NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wild Thoughts

Sempat tertegun, Reynard menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menoleh perlahan ke arah Raphael dengan sebelah alis terangkat tinggi, memancarkan rasa heran yang tidak bisa disembunyikan. Namun, sebelum sempat pria itu menyusun jawaban, Raphael buru-buru menimpali dengan suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin.

"Dan... apa yang membuat seorang pria terkadang kehilangan kendali atas dirinya sendiri, hingga menyerah terlalu cepat sebelum berhasil memenangkan permainan itu? Alis keluar lebih dahulu.”

Atmosfer di antara mereka mendadak hening selama beberapa detik. Butuh waktu bagi Reynard untuk mencerna makna tersirat di balik untaian kalimat yang baru saja ia dengar. Begitu menyadari ke mana arah pembicaraan sang kakak, sebuah tawa pendek spontan lolos dari bibir Reynard. Pria itu tampak sangat tergelitik oleh situasi langka ini.

"Jadi, teka-teki itu yang membuatmu mendadak bungkam dan bermuka masam sepanjang hari ini?" Reynard menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Raphael dengan ekspresi geli yang amat kentara. "Astaga, seorang Raphael Walter akhirnya memikirkan hal-hal yang dialami manusia biasa juga." Ia mencondongkan tubuhnya, menatap sang kakak dengan binar jenaka yang menyebalkan. "Jangan bilang... ada seorang wanita yang berhasil meruntuhkan keangkuhanmu dan membuatmu mati kutu di atas ranjang? Siapa wanita hebat itu, hah? Beritahu aku."

Perubahan raut wajah Raphael terjadi dalam sekejap mata. Sorot matanya mendadak menggelap, memancarkan kilatan tajam yang begitu dingin dan menusuk.

"Bukan aku," potong Raphael dengan nada suara yang meninggi, sedikit tergesa-gesa seolah ingin segera mengubur topik itu dalam-dalam demi menutupi kegugupannya yang mendadak menyerang.

Ia membuang pandangan ke luar jendela sebelum kembali melanjutkan dengan ketegangan yang kentara pada garis rahangnya. "Simone. Dia yang menceritakan keluhan itu kepadaku tadi siang. Dan karena aku sama sekali tidak pernah berada di posisi selemah itu, aku tidak tahu harus merespons apa. Itu sebabnya aku meminta pendapatmu."

Nada defensifnya terlalu cepat, pun kentara, membuat Reynard kian menahan tawa. Tapi ia menutupinya dengan berbatuk kecil, pura-pura menerima alasan Raphael begitu saja. "Baiklah," katanya pelan sambil menyandarkan tubuh ke teralis balkon. "Kalau begitu, mari kita anggap ini tentang Simone."

"Memang tentang Simone! Maksudmu apa?!"

"Baiklah.. Baiklah. Maaf kalau begitu."

Raphael tetap diam, menatap lurus ke depan. Kembali membakar rokoknya. Asap termbakau itu membubung lambat, menyamarkan wajahnya yang tampak lebih muram.

"Kebanyakan pria hanya fokus pada dominasi fisik dan pemuasan ego mereka sendiri, tanpa memedulikan apa yang dirasakan oleh sang wanita," ujar Reynard dengan nada suara yang tenang namun menghunjam tepat sasaran.

“Jika seorang wanita begitu sulit untuk keluar dan luluh menyerahkan seluruh dirinya, biasanya itu bukan karena fisiknya yang bermasalah, melainkan karena batinnya menolak terhubung dengan apa yang sedang terjadi. Wanita membutuhkan rasa aman dan validasi bahwa mereka diinginkan secara emosional, bukan sekadar dijadikan objek penaklukan. Jika Simone—"

Reynard sengaja menekankan nama itu dengan tatapan meledek yang tertuju langsung pada Raphael, "—memperlakukan wanitanya seperti sebuah misi yang harus diselesaikan dengan tergesa-gesa, maka sangat wajar jika hasilnya berakhir dengan kegagalan total."

Raphael tidak memberikan tanggapan apa pun. Ia hanya memutar-mutar gelas bir di tangannya, membiarkan cairan emas itu bergolak seirama dengan gemuruh di dalam dadanya saat mendengarkan analisis sang adik.

Reynard kembali melanjutkan tanpa beban. "Dan soal pria yang kehilangan kendali lebih cepat sebelum waktunya? Itu bukanlah sebuah aib yang memalukan, melainkan tanda bahwa dia terlalu terburu-buru dan terobsesi untuk membuktikan sesuatu. Ego yang terlalu besar, tekanan mental, atau bahkan ketakutan terselubung akan kegagalan justru bisa membuat pertahanan tubuhnya runtuh lebih cepat. Terkadang, semakin besar ambisi seorang pria untuk menguasai pasangannya, semakin cepat pula ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri."

Sebuah senyum sinis hampir saja muncul di sudut bibir Raphael, tapi gagal. Ia menghela napas berat, lalu tanpa sadar bertanya, "Jadi... aku harus bagaimana—" ia berhenti cepat, menegakkan bahunya. "Maksudku, Simone harus bagaimana?"

Reynard menatapnya cukup lama, lalu terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala. "Katakan pada Simone, keintiman itu terkadang bukan tentang pria yang harus selalu mendikte dan memegang kendali penuh. Tidak ada salahnya untuk sedikit menurunkan ego, biarkan wanitanya merasa memenangkan permainan itu terlebih dahulu. Itu bukan berarti sebuah kekalahan, melainkan bagian dari strategi. Wanita perlu merasa dihargai dan diinginkan, bukan sekadar ditaklukkan secara paksa. Begitu dia merasakan hal itu, kau bahkan tidak perlu bersusah payah, seluruh pertahanannya akan runtuh dengan sendirinya."

"Atau," seloroh Reynard lagi dengan nada yang sengaja digantung, "mungkin saja Simone sedang mengalami tekanan mental hingga kehilangan kekuatan alaminya sebagai seorang pria? Dalam arti terkena penyakit khusus?”

Raphael menolehkan kepalanya dengan cepat dan tajam, namun Reynard tetap bersikap santai, mengalihkan pandangannya untuk menatap langit malam yang pekat. "Banyak pria yang berpikir mereka selalu kuat dan tak terkalahkan, namun kenyataannya tidak seperti itu. Entah karena faktor stres yang terlalu tinggi, kebiasaan mengonsumsi alkohol secara berlebihan, atau bahkan karena terlalu sering menahan tekanan emosi. Terkadang, hal itu terjadi karena mereka terbiasa menganggap momen intim sebagai ajang pembuktian kekuasaan, bukan sebuah penyatuan yang dinikmati bersama. Pikiran mereka sudah dibuat tegang dan terbebani lebih dulu sebelum tubuh mereka sempat bertindak."

Raphael menatap kosong ke arah birnya, diamnya cukup lama.

Reynard akhirnya menepuk pundak kakaknya, sedikit menggoda. "Dan mungkin," katanya pelan, "kau juga bisa sampaikan pada Simone... untuk bertanya padaku lebih detailnya. Tak perlu perantara seperti ini."

Raphael menatapnya sekilas, mata mereka bertemu dalam diam yang penuh arti, kemudian ia kembali menarik dalam-dalam rokoknya sebagai alasan untuk tidak menjawab apa pun.

...•••...

Raphael duduk di sofa kamarnya dengan kepala bersandar lelah pada sandaran sofa yang empuk. Pandangan matanya tampak kosong menerawang ke depan. Suntuk dan frustrasi.

Malam itu—malam kala ia berusaha mengklaim dan menguasai Emily sepenuhnya—terus berputar di dalam kepalanya tanpa henti. Ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya yang selalu memegang kendali penuh atas segala situasi di ranjang bisa dibuat begitu kehilangan arah.

Apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Apakah ia terlalu bersemangat dalam obsesinya sendirian? Mengapa bisa ada seorang wanita yang sama sekali tidak goyah di bawah dominasi dan sentuhannya?

Sialan kau, Emily. Kilasan pikiran itu seketika membuat rahang Raphael mengeras rapat.

Dan tiba-tiba saja, ucapan menyebalkan dari Reynard tadi mengenai seorang pria yang kehilangan kekuatan alaminya kembali terngiang di telinga, menghantam telak egonya bak sebuah pukulan keras yang telanjang bagi Raphael.

Tidak mungkin. Raphael menggelengkan kepala, menepis cepat pikiran buruk itu dari benaknya. Dokter kepercayaannya sudah menyatakan bahwa ia sepenuhnya sehat dan berada dalam kondisi fisik yang sangat prima. Dia tidak mungkin penyakitan.

Dengan gerakan kesal, Raphael meraih iPad di atas meja dan membuka aplikasi pengawas khusus yang terhubung langsung dengan sistem pengintai di penthouse Emily. Ia hanya ingin memastikan satu hal, apakah wanita pembangkang itu sudah kembali ke rumahnya atau belum.

Satu demi satu sudut ruangan muncul di layar, menampilkan keheningan penthouse mewah tersebut. Hingga akhirnya, pada salah satu sudut bidikan, sosok yang dicarinya muncul. Emily berada di dalam area pribadinya, berdiri di depan cermin tanpa menyadari ada sepasang mata yang tengah mengamatinya dari kejauhan dengan tatapan yang begitu pekat.

Napas Raphael seketika tertahan di tenggorokan. Melalui layar digital itu, visual Emily tertangkap begitu nyata—menampilkan keanggunan alaminya saat wanita itu mulai melepaskan jubah luarnya, menyisakan gaun malam satin yang melekat pas di tubuhnya. Setiap gerak-gerik Emily terpahat begitu sempurna dalam bias pencahayaan ruangan, sebuah pemandangan yang seketika menghidupkan kembali sisi terbuas di dalam diri Raphael, sisi yang menuntut kepemilikan mutlak atas wanita itu.

Hasrat dan rasa frustrasinya mendadak beradu hebat, menciptakan ketegangan intens yang menjalar ke seluruh aliran darahnya. Kilasan bayangan akan kegagalannya untuk membuat Emily tunduk pasrah semalam justru kian membakar ego dan obsesi di dalam dadanya.

Di balik layar, Emily melangkah perlahan ke bawah kucuran air hangat yang seketika menderu. Bulir-bulir air itu mulai membasahi bahunya, mengalir turun mengikuti lekuk tubuhnya hingga ke ujung kaki. Wanita itu memejamkan mata, tampak begitu menikmati guyuran air seolah sedang membasuh seluruh ketegangan yang tersisa. Pemandangan air yang memeluk erat tubuh Emily membuat tenggorokan Raphael kian tercekat dan terasa kering kerontang.

"Sialan!" gerutu Raphael dengan suara parau yang dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam.

Ia tahu ia sedang disiksa oleh hasratnya sendiri. Semakin lama ia menatap layar itu, semakin dalam jerat obsesi Emily mencekik akal sehatnya. Dengan rahang yang mengeras rapat dan pandangan mata yang menggelap, Raphael mencengkeram sisi sofa begitu kuat, membiarkan imajinasi liarnya mengambil alih seluruh kesadarannya. Ia membayangkan malam-malam berikutnya, saat ia kembali mendominasi wanita itu dan memastikan bahwa kali ini, Emily tidak akan pernah bisa melarikan diri lagi dari kuasanya.

1
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Nona Syela: Iya nih, gak mood dia hahaha🤣
total 1 replies
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Nona Syela: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Nona Syela: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Nona Syela: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Siap kak 😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!