Area dewasa❗
Demi menyelamatkan ayah angkatnya yang sakit keras, Zivanna Mahavira terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Zivarra, yang kabur sebelum pernikahannya dengan anak sulung keluarga Sadewantara, Keenan Sadewantara.
Tanpa sepengetahuan Zivanna, Keenan ternyata sudah mengetahui sejak awal bahwa wanita yang menikah dengannya bukanlah Zivarra.
Mereka akan menjalani pernikahan selama enam bulan, sesuai kontrak yang diberikan Keenan di awal pernikahan. Selama itu, Zivanna harus mempertahankan kebohongannya demi keluarga dan ayah angkatnya.
Semakin lama hidup bersama, keduanya justru saling jatuh hati.
Sampai pada bulan kelima, semuanya berubah ketika Zivanna menolak hubungan suami istri dan akhirnya meminta maaf atas kebohongannya.
“Kamu pikir aku baru tahu siapa kamu? Aku sudah tahu sejak awal, Zivanna,” ucap Keenan dengan senyum miring.
Mata Zivanna langsung membesar. “A-apa?”
Keenan mengangkat dagu Zivanna. “Kalau kamu ingin aku maafkan, lakukanlah dengan tubuhmu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepenggal kisah Keenan
Zivanna mulai terusik dalam tidurnya begitu sinar matahari masuk ke celah-celah ventilasi kamar dan mengenai wajahnya.
“Awwww ssttt...” desis Zivanna saat merasakan tubuhnya sakit dan remuk redam.
Perlahan Zivanna bangun dan duduk. Ia teringat bahwa semalam dirinya dan Keenan telah menjadi suami istri sepenuhnya. Entah kapan pria itu membawanya ke kamar Zivanna sendiri.
Keenan benar-benar tidak memberinya waktu untuk beristirahat sedikit pun. Baru setelah melihat Zivanna hampir pingsan karena kelelahan, pria Itu menghentikan semuanya.
“Setelah menolongnya setiap malam, dia benar-benar menjadi gila. Aku cukup menyesal melakukan itu,” gerutu Zivanna.
“Lihat saja tanda yang dia berikan padaku. Pasti di leherku juga banyak,” sambungnya sambil memperhatikan bekas kemerahan yang ditinggalkan Keenan di dada, perut, hingga pahanya.
“Ughhh... kepalaku juga terasa sakit. Seingatku, aku menyimpan obat di sini,” keluh Zivanna seraya membuka laci nakas untuk mengambil obat pereda nyeri. Setelah itu, ia segera meminumnya.
“Sepertinya hari ini aku tidak mau melakukan apa-apa dulu. Badanku capek dan sakit sekali. Lebih baik aku banyak istirahat.”
Zivanna kembali berbaring dan memejamkan mata. Namun belum sampai semenit, ia tiba-tiba kembali terbangun saat mengingat sesuatu.
“Astaga! Aku baru ingat, siang ini kan aku harus ke rumah Papi untuk makan siang sekaligus merayakan ulang tahun Tante Belinda!” pekik Zivanna.
Dengan perlahan dan tertatih-tatih menahan rasa perih di pangkal pahanya, Zivanna berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ia menghela napas panjang saat menatap bayangannya di cermin. Di sana, terlihat banyak sekali tanda merah. Keenan benar-benar seperti hewan buas.
“Apa kami akan melakukan itu lagi?” gumam Zivanna.
Setelah selesai mandi, Zivanna memilih sebuah gaun sopan yang panjangnya selutut hingga betis. Ia pun berdandan natural dan tentu saja berusaha menutupi tanda merah di lehernya agar orang-orang di rumah mertuanya nanti tidak menggodanya.
Zivanna diantar oleh sopir pribadi Keenan atas perintah Keenan tentunya. Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, ia sangat ingin tidak datang ke sana.
Bukan karena keluarga Keenan jahat atau kejam, melainkan karena selain merasa kurang sehat, Zivanna juga malas jika harus berhadapan dengan Rafael yang selalu menatapnya dengan tatapan lapar.
“Pak, kita ke toko kue sebentar ya,” ucap Zivanna pada sopir.
“Baik Nyonya.”
Selesai membeli kue untuk diberikan nanti pada Belinda dan mertuanya, kini Zivanna telah sampai di pelataran rumah mewah mertuanya.
“Selamat pagi Mama, Tante,” ucap Zivanna begitu melihat Angelina dan Belinda di ruang tengah. Kedatangan Zivanna membuat dua wanita paruh baya itu tersenyum.
“Akhirnya menantu cantik Mama datang. Sini, Nak,” ucap Angelina.
Zivanna mengangguk dan menghampiri mereka. Ia melakukan cipika-cipiki.
“Oh ya, Tante. Ini aku bawakan kue dan ada hadiah untuk Tante. Selamat ulang tahun ya, Tan,” ucap Zivanna seraya menyerahkan hadiah yang kemarin ia beli kepada Belinda.
“Wah, terima kasih, Sayang... Kamu jadi repot-repot begini,” balas Belinda sumringah sambil menerima hadiah dari Zivanna. Untuk kuenya, Zivanna meletakkannya di atas meja.
Belinda Sadewantara, adik dari Richard Sadewantara. Suami dan anaknya telah meninggal dalam sebuah kecelakaan sepuluh tahun yang lalu dan sampai sekarang Belinda masih memilih hidup sendiri.
“Sama-sama, Tante. Dan itu juga ada kue untuk Mama dan yang lainnya,” ujar Zivanna sambil duduk di tengah-tengah Angelina dan Belinda.
“Terima kasih, Nak... Kamu terlihat pucat. Kamu sedang sakit ya?” tanya Angelina.
Zivanna menggeleng, mencoba terlihat baik-baik saja. “Nggak kok, Ma. Papi sama yang lainnya mana?” elaknya mengalihkan pembicaraan.
“Oh, mereka sepertinya datang terlambat. Kata Papi ada investor dari Australia yang datang,” jelas Angelina.
Zivanna pun hanya mengangguk, karena ia tidak mengerti soal bisnis.
Mereka pun mengobrol banyak hal hingga waktu makan siang tiba.
“Ayo kita makan siang dulu,” ajak Belinda.
“Iya, Tante.”
Mereka pergi menuju ruang makan. Di atas meja sudah terhidang berbagai macam hidangan.
“Makan yang banyak, Nak. Tante lihat kok kamu agak kurusan,” ujar Belinda.
Zivanna hanya mengangguk dan tersenyum canggung. Semenjak ayah angkatnya sakit, lalu mendapat tekanan dari Papa, istri sah Papanya, dan Keenan, nafsu makannya berkurang. Tak heran jika tubuhnya kini tampak lebih kurus karena banyak pikiran.
“Ngomong-ngomong, Zivarra,” panggil Angelina di sela-sela makan siang mereka.
Zivanna yang tengah menyuapkan makanan ke mulutnya langsung menoleh. “Iya, Ma?”
“Kalian kapan kasih Mama cucu?” tanya Angelina tanpa basa-basi.
“Uhuk! Uhuk!”
Zivanna sontak tersedak. Wajahnya langsung memerah sembari menepuk-nepuk dadanya.
“Ya ampun, pelan-pelan, Nak!” Belinda segera menyodorkan segelas air mineral ke hadapan Zivanna.
Dengan terburu-buru, Zivanna menerima gelas itu lalu meminumnya beberapa teguk.
“Mbak, jangan langsung nanya begitu dong. Hubungan Zivarra sama Keenan juga baru lima bulan. Mereka mungkin masa pendekatan dulu,” tegur Belinda pada Angelina.
Angelina mendecakkan lidah pelan. “Lho, Mbak kan cuma tanya. Lagian Mbak pengen cepat-cepat punya cucu dari Keenan.”
Zivanna hanya bisa tersenyum canggung. Jantungnya masih berdebar akibat pertanyaan tadi. “Kami masih berusaha kok, Ma,” ucapnya.
“Nah, itu bagus,” sahut Angelina senang.
Sementara itu, senyum di bibir Zivanna terasa begitu pahit.
Berusaha? Bahkan ia sendiri tidak tahu sedang berusaha untuk apa.
Pernikahannya dengan Keenan hanyalah sebuah kontrak yang akan berakhir satu bulan lagi. Tidak ada masa depan yang bisa ia harapkan, apalagi membayangkan memiliki anak bersama pria itu.
Selesai makan siang, Belinda pun mengajak Zivanna masuk ke kamar masa kecil Keenan.
“Ini kamar Keenan waktu kecil, Tan?” tanya Zivanna melihat ke sekeliling kamar.
Belinda mengangguk. “Tapi kamar ini sudah tidak terpakai lagi semenjak Keenan berusia tujuh tahun,” ujarnya.
“Kenapa?”
“Karena kamar ini menyimpan banyak kenangan Keenan bersama maminya yang meninggal saat dia berusia tujuh tahun,” jelas Belinda.
“Apa boleh tahu, maminya meninggal karena apa ya, Tan?” tanya Zivanna lagi. Ia sangat penasaran dengan kehidupan Keenan.
Belinda pun menjelaskan bahwa Nathalia, mami Keenan, meninggal karena terlalu banyak pikiran dan stres setelah kedatangan seorang wanita serta seorang anak laki-laki yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan mereka.
Dua orang itu adalah Angelina dan Rafael yang usianya dua tahun lebih muda dari Keenan. Mereka dibawa langsung oleh Richard.
Ternyata, Angelina adalah wanita simpanan Richard. Hal itu membuat Nathalia sangat terpukul karena suaminya begitu tega mengkhianatinya. Ia mengira Richard adalah pria yang setia, ternyata dugaannya salah besar.
Keenan yang saat itu hanya mengetahui bahwa papinya telah menyakiti maminya pun sangat membenci papinya, Angelina, dan Rafael karena menganggap merekalah penyebab maminya meninggal.
Setahun setelah kematian Nathalia, Richard memilih menikahi Angelina. Keputusan itu semakin membuat Keenan marah. Ia bahkan tidak pernah menerima Angelina sebagai ibunya maupun Rafael sebagai saudaranya.
Bahkan Keenan memanggil Angelina dengan sebutan Tante. Baru dalam tujuh tahun terakhir Keenan mulai memanggil Angelina dengan sebutan Mama karena dipaksa oleh papinya.
Mendengar semua itu, Zivanna merasa terenyuh karena kisah hidupnya dan Keenan hampir mirip.
Bedanya, dalam cerita Zivanna, mendiang ibunya lah yang menjadi wanita simpanan Samuel dan dibuang oleh pria itu setelah istri sahnya mengetahui bahwa suaminya memiliki wanita lain.
“Untungnya Mbak Angel itu orangnya baik, tidak seperti ibu tiri yang sering digambarkan jahat oleh orang-orang. Sebenarnya Mbak Angel menjadi simpanan karena Kak Richard yang licik yang menjebaknya dan tidak pernah puas dengan satu wanita,” ujar Belinda kesal pada kakaknya sendiri.
Jika ayah mertuanya tidak pernah puas dengan satu wanita, apakah Keenan juga akan seperti itu?
“Kamu tenang saja, Nak. Keenan itu orangnya setia, kok. Jauh berbeda dari papinya,” ucap Belinda seolah bisa membaca isi pikiran Zivanna.
Zivanna tersenyum kikuk. “Iya, Tante.”
btw Keenan udah bucin akut ama lu. Noh lu di kamar mandi aja di samperin. Pasti mau jap jip jup di bwh shower😭😭🤣