NovelToon NovelToon
Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Suami Tak Berguna / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sikumbang

Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cuma Masa Lalu

Herman berdiri di ambang pintu. Topi masih menutup separuh wajahnya. Kaos oblongnya basah keringat, entah habis jalan jauh atau sengaja.

Aini meremas ujung bajunya. Jantungnya berdegup aneh. Bukan karena takut. Tapi karena... canggung.

"Silakan... masuk, Mas Herman," ucapnya pelan, membuka pagar sedikit lebih lebar.

Herman melangkah masuk. Matanya menyapu halaman kecil itu. Ada jemuran baju anak di tali rafia. Ada mainan mobil kayu buatan Jaja tergeletak di pojok. Ada pot bunga melati yang Aini rawat tiap pagi.

Rumahnya sederhana. Tapi... hangat.

"Rumah Mbak rapi sekali," kata Herman suaranya rendah.

"Anak-anak pasti betah."

Aini salah tingkah. Ia menuangkan air putih ke gelas, tangannya sedikit gemetar.

 "Duduk dulu, Mas. Saya ambil barangnya."

"Terima kasih, Mbak."

Di ruang tamu, Satria duduk di lantai beralaskan tikar, main balok kayu. Begitu melihat Herman bocah itu berhenti. Matanya menatap lekat.

"Om..." panggilnya lirih.

Herman berjongkok, sejajar dengan Satria. "Halo, Dedek. Masih ingat Om?"

Satria mengangguk pelan, lalu merangkak mendekat. Tangannya menarik ujung celana pria itu.

"Om... cari Papa?"

Pertanyaan polos itu bikin dada Aini sesak. Ia buru-buru megambil berkas dari laci, amplop coklat berisi kwitansi pembelian beras.

"Nih, Mas. Ini yang Mas cari kan?" Aini menyodorkan map itu.

Herman menerima. Jarinya bersentuhan sekilas dengan tangan Aini. Keduanya sama-sama menarik tangan dengan cepat.

"Maaf," gumam mereka bersamaan. Lalu kembali sama-sama canggung.

Herman membuka map itu sebentar, memastikan isinya lengkap. Ia menghela napas.

"Makasih, Mbak. Ini penting buat... urusan di kota."

Aini mengangguk.

"Kalau sudah, Mas mau pulang sekarang?"

"Sebentar." Herman menatap Satria yang masih memeluk kakinya.

"Boleh Om gendong sebentar?"

Aini ragu sedetik. Tapi lihat mata Satria yang berbinar, ia mengangguk.

Herman mengangkat Satria. Bocah itu langsung meringkuk di dada Herman, seperti dulu waktu Herman sering mengggendong dia ke pos ronda. Ketika Jaja menghilang.

"Papa Dedek... dimana?" tanya Satria polos, memainkan kerah baju Herman dengan jemari kecilnya.

Pria itu terdiam. Matanya melirik ke arah pintu. Jauh di ujung jalan, bayangan Jaja mulai kelihatan. Menggandeng Syafa. Tangan satunya bawa plastik cilok.

Langkah Jaja terhenti. Senyum di wajahnya hilang.

Herman melihatnya mendekat. Tapi ia tidak menurunkan Satria. Ia menatap Jaja dengan lurus. Seperti dua laki-laki yang sama-sama tahu... mereka pernah berebut hal yang sama.

Aini yang melihat dari dalam rumah langsung panik.

"Mas Herman, itu... Pak Jaja sudah pulang."

Jaja berhenti di depan pagar. Plastik cilok di tangannya diremas pelan. Matanya menatap Herman. Menatap Satria di gendongannya.

Syafa langsung lari ke Aini.

"Ibu! Paman Jaja pulang! Tuh bawa cilok!"

Tapi tawa Syafa meredup saat melihat suasana yang tegang.

Jaja membuka pagar dengan pelan. Wajahnya datar, tapi aura dimatanya menunjukkan rasa ketidak sukaan.

"Pak Herman ." panggilnya.

"Pak Jaja," jawab Herman.Tak kalah datarnya.

Dua nama. Satu masa lalu. Satu wanita yang berdiri di tengah.

Aini pun maju, mengambil Satria dari gendongan Herman.

"Sini, Nak. Gendong sama Ibu ya!." katanya lembut.

Satria menoleh ke Jaja, lalu ke Herman. Bingung. Kemudian direntangkannya tangan mungilnya itu kearah Jaja.

"Papa...!"

Jaja mengulurkan tangan, menerima Satria.

Balita itu mencondongkan badannya ke arah Jaja, mata bulatnya menatap dengan senang.

"Papa di sini, Nak." jawab Jaja dan mencium pipi Satria.

Sentuhan tangan Jaja ke Satria... lalu ke tangan Aini sekilas. Hangat. Menenangkan.

Herman berdiri, merapikan topinya. Entahlah! Ada rasa kekalahan bermain di lubuk hati Herman. Dia hanya memastikan kalau Jaja sudah kembali. Seperti kata Pak RT tadi pagi.

"Saya cuma ambil berkas, Pak. Sudah selesai." ujarnya pelan tapi cukup terdengar oleh semua orang.

"Terima kasih sudah mampir," kata Jaja. Nada suaranya netral. Tapi matanya bicara banyak.

Herman mengangguk ke Aini.

"Jaga diri baik-baik, Mbak Aini. Anak-anak juga."

Lalu ia melangkah keluar. Lewat di samping Jaja. Bahu mereka bersentuhan sekilas. Tak ada kata. Tak ada dorongan. Hanya... pengakuan diam-diam. Bahwa yang menang bukan siapa yang paling kuat. Tapi siapa yang dipilih tinggal.

Herman pergi menembus jalan desa. Punggungnya tegap, tapi langkahnya pelan.

Syafa menarik baju Jaja.

"Paman, Om Herman kenapa? Kok mukanya sedih?"

Jaja berjongkok, sejajar dengan Syafa. Ia mengusap kepala anak itu.

"Om Herman orang baik, Kak. Dia cuma... lagi kangen rumahnya juga."

Syafa mengangguk, meski belum paham. Ia buka plastik cilok.

"Ibu, makan cilok yuk! Paman beli banyak!"

Aini memaksa senyum. Tapi hatinya kacau. Tadi, saat Herman bilang "jaga diri baik-baik"... rasanya seperti perpisahan. Sepertinya Herman akhirnya melepas.

Jaja melihat itu. Ia meletakkan Satria di lantai, lalu mendekat ke Aini.

"Maaf kalau bikin kamu canggung," ucapnya pelan, cuma Aini yang mendengar.

Aini menggeleng.

"Aku... tidak canggung. Cuma kaget."

Jaja menatap mata Aini.....lama.

"Herman pernah menyuruh Bu RT menyatakan lamaran padamu. Benar?"

Aini menunduk.

"Saya tahu. Dia sering membawakan obat untuk Satria. Sering membawa Satria jalan ke Pos Ronda kalau kamu lagi sibuk."

Jaja mengangguk pelan, tak tau apa maksudnya. Aini menatap sedikit ragu.

"Dia orang baik. Tapi jalannya... beda sama saya. Dia menginginkanmu tapi tidak berani terus terang. Sementara saya....sudah berterus terang tetap di tolak."

Hening sebentar. Hanya terdengar suara Syafa yang mengunyah cilok dan suara tawa Satria.

"Pak Jaja," panggil Aini akhirnya.

"Hmm?"

"Terima kasih... sudah pulang. Beneran pulang. Bukan cuma mampir."

Jaja tersenyum. Senyum yang dua tahun ditunggu Aini.

"Aku janji, Aini. Kursi kosong di ruang tamu itu... tidak akan kosong lagi."

Malamnya, setelah anak-anak tidur, Aini duduk di kursi rotan. Jaja duduk di kursi bambu di depan pintu, menatap langit.

"Aini," panggil Jaja.

"Iya?"

"Kalau suatu hari... kau harus pilih antara masa lalu dan masa depan... kau pilih yang mana?"

Aini menatap punggung Jaja. Punggung yang dulu ia tangisi tiap malam.

"Aku tidak akan memilih masa lalu, Aku akan memilih... Siapa yang mau tinggal sampai tua."

Jaja menoleh. Matanya bertemu mata Aini. Kali ini Aini tidak membuang pandangan lagi.

Jaja berdiri, mendekat.

"Kalau begitu... saya akan memilih tinggal. Sampai ubanku lebih banyak dari rambutmu."

Aini tersenyum. Kecil. Tapi tulus.

Dari kejauhan, motor Herman menyalakan lampu. Ia berhenti sejenak di tikungan. Menatap rumah itu sekali lagi. Lalu pergi.

Malam makin larut. Bola lampu di ruang tamu itu terlihat suram. Suara jangkrik dari luar beradu dengan napas Satria yang sudah lelap di gendongan Jaja.

Aini berdiri, mau masuk ke kamar. Tapi langkahnya terhenti saat Jaja bicara lagi, pelan.

"Aini... kalau aku cerita semuanya... kau mau dengar sampai habis?"

Aini menoleh. Matanya masih waspada. Ada rindu, ada luka, ada takut kecewa lagi.

"Aku mau dengar, Pak Jaja," jawabnya akhirnya. "Tapi belum sekarang. Aku... masih belajar percaya lagi."

Jaja mengangguk. Ia paham. Dua tahun bukan waktu sebentar untuk menyembuhkan hati.

Ia letakkan Satria di kasur, lalu menarik selimut sampai dada anak itu.

Sebelum masuk kamar, Aini berhenti di ambang pintu. Ia genggam kusen kayu dengan erat.

"Pak... kursi itu memang tidak kosong lagi. Tapi hatiku... masih aku kunci rapat."

Pintu kamar ditutup pelan. Klik.

Jaja duduk kembali di kursi bambu. Menatap pintu kayu itu lama.

Ia tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Aini. Aku tunggu. Sampai kuncinya kau buka sendiri."

Di luar, angin malam berembus. Membawa janji yang belum berani diucap. Dan langkah kaki Jaja yang terdengar samar menuju rumah sebelah.

******

1
Aya Ansyar
Terus semangat berkarya thor 👍🏻
Putri Sikumbang: Makasih selalu hadir Kak🙏
total 1 replies
Ariany Sudjana
makanya kamu jangan egois Arini, kamu menyesal kan ?
Ariany Sudjana
menyesal kan kamu Aini? kamu egois dan bodohnya kebangetan
Putri Sikumbang: 😭 iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!