Sudah genap dua puluh tahun pangeran Syah Hang diungsikan. Kini saatnya dia harus kembali ke Kerjaan untuk mengambil hak tahtanya yang sedang diperbutkan oleh dua saudara tirinya. Yaitu Pangeran Hang Djie dan Hang Tsu anak dari selir ayahnya. Karena keserakahan dari selir Tsu En, pangeran asli pewaris tahta harus terasingkan. Tapi takdir kebaikan akan selalu mencari jalannya. Hingga sampailah di hari pangeran Syah Hang pewaris tahta asli kembali dan mendapatkan tahtanya dan memimpin Kerjaan dengan kebijaksanaan.
Tapi kedua saudara tirinya tidak mau tinggal diam. Keduanya bersekutu untuk menjatuhkan pangeran Syah Hang dari tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anand Mehra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangeran Yang Kembali Ke Istana
Langit mendung yang disertai kilat menyambar-nyambar di langit istana Raja Hang Dzo. Angin berhembus kencang menerpa kawasan istana Raja Hang Dzo.
"Menteri Tan, sepertinya cuaca hari ini sangat buruk. Aku khawatir acara penobatan putra mahkota akan terganggu" Raja Hang Dzo berjalan mondar-mandir dalam kegelisahan.
"Yang mulia paduka harus tetap tenang. Semua acara akan tetap berjalan seperti perencanaan" menteri Tan tetap duduk dengan tenang.
"Tapi aku memiliki firasat lain" wajah Raja Hang Dzo terlihat sangat kusut.
Jelas tergambar beban yang tidak bisa ia bagi dengan siapapun. Rasa bersalahnya pada mendiang permaisuri Hyung Pathan selalu membayanginya. Namun dirinya juga selalu lemah di hadapan selir Tsu En.
"Yang mulia paduka, lebih baik fokus dengan kesehatan. Semuanya percayakan kepada hamba paduka"
"Seandainya Syah Hang ada disini" ujar Raja Hang Dzo pelan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Utusan Perdana Menteri Dong Zhang tiba!"
Raja Hang Dzo dan menteri Tan pun menerima utusan Perdana menteri Dong Zhang.
"Hormat untuk Yang Mulia paduka Raja Hang Dzo dan Menteri Tan" utusan Perdana menteri Dong Zhang memberi hormat.
"Bangunlah, silahkan duduk" Raja Hang Dzo pun duduk di singgasananya.
"Terima kasih yang Mulia. Hamba Yan Wei utusan Perdana menteri Dong Zhang. Hamba diutus untuk memberikan surat ini" sebuah surat dibawanya ke hadapan paduka Raja Hang Dzo.
"Baiklah, aku terima surat ini"
Yan Wei utusan Perdana menteri Dong Zhang pun kembali ke tempat duduknya.
"Sepertinya ada hal yang penting sampai-sampai perdana menteri mengirim surat padaku" Raja Hang Dzo membuka surat dari perdana menterinya.
Menteri Tan dan utusan Perdana menteri Dong Zhang sama-sama diam. Diam memperhatikan Raja Hang Dzo yang sedang membaca surat dari perdana menteri Dong Zhang.
Perlahan, ekspresi wajah Raja Hang Dzo pun berubah. Dari wajahnya mulai terlihat sebuah kekecewaan perlahan Raja Hang Dzo pun terduduk di singgasananya.
Menteri Tan yang menyaksikan Raja Hang Dzo terlihat sangat kecewa hanya bisa diam. Menteri Tan diam karena masih ada utusan Perdana menteri Dong Zhang.
Susana pun hening sejenak. Hanya terdengar hembusan nafas masing-masing. Hembusan nafas yang berat.
"Menteri Tan, tolong segera kumpulkan seluruh menteri" Raja Hang Dzo menggulung surat dari perdana menteri Dong Zhang.
"Baik yang mulia, titah akan hamba laksanakan" menteri Tan pun keluar dari balairung istana.
"Pengawal, antarkan utusan Perdana menteri ke paviliun tamu"
"Baik yang mulia, titah dilaksanakan"
Utusan Perdana menteri Dong Zhang pun diantar oleh pengawal istana ke paviliun tamu untuk beristirahat.
~~
Di Paviliun Menteri Yank Haq
"Tuan menteri, hamba menyaksikan sendiri kehebatan dari pendekar bertopeng itu" Ming mata-mata menteri Yank Haq sudah kembali dan memberikan informasi yang ia dapat.
"Kalau begitu benar, perdana menteri Dong Zhang sedang menghimpun kekuatan untuk memberontak" menteri Yank Haq berdiri dari kursi kebesarannya.
"Apakah rumor itu benar tuan?" pendekar Xhan terlihat tidak percaya dengan perkataan menteri Yank Haq.
"Perdana menteri Dong Zhang lebih memihak pangeran Hang Djie untuk dinobatkan menjadi putra mahkota. Dan itu bertentangan dengan keinginan Permaisuri Tsu En"
"Tapi bukankah perdana menteri Dong Zhang juga yang sudah membantu permaisuri Tsu En dulu"
Menteri Yank Haq menoleh ke pendekar Xhan. Lalu berjalan mendekati pendekar Xhan.
"Dalam politik semua bisa berubah. Selama menguntungkan maka kita harus bisa mencari keuntungan sekecil apapun itu" senyumnya menunjukkan kelasnya dalam perpolitikan negara.
"Tapi bukankah seorang pejabat harus setia mengabdi pada kerajaan dan rakyatnya"
"Itu hanya konsepnya pendekar Xhan. Dan pada faktanya dimana kita bisa bertahan disitulah kita memihak" menteri Yank Haq pun kembali duduk lalu menenggak arak kesukaannya.
"Jadi untuk apa kita berkorban jika akan selalu ada penghianatan" pendekar Xhan mengepalkan tangannya dengan kegeraman.
"Itulah politik" menteri Yank Haq terkekeh dengan santainya.
Pendekar Xhan pun pergi meninggalkan paviliun utama menteri Yank Haq.
"Pendekar bertopeng harus ada di pihak ku. Bagaimana pun pangeran Hang Tsu harus memiliki pendekar-pendekar kuat"
Senyuman culasnya pun terkembang di bibirnya. Aroma konspirasi jahat kembali tercium sangat kental menyelimuti istana Raja Hang Dzo.
~~
Di Istana Tepi Barat Kota
Pangeran bertopeng dengan Wai Hang sedang bersiap untuk bertemu dengan perdana menteri Dong Zhang. Hari penobatan sebagai pemimpin pengawal pribadi perdana menteri Dong Zhang segera tiba. Dan perdana menteri Dong Zhang ingin membuat acara penobatan semeriah mungkin. Karena pangeran bertopeng bukan hanya menjadi pemimpin pasukan, tapi juga sebagai pemimpin baru ¼ wilayah tepi barat kota.
"Apakah pangeran sudah siap?" Wai Hang membuka topi yang sehari-harinya dipakainya.
"Aku siap" pangeran Syah Hang menaburkan serbuk yang harumnya sampai membuat Wai Hang ternganga.
"Harumnya sangat menggoda pangeran. Darimana anda mendapatkannya?"
Pangeran muda Syah Hang alias pangeran bertopeng malah terkekeh sampai badannya berguncang pelan.
"Ini serbuk dari Fank Wei" pangeran bertopeng merapikan kembali kotak kecil miliknya.
"Darimana Fank Wei mendapatkan itu"
"Aku juga tidak tau. Jika ada kesempatan pulang ke lembah damai, anda bisa menanyakan padanya" lalu pangeran bertopeng pun menyelipkan kipas sakti 102 di pinggangnya.
"Pengawal Fank tidak begitu menyukaiku"
"Jangan berburuk sangka. Aku tau bagaimana Fank Wei. Dia itu pengawal setia dan juga ramah"
"Ramah.....tapi tidak denganku" Wai Hang mendengus pelan.
"Sudahlah, ayo kita hampir terlambat" pangeran bertopeng pun segera menuju paviliun perdana menteri Dong Zhang.
"Baiklah, aku akan menyusul" Wai Hang pun mengikat rambutnya.