"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."
Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.
Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.
Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.
Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 Balasan Sang CEO
Halo semuanya!
Menghilang beberapa hari ini bukan karena aku gantung ceritanya, ya. Aku mau minta maaf karena sempat hiatus singkat tanpa kabar. Kebetulan duniaku di luar Noveltoon lagi sibuk-sibuknya karena bentrok antara tugas kuliah dan jam kerja.
Terima kasih atas kesabaran kalian menunggu bab selanjutnya. Dukungan kalian berarti banget buat aku! 🫶
Selamat membaca😊
✨✨✨
Keheningan yang menyelimuti penthouse malam itu terasa begitu pekat, tebal, dingin, dan perlahan menuntut jawaban.
Ravian tetap bergeming bahkan setelah tangis Liora sepenuhnya mereda dan napas gadis itu kembali teratur. Jemarinya masih bergerak, menyisir perlahan rambut Liora yang berantakan dengan ritme yang terlalu konstan, hampir terasa mekanis. Sentuhan itu memang tetap hati-hati, namun kehangatan yang tadi mengalir di sana telah menguap tanpa sisa.
Wajahnya begitu tenang, namun sepasang matanya menceritakan kisah yang sama sekali berbeda.
Kelembutan yang tadi memenuhi tatapannya perlahan menghilang. Sorot matanya kini menjelma menjadi dinding es yang kokoh dan tak tersentuh, tatapan kejam dan penuh kalkulasi yang sama, digantikan dinginnya es yang selama ini membuat para lawan bisnisnya gentar.
Ravian telah kehilangan sisa toleransinya.
“Tidurlah di kamar utama, Liora,” suaranya rendah, lembut, tetapi menyimpan ketegasan yang tidak memberi ruang untuk bantahan.
“Saya masih punya beberapa urusan yang harus diselesaikan malam ini.”
Liora mendongak. Sepasang matanya yang sembap menatap wajah Ravian dengan kekhawatiran yang belum sepenuhnya sirna.
“Pak Ravian mau ke mana? Ini sudah hampir tengah malam.”
Ravian menatapnya sesaat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. “Hanya membereskan beberapa masalah kelabang yang mengganggu tidur kita.”
Senyum itu singkat dan nyaris tidak sampai ke matanya. Ia hanya ingin menenangkan Liora.
Ravian mengantar gadis itu hingga ke ambang pintu kamar, menunggu sampai Liora benar-benar masuk dan mengunci pintu dari dalam. Baru setelah mendengar bunyi kunci yang berputar, ia berbalik.
Langkahnya berubah.
Tidak lagi membawa kelembutan seorang pria yang baru saja menenangkan seseorang yang dicintainya, melainkan ketegasan seorang penguasa yang telah memutuskan bagaimana sebuah hukuman akan dijatuhkan.
Ia berjalan menuju ruang kerja.
Ruangan itu didominasi warna hitam, kaca tebal, dan garis-garis arsitektur yang dingin. Di tengahnya berdiri meja mahoni besar yang tampak kokoh seperti benteng.
Ravian duduk di baliknya.
Tak membuang waktu, ia mengambil ponsel khusus yang hanya digunakan untuk komunikasi terenkripsi, lalu menekan satu nomor.
Panggilan tersambung.
“Rav?” suara Julian Vance terdengar serak dari seberang telepon, berat oleh sisa kantuk.
“Ini jam dua pagi. Ada darurat di bursa efek luar negeri atau kantor kita kebakaran?”
“Bangunkan tim analis keuangan senior,” nada Ravian datar. “Kepala hukum juga. Dan perintahkan Divisi Akses Investasi Evander Corp untuk bersiap.”
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada penjelasan.
Hanya perintah yang jatuh satu demi satu seperti palu yang menghantam meja pengadilan.
Sisa-sisa rasa kantuk yang menggelayuti Julian mendadak sirna tanpa bekas. Kesadaran penuh langsung menyengat kepalanya.
“Ada apa, Rav?” suaranya berubah serius.
Ravian bersandar di kursinya. Tatapannya lurus menembus dinding kaca yang memantulkan bayangan dirinya sendiri.
“Elara baru saja menyeberangi garis batas yang seharusnya tidak pernah ia sentuh.” Ia menjeda sejenak. “Dia mengancam keluarga Liora.”
Keheningan singkat tercipta di antara mereka. Sesaat kemudian, nada suara Ravian merosot drastis, menyisakan sebaris kalimat yang terasa jauh lebih menusuk dan tak tersentuh.
“Saya tidak ingin melihat nama Arabell Group masih terdaftar di papan utama bursa saham ketika pasar ditutup besok sore.”
Julian terpaku. Sarafnya menegang karena ia sangat memahami tabiat Ravian luar dalam.
Saat kalimat 'menyeberangi garis batas' meluncur dari bibir pria itu, ia sadar itu bukan lagi taktik retorika seorang pebisnis yang sedang memancing kompromi.
Itu adalah bahasa dari seorang pria yang telah menjatuhkan vonis mati pada semua pilihan lain.
Ketika Ravian sampai di titik itu, kompromi sudah menjadi mustahil. Tidak ada lagi ruang untuk membujuk atau berbalik arah. Yang tersisa bagi siapa pun di hadapannya hanyalah menghitung mundur waktu, diam membisu, dan pasrah menunggu badai akibatnya runtuh menghantam mereka.
“Arabell Group sedang mengajukan suntikan dana melalui pinjaman sindikasi bank sebesar tiga triliun rupiah,” Julian akhirnya berkata setelah membuka beberapa data. “Mereka membutuhkan dana itu untuk menutup defisit proyek properti di Cikarang. Kalau pinjaman tersebut gagal cair besok pukul sepuluh pagi, obligasi mereka akan jatuh tempo pertengahan bulan. Kemungkinan besar mereka akan masuk status gagal bayar.”
“Beli empat puluh persen surat utang mereka,” jawaban Ravian datang tanpa keraguan. “Gunakan perusahaan investasi kita di Singapura.”
Julian melepaskan napasnya perlahan. “Rav...”
“Setelah itu, hubungi Direktur Utama Bank Konsorsium,” Ravian menyandarkan punggungnya. “Beritahu dia, jika pinjaman Arabell Group disetujui besok pagi, Evander Corp akan menarik seluruh simpanan kas eksekutifnya dari bank mereka.”
Tatapan Ravian mengeras. “Dan batalkan seluruh kerja sama teknologi sistem perbankan kita dengan mereka. Saat itu juga.”
Untuk beberapa detik, Julian tidak menjawab. Lalu terdengar tawa hambar dari seberang telepon.
“Itu... gila, Rav,” ia membuang napas panjang. “Bank pasti akan panik. Mereka akan memilih menyelamatkan diri sendiri dan membatalkan pinjaman Arabell. Kalau itu terjadi, Arabell Group bisa kolaps dalam hitungan hari.”
Julian menahan kalimatnya satu detik, sebelum akhirnya kembali membuka suara. “Ayah Amanda bisa terkena serangan jantung.”
“Setiap tindakan memiliki konsekuensi.” suara Ravian tetap tenang. “Begitu pula dengan setiap perkataan.”
Ia menatap layar ponselnya yang masih menyala.
“Itu harga dari memelihara seseorang yang tidak tahu bagaimana menjaga lisannya,” suaranya terdengar begitu dingin hingga tidak menyisakan sedikit pun belas kasihan.
“Lakukan sekarang, Julian,” ia mengakhiri percakapan dengan satu kalimat terakhir. “Saya tunggu laporan pembatalannya sebelum pukul sembilan pagi.”
***
Pagi datang tanpa membawa ketenangan bagi Arabell Group.
Jika matahari di luar sana terbit seperti biasa, gedung pencakar langit milik keluarga Arabell justru menyambut hari baru dengan kepanikan yang menjalar dari satu lantai ke lantai lainnya.
Telepon berdering tanpa henti. Suara langkah kaki tergesa-gesa memenuhi koridor. Para eksekutif berbisik dengan wajah pucat.
Di tengah kekacauan itu, Elara Arabelle baru saja melangkah masuk ke ruang kerjanya.
Gaun mahakarya desainer papan atas melekat anggun, mendefinisikan siluet tubuhnya tanpa cela. Setiap helai rambutnya tergelung presisi tanpa ada satu pun yang mencuat tak keruan, sementara lengkung senyum kemenangan masih enggan beranjak dari bibirnya.
Ia membayangkan Liora.
Gadis miskin yang menurut pikirannya, kini pasti sedang menangis ketakutan. Mungkin sedang mengemasi pakaian, bersiap meninggalkan Jakarta demi menyelamatkan nama baik ibunya, Rahayu.
Elara hampir bisa membayangkan wajah putus asa itu.
Namun sebelum senyum kemenangan tersebut sempat bertahan lebih lama—
Brak!
Pintu ruangannya terbuka dengan kasar.
“Elara!” suara ayahnya mengguncang ruangan. “Apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan?!”
Komisaris Utama Arabell Group masuk dengan wajah merah padam. Napasnya memburu. Tangannya gemetar menahan amarah sekaligus kepanikan.
Beberapa map dokumen dilemparkannya ke atas meja. Kertas-kertas berhamburan seperti serpihan harapan yang baru saja dihancurkan.
“P-Papa?” Elara berdiri tergesa-gesa. “Ada apa?”
“Konsorsium bank membatalkan pinjaman tiga triliun kita!” suara sang ayah nyaris pecah. “Sepihak!”
Elara berdiri kaku di tempatnya.
“Surat utang perusahaan kita dibeli habis oleh investor asing misterius. Mereka sekarang menuntut pelunasan instan besok pagi!” wajahnya mulai kehilangan warna.
“Saham kita jatuh dua belas persen hanya dalam satu jam pertama perdagangan!” pria paruh baya itu mencengkeram sisi meja. “Kita hancur, Elara!”
Napasnya bergetar. “Bisnis kita hancur!”
Detik itu juga, rona kehidupan seolah tersedot habis dari wajah Elara, menyisakan paras yang memucat pasi.
“G-gagal bayar?” suaranya nyaris tak terdengar. “Kenapa tiba-tiba, Pa? Kemarin semuanya masih berjalan lancar.”
“Karena kamu!”
Bentakan itu membuat Elara tersentak. Ayahnya menunjuk wajahnya dengan jari yang gemetar.
“Direktur bank menelepon Papa sepuluh menit lalu. Katanya seseorang dari lingkaran tertinggi Evander Corp ikut campur!”
Jantung Elara serasa diremas oleh sesuatu tak kasat mata.
“Kamu membuat masalah apa dengan Ravian Evander?”
Tidak ada jawaban. Karena pada detik itulah Elara mengingat semuanya.
Pesan yang ia kirimkan kepada Liora semalam. Ancaman yang ia tuliskan dengan penuh kesombongan. Keyakinannya bahwa Ravian tidak akan pernah peduli pada seorang gadis seperti Liora.
Betapa bodohnya ia.
Tubuh Amanda mulai menggigil. Ia kehilangan kendali atas tubuhnya. Tungkainya mendadak lemas hingga ia kembali jatuh terduduk di kursinya.
Sebuah kesadaran baru yang mengerikan mendadak menghantam kepalanya, menyingkap tabir yang selama ini membutakan matanya.
Ia sadar, Ravian Evander jauh lebih berbahaya dari sekadar sosok pria berdarah dingin. Pria itu bukan cuma seorang penguasa korporasi yang bertangan besi dengan kuasa tanpa batas.
Ravian adalah manifestasi dari kehancuran itu sendiri. Seseorang yang ketika sesuatu yang berharga miliknya diusik, sanggup meruntuhkan dunia dan membakar apa saja di sekelilingnya menjadi medan perang berdarah tanpa ragu sedikit pun.
Dan kesalahan terbesar Elara kali ini adalah, yang ia usik bukan lagi urusan bisnis atau angka-angka di atas kertas.
Ia telah menyentuh Liora—satu-satunya nama yang menjadi titik lemah sekaligus murka terbesar seorang Ravian Evander.
***
Di lantai empat puluh dua Evander Corp, pintu lift eksekutif terbuka perlahan.
Liora melangkah keluar dengan perasaan yang masih bercampur aduk. Ia belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi ketika langkahnya tiba-tiba terhenti.
Di balik dinding kaca tebal ruang kerja, Ravian baru saja mengakhiri sebuah panggilan telepon.
Kemeja putih melekat pas di tubuhnya, dengan bagian lengan yang tergulung rapi hingga batas siku, menampilkan kesan kasual namun tetap berkelas. Ekspresi wajahnya begitu tenang, kontras dengan beberapa helai rambut yang jatuh sedikit acak-acakan di dahinya; sebuah ketidaksempurnaan sengaja yang justru melemparkan aura karisma dan wibawa yang semakin pekat.
Seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun malam sebelumnya.
Seolah-olah dunia tidak sedang runtuh di suatu tempat.
Ponsel di tangan Liora bergetar. Satu notifikasi muncul di layar.
ARABELL GROUP TERANCAM BANGKRUT: GAGAL BAYAR OBLIGASI DAN PEMBATALAN PINJAMAN BANK SECARA MENDADAK.
Mata Liora membulat. Ia membaca berita itu sekali lagi lalu perlahan mengangkat wajah.
Tatapannya bertemu dengan tatapan Ravian dari balik dinding kaca.
Untuk beberapa saat, tidak ada suara.
Tidak ada kata.
Hanya dua pasang mata yang saling berbicara dalam diam.
Ravian akhirnya menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang tidak akan pernah ia berikan kepada siapa pun.
Senyum yang mengandung dominasi, ketenangan, sekaligus sebuah janji yang hanya ditujukan kepada gadis di hadapannya.
Ia berjalan menuju pintu. Membukanya perlahan dan berhenti tepat di hadapan Liora.
Liora masih terpaku pada layar ponselnya.
“Pak Ravian...”
Ravian tidak menjawab pertanyaan yang bahkan belum sempat selesai terucap.
Ia hanya menatap, mengunci pandangannya, menembus langsung ke manik mata gadis itu selama beberapa saat.
Ketika bibirnya akhirnya bergerak, suara yang lolos darinya bermuara rendah, hangat, dan begitu tenang hingga justru terasa lebih menggetarkan daripada sebuah ancaman.
“Sudah saya katakan, Liora,” Ravian melangkah sedikit lebih dekat. “Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhmu.”
Tatapannya tidak bergeser sedikit pun. “Atau keluargamu.”
Ia menahan kelanjutan ucapannya sejenak. Senyum tipis kembali terukir di bibirnya.
“Tanpa membayar harganya kepada saya.”