun malam itu, segala rasa takut dan keraguannya runtuh seketika, digantikan oleh tekad yang terlahir dari kebencian dan hasrat balas dendam yang begitu kuat. Ia sadar, di dunia ini hanya ada dua pilihan: menguasai atau dikuasai, memangsa atau dimangsa. Zara pun telah siap mengambil keputusan mutlak yang akan mengubah seluruh jalan takdirnya.
Bersama uluran tangan yang disambutnya dengan mantap, iapun menjual jiwanya kepada Garda. Seorang Mafia kelas berat, penguasa dunia malam dan segala bentuk bisnis gelap. Zara menyerahkan dirinya ke tangan iblis bertopeng manusia.
"Jangan terburu-buru, semua hal butuh waktu. Bahkan kejahatan pun memiliki seni. Keindahan itu bisa dinikmati setelah melalui banyak proses terlebih dahulu. Sekarang, beristirahatlah dulu. Karena untuk melakukan sebuah perang, dibutuhkan tubuh yang sehat dan strategi yang kuat, faham?" ucap Garda sembari mengecup punggung tangan Zara yang baru saja meraihnya.
"Beristirahatlah, serigala betinaku yang cantik," ucap Garda sembari berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Ini kamarmu sekarang," ucap Garda sebelum akhirnya menutup pintu ruangan itu.
Klap!
Kesunyian seketika menelan ruangan kamar luas itu. Zara mengedarkan pandangan lalu beringsut turun untuk mengamati sekeliling. Jelas ruangan itu bahkan lebih luas dibanding kamar utama di kediamannya. Bahkan sudah dilengkapi kamar mandi, dan alat-alat olahraga.
"Ini kamar, atau rumah?" monolognya terheran-heran.
Seringai kecil tersungging di sudut bibirnya. Ia tahu bahwa kini ia memiliki kesempatan yang selama ini selalu ia tunggu-tunggu. Semua rasa sakit itu, harapan semu itu, serta gelanyar ambisi untuk balas dendam yang kian menggebu, semuanya meluap hingga membuat perasaannya terlalu kompleks untuk didefinisikan sebagai kesenangan atau ketakutan.
Menyadari bahwa semua itu adalah kenyataan, seketika membuat dadanya berdegub kencang.
"Ini belum apa-apa. Ini bukan apa-apa, tunggu. Tunggu saja, dan kita lihat nanti," monolognya sembari memegangi dadanya yang terasa hampir meledak.
"Ah ... Ah! Ha! Hahah! Hahahha! Tidak, jangan begini, seperti katanya, pelan-pelan saja," kekeh Zara yang kini menggenggam chip kecil yang merupakan sebuah kartu memori, lalu menutup mulutnya sendiri yang ingin tertawa karena euforia yang sulit dijelaskan.
"Mari jatuh bersama, dan mati bersama, pasti menyenangkan sekali," gumam Zara kini sembari tersengir-sengir sendiri.
***
Keesokan paginya, seseorang datang menghampiri kamar Zara. Dengan ragu, ia mengetuk pintu kayu jati itu dengan perlahan.
Tok! Tok!
Dua ketukan cukup untuknya memastikan apakah sang pemilik kamar sudah bangun atau belum. Namun ketika ia hendak berbalik untuk melengos pergi, tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan.
Ceklek!
"E-ah? Su-sudah bangun?" gagap pria pengetuk pintu yang ternyata adalah Bani itu.
"Ya?" tanya Zara datar.
Bani terkesima saat melihat Zara berdiri di hadapannya dengan peluh mengucur di dahi dan tubuhnya–yang hanya memakai kaos hitam polos dan celana olahraga kebesaran. Rambutnya yang diikat asal membuat garis dagu dan lekukan leher jenjangnya terlihat jelas.
"Ka-kamu abis ngapain?" gagap Bani lagi sembari memalingkan wajah dengan pipi memerah.
"Hm?" Zara menaikkan sebelah alisnya lalu membuka sedikit pintu kamarnya.
"Ada banyak alat olahraga. Aku coba-coba aja, soalnya dari dulu penasaran banget sama alat-alat itu," ucap Zara sambil mengangkat bahu.
"Oh...." Bani membulatkan mulutnya dengan alis terangkat.
"Maaf soal semalam. Itu cuma perintah, jadi ... saya terpaksa," gugup Bani sembari menunjuk Zara, dengan maksud menjelaskan soal sikapnya semalam saat di dalam mobil.
Tanpa menjawab Zara hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.
"Oh iya, Bos meminta saya buat nemenin kegiatan kamu mulai hari ini," ucapnya sambil mengangkat sebuah notebook di tangannya, menunjukkan tabel jadwal harian pada Zara.
"Kita mulai dari...."
Bruk!