mira seorang istri dari pandu, mira hanya seorang ibu rumah tangga dulu nya ia bekerja di salah satu perusahaan menjadi staf biasa . tetapi setelah menikah dengan pandu, ia di larang untuk bekerja.
***
pandu dan mira masih tinggal bersama kedua orang tua pandu dan adik nya. ibu nya melarang pandu untuk pergi dari rumah nya, gaji pandu juga kebanyakan ibunya yang ngatur. mira selalu bersabar dengan sikap pandu dan keluarganya. namun saat mira tahu pandu mengkhianatinya dengan tetangga barunya yang berstatus janda. Mira tak lagi memperdulikan pandu, ia juga tidak lagi meminta uang dan mira juga tidak menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isy_yuli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hati kembali tenang
Langit pagi tampak cerah ketika Mira membuka jendela rumah sederhananya. Sinar matahari masuk melalui celah tirai berwarna krem yang baru ia pasang kemarin. Mira tersenyum kecil sambil memandang halaman depan yang masih basah oleh embun.
"Segernya pagi ini, sarapan apa ya pagi ini. " gumam mira
"enaknya kalau pagi gini makan nasi pecel " gumam mira
Mira melangkah ke dapur untuk membuat secangkir teh untuknya.
Tiba tiba ponselnya bergetar, nama Tika muncul di layar. Mira langsung saja mengangkat panggilannya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Sudah bangun, lu?" suara Tika terdengar ceria.
"Udahlah lu pikir gua masih molor" jawab mira
"Gua kan nanyak, sapa tau lu masih molor karena mau menikmati rumah baru lu" ucap tika tertawa kecil
"Ya gak lah, ini aja gua sudah mandi malah." kata mira
"Bagus kalau gitu. Cepat ke rumah produksi sekarang. Banyak pesanan masuk semalam." seru tika
"Serius?" tanya mira
"Iya. Marketplace lagi ramai. Anak anak pada packing dari pagi." jawab tika
"Wah, alhamdulillah." ucap mira
"Makanya jangan santai terus ,mentang mentang punya rumah baru." goda tika
"Siap, Bu Direktur. gua akan segera meluncur" ucap mira
"Dasar lu" Keduanya tertawa bersama.
Mira tidak jadi membeli nasi pecel karena ia keburu jadinya mira menggoreng telur, Setelah sarapan sederhananya, Mira mengenakan kemeja abu abu dan celana jeans panjang. Ia mengambil helm lalu keluar rumah.
Motor matic yang ia beli beberapa hari yang lalu sudah menunggu di teras.
Beberapa tetangga menyapanya.
"Mau kerja, Mbak Mira?" tanya nisa, mira memang sudah berkenalan dengan beberapa tangga di sekitar rumahnya
"Iya, mbak nisa, saya berangkat dulu ya. mari." pamit mira
"iya mbak, hati hati bawa motornya" ujar nisa
"iya mbak"
Mira menghidupkan mesin motor lalu melaju menuju rumah produksi yang berjarak sekitar dua puluh menit dari rumahnya.
Sepanjang perjalanan, pikirannya terasa ringan. Tidak seperti dulu ketika masih menjadi istri Pandu.
Tak lama kemudian Mira tiba di rumah produksi. Mira langsung memarkir motornya bersama motor yang lainnya, ia langsung melangkah ke dalam. Begitu masuk, suara aktivitas langsung terdengar.
Kardus bertumpuk di sudut ruangan. Beberapa karyawan sedang melipat piyama , yang lain sibuk memasukkan barang ke plastik kemasan.
Tika sudah berdiri di tengah ruangan sambil memegang tap nya.
"Nah, akhirnya lu sampai juga mir" ucap tika
"pada sibuk semua ya.?"tanya mira
Tika mengangguk.
"Yalah kita pada sibuk. Kita dapat hampir tiga ratus pesanan." jawab tika
"Tiga ratus?" tanya mira membulatkan matanya
"Iya." jawab tika
"Masya Allah."
Seorang karyawan bernama Sari menghampiri.
"Mbak Mira, desain motif bunga yang kemarin laris sekali." ucap sari
"Benarkah?" tanya mira
"Iya. Banyak pembeli minta restock." jawab sari antusias
"Berarti kita produksi lagi." ucap mira tersenyum
"Gua juga sudah pesan bahan tambahan." kata tika menimpali
"Bagus, lu emang gerak cepat tik." puji mira
"iya dong, kita kan ownernya jadi harus gerak cepat" ucap tika
"iyalah terserah lu" sahut mira
Mira kemudian membantu memeriksa pesanan.
Menjelang siang, seluruh ruangan semakin sibuk.
Mira dan tika juga membelikan makanan untuk para karyawannya, dan mereka juga berencana akan memberikan uang bonus untuk hari ini karena penjualan naik drastis.
****
Sore hari aktivitas mulai berkurang. Sebagian pesanan sudah dikirim. Mira berpamitan pulang sedangkan tika masih stay di sana katanya masih nunggu jemputan suaminya. ya, tika memang tidak membawa mobil sekarang.
"Hati-hati pulangnya , jangan mampir ke rumah duda" kata Tika tertawa kecil
"Bangke lu, emang gua mampir ke duda siapa" ucap mira
"yaa sapa tau lu udah dapat duda takjir" goda tika
"udah lah gua pulang dulu, gak ada habis nya kalau ngeladenin lu" ucap mira, tika tertawa setelah berhasil menggoda sahabat nya.
"Yaudah sana pulang, gak baik janda pulang malem malem" goda tika
"mulut lu emang perlu gua sambelin" kesal mira,
"gua pulang dulu, assalamu'alaikum" lanjut mira
Perjalanan pulang terasa menyenangkan, Angin sore menerpa wajahnya.
Sesampainya di rumah, Mira langsung mandi dan berganti pakaian yang lebih santai.
Kemudian ia membuat teh hangat. Matahari mulai condong ke barat. Halaman depan rumah tampak indah dengan cahaya keemasan yang menyelimuti rumput-rumput hijau.
Mira membawa laptop dan secangkir teh ke teras. Ia duduk di kursi kayu favoritnya.
Suasana sore begitu tenang. Hanya terdengar suara burung dan sesekali kendaraan yang melintas.
Mira membuka platform novelnya, jari jarinya mulai mengetik, tak lama kemudian seorang tetangga bernama Bu Eni lewat di depan rumah.
"Mbak Mira." sapa bu eni
Mira menoleh. "Oh, Bu Eni, mampir bu." ucap mira ramah
"gak dulu deh mbak, lagi mau ke warung. mbak sendiri ngapain di luar?" tanya bu Eni
"oh, ini cuman lagi santai." jawab mira
"owalah. yaudah saya ke warung dulu mbak." pamit bu eni
"iya bu, " Ucap mira tersenyum.
Setelah Bu eni pergi, mira kembali fokus pada layar laptopnya.
Bersambung...
...****************...
Hay para kawand kawand jangan lupa di like dan komen ya, biar tambah semangat nulis nya. hehehe. terimakasih sudah membaca